Krisis Global Ancam 60 Negara Gagal

Krisis global yang dipicu oleh krisis energi, krisis pangan dan krisis keuangan global menjadi ancaman negara-negara di dunia. Di samping dampak pandemi Covid-19 dan geopolitik Rusia-Ukraina, mengakibatkan terganggunya rantai pasok. Ada sekitar 60 negara di dunia terancam gagal. Oh, mengerikan…!

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang disertai dengan pengenaan sanksi yang lebih luas dan kebijakan zero Covid-19 di Tiongkok, menahan perbaikan gangguan rantai pasokan. Gangguan dari sisi suplai tersebut disertai dengan meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan oleh berbagai negara, mendorong tingginya harga komoditas global yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global.

Menurut Perry, berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS), merespon kenaikan inflasi tersebut dengan menempuh pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif sehingga berpotensi menahan pemulihan perekonomian global dan mendorong peningkatan risiko stagflasi. Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti AS, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), misalnya dan di berbagai negara maju yang ditempuh sejumlah bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya meningkat. Di Amerika, dan di negara yang inflasinya tinggi, karena tidak mempunyai ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut. Ruang fiskal yang terbatas di sejumlah negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global, berdampak pada meningkatnya harga-harga.

Sejumlah bank sentral  menaikkan suku bunga, tidak hanya Amerika serikat saja, melainkan juga terjadi di Brazil, Malaysia, India, maupun sejumlah negara yang lain. Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Inflasi yang tinggi jadi alasan di balik terkikisnya pertumbuhan ekonomi global. Menurut Bank dunia, tingkat inflasi harga konsumen pada April berada di 7,8% yoy, tertinggi sejak 2008. Rata-rata inflasi di negara berkembang mencapai 9,4% yoy, tertinggi sejak 2008 dan negara maju sebesar 6,9% yoy, tertinggi sejak 1982, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, pada 8 Juni 2022.

Penyebab pertama dari tingginya inflasi adalah tingginya harga komoditas. Harga komoditas energi naik tinggi karena pasokan langka akibat pandemi, diperparah oleh konflik Rusia dan Ukraina.

Begitu juga dengan komoditas bahan pangan yang saat ini harganya makin tidak terjangkau. Akibatnya aksi proteksionisme pangan bermunculan di berbagai negara. Kondisi ini membuat masalah rantai pasokan ini makin rumit.

Krisis kargo  memicu biaya pengiriman meningkat. Hal ini disebabkan gangguan di pelabuhan utama Asia dan penguncian di kota-kota utama di China seperti Beijing dan Shanghai selama dua bulan membuat pengiriman barang macet.

Perang Rusia Ukraina memperbesar kemacetan logistik yang sudah ada sebelumnya. Padahal Rusia dan Ukraina adalah pemasok komoditas energi dan pangan utama dunia. Sehingga ketika pasokan dari kedua negara macet, maka berdampa di berbagai berbagai negara.

Betapa tidak, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina termasuk  pengenaan sanksi yang menyebabkan gangguan pasokan energi dan pangan global serta gangguan mata rantai pasokan global.”Ini yang kemudian menyebabkan tingginya harga-harga komoditas, harga energi maupun harga pangan global. Misalnya harga minyak diperkirakan tahun ini bisa mencapai rata-rata  USD 103 per barel. Demikian juga harga pangan meningkat tinggi. Kemudian dari sisi pasokan menimbulkan risiko perlambatan ekonomi global, dari sisi kenaikan harga menimbulkan resiko dan terjadinya kenaikan inflasi diberbagai dunia, “kata Perry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022.

Sementara volume perdagangan dunia diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Perkembangan tersebut berdampak pada ketidakpastian pasar keuangan global yang masih akan tetap tinggi sehingga mendorong terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Perekonomian global berisiko tumbuh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, disertai dengan peningkatan risiko stagflasi dan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan.Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, berisiko lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara dan bahkan resesi di sejumlah negara maju sebagai dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang agresif.

Berbagai indikator dini Juli 2022 mengindikasikan berlangsungnya perlambatan konsumsi dan kinerja manufaktur di AS, Eropa, dan Tiongkok. Sementara itu, tekanan inflasi global masih tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta perbaikan gangguan rantai pasokan yang masih terbatas.

Volume perdagangan dunia  diprakirakan lebih rendah dari prakiraan seiring dengan perlambatan ekonomi global. Sejalan dengan perkembangan tersebut, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi, di tengah masih berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk AS meskipun tidak seagresif dari prakiraan awal. Hal ini mengakibatkan masih terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global di tengah inflasi yang tinggi di sejumlah negara dan dampak dari perang Rusia-Ukraina. IMF meramal ekonomi dunia tumbuh 3,2 persen di 2022. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perkiraan pada April 2022, sebagaimana dikutip dari liputan6.com,pada 27 Juli 2022.

Peneliti CORE Indonesia Muhammad Ishak menjelaskan, ada tiga penyebab utama IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global dan bahkan penyebab ini bisa mengakibatkan resisi global di 2022. Pertama harga komoditas yang meningkat tajam, kedua kebijakan moneter ketat di berbagai negara dan ketiga zero covid policy di China.

“Beberapa sustain harga komoditas yang berlangsung saat ini apakah trendnya akan mengalami kenaikan stabil atau mengalami penurunan,” ujar Peneliti CORE Indonesia, Muhammad Ishak, dalam acara “Menjaga Pemulihan Domestik di Tengah Potensi Resesi Global” pada 27/7/2022 masih dari sumber liputan6.com.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pun mengatakan atas kondisi ini sebanyak 60 negara dalam kondisi sulit bahkan berpotensi menjadi negara gagal.”Sebanyak 60 negara tercatat mengalami kesulian atau bisa jadi negara gagal,” ujar Menko Airlangga dalam acara Tatap Muka Dengan Direktur Utama di Sektor Jasa Keuangan Terkait Penerapan Market Conduct di Jakarta, pada 7/7, sebagaimana dikutip dari suara.com.

Selain ancaman krisis, Airlangga  menjabarkan risiko dari adanya isu perubahan iklim yang  menjadi tantangan bagi negara dunia. Perubahan iklim ini  mengancam sektor pangan, termasuk bagi Indonesia.”Tentu dampaknya itu secara langsung kepada harga barang, tekanan inflasi, pengetatan kebijakan moneter dalam bentuk likuiditas dan kenaikan suku bunga, yang tentu  mengalami market akan volatilitas lagi di seluruh dunia,” pungkasnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut, 60 negara diperkirakan akan mengalami kesulitan keuangan dan ekonomi. Negara-negara tersebut akan menjadi negara ‘gagal’ jika tidak segera mengatasi masalah ekonominya. Saat ini inflasi menjadi momok semua negara. Ada negara inflasinya di atas 70%. Bahkan, Amerika Serikat (AS) yang biasanya inflasi hanya 1%, kini menjadi 8,3%.

“Hati-hati juga ini yang menjadi momok semua negara sekarang ini adalah inflasi, jadi momok semua negara. Kita meskipun ada kenaikan sedikit tapi masih bisa kita jaga dan kendalikan,” kata Jokowi dalam acara HUT Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), pada 10 Juni 2022), sebagaimana dikutip dari detik.com.

“Inilah problem besar semua negara. Diperkirakan ada 60 negara yang akan mengalami kesulitan keuangan maupun ekonomi dan diperkirakan mereka akan menjadi negara gagal kalau tidak bisa segera mengatasi ekonominya. Inilah yang perlu saya ingatkan kepada kita semuanya,” katanya.

Menurut Jokowi, apabila hanya satu atau dua negara yang bangkrut, dapat ditolong negara lain atau lembaga internasional. Namun, apabila ada 60 negara yang mengalami itu, akan berdampak ke segala arah dan itu kondisi yang sangat mengerikan![] Yuniman Taqwa/foto: ilustrasi utama: gfmag.com