Subiakto Priosoedarsono, Bidik Pasar Lokal Dengan Magnet Cinta

Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tak perlu gaptek (gagap teknologi-red) menghadapi digitalisasi. Anda dapat belajar bangkit melalui internet dan sosial media (sosmed)  dengan mengepung pasar lokal. Bagaimana caranya?

Berdasarkan hasil survey Inveture – Alvara yang dilakukan pada 8 – 18 Juni lalu, ternyata confidence index masyarakat masih tinggi. Responden sangat yakin akhir tahun ini akan ada perubahan positif. Hal menarik lagi, belanja secara online mengalami kenaikan tajam mencapai 150% untuk B to C. Kemudian secara internasional untuk B to B ada kenaikan mencapai 6 kali lipat bisnis ekspor impor melalui e-commerce.

Bagaimana para UMKM maupun entrepreneur muda mensikapi semester II tahun ini? Menurut Praktisi Branding, Subiakto Priosoedarsono, UMKM maupun korporasi selama ini  mengandalkan traffic offline. Sementara pemberlakuan PPKM Darurat bertujuan membatasi penyebaran virus Covid-19, sehingga para pebisnis di Indonesia yang mengandalkan cara offline,   grafiknya mengalami penurunan cukup signifikan.

“Pelaku bisnis yang cepat sadar, akhirnya melakukan perubahan menjadi online grafik. Karena belum bisa buat online tersendiri, maka menumpang traffic di mall-mall itu (e-commerce), seperti Alibaba, tokopedia dan bukalapak. Itu semua mall yang traffic nya banyak,” kataSubianto dalam acara dalam gelaran Indonesia Industry Outlook 2nd Semester 2021, yang berlangsung pada 28/7.

Namun demikian, ternyata harga yang di-share, kata Subiakto, tidak siap menggunakan biaya penggunaan mall-mall tersebut, sehingga penghasilan menurun. Akibatnya menurunkan semangat yang menumpang traffic di e-commerce tersebut.

Tapi bila dilihat dari optimisme konsumen tinggi sekali, berdasarkan survei tersebut mencapai 57% bahwa Covid-19 akan berakhir di tahun ini. Tetapi bila dilihat dari pandangan terbalik, harapannya tidak terpenuhi.

“Saya selalu mengatakan kepada teman-teman UMKM, ambillah sikap bahwa pandemi ini tidak akan selesai, sehingga dengan demikian anda sudah menutup ‘jembatan di masa lalu’, agar membuat ‘jembatan baru’ membuat traffic online,” lanjutnya serius sambil menambahkan bahwa banyak cara yang dapat dipelajari melalui informasi di internet. Jangan berharap, tapi berbuatlah!

Sayangnya teman-teman di UMKM sangat lemah sekali dalam literal digital. Nah, apa yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini? “Yang mengejutkan kepemilikan smartphone di Indonesia 1,5 kali dari penduduk Indonesia. Tapi ternyata ada kesenjangan, yaitu ketidakmampuan pelaku  UMKM terhadap literasi digital. “Teman-teman UMKM itu menggunakan satu kata yaitu gaptek (gagap teknologi-red),”tukas praktisi periklanan ini.

Menurut Subiakto, kalau sudah ‘berhala’ itu muncul, maka berhenti perusahaan. “Bayangkan seorang Subiakto yang usianya sudah lebih 70 tahun, tidak menyerah dalam kata gaptek. Bisnis saya tahun 2010 tutup. Hal itu disebabkan karena terdisrupsi oleh namanya digital disruption,” kata  Subiakto.

Kondisi itu, menurutnya melahirkan ‘dendam’. Ada rasa sakit hati, gara-gara kehadiran digital, karena bisnisnya harus tutup. “Dendam itu saya kelola menjadi energi. Untuk kembali mengalahkan yang namanya digital, sehingga tahun 2008-2009 saya ini orang tua yang tertatih-tatih, terseok-seok mengikuti literasi digital. Tapi sekarang saya ada di bagian depan,” ucapnya bangga.

Subiakto mempunyai aplikasi untuk memudahkan teman-teman  melakukan digital transaction. Ia menyarankan agar para pelaku bisnis jangan menyerah dengan kondisi saat ini. Banyak sekali literasi yang bisa dipelajari melalui internet. Kemudian ada sosmed (sosial media-red), kedua ada  WA (what’s app-red). Kedua hal itu sudah lebih dari cukup.

“Kalau anda punya pelanggan 100 saja, maka bisnis anda bergulir. Bagaimana bisa berlipat menjadi 1000 pelanggan? Anda harus menciptakan apa yang disebut  Evangelista Brand Networking. Dan hal itu ada ilmunya,” kata ayah dari composer Tya Subiakto ini.

Sementara consumer experience dan consumer satisfaction berubah sangat drastis dengan adanya digital. Sementara para UMKM langkah digitalnya masih tertatih-tatih. Belum lagi consumer expectation yang terus meningkat. Bagaimana UMKM menyikapi kondisi demikian?

Menanggapi sinyalemen tersebut, Subiakto mengatakan tidak perlu didramatisir. Banyak masyarakat yang bisa mengarahkan bagaimana melakukan transaksi digital. Banyak yang sudah melakukan. Kita tinggal mengikuti saja. “Kalau kita memanfaatkan habit baru dari kosumen millennial ini, maka  kita hanya memanfaatkan,” lanjutnya.

Subiakto menambahkan, marilah kita tinggalkan old mind, bahwa ketika kita berkomunikasi, itu  hanya menyampaikan apa yang menurut kita penting. Tapi, kita juga harus memperhatikan, apakah yang kita anggap penting itu penting bagi konsumen kita. “Untuk itu, irisannya adalah antara yang penting bagi kita dan yang menarik bagi konsumen, itu namanya mutual interest yang sama,” tambahnya. Oleh karena itu, carilah atau bangun keinginan atau interest yang sama, maka di situlah letak pasar anda.

Menurut Subiakto,  belajarlah dari algoritma  bahwa   mutual interest, berarti bila kita tidak pernah posting menuliskan kata brand. Meskipun anda follow Subiakto, maka anda tidak pernah mendapatkan postingan Subiakto tentang brand. “Demikian juga bila anda mengatakan UKM, tapi dalam postingan saya tidak pernah menyebutkan kata UKM/UMKM, maka saya follow tidak akan dapat mendapat postingan anda,”katanya. Itulah cara media sosial memaksa agar kita berkomunikasi dengan interest yang sama.

Lebih lanjut ditambahkan, bila anda UMKM, maka pasar UMKM itu bukan di internasional, bukan di nasional, tapi di lokal. Oleh karena itu, berpikirlah lokal saja. Bila anda punya 100 pelanggan untuk dikirimkan makanan, maka potensi itu sudah cukup.

Namun demikian, sering kali kita menggunakan  riset  dari 100 rumah yang tertarik dengan produk anda? Tak perlu itu! Tukang sayur itu mempunyai database yang luar biasa. “Dan itu yang dilakukan McDonald’s setiap kali buka cabang. Jadi, yang di survey hanya 1 km radius sekitar McDonald’s,” katanya. Apakah anak muda yang siap menjadi crew McDonald’s? Apakah anak muda itu punya teman yang bisa diajak makan di McDonald’s? Dan apakah keluarganya bisa menjadi captive market? Karena bangga anaknya kerja di McDonald’s mungkin, sehingga kalau ada tamu pasti diajak makan ke McDonald’s.

Fenomena itu sekelas McDonald’s yang mempunyai 200 ribu restauran di seluruh dunia! Mengapa kita yang UKM sok-sok-an mau ekspor. “Kuasai saja komplek di sekitar resto-resto anda yang menguasai radius sekitar 100 di sekitar restoran anda,” terang Subiakto.

Dengan adanya pandemic Covid-19, menurut Subiakto para UMKM hanya berganti cara saja. Misalnya tadi tidak ada delivery, sekarang siapkan fasilitas delivery. Kita harus tahu pengiriman tidak lebih 7 sampai 10 menit. Jadi, kalau jualan bakso memerlukan waktu pengantaran sampai 1 jam, pasti baksonya sudah dingin. Oleh karena itu food experience berbeda dengan di restoran. Oleh karena itu, pastikan delivery radius 1 kilometer bisa ditempuh paling lama 10 menit, sehingga food experience masih tetap bagus.

Sebetulnya digitalisasi, kata Subiakto hanya untuk  menyampaikan informasi untuk konsumen. Lewat WA misalnya, ini ada menu baru, mau coba apa nggak?   Jadi, digitalisasi itu tidak perlu mengikuti gaya-gaya Bukalapak dan Gojek yang sudah jaya, kita cukup kecil-kecilan saja.

Di samping teman-teman masih banyak yang menganggap branding itu adalah merek atau kemasan. Branding itu, menurut Subiakto merupakan ikatan emosi dan cinta. Nah, sekarang ini justru anda harus menggunakan magnet cinta itu untuk menjaga pelanggan. Magnet ini bisa dilihat dari produknya, bisa dari harga, bisa dari diskonnya. “Yang penting itu kita harus mengetahui mana magnet transaksi yang diminati oleh konsumen. Kalau magnet itu tercipta, maka otomatis yang paling diingat mereknya akan diterima,” tambahnya. Jadi, branding itu intinya walaupun tidak ketemu tapi masih diingat, masih dihati.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa