Di Tengah Pandemi, Saatnya Membeli Properti

Stimulus yang diberikan pemerintah, yaitu pembebasan PPnBm (Pajak penjualan Barang Mewah) dan kebijakan DP nol persen dAn suku bunga yang renah, menjadi faktor konsumen berminat membeli. Bagaimana konsumen mensikapi kebijakan pemerintah itu?

Berdasarkan hasil surveI Inventure – Alvara, Juni lalu, responden lebih memilih properti DP nol persen, angkanya mencapai 10,8%. Kemudian 49,2 % yang tidak setuju. Kemudian pertanyaannya bagaimana kalau work from home (WFH) dijadikan permanen. Ternyata, responden tetap memilih rumah di dekat pusat kota sebanyak  45,9% dan 54,1% yang tidak tertarik membeli rumah di pusat kota. Kemudian bagaimana dengan perumahan yang dekat dengan transfortasi publik? Ternyata masih menjadi pilihan, di mana responden yang setuju sebanyak 43,8 dan yang tidak setuju 56,2%.

Menurut Marine Novita, Country Head rumah.com, properti merupakan salah satu kebutuhan. Meskipun ada Covid-19,  tidak mudah terguncang. Buktinya traffic rumah.com naik 100%  dibandingkan sebelum Covid-19. “Di masa Covid ini pemerintah banyak men-support keberlangsungan bisnis properti. Suku bunga  terendah.  Yang sebelumnya tidak pernah suku bunga terendah  sebelum Covid,” katanya dalam acara Indonesia Industry Outlook 2nd Semester 2021, minggu keempat, Juli lalu.

Lebih lanjut ditambahkan, peminat terhadap properti masih cukup stabil, meskipun berada di tengah Covid-19 ini. Dari sisi pengembang harus dituntut kreatif, tetap bekerja, berkomunikasi dan apalagi target pemasaran jalan terus, biaya tetap harus dikeluarkan. “Kita berpikir bagaimana caranya untuk bisa jualan di masa pandemi seperti ini,” tambahnya.

Sementara dari sisi konsumen, menurut Marine, peminatnya tetap ada. Konsumen mencari cara  membeli rumah, kendati tidak bisa langsung melihat rumahnya. Kebanyakan konsumen menggunakan channel digital untuk bisa melihat rumah yang ingin dibelinya. “Bisa mendapat informasi lebih banyak lagi terhadap rumah yang akan dibeli,” urainya. Sedangkan dari sisi pemasaran, kata Mariana, mungkin sekitar 90% para pemasar memanfaatkan teknologi digital.

Rumah.com melihat ada perubahan changer behaviour. Tadinya konsumen banyak melihat rumah secara offline, tapi kini banyak yang memanfaatkan teknologi online. Kalau dilihat dari data wearer social, masyarakat Indonesia sudah memakai mobile internet user mencapai 95 juta orang. Sedangkan pemilik handphone yang mempunyai akses internet ada 195 juta orang atau sekitar 71% dari total populasi di Indonesia.

Fenomena merubah behaviour kita. Apalagi kini kondisi pandemi  menyebabkan banyak kegiatan menggunakan handphone. “Pada saat ditanya pada konsemen kita, mereka lebih banyak work from home (WFH), membuat konsumen sadar betapa penting memiliki rumah. Itu terlihat di data kami yang memang traffic nya naik selama masa pandemi setahun belakangan ini,” lanjutnya.

Mariana menambahkan, ada minat membeli rumah pada satu atau dua tahun ke depan. Sedangkan dari sisi pembayaran konsumen lebih banyak menggunakan sistem syariah. Ada sekitar 35% responden dari hasil survei rumah.com memilih sistem syariah dibandingkan yang konvensional.

“Yang menarik lagi, ada keinginan pindah dari wilayah Jabotabek jika tetap WFH. Mungkin sudah tidak perlu lagi ke kantor. Apalagi membeli rumah di Jakarta cukup mahal, sehingga mereka membeli rumah di daerah Bekasi dan Tangerang yang harganya masih terjangkau,” katanya seraya menambahkan, yang penting ada fasilitas  publik transportasi dan akses internet. Jawa Barat masih menjadi wilayah yang diminati konsumen untuk membeli rumah.

Dengan adanya Covid-19 ini, tambah Marine, menurut survei rumah.com, konsumen yang menunda pembelian properti di tahun ini  ada sekitar 60%. Kemudian sekitar 40% menghindari zona merah.  Mereka ingin membeli properti tapi saat ini mengalami kesulitan melihat properti karena pemberlakuan PPKM Darurat Jawa Bali dan dan PSBB pada tahap awal pandemi di Indonesia pada tahun lalu, membuat konsumen mengalami kesulitan melihat properti.

“Saat ini yang paling diminat konsumen untuk membeli properti di bawah Rp 500 juta dan Rp 750 juta yang paling tinggi. Angka itu kita berbicara untuk pasar properti nasional dan sisanya Rp 750 juta sampai Rp 1 milyar,” katanya.

Namun demikian, satu tahun belakangan ini, indeks harga properti turun, khususnya di segmen apartemen. “Dengan adanya vaksinasi yang beberapa bulan terakhir ini, diharapkan ekonomi bisa pulih,” katanya. Kalangan pengembang di Indonesia sedang mengkampanyekan properti saat  ini. Pasalnya, harga sedang turun dan  banyak promo.

Belakangan ini harga properti cendrung turun, tapi supply tetap naik. Apalagi ada promo PPN nol persen, DP nol persen dan ada DP hanya 5% yang dapat dicicil. Ini semua kemudahan yang bisa didapatkan pada masa pandemi. “Kita ingin push teman-teman millennia dan konsumen lainnya bahwa saat ini  waktunya membeli properti,” tambah Marine

Meskipun dihantam badai Covid-19 menurut Marine, sekto properti tidak mudah goyah. Bahkan, hasil surve rumah.com, pada semester I 2021 mengalami peningkatan. Pengembang menghargai kebijakan pemerintah. Misalnya suku bunga yang rendah, pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut di tengah pandemi. Hal ini membuat konsumen confidence terhdap pasar propert di Indonesia.

Sejauh ini konsumen, kata Marine, lebih suka membeli project baru dibandingkan dengan secondary house.  Sedangkan jenis properti yang diinginkan adalah rumah tapak. Padahal sebelum Covid-19, angkanya tidak terlalu jauh. Tapi setelah adanya Covid-19 minat membeli apartement angkanya menjadi turun.

Hasil survei rumah.com menyebutkan kalangan milenial berusia 22 tahun sampai 29 tahun  berminat membeli properti. Sementara umur 30 sampai 39 tahun – karena adanya kebijakan WFH — sehingga dirasakan penting punya rumah nyaman,  untuk bisa bekerja, berkomunikasi dan belajar. Umur 22 sampai 29 tahun sebanyak 52% menghindari pembelian rumah di zona merah. Sedangkan umur 30 sampai 39 tahun juga menghindari membeli rumah di zona merah. Dan umur di atas 40 tahun juga menghindari zona merah, tapi tidak sebanyak dibandingkan umur 22 sampai 29 tahun.

Marine menambahkan, rumah.com berada di lima negara, yaitu Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand dan Indonesia.  “Traffic yang mengunjungi rumah.com mencapai 35 juta di lima negara ini tiap bulannya. Sedangkan di Indonesia, sekitar 4 juta traffic yang mengunjung rumah.com tiap bulannya.

Marine mencatat,  yang datang ke rumah.com umumnya milenial di kisaran 18 sampai 24 tahun sebanyak 22%. Sedangkan rate pengunjung yang tertinggi umurnya antara 25 tahun sampai 34 tahun, disusul pengunjung  umur 35 tahun sampai 44 tahun.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama : ist