Sri Lanka Bangkrut, Gagal Bayar Utang

Negara bangkrut! Salah satunya Sri Lanka. Pemicu kebangkrutan negara ini karena kegagalan membayar utang luar negeri. Pemerintah kehabisan dollar, sehingga tidak mampu membiayai impor barang-barang pokok termasuk BBM.

Sektor pariwisata Sri Lanka yang vital awalnya dihantam serangan bom ekstremis di gereja dan hotel pada 2019, kemudian dihadapi munculnya wabah pandemi virus Covid-19. Pundi-pundi kas Sri Lanka semakin terkuras oleh pemotongan pajak pemerintah.  Lalu pemerintah kehabisan mata uang asing untuk mengimpor segala sesuatu mulai dari obat-obatan hingga makanan dan bahan bakar. Bahkan dengan bantuan dari India dan negara lainnya, Sri Lanka gagal bayar utang luar negeri sebesar USD51 miliar  pada April lalu.

Sri Lanka telah gagal membayar utangnya pertama kali. Hal ini menjadi krisis keuangan terburuk selama lebih dari 70 tahun. Untuk masa tenggang 30 hari kewajiban menghasilkan USD78 juta pembayaran bunga utang yang belum dibayar berakhir pada pertengahan Mei 2022.

Kemudian, Gubernur bank sentral setempat saat itu mengatakan negara itu sekarang dalam default pre-emptive. Pada Mei 2022, dua lembaga pemeringkat kredit terbesar di dunia juga mengatakan Sri Lanka telah gagal bayar utang alias default, sebagaimana dikutip dari  okezone.com, pada 12/7 lalu.

Sebagai  informasi, rasio utang terhadap GDP (Debt to GDP ratio) Sri Lanka berada di atas 107% dengan tingkat inflasi sekitar 54,6% pada Juni lalu, sebagaimana dikutip dari merdeka.com, pada 13 Juli lalu.

Sri Lanka selanjutnya melakukan pembicaraan bailout (bantuan keuangan untuk menghindari kebangkrutan) dengan Dana Moneter Internasional atau IMF selama berbulan-bulan. Warga Sri Lanka selama berbulan-bulan mengalami kekurangan obat-obatan dan makanan serta pemadaman listrik.

Krisis Sri Lanka diperparah dengan SPBU yang kehabisan bensin dan solar, meskipun sudah meminta diskon minyak ke Rusia dan negara lainnya. Tingkat inflasi tidak resminya adalah yang kedua tertinggi setelah Zimbabwe, membuat banyak barang–jika dapat ditemukan–terlalu mahal bagi banyak orang untuk membelinya, sebagaimana dikutip dari kompas.com, pada 12/7 lalu.

PBB memperingatkan, Sri Lanka sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang mengerikan. Jutaan orang sudah membutuhkan bantuan. Masyarakat Sri Lanka mengurangi asupan makanan mereka karena kekurangan pangan yang parah. Akibat dilanda krisis bahan bakar,  22 juta orang Sri Lanka telah mengalami pemadaman berbulan-bulan yang panjang, rekor inflasi dan kekurangan makanan, bahan bakar.

Tak pelak lagi, akibat kondisi itu, inflasi melambung tinggi. Barang-barang, termasuk BBM langka di pasaran. Fenomena ini memicu gelombang unjuk rasa. ratusan ribu pedemo merangsek masuk istana kepresidenan di ibu kota Colombo. Mereka   menggunakan fasilitas seperti kolam renang dan kamar presiden.

Sementara Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke Maladewa dengan kapal Angkatan Laut pada minggu pertamina Juli 2022. Belum berencana  mengundurkan diri dengan mengirim surat pengunduran diri dari Singapura. Pengunduran diri Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa  diterima. Hal ini diumumkan  Ketua Parlemen Sri Lanka Mahinda Yapa Abeywardana pada 15/7.

“Gotabaya telah mengundurkan diri secara sah mulai 14/7. Saya telah menerima pengunduran diri (Presiden Gotabaya),” kata  Yapa Abeywardana sebagaimana dikutip dari AFP.

Pasukan bersenjatakan tongkat dan senjata otomatis membersihkan Sekretariat Presiden. Dalam serangan sebelum fajar pada Jumat (22/7) atas perintah penerus Rajapaksa, Ranil Wickremesinghe. Pasukan keamanan merobohkan tenda yang didirikan oleh pengunjuk rasa di luar kompleks sejak April. Sedikitnya 48 orang terluka dan sembilan ditangkap dalam operasi tersebut. Polisi mengatakan ahli forensik telah dipanggil untuk memeriksa kerusakan di Sekretariat Presiden dan mengumpulkan bukti.

Sementara Kantor kepresidenan Sri Lanka yang terkepung akan dibuka kembali pada Senin (25/7), beberapa hari setelah demonstran anti-pemerintah diusir keluar dalam tindakan keras militer yang memicu kecaman internasional. “Kantor itu siap dibuka kembali mulai Senin,” kata seorang pejabat polisi pada Minggu (24/7), yang menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media sebagaimana dilansir AFP.

Juru bicara polisi Nihal Talduwa mengatakan pengunjuk rasa bebas melanjutkan demonstrasi mereka, di tempat yang ditentukan di dekat kantor kepresidenan. “Mereka dapat tetap berada di tempat protes resmi. Pemerintah bahkan mungkin akan membuka beberapa tempat lagi bagi para demonstran di kota itu,” kata Talduwa pada 24/7, sebagaimana dikutip dari kompas.com pada 25/7.

Pemerintah Barat, PBB dan kelompok hak asasi manusia telah mengutuk Wickremesinghe karena menggunakan kekerasan terhadap demonstran tidak bersenjata, yang telah mengumumkan niat mereka untuk mengosongkan situs tersebut pada 22/7. Wickremesinghe membela tindakan keras itu, Dia mengaku telah mengatakan kepada diplomat, yang berbasis di Colombo pada hari yang sama, bahwa pendudukan gedung-gedung pemerintah tidak dapat diterima.

Sementara Presiden baru Sri Lanka  Ranil Wickremesinghe, mengungkapkan bahwa pemerintahnya sedang mempersiapkan kebijakan nasional untuk memotong utang publik dan menjadikan negaranya ekonomi ekspor yang kompetitif dalam 25 tahun ke depan. Rencana ekonomi itu datang ketika Sri Lanka sedang dalam perjuangannya keluar dari krisis ekonomi terburuk dalam 70 tahun, sebagaimana dikutip dari liputan6.cm, pada 4/8 lalu.

Dalam pidatonya di depan Parlemen Presiden Ranil Wickremesinghe mengatakan bahwa Sri Lanka membutuhkan solusi jangka panjang dan landasan yang kuat untuk menghentikan terulangnya krisis ekonomi. Pemerintahnya telah memulai negosiasi dengan Dana Moneter Internasional  (IMF) tentang rencana penyelamatan ekonomi Sri Lanka dalam empat tahun, serta finalisasi rencana restrukturisasi utang.

“Kita akan mengajukan rencana ini ke Dana Moneter Internasional dalam waktu dekat, dan bernegosiasi dengan negara-negara yang memberikan bantuan pinjaman. Selanjutnya negosiasi dengan kreditur swasta juga akan mulai mencapai mufakat,” kata Wickremesinghe, dikutip dari Associated Press, (4/8).

“Langkah-langkah keamanan telah diambil untuk menghindari kekurangan pangan. Distribusi obat-obatan esensial dan peralatan medis ke rumah sakit juga sudah dimulai. Sekolah telah dibuka kembali. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh industri dan sektor ekspor,” jelasnya.

Wickremesinghe telah mengatakan sebelumnya bahwa negosiasi dengan IMF sempat berjalan sulit karena kebangkrutan Sri Lanka dan target awal untuk  Agustus tidak mungkin tercapai. Sekarang, pembicaraan pemerintah Sri Lanka dan IMF diharapkan kembali berjalan pada  September mendatang.

Presiden Wickremesinghe, masih dari sumber liputan6.com. 4/8,  pun membeberkan target Sri Lanka menciptakan surplus dalam anggaran primer pada tahun 2025 mendatang, dan menurunkan utang publik, yang saat ini mencapai 140% dari PDB, menjadi kurang dari 100% pada tahun 2032.

“Ekonomi harus dimodernisasi. Stabilitas ekonomi harus dibangun dan ditransformasikan menjadi ekonomi ekspor yang berdaya saing. Dalam konteks ini, kami sekarang sedang menyiapkan laporan, rencana, peraturan, undang-undang dan program yang diperlukan,” pungkasnya.

“Jika kita membangun negara, bangsa, dan ekonomi melalui kebijakan ekonomi nasional, kita akan dapat menjadi negara yang sepenuhnya maju pada tahun 2048, ketika kita merayakan peringatan 100 tahun kemerdekaan,” tutur Wickremesinghe.[]Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama; ist