Pandemi Bawa Bisnis digiOH Berlari

Tiga bulan awal pandemi, omzet digiOH terjun bebas hanya tersisa 6 persen. Perusahaan yang awalnya sebagai rental signage, kini bertransformasi menjadi Event Organizer (EO)  yang mempunyai keunggulan di bidang teknologi informasi. Bagaimana kisah perusahaan ini bertransformasi?

Mimpi menjadi pengusaha tak langsung terwujud usai lulus dari Institut Teknlogi Bandung (ITB), jurusan Teknik Informatika. Pasalnya setelah lulus dari ITB, tahun 2010 Philip Hutapea justru diajak bergabung bekerja di PT Innovasi Sarana Grafindo (InnoGRAPH),  perusahaan besutan alumni ITB juga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang  desktop publishing.

Selama bekerja di situ, ia banyak mendapat pembelajaran bagaimana menjadi pengusaha. Bahkan, pemiliknya tak pelit-pelit mengajarkan banyak hal kepada Philip tentang proses kerja seorang entrepreneur. “Ia banyak mengajarkan business process  mulai dari mencari vendor sampai teknik berjualan.  “Setelah siap menjadi pengusaha, saya resign pada akhir 2015. Bersama tiga teman alumni ITB, kami mendirikan usaha yang bergerak di bidang rental produk digital signage (sistem integrasi dan penyewaan-red),” kata Philip Hutapea, CEO digiOH  kepada pelakubisnis.com, akhir Maret lalu. Kemudian lahirlah brand ‘digiOH’ (Digital Open House) yang dibesut Philip bersama tiga teman sesama alumni ITB yaitu, Renalto Wijaya,  Athur Rizqi Januar dan Ferdinan Manullang.

Saat itu beberapa perusahaan sejenis  lebih fokus menangani project signage.  Belum banyak perusahaan yang memberi jasa layanan rental digital signage. “Saya masuk segmen penyewaan  alat-alat digital signage dan project,” kata Philip seraya menjelaskan digiOH saat didirikan fokus memberi jasa penyewaan alat-alat digital signage.

Philip menambahkan, di segmen rental digital signage  memang nilainya kecil  dibandingkan project signage. Namun demikian, segmen rental  bersifat  jangka panjang yang bisa menghidupkan perusahaan sehari-hari.  Sementara pekerjaan project memang  uangnya besar, tapi pembayarannya lama. Justru revenue terbesar saat  itu berasal dari divisi rental. Saat itu omzet digiOH rata-rata per bulan mencapai Rp 200 juta.

“Ketika pandemi Covid-19 pada Maret 2020, omzet perusahaan anjlok 94 persen  dalam tempo tiga bulan dibandingkan kurun waktu yang sama sebelum pandemi.   Bisa dibilang, semua event dibatalkan. Sementara pekerjaan project masih ada yang berjalan, tapi kerjaannya di-pending.  Beruntung  masih ada sisi-sisa PO yang bisa ditagih,” lanjut Philip sambil menambahkan saat itu ada sekitar tujuh karyawan yang harus digaji tiap bulannya. Selama pandemi tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak ada pemotongan gaji.

Di tengah kegalauan karena tidak ada aktivitas usaha, kata Philip, dibangun komunikasi dengan komunitas entrepreneur alumni ITB. Komunikasi dilakukan melalui zoom meeting, sehingga terbetik rencana menyelenggarakan webinar sesama anggota komunitas. Kebetulan digiOH sebelum pandemi juga jualan papan tulis (interactive white board-red)  di ruang rapat dengan cara touch screen sebagai solusi di ruang meeting. “Alat itu sudah diinstal  zoom. Jadi kami sudah menggunakan zoom sebelum pandemi,” jelasnya.

Menurut Philip, dari pengalaman menggunakan zoom sebelum pandemi, akhirnya digiOH dipercaya oleh komunitas entrepreneur ITB menjadi operator penyenggaraan webinar. “Kami mengadakan webinar berseri. DigiOH menjadi operator dari mengatur undangan, keluar masuknya peserta webinar  yang dilakukan secara sederhana,” ujar mantan Digital Business Unit Head  PT Innovasi Sarana Grafindo ini.

Dari pengalaman itu, menginspirasi digiOH untuk menawarkan jasa penyelenggaraan webinar. Dan gayung pun bersambut. Bermula dari relasi-relasi digiOH untuk minta diselenggarakan webinar dan zoom meeting perusahaan. “Akhir saya dan teman-teman melakukan penyempurnaan  untuk menyediakan jasa penyelenggaraan webinar atau zoom meting yang lebih profesional,” cerita Philip. Jasa layanan ini dinamakan webinar organizer dan diiklan di google.  Ternyata jasa ini  memang ada pasarnya. Order pertama webinar organizer pada Juni 2020. Akhirya justru divisi ini yang menyelematkan eksistensi digiOH selama pandemi.

Ia menambahkan, sepanjang tahun 2020 sampai 2021 banyak pekerjaan online (operator webinar). Kemudian tahun 2022 digiOH mulai masuk ke segmen hybrid. Dan tahun ini akan  masuk ke pasar hybrid dan merambah ke bisnis EO offline.  Sekarang posisi  digiOH lebih difokuskan menangani kegiatan EO yang berkaitan dengan digital. “Tadinya digiOH hanya sebagai supporting EO, karena kebanyakan perusahaan  yang tidak mengerti teknologi online dan hybrid. Sekarang ini semua event yang offline sudah standarisasi  digital. Kekuatan digiOH ada di situ,” tandas Philip.

Meski digiOH, menurutnya tidak memposisikan diri untuk head to head dengan EO yang sudah ada. Tapi karena kondisi kegiatan sudah offline semua, maka mau tidak mau masuk ke ranah EO dengan keunggulan teknologi digital yang kuat. “Dengan keunggulan ini, si klien mendapat nilai tambah dari pemanfaatan teknologi, sehingga event klien lebih efisien,” jelasnya.

Sementara lompatan dari online ke hybrid dan offline tidak terlalu jauh. DigiOH yang dulunya bisnis rental, kini masuk ke EO. Proses itu, menurut Philip melewati tahapan-tahapan, sehingga ketika masuk ke EO tidak gagap. Justru potensi digiOH bisa semakin maksimal. Tadinya lebih banyak pekerjaan fisik, sekarang lebih banyak di bidang komputer yang bisa dieksplorasi. “Dalam event, baik online atau offline peran peran creator membuat content  tak bisa diabaikan. Pasti ada visualisasi dan sebagainya. Kekuatan kami  adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki,” urainya. Sebab kalau berbicara alat, banyak yang bisa membelinya. Itu yang tidak banyak dimiliki oleh perusahaan sejenis.

Klien-klien digiOH yang online mulai mempercayai untuk menangani event hybrid. Salah satunya adalah Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan. Saat itu digiOH dipercaya menangani event bedah buku secara hybrid. Dari situ terus berkembang ke pekerjaan-pekerjaan lain. “Kami banyak mendapat pekerjaan ketika acara G20 dari Kementerian Keuangan untuk nilai pekerjaan di bawah Rp 200 juta. Lembaga ini banyak kerjasama dengan lembaga- lembaga internasional. Salah satunya adalah Asian Development Bank (ADB). Kami dipercaya ADB untuk menangani acara-acara di Indonesia. Kini ADB menjadi dalah satu klien kami sampai sekarang untuk acara hybrid dan offline. Sampai sekarang klien-klien kami banyak dari NGO internasional, seperti UNDP salah satunya,”papar ayah dua anak ini.

Berdasarkan pengalaman menyelenggarakan kegiatan hybrid dan offline, kata Philip, ternyata DNA digiOH cukup kuat di pelayanan. Mulai tahun ini digiOH mulai berani mengikuti tender –tender. “Dari dulu DNA kami bukan main di pemerintahan,  tapi lebih banyak ke swasta,” tambahnya.

Diakui Philip, setiap produk atau jasa pasti punya siklus.  DigiOH sebisa mungkin bermain di luar arena red ocean. Ketika suatu produk atau jasa sudah masuk ranah red ocean,  dicoba lagi membuat sesuatu yang baru. Contoh untuk jasa penyelenggaraan webinar, DigiOH termasuk perusahaan yang pertama menawarkan jasa tersebut. Ketka jasa online mulai turun, digiOH langsung masuk ke hybrid. Dan kini momen hybrid mulai turun, Philip langsung  memberanikan diri masuk ranah bisnis EO dengan skala lebih besar dan memberikan ‘One Stop Solution’ dengan added value mempunyai keunggulan di bidang teknologi.

Sementara  Chief Finance Officer/General Manager digiOH, Renalto Wijaya mengatakan, product life cycle pasti selalu ada untuk produk maupun jasa. Sebelum sampai ke kondisi itu, digiOH sudah harus diantisipasi. Sedangkan klien-klien yang lama harus dipertahankan. “Ternyata klien kami melihat digiOH lebih dari teknisi, tapi memberikan pelayanan terbaik, sehingga terbangun kepercayaan,” ujarnya seraya menambahkan, list-list untuk mendapatkan klien untuk EO biasanya justru datang dari klien. Dengan sendirinya promo ketok tular (word of mouth) pun bekerja.

Renalto menambahkan, “Awalnya klien-klien digiOH menyewa alat-alat berbentuk teknologi. Lama-kelamaan klien melihat sistem kerja digiOH bisa menangani kegiatan EO, baik hybrid maupun offline, akhirnya dipercaya oleh klien menangani event,”.

Menurut Relanto, modal di lini EO tidak dibilang nol lagi. Tinggal digiOH menghadirkan lagi inovasi-inovasi teknologi  yang lebih baik dan membuat pekerjaan klien lebih efisien. Kata kuncinya adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada klien dan bagaimana memberikan nilai tambah teknologi. “Tim digiOH ada dua bidang utama. Pertama, tim yang berbasis pelayanan dan satu lagi tim yang melakukan eksplorasi  teknologi,” tandasnya.

Tahun ini, lanjut Philip, selain menangani event-event hybrid, digiOH juga mulai fokus menangani event-event offline. DigiOH belajar shifting dari klien-klien lama yang mulai melakukan shifting kegiatan dari online ke hybrid dan kini mulai offline lagi. “Tahun ini kami lagi belajar banyak masuk ke ranah EO, tapi kami punya kemampuan yang teknologi. Kami berharap dengan menggunakan EO digiOH, efisiensinya lebih besar,” jelasnya.

Sebagai catatan, sebelum pandemi tahun 2019 omzet digiOH rata-rata per bulan mencapai Rp 200 juta. Nilai sebesar itu disumbang dari devisi rental mencapai 60 persen dan  40 persen dari project. Ketikan awal-awal pandemi, omzet anjlok tinggal 6 persen sampai Juni 2020. Perlahan tapi pasti digiOH mampu me-recovery  usaha kembali di  tahun 2021. Bahkan di  tahun 2022 omzet  meningkat rata-rata di angka Rp 300 juta per bulan, melebihi omzet  sebelum pandemi.

Target  digiOH di tahun 2023 ini diharapkan mampu menembus angka Rp 400 juta per bulan. “Sejak pandemi sampai sekarang dibandingkan sebelum pandemi, perkembangan digiOH lebih baik sekarang,” kata Renalto seraya menyebutkan saat ini  karyawan digiOH berjumlah 13 orang. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa