Dari Jagalan Surakarta, UMKM Abon PS Mas Tumbuh dan Jadi Binaan YDBA
Bermain di kualitas rasa, Abon PS Mas bertahan di 5 besar industri abon di daerah Jagalan Surakarta dengan omzet Rp200 juta per bulan. Kini di tangan generasi ketiga, selain membangun hubungan baik dengan reseller, PS Mas juga berkolaborasi dengan YDBA agar usahanya tertata lebih rapih dan menjangkau jaringan pemasaran yang lebih luas.
Kelurahan Jagalan, Jebres , Surakarta, Jawa Tengah, dikenal sebagai kampung jagalan karena masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai tukang jagal atau penyembelih hewan. Tak heran bila di daerah ini banyak terdapat Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Karena sudah turun temurun bekerja sebagai penyembelih hewan, terutama hewan sapi, tak sedikit masyarakat sekitar yang terjun ke industri olahan berbasis daging sapi seperti dendeng, abon, srondeng dan lain-lain.
Setidaknya ada 5 pemain besar di industri olahan daging sapi seperti abon misalnya. Sebut saja Abon Kereta Mas, Abon Satria, Abon KL dan Abon PS Mas. Keempat merek ini cukup familiar di pasar Jawa Tengah dan Jawa Timur. PS Mas salah satu merek produk olahan daging sapi dan ayam yang cukup dikenal di daerah di Jawa Tengah khususnya sejak 1993.
Adalah kakak beradik Supriyanto (57) dan Surono (54) yang mengalami masa-masa berjuang memasarkan abon PS Mas ke beberapa daerah di wilayah Jawa Tengah. Mereka berbagi tugas dengan ayah ibunya yang membuat abon dan menunggu toko, sementara Supriyanto dan Surono berkeliling naik motor menawarkan abon ke toko-toko. Awalnya hanya sekitar wilayah Surakarta, kemudian merambah ke beberapa desa di Jawa Tengah.

Generasi ketiga PM Mas, Hammam Abdurrasyid mengungkapkan kepada pelakubisnis.com, ia mendapat cerita dari Supriyanto yang tak lain adalah ayahnya bahwa kelahiran Abon PS Mas tak lepas dari sejarah perjuangan kakeknya, alhamarhum Parto Suwito yang sempat bekerja di RPH cukup lama. Setelah berhenti kerja sebagai tukang jagal sapi, sang kakek membangun usaha berjualan bakso. Tak jauh berbeda dengan cerita masyarakat di generasi sang bapak waktu itu yang terjun berjualan bakso. Lalu muncul tren mengolah daging sapi menjadi dendeng dan abon.
PS Mas diakui Hammam bukanlah pionernya, termasuk follower yang berdiri tahun 1993. Namun masing-masing pemain punya market sendiri. Bahkan ada juga mantan karyawan PS Mas yang membangun usaha abon sendiri setelah memahami proses pembuatan abon.
Menurut Hammam, masing-masing pemain mempunyai pasar sendiri dan memiliki cara yang berbeda-beda dalam memasarkan produknya. Bila yang lain ada yang masuk modern market, PS Mas memilih konsentrasi membesarkan pasar B2B (business to business) dengan pola jual putus. Cara ini rupanya dirasa cukup efektif untuk meningkatkan volume penjualan.
Kontribusi terbesar penjualan PS Mas memang berasal dari pasar B2B. Dimana tak sedikit pelanggannya yang menjadi reseller dan menjual produknya dengan membuat merek sendiri bahkan tak sedikit juga yang tetap menggunakan merek PS Mas.
Ia pernah mendapati produk abon PS Mas di luar negeri seperti Negara Mesir dan Madinah Arab Saudi.”Saya lulusan pondok jadi banyak teman saya yang bersekolah ke sana. Karena waktu mondok saya juga sering bawa abon PS Mas, mereka familiar dengan merek ini,”tutur Hammam menangkap peluang di pasar ekspor lewat jaringan pertemanan dan hingga kini produksi abonnya sudah ada di beberapa Negara di Timur Tengah juga beberapa negara di Asia seperti Singapure, Thailand, Hongkong dan Vietnam yang diekspor melalui buyer yang membeli dari reseller-resellernya.
Ketika ditelusuri ternyata teman-teman itu membeli dari reseller PS Mas yang tersebar di Jawa Tengah. Tidak hanya melalui jalur distribusi reseller, produknya juga banyak dipesan untuk kebutuhan industri seperti industri roti dan rumahsakit.
Ada seorang pelanggan karyawan rumahsakit yang rajin belanja abonnya per minggu sampai 6 kilogram. “Ketika ditanya, ternyata oalaah… untuk menu tambahan pasien rumahsakit. Sekarang anak beliau mau kerja sama B2B, mau jual lagi dengan merek PS Mas, akhirnya jadi reseller kita juga,” tambah sarjana S1 Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta Solo Jawa Tengah ini.
Beragam permintaan pelanggan PSMas, dari yang sekedar konsumsi sampai menjadi reseller. Ada yang membeli skala bulk kemudian dikemas sendiri menggunakan merek sendiri, ada juga menjual dengan merek PS Mas dan adapula yang request memakai desain kemasan yang berbeda dengan memakai merek PS Mas.

Diakui Hammam dari total produksi 150 kilogram (daging sapi dan ayam) per hari, kontribusi penjualan ke pasar segmen B2B mencapai 80 persen, selebihnya 20 persen segmen B2C (business to customer) . Adapun dari total 150 kilogram daging sapi , setelah diproduksi menjadi abon akan susut sekitar 40% menjadi tinggal 90 kilogram abon daging sapi, sementara daging ayam susut tinggal 40 kilogram abon ayam. Jadi total dari 150 kilogram daging sapi dan daging ayam menyusut tinggal 120-130 kilogram abon sapi dan abon ayam.
Ia menambahkan, dari total produksi abon saat ini yang mencapai 130 kilogram, target yang dapat diserap pasar sekitar 70%, dan sisanya sekitar 30% disiasati untuk stok bila ada permintaan dadakan. Jadi bila yang terserap pasar lebih tinggi, maka pihaknya akan menambah volume produksi.
Pun diakuinya saat ini omzet stabil di kisaran angka Rp200-300 juta per bulan. Sementara di masa covid lalu menurut Hammam, omzet turun sekitar 5-10%. Tetap ada penjualan dari reseller dan juga memanfaatkan marketplace namun tidak besar jumlahnya.
Pun, lanjutnya, di generasi perintis, dalam hal ini kakek neneknya, melibatkan kedua anaknya, Supriyanto dan Surono menjajakan abon dari toko-toko di sekitar Jawa Tengah sampai Yogyakarta bahkan hingga Jawa Timur. “Jadi bapak punya target satu hari bisa datangi 200 toko. Dulu tuh kami bisa titipkan abon ribuan toko,”ungkapnya yang saat ini produknya sudah terserap ke wilayah Bogor, Bandung dan beberapa daerah Jabodetabek bahkan hingga Bali dan Sumatera di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sinergi kakak beradik antara ayah dan pamannya memudahkan Abon PS Mas terserap pasar. Sang ayah menyambangi toko, paman yang setor uangnya. Namun diakui Hammam , dari ribuan toko itu kini tinggal sekitar 5 persen yang menjadi reseller Abon PS Mas. Hal tersebut bukan karena pasar menolak atau bosan dengan produk Abon PS Mas tapi karena pihaknya tidak lagi ‘segercep’ dulu dalam melakukan penetrasi pasar. Karena sudah merasa cukup memiliki beberapa reseller, generasi kedua yang dulu semangat berjuang justru merasa nyaman dengan penyerapan pasar yang sudah ada. Padahal pasar nasional masih terbuka lebar untuk PS Mas lakukan penetrasi pasar.
Seiring berjalannya waktu, usaha keluarga yang awalnya hanya membuat srondeng kelapa dan dendeng sapi, kemudian masuk ke industri abon sapi dan di kisaran tahun 2000-an karena permintaan pasar, orangtuanya mengembangkan produk abon ayam. Terutama pasar Bali yang mayoritas masyarakatnya tidak mengkonsumsi daging sapi.
Kini PSMas melalui tangan generasi ketiga mulai berkolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya tahun 2018 lalu bergabung dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Perusahaan yang memiliki 15 karyawan ini kini usahanya lebih tertata dalam melakukan kegiatan produksi sejak mengimplementasikan rumus 5R yang diajarkan dalam Pelatihan YDBA dan menambah link pemasaran.
Diakui pria 24 tahun ini, perubahan signifikan terjadi dalam tubuh perusahaannya, banyak menambah pengalaman, banyak dapat relasi baru dan juga keikutserataan dalam kegiatan pameran maupun expo yang diselenggarakan beberapa instansi, salah satunya melalui Trade Expo Indonesia 2024 . “Baru pertama kali kami ikut di TEI. Sebelumnya lebih banyak ikut pameran di Solo,”aku Hammam seraya menambahkan , PS Mas saat ini sudah menorehkan beberapa penghargaan salah satunya PS Mas menjadi pemenang Kategori Manajemen Keuangan dan SDM (sumber daya manusia) dalam acara Industry Innovation Award 2022 yang diinisiasi Pemkot Solo, Jawa Tengah. []Siti Ruslina
