Model Sejarawan Kecil untuk Pembelajaran Sejarah Masa Kini
Oleh : R. Soeharso
Pembelajaran sejarah belum berhasil menyampaikan makna pengajarannya kepada siswa. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya motivasi dan minat siswa untuk belajar sejarah dengan sungguh-sungguh.
Di lingkungan sekolah, siswa mengeluhkan pembelajaran sejarah yang membosankan, terlalu banyak materi, dan menantang makna. Kondisi tersebut tidak hanya ditemukan di kalangan pelajar di jenjang pendidikan menengah seperti SMP dan SMA, tetapi juga di tingkat pendidikan tinggi. Mereka masih memiliki pemikiran yang sama tentang sejarah.
Banyaknya persoalan tentang pembelajaran sejarah di Indonesia, mulai dari cap membosankan, tidak disukai, inferiosasi, membingungkan, marginalisasi dan tidak menjanjikan masa depan. Karenanya banyak generasi muda bangsa kita yang tidak lagi menyukai dan mengenal sejarah bangsanya termasuk sejarah perjuangan para tokoh bangsanya.
Kecenderungan semacam ini memang menjadi kendala pokok dalam pembelajaran sejarah. Kecenderungan ini muncul karena pembelajaran sejarah kerap diisi oleh proses transfer pengetahuan dan menghafalkan tanggal, tempat dan nama pelaku sebuah peristiwa. Akibatnya siswa menjadi jenuh dan tidak menangkap pesan substansial dari sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi fondasi dalam pembentukan ruh nasionalisme dalam dada mereka. Oleh karena itu, sejarah menjelma menjadi pelajaran yang menjemukan.
Meskipun telah banyak dikembangkan model pembelajaran berorientasi siswa pada mata pelajaran sejarah, namun peneliti melihat bahwa pemanfaatan situs sejarah lokal belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber belajar. Sedangkan untuk meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam memahami materi sejarah, pembelajaran sejarah dapat didukung dengan memanfaatkan sumber-sumber sejarah dari lingkungan terdekat siswa, misalnya keberadaan situs sejarah setempat.
Model pembelajaran sejarawan kecil dikembangkan karena dua alasan yaitu pola pembelajaran sejarah konvensional yang membosankan, dan model pembelajaran yang diterapkan kurang inovatif. Kebutuhan akan terobosan-terobosan dalam menerapkan cara-cara baru dalam pembelajaran sejarah menjadi dasar untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih dinamis dan lebih mudah diterapkan.
Pengembangan model pembelajaran sejarawan cilik dilakukan dalam tiga tahap; (1) analisis pendahuluan, (2) analisis pengembangan, dan (3) analisis kelayakan. Dari ketiga proses yang berjalan, penelitian ini menyimpulkan bahwa model pembelajaran sejarawan kecil berbasis situs sejarah lokal Keraton Kasunanan Surakarta sesuai untuk materi pembelajaran sejarah peradaban Islam di Indonesia. Selain itu, model pembelajaran ini mendapat apresiasi positif dari guru. Hal ini juga menguatkan bahwa model pembelajaran sejarah cilik merupakan alternatif cara pengelolaan kelas sejarah yang lebih menarik
Penulis adalah Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang
