Refocusing Digital Economy di Tahun 2024
Beberapa refocusing digital economy akan tetap menjadi tren pemasaran di tahun 2024. Tren tersebut dapat dijadikan acuan dalam menyusun business plan atau marketing plan. Apa saja refocusing digital economy tersebut dalam instrument pemasaran digital?
Sedikitnya ada enam utama refocusing digital of economy di tahun 2024. Pertama e-commerce yang bertransformasi ke social commerce. Tapi karena ada beberapa regulasi, sehingga masuk ke live commerce. Sama halnya dulu GO-JEK ditolak ojek pangkalan. Namun demikian, ke depan live commerce tidak akan mati, karena TikTok pun sekarang membuat aplikasi baru yang mungkin tidak nyambung dengan sosial media mereka.

Pertama live commerce. Sekarang semua e-commerce hampir semuanya mempunyai live commerce, seperti Tokopedia, Shoppe, Lazada dan lain-lain. “Konsumen saat ini senang sesuatu yang eksperimental. Ingin berinteraksi langsung. Tidak bisa nyobain langsung, tapi menyuruh host-nya secara live untuk mencoba dan melihat barangnya. Ditanya langsung dijawab,” papar Gilang Brillian Associate Consultant Inventure, dalam Webinar Winning Triple Economies, November lalu.
Menurut Gilang, live commerce bisa menjadi salah satu channel bagi penjualan atau pemasaran brand, sehingga lebih engage dengan konsumen. Ini merupakan pengalaman berbelanja yang baru.
Kedua, tracker economy sudah ada sejak tahun 2013. Sudah banyak sosial media yang rising, misalnya instagram, twitter dan lain-lain, sehingga banyak brand bisnis menggantungkan advertising atau promosi ke salah satu channel yaitu tracker atau influencer atau mungkin artis di anchor untuk mempromosikan produk atau brand dari sebuah bisnis.
Tapi menurut Gilang, sekarang trennya shifting yang namanya tracker bisnis. Misalnya Luna Maya mempunyai skincare atau kosmestik sendiri. Ternyata sekarang brand tidak harus membuat produknya secara sendiri-sendiri dan mereka jual sendiri. Tapi bisa berkolaborasi denan para creator business opportunity. Ini muncul karena influencer atau creator yang mungkin tidak dimiliki brand, tapi ketika jualan lebih dipercaya oleh follower mereka. Ini yang menjadi opportunity creator business di tahun 2024.
Ketiga, lebih menekankan pada brand dan marketing. Konsumen saat ini, kata Gilang, tidak senang dikomunikasikan sesuatu yang fungsional. Makanan yang enak, misalnya. Skincare mungkin hanya mencerahkan atau bikin putih dan lain-lain. “Tapi kita harus ambil sisi emosionalnya. Misalnya Wardah tidak penah menyebutkan kosmetik halal, kosmetik untuk wanita berhijab. Walaupun Wardah positioning utamanya adalah kosmetik atau skincare untuk wanita syariah,” kata Gilang seraya menambahkan Wardah lebih mengkomunikasikan empowering women. Bagimana menciptakan brand yang bisa merepresentasikan anak muda zaman sekarang dengan teknologi skincare yang makin berkembang.
Hal itu merupakan emosional. Felling bahwa kita bisa merasakan sesuatu yang beyond dari functional product itu. Menurut Galang, hal ini diperkuat kenapa emosional ini yang kelihatan. Contoh perang Palastina dan Israel membuat brand-brand global seperti Starbucks, McDonald’s dan lain-lain semakin sepi. “Saya beberapa kali ke luar kota melihat Starbucks dua tiga minggu belakangan ini. Justru yang ramai coffee shop lokal. Ini kan emosionalnya dari sisi spiritual, sisi humanity yang disentuh, sehingga membuat konsumen presence produk atau pun brand yang terarah karena sisi emosionalnya ditangkap,”ungkap Gilang.
Keempat adalah online versi offline. Bagaimana konsumen sekarang , niche-nya mencari ke produk-produk digital. Tapi belinya di offline. Namun demikian, tidak semua produk. Mungkin untuk brand-brand yang butuh dipakai dulu atau dicoba dulu. Misalnya produk yang harganya mahal. Biasanya konsumen mencari dulu referensinya di online, mungkin belinya akan lebih aman di offline. Ini yang menjadi tren, yaitu omni channel yang terintegrasi di mana konsumen akan mencari informasi di online, tapi lebih banyak membeli secara offline. “Hal ini lebih banyak ke marketing dan channel untuk teman-teman yang jualan di ritel atau industri yang related dengan tren ini,” katanya dalam sessi tema “Refocusing Digital Economy”di acara Webinar Winning Triple Economies, Marketing Outlook 2024, Gonjang-ganjing di Tengah Tahun Politik, November lalu
Kelima, ada yang namanya direct to consumers. Hal ini sudah cukup berkelanjutan di beberapa product FMCG (Fast Moving Consumer Goods). Sekarang makin dimaksimalkan dengan digitalisasi. Kalau dulu direct to consumers mungkin produk ritel atau consumer goods, seperti membuat toko sendiri atau sewa booth di mall. Karena ada digital, mereka bisa jualan langsung secara online yang terintegrasi dan punya personalisasi. “Contoh bila beli di Shopee. Di sini semua barang ada. Misalnya promo atau penawaran tidak terpersonalisasi dengan audience masing-masing,”papar Gilang lagi.
Ia melanjutkan, tapi ketika principal ini punya akses untuk jualan langsung ke konsumen, misalnya lewat website-nya atau punya e-commerce tersendiri, dia punya keunggulan personalisasi. Dia bisa memberikan referensi project yang sesuai dengan konsumennya atau bisa memberikan promo atau penawaran yang sesuai dengan masing-masing audience. “Ini yang mungkin menjadi salah satu keunggulan digital direct to customers. Bisa memberikan value yang lebih baik dan experience personalisasinya,” tambah Gilang.
Keenam reseller driven economy. Bila zaman dulu konvensional reseller punya stok barang, apakah itu secara offline atau online. Sekarang ada dua tipe reseller baru. Ada namanya affiliate marketing. Mereka tidak perlu punya stok tapi bisa jualan, yang penting punya channel penjualan, punya follower. “Tiga atau empat tahun terakhir ini affiliate marketing sudah cukup umum,” katanya.
Sementara dua tahun terakhir ini, menurut Gilang, dikenal dengan influencer reseller. Misalnya di TikTok atau Shopee sedang live, tiba-tiba Baim Wong jualan HP. Influencer sekarang dijadikan seller dari principal-principal. Mereka tidak perlu punya barang. Mereka memanfaatkan channel-channel atau personal masing-masing influencer ini untuk mem-boosting penjualan atau promosi produk dari brand mereka.
“Ini merupakan reseller melalui influence atau bagaimana memanfaatkan para influencer atau artis untuk mem-boosting penjualan atau pun promosi dari barang atau brand yang mereka jual. Yang terkesan mungkin jadi seperti reseller,” ujar Gilang. [] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina/Ilustrasi Foto: Inventure
