GRP Gelontorkan investasi Rp 1 Triliun Untuk Mesin LSM
PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) yang melakukan investasi baru senilai Rp1 triliun untuk pemanfaatan mesin Light Section Mill (LSM) dengan kapasitas produksi sebesar 500 ribu ton per tahun, sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi 980 ribu ton.
Industri baja memiliki peran strategis sebagai “mother of industries” yang berproduksi untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan sektor industri lainnya. Berbagai pengguna bahan baku baja tersebut, antara lain sektor konstruksi, alat transportasi, alat berat, elektronik, alat pertahanan, dan lain sebagainya.
“Pemerintah Indonesia memberikan perhatian penuh terhadap sektor industri logam. Di triwulan I -2022, sektor industri logam mencatatkan pertumbuhan 7,9%, atau mendekati 8%. Ini suatu hal yang sangat menggembirakan, apalagi bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya ketika sektor ini mengalami kontraksi sebesar 0,49%,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Peresmian Mesin Light Section Mill (LSM) PT Gunung Raja Paksi Tbk di Cikarang Barat, pada 9/6.
Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP)yang melakukan investasi baru senilai Rp1 triliun untuk pemanfaatan mesin Light Section Mill (LSM) dengan kapasitas produksi sebesar 500 ribu ton per tahun. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi baja nasional.
“Investasi baru ini kami apresiasi karena berani melakukan ekspansi di tengah dampak pandemi Covid-19. Selain itu, investasi ini dapat menambah kapasitas produksi baja profil nasional sebesar 500 ribu ton, sehingga diharapkan memenuhi kebutuhan baja profil dalam negeri di tengah gencarnya pembangunan konstruksi di Indonesia,” paparnya.
Agus menambahkan, PT Gunung Raja Paksi Tbk juga melakukan investasi baru di sektor hulu baja, yaitu dengan pembangunan fasilitas Blast Furnace. “Pemerintah mendorong agar investasi baru ini juga dapat diselesaikan seperti investasi baru di sektor hilir dengan beroperasinya fasilitas mesin LSM,” tandasnya.
Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk Abednedju Giovano Warani Sangkaeng menyampaikan, penambahan investasi sebesar Rp1 Triliun tersebut merupakan upaya perusahaan untuk menambah kapasitas produksi menjadi 500 ribu metrik ton dengan teknologi terbaru dan pemakaian energi yang efisien. “Kami berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan untuk GRP sehingga tetap tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Dengan langkah tersebut, emiten baja berkode saham GRP ini menargetkan dapat meningkatkan kapasitas produksi jenis baja dari mesin LSM menjadi 980 ribu ton. Abedneju mengatakan, jika sebelumnya produksi baja profil I dan H Section sebesar 480 ribu ton, maka dengan mesin LSM, kapasitas produksi bisa bertambah sebesar 500 ribu ton per tahun.
Seperti diketahui, di tahun ini, Gunung Raja Paksi menargetkan produksi dapat bertumbuh positif. Pada tahun 2022, GRP menargetkan produksi dapat mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun meningkat pesat dari produksi di tahun lalu sebanyak 900.000 ton, sebagaimana dikutip dari kontan.co.id, pada 12/6.
Lebih lanjut ditambahkan, adanya penambahan mesin LSM tersebut sebagai salah satu upaya perseroan dalam menggenjot kapasitas produksi di tahun ini. Diharapkan menjadi penambahan produksi baja untuk menyuplai kebutuhan domestik.Kebutuhan nasional untuk baja profil I dan H Section adalah sekitar 500.000 ton. Artinya, dengan penambahan kapasitas ini, GRP dapat memenuhi pasar dalam negeri dalam jangka waktu 6 sampai 7 tahun, dengan asumsi kenaikan harga baja 6% per tahu.
Produk GRP . sudah memenuhi standar kualitas internasional yang dibuktikan dengan berbagai sertifikat produk berskala internasional. Termasuk yang paling baru adalah sertifikasi EPD (Environmental Product Declaration). Ini merupakan bukti keseriusan perusahaan untuk sustainable development di Indonesia.
Sebagai salah satu produsen baja terbesar di Indonesia dengan jangkauan produk terluas membuat reputasi GRP baik di antara para pemain industri global. Kemampuan Gunung Raja Paksi telah dibuktikan oleh pelanggan pasar internasional atas kualitas produknya yang bertaraf internasional.
Beberapa negara berhasil ditembus GRP dalam memasarkan produk baja. Di Asia, misalnya, di Cambodia, Japan, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Singapore, South Korea, Taiwan, Thailand, Timor Leste danVietnam. Sedangkan di South Asia juga tembus di pasar Bangladesh, India, Pakistan dan Sri Lanka.
Tidak hanya di Asia, di Australia juga GRP berhasil menembus pasar Australia dan New Zealand. Sama halnya di Afrika, berhasil menembus pasar Kenya, Mauritius, Reunion dan Uganda. Sedangkan di Eropa terdapat berapa negara yang berhasil ditembus, yaitu: Benelux (Belgium, Netherlands, Luxemburg), England, France, Germany, Italy, Portugal dan Spain
Di samping ada beberapa negara di Middle East, seperti Saudi Arabia dan United Arab Emirate. Sementara di America ada dua negara, yaitu Brazil dan Canada.
Bahkan, Minggu ketiga Maret lalu, GRP melakukan ekspor Struktural Steel ke Casa Grande, ke Arizona, Amerika Serikat. Tepatnya ke Lucid Motors, produsen mobil listrik Luxury Electric Car. Pelepasan ekspor senilai USD1 juta tersebut, dilakukan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin 21 Maret 2022.
Menurut Abednedju, jenis baja yang diekspor adalah structural beam kurang lebih 700 MT. “Ini trial order untuk pembangunan pabrik Lucid Motors,” kata Abednedju, dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, ekspor tersebut juga menandakan bahwa produk baja dalam negeri sudah berhasil menembus pasar ekspor ke USA. “Indonesia bisa berbangga dengan ekspor ke AS ini. Karena memang tidak mudah menembus pasar AS, memerlukan standar kualitas produk yang tinggi” ujarnya.
Lucid Motors sendiri adalah startup atau perusahaan rintisan Amerika Serikat yang menjadi pesaing Mobil listrik Tesla. Produsen otomotif ini dipimpin oleh Peter Rawlinson, mantan kepala teknis Tesla untuk produksi Tesla Model S.
Pengiriman baja ke negeri Paman Sam ini, merupakan upaya perusahaan untuk mencapai target ekspor 2022 senilai USD70 juta. Selain itu, juga untuk meningkatkan porsi ekspor menjadi 20%, dibandingkan 2021 yang hanya 5%. Tahun 2021 sendiri, nilai ekspor yang dicapai GRP mencapai USD44 juta.
“Kami optimistis target tersebut terlampaui. Pasalnya, baja merupakan salah satu penyumbang ekspor terbesar Indonesia, selain CPO dan batubara. Selain itu, produk baja GRP juga sudah diakui secara internasional, yakni dengan mendapatkan Certificate Conditional dari AISC (American Institute of Steel Construction) dan WTIA (Welding Technology Institute of Australia) 3834 dan AWS (American Welding Society) D1.1 standard. Selain itu, kami berharap, ekspor ini juga menjadi awal yang baik untuk semakin meningkatkan kinerja GRP dibandingkan 2021,” kata dia.
Sepanjang tahun 2021 pun, GRP sebenarnya juga menorehkan kinerja sangat positif. Yaitu dengan mencetak laba bersih USD 61.9 juta, atau melonjak 791.3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja menggembirakan tersebut, menurut Argo, tak lepas dari transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan. Dari sebelumnya perusahaan keluarga kemudian menjadi perusahaan terbuka di tahun 2019 serta dikelola menjadi lebih profesional dengan melakukan pengawasan ketat atas harga beli bahan baku dan harga jual barang untuk memastikan seluruh persediaan yang dijual, menghasilkan margin yang baik.
Selain itu, GRP juga menjadi pabrik baja pertama di Indonesia dan salah satu yang pertama di Asia, yang melakukan pembelian kredit karbon. Keterlibatan GRP dalam pembelian kredit karbon dari Climate Impact X (CIX), yang merupakan pasar pertukaran kredit karbon global sekaligus pemimpin lelang. “Hal tersebut menjadi bukti bahwa perusahaan komit terhadap penerapan ESG, sekaligus peduli terhadap penanganan perubahan iklim,” pungkasnya.[] Yuniman Taqwa


