Industri Mamin Masih Tumbuh Walau Melambat
Industri makanan dan minuman pada kuartal 1 2020 tumbuh 3,9 persen. Diprediksi industri ini hanya tumbuh di kisaran 4 -5 pada tahun ini. Padahal Pebruari lalu, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) masih memprediksi pertumbuhan tahun ini mencapai 8 – 9 persen. Pandemi Covid 19 merontokkan optimisme pelaku industri mamin…!
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 tumbuh melambat menjadi sebesar 2,97% (year on year). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, tidak ada perubahan dari struktur ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020, di mana sektor industri pengolahan masih mendominasi.

Sedikitnya ada empat sektor industri yang mengalami pertumbuhan. Salah satunya adalah Industri Makanan dan Minuman (Mamin). Walaupun pertumbuhan industri ini mengalami perlambatan.
Tak urung pandemi covid-19 mengkoreksi pertumbuhan industri makanan dan minuman (Mamin). Proyeksi pertumbuhan industri ini terpangkasi dari 7 persen menjadi 4 persen. Industri mamin pada kuartal I-2020 secara year on year (yoy) tumbuh 3,94 persen. Ini berarti mengalami perlambatan mengingat pada kuartal I-2020 masih mampu tumbuh 6,77 persen. Bahkan, bila dibandingkan dengan kuartal IV-2019, industri ini mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 0,7 persen.
Namun demikian, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang selama ini memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional. Sektor di dikategorikan strategis lantaran menjadi penyedia pangan bagi masyarakat.
“Apalagi, saat ini di tengah kondisi pandemi virus korona, kebutuhan pangan masyarakat semakin meningkat, seiring pula dengan adanya kebijakan untuk work from home (bekerja dari rumah),” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat memimpin rapat melalui konferensi video bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), di Provinsi DKI Jakarta, pada 1/4.
Menghadapi kondisi tersebut, Menperin menegaskan, pihaknya terus menjaga produktivitas hingga distribusi sektor industri mamin di dalam negeri. Upaya ini agar pasokan pangan bagi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. “Misalnya, demand susu yang cukup naik, karena termasuk untuk meningkatkan imun,” ungkapnya.
Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman menyampaikan, pihaknya bertekad mendukung pemerintah dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di tengah kondisi sulit saat ini, termasuk dampak dari pandemi Covid-19. “Kali ini, dunia usaha tidak lagi memikirkan untung rugi, tapi bagaimana bersama-sama dengan pemerintah mengatasi masalah saat ini, sehingga bisa recover cepat,” paparnya.
Menurut Adhi, dari pengalaman beberapa negara, produk mamin olahan menjadi salah satu andalan untuk ketersediaan pangan saat menghadapi sebuah bencana atau musibah. Oleh karenanya, diperlukan pasokan bahan baku agar bisa menjaga produktivitas industri mamin.
“Kami telah menyampaikan kepada Bapak Menteri (Perindustrian), bahwa kami tetap ingin melakukan produksi dan distribusi sampai ke pusat perbelanjaan, bahkan sampai ke konsumen. Namun demikian, yang perlu diperhatikan, antara lain adalah kelancaran bahan baku dan arus logistik,” terangnya.
Sayangnya konsumsi rumah tangga yang jadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi menurun drastis hingga 2,84 persen pada kuartal I 2020 dibandingkan kuartal I 2019 (YoY). Situasi ini berpengaruh terhadap pertumbuhan industri makanan dan minuman.
Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, pada 5/5 mengatakan, penurunan tersebut di antaranya akibat menurunnya demand luar negeri. Tercermin dari terkontraksinya ekspor komoditas makanan dan minuman.
Sementara Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan industri makanan dan minuman hanya sekitar 5 persen pada tahun ini. Padahal pada tahun lalu, pertumbuhan industri makanan dan minuman sekitar 7 persen.
“Perkiraan kami 2020 pertumbuhannya kemungkinan hanya 4-5 persen. Di mana awalnya pada Pebruari kami masih optimis 8-9 persen. Tapi harus kami tinggalkan, dan akan masuk ke dalam pertumbuhan yang rendah,” imbuh urai Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman saat melakukan diskusi online bersama Markplus, pada 19/5.
“(Pertumbuhan) FnB industri tidak mungkin normal 7,95 persen. Q1 (pertumbuhan) 3,94 persen. Kami perkirakan pertumbuhan tahun ini (sekitar) 4-5 persen,” tambahnya.
Lebih lanjut ditambahkan, konsumsi rumah tangga turun 5,02 persen ke 2,84 persen selama kuartal I, dengan 44 persen berasal dari kontribusi makanan dan minuman. Padahal pengeluaran per kapita masyarakat kita 50 persennya untuk pangan, dengan porsi pangan olahan mencapai 17 persen,” ungkap Adhi
Adhi menambahkan, selain penurunan konsumsi, juga terjadi pergeseran kebiasaan konsumen dan channel penjualan ke online. Menurut Adhi, kini masyarakat lebih tertarik pada makanan organik dan melihat lebih banyak fungsi ketimbang nama produk. “Orang berfikir sadar harus punya tabungan untuk menjaga sesuatu yang terjadi. Orang sudah mementingkan food safety, brand healty berubah dan ini kesempatan new comer. Penjual online mengedepankan enak, higenis dan dengan protokol yang ada,” paparnya.
Adhi mengaku adanya peningkatan penjualan lewat e-commerce. Namun karena hampir sebagian besar penjualan mamin di pasar tradisional dan retail, peningkatan penjualan via e-commerce tersebut tak mampu mendongkrak keseluruhan penjualan industri makanan dan minuman, sebagaimana dikutip dari katakini.com.
“Meskipun e-commerce meningkat, namun basisnya masih rendah, untuk fast moving consumer goods hanya 1 sampai 2 persen, maka peningkatan yang dilaporkan mencapai 500 sampai 600 persen itu tidak berpengaruh,” pungkasnya.
Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim, dalam studi yang dirilis Nielsen, sejak diberlakukannya imbauan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19, sekitar 30% konsumen merencanakan untuk lebih sering berbelanja secara online.
Selanjutnya, dari sisi konsumsi, sebanyak 49% konsumen menjadi lebih sering memasak di rumah. Hal ini mendorong kenaikan pertumbuhan penjualan bahan pokok seperti telur yang naik 26%, daging yang mengalami kenaikan penjualan 19%, permintaan daging unggas naik 25%, serta penjualan buah dan sayur yang meningkat 8%.
“Barang-barang inilah yang sering dibeli oleh masyarakat di pasar tradisional, namun seiring dengan pemberlakuan pembatasan sosial, maka saat ini masyarakat lebih cenderung berbelanja di pasar modern. Penurunan pengunjung di pasar tradisional disiasati oleh pedagang pasar tradisional dengan menawarkan produknya melalui media sosial dan bekerja sama dengan e-commerce,” pungkasnya.

Meskipun sejumlah kategori makanan, kata Adhi, mengalami peningkatan penjualan selama pandemi covid-19. Meski demikian, peningkatannya tidak bisa menggantikan penurunan total keseluruhan industri mamin. “Susu, bumbu dan tepung cukup meningkat,” imbuhnya.
Bulan Ramadan dan juga Lebaran yang biasanya diandalkan sebagai penopang pendapatan industri makanan dan minuman, tak berlaku lagi di tahun ini.”Kita kelihatan no festive hari ini. Saya sudah cek kemarin, hampir tidak ada order untuk festive puasa dan Lebaran. Padahal banyak industri makanan dan minuman yang mengandalkan festive sebagai pendapatan setahun untuk menutupi kebutuhan biaya-biaya satu tahun dalam industri makanan dan minuman,” terang Adhi, sebagaimana dikutip dari detik.com.
Sementara Kementerian Perindustrian memproyeksikan bahwa sektor industri makanan dan minuman akan tetap tumbuh di tengah dampak pandemi Covid-19. “Kami memperkirakan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman berada di angka 4% sampai 5%, ini sudah cukup bagus,” ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, pada 25/4.
Lebih lanjut ditambahkan, industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang mendapatkan izin untuk beroperasi selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia. Dengan demikian, industri ini dapat tetap beraktivitas dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, sebagaimana dikutip dari okezone.com.
“Kami tetap mendorong agar industri dapat melakukan aktivitas produksinya dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja sesuai prosedur dan protokol kesehatan dalam menghadapi wabah Covid-19,” pungkasnya.
Kemenperin telah mengusulkan berbagai kebijakan untuk mengawal sektor industri makanan dan minuman sehingga dapat memperoleh kemudahan dalam berproduksi khususnya di masa darurat Covid-19. “Kami mengusulkan pos tarif pembebasan bea masuk impor dalam rangka penanganan dampak Covid-19 yang ada pada stimulus jilid II,” ujarnya.[]Yuniman T Nurdin/Siti Ruslina
