Industri Farmasi Tumbuh Melambat Kuartal I 2020

Industri farmasi masih mencatat pertumbuhan 5,59 persen pada kuartal tahun ini. Walaupun pertumbuhannya melambat, tapi membuka peluang pengembangan inovasi di era pandemi Covid 19 ini!

Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu melaporkan, ada beberapa sektor industri pengolahan nonmigas yang masih memcatatkan kinerja positif sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.  Di antaranya adalah industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 5,59 persen.

“Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 5,59 persen yang didukung oleh peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan untuk memenuhi permintaan luar negeri dan melonjaknya permintaan domestik akibat mewabahnya virus corona,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

Menurut Suhariyanto, pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional melambat dari 12,73 persen menjadi 5,59 persen. Masih tumbuh positifnya sektor ini karena didukung peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan seiring wabah virus korona sehingga memicu permintaan obat-obatan.

Ternyata pandemi virus corona atau Covid-19  menekan banyak aktivitas ekonomi menimbulkan  dampak positif sejumlah perusahaan. Salah satu bidang industri yang mendapat untung besar adalah sektor industri farmasi yang menjual obat-obatan.

Pandemi Covid19 berdampak positif bagi industri farmasi/foto: www.cdmione.com

Saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kasus positif pertama virus corona di Indonesia, sejumlah obat-obatan untuk penambah daya tahan tubuh atau imun meningkat tajam penjualannya, seperti multivitamin hingga obat-obatan herbal yang mengandung rempah-rempah.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) misalnya, produk-produk lansiran mereka banyak diborong pembeli. Hal tersebut terlihat dari kinerja produsen Tolak Angin ini sepanjang Kuartal I 2020, yang dilansir dari suara.com.

Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) Jawa Timur mencatatkan adanya lonjakan penjualan multivitamin kombinasi B complex dan vitamin C. Menurut Ketua GP Farmasi Jatim Philips Pangestu, peningkatan ini sebagai akibat mulai merebaknya virus corona yang membuat banyak orang berbondong-bondong membeli vitamin untuk menjaga daya imunitas tubuhnya. Sehingga membuat penjualan produk ini meningkat signifikan, sebagaimana dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com.

Saat ini, kontribusi penjualan multivitamin kombinasi B complex dan vitamin C terhadap total penjualan farmasi Jatim berada di kisaran 20 persen. “Kalau sepanjang triwulan pertama 2020 ini, kami naik sekitar 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” terangnya.

Sementara  PT Kalbe Farma Tbk akan mengandalkan produk over the counter (OTC) atau obat tanpa resep dokter, untuk memacu kinerja. Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, produk OTC akan menjadi andalan karena di tengah pandemi virus corona produk seperti supplemen kesehatan dan vitamin sangat dibutuhkan. “Selain itu, produk OTC juga dibutuhkan di saat bulan Ramadan, seperti sekarang. Oleh karena itu, Kalbe Farma menambah stok untuk kebutuhan obat maag dan vitamin,” kata Vidjongtius, kepada Katadata.co.id, pada 4/5, yang dikutip pelakubisnis.com.

Sementara itu perusahaan plat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengaku telah mengantongi pendapatan hingga Rp 1,8 triliun, pendapatan ini didorong dari meningkatnya permintaan sejumlah produk Kimia Farma saat pandemi virus corona atau Covid-19.

Budi Muljono, Corporate Finance Director  PT Kino Indonesia Tbk,  menyampaikan, terkait dengan  merebaknya virus Covid 19, terjadi  lonjakan permintaan hingga 10 kali lipat pada produk hand sanitizer Kino Group  dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama.

“Kami terus mengingatkan sales, kita harus bisa meningkatkan kapasitas produksi karena permintaan hand sanitizer tinggi. Kami sampai buka hotline sendiri untuk konsumen hand sanitizer Eskulin dan produk kami yang baru dengan merek Instance. Responnya luar biasa. Petugas hotline kami cukup kewalahan karena tak sedikit orang yang memesan ratusan karton, bahkan ribuan karton,” paparnya kepada pelakubisnsis.com

Direktur Utama KAEF, Verdi Budidarmo, yang dikutip dari, suara.com, pasar industri farmasi masih memiliki prospek positif di kuartal I 2020. Asumsi ini berdasar pada adanya kebutuhan farmasi dari pemerintah dan meningkatnya kebutuhan obat serta produk-produk suplemen di kalangan masyarakat saat wabah virus corona melanda.

Sekadar informasi, sepanjang kuartal I 2020 Kalbe Farma berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 5,79 triliun, naik 8,01% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan domestik tercatat masih dominan, yakni sebesar Rp 5,51 triliun.

Sementara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) terus mendorong industri farmasi di dalam negeri agar semakin meningkatkan kegiatan risetnya, sehingga dapat menghasilkan inovasi produk yang berdaya saing tinggi.  “Kami ingin memperkuat struktur industri farmasi di dalam negeri. Salah satunya melalui kegiatan riset, seperti untuk pengembangan obat herbal,” kata Menperin Agus Gumiwang di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, pada 11/3.

Menurut Agus Gumiwang, di tengah pandemi Covid-19, sektor industri memerlukan inovasi agar dapat terus berproduksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Di sektor kesehatan misalnya, inovasi merupakan kunci untuk mengakselerasi penanganan wabah Covid-19. “Sebagai contoh, sebelum ada wabah Covid-19, belum ada industri dalam negeri yang menghasilkan ventilator, tetapi dalam waktu kurang dari tiga bulan, beberapa universitas bekerja sama dengan industri bisa mengembangkannya dan siap diproduksi,” jelasnya.

Industri nasional berinovasi bikin ventilator/foto: ist

Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan, saat ini dibutuhkan 1.000 unit CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) transport ventilator dan Ambubag 668. Tim dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang terus berkoordinasi dengan Kemenperin telah berhasil mengembangkan berbagai jenis ventilator untuk menunjang kebutuhan medis tersebut, salah satunya jenis emergency ventilator. Bahkan, Tim UGM dalam waktu dekat akan memproduksi ventilator bertipe fully featured atau high grade.

Menperin menambahkan, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) industri yang mumpuni, sehingga perlu pembinaan lebih kuat agar mampu berinovasi menghasilkan berbagai produk berkualitas dan kompetitif. “Inovasi yang mereka hasilkan juga dapat mewujudkan kemandirian sektor industri dalam negeri,” ujarnya.

Kemenperin melalui unit-unit penelitian dan pengembangan (litbang) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), juga terus melakukan riset untuk menciptakan produk-produk yang mendukung penanganan pandemi Covid-19. Beberapa riset yang dilakukan, antara lain rancang bangun Alat Pelindung Diri (APD) berupa face shield, penelitian dan pengembangan Non-PCR test kit untuk mendeteksi Covid-19, pengembangan rapid test kit untuk mendeteksi Covid-19 dengan metode lateral flow immunoassay, dan pengembangan bahan baku APD.

Kemenperin terus berupaya mendorong dan mengoptimalkan kemampuan sektor industri farmasi untuk mengembangkan bahan baku obat di dalam negeri. “Untuk jangka panjang, Kemenperin berupaya membangun kerjasama litbang antara lembaga riset dan industri farmasi guna pengembangan bahan baku obat Covid 19,” tambah Menperin.

Agus mengungkapkan,  saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk membangun sektor industri alat kesehatan dan farmasi yang mampu memproduksi ventilator sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Presiden telah mendorong agar Indonesia dalam jangka menengah dan panjang harus menjadi negara yang mandiri di sektor kesehatan dan kemampuan memproduksi ventilator merupakan salah satu prasyaratnya,” ungkapnya.

Agus menambahkan, sektor industri sedang melakukan refocusing untuk membantu upaya pemerintah dalam memperkuat sektor industri yang masuk dalam kategori high demand seperti alat kesehatan, obat-obatan, dan vitamin.

Sesuai dengan arahan Presiden, kebutuhan tersebut diharapkan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri. “Kami yakin terhadap potensi dan kemampuan industri dalam negeri untuk memenuhi permintaan yang tinggi dan juga dapat mengurangi ketergantungan impor,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, Kemenperin sedang mendorong produksi bahan baku obat dari herbal. Upaya ini diharapkan memberikan nilai tambah untuk industri farmasi di Indonesia dengan memanfaatkan potensi bahan-bahan herbal yang melimpah di dalam negeri.[] Yuniman Taqwa Nurdin/foto ilustrasi utama: ist