HijabFest, Pameran Fesyen Pertama di Tengah Pandemi

HijabFest menjadi event perdana yang diselenggarakan saat pandemi di Tanah Air. Menembus penjualan hingga Rp11 miliar dari 58 exhibitor di TSM Bandung. Dengan promosi terintegrasi dan pemilihan lokasi yang tepat, event ini mencatat transaksi besar setiap gelarannya.

“Assalamu’alaikum…aku lagi di HijabFest nih guys, last day..sisa sedikit lagi nih…jadi buat sahabat Gorgeous..flash sale up to 70%. Meni gemes cakep-cakep, dijual dari Rp150 ribu, jadi Rp70 ribu aja, tinggal 3 pieces lagi…yuk langsung…ayo gercep guys, di-screenshoot…yang mau aku keep ya..,”demikian gaya berjualan Owner Radja Jersey dan Gorgeous Indonesia, Gita Nurhati Rochmah (kerap disapa Gitadiredja atau Gita Natadiredja di media sosial-pen) yang  tengah siaran langsung dari Instagramnya saat berada di  HijabFest Transmart Cibubur, Depok, pada 9 Oktober 2022.

Pegiat UMKM Gitadiredja salah satu dari sekian banyak pemilik brand produk fesyen yang ikut dalam ajang pameran HijabFest, besutan Sheena Krisnawati, selaku Founder HijabFest Corp.  Dibutuhkan kreatifitas dan ketangguhan dari para peserta pameran karena konsep event yang menyasar segmen komunitas hijabers ini lebih ke bazaar, goalnya adalah hard selling. Selain bazaar, event ini juga menyuguhkan  sejumlah acara menarik seperti konser musik yang menghadirkan artis-artis ternama dan talkshow seputar dunia fesyen.

HijabFest sudah   dimulai sejak tahun 2012 yang merupakan annual event  yang digelar setiap tahun. Event ini menjadi pelopor pameran pakaian muslim wanita kekinian pertama di Indonesia yang digelar pertama kali di Bandung, Jawa Barat. Bahkan sempat digelar di Palembang, Makassar dan Surabaya.

Menurut Sheena Krisnawati,  pada November  2020 ia mendapat tawaran dari Trans Group untuk meramaikan  di Atrium Mall. Saat itu mall baru mendapat izin membuka pusat-pusat perbelanjaan. Meskipun perizinan penyelenggaraan izin cukup rumit di Bandung, tidak semudah ketika digelar di TSM di Cibubur. “ Saat itu HijabFest memboyong 58 tenant di  TSM Bandung. Meski dalam kondisi pandemi, tapi transaksi mencapai Rp 11 miliar selama sembilan hari pameran,” kata Sheena kepada pelakubisnis.com akhir Januari .

Sementara pada tahun 2021, menurut Sheena, mall-mall yang buka saat itu mengajak kerjasama  menggelar event HijabFest untuk meramaikan mall tersebut. Pada tahun itu beberapa mall dan hotel Trans group menggelar HijabFest. Memang saat itu banyak mall yang sepi pengunjung . Salah satu cara meramaikan pengunjung mall adalah bekerjasama menggelar event. “Ternyata peminat Hijab adalah ibu-ibu yang memang sudah bosan belanja online, misalnya di rumah terus. Ternyata pengen ke mall juga . Jadi mungkin momennya saja yang pas,” jelasnya serius.

Ia menambahkan, pada tahun 2021 ada 9 event yang ia garap. “Mungkin kita satu-satunya EO yang menyelenggarakan event  selama pandemi. Dan ketika new normal kita tetap menggelar event,” katanya seraya menambahkan  event yang digelar di TSM Cibubur setidaknya mendatangkan sekitar 20% pengunjung dari yang ditargetkan.  Sebetulnya event perdana di Cibubur itu sudah cukup lumayan ramai, dari segi omzet cukup lumayan,”ungkap Sheena yang kala itu Indonesia masih dalam status new normal dan hanya boleh menargetkan 50% dari total kapasitas pengunjung yang datang ke mall.

Lebih lanjut ditambahkan, setiap event HijabFest selalu ramai dikunjungi. Apalagi event ini sudah digelar sejak tahun 2012, sehingga banyak yang sudah mengenal HijabFest. Mungkin karena ada kerjasama yang baik antara tenant atau brand tersebut  yang sudah cukup lama, sehingga bisa melakukan promosi bersama .“Kalau pengunjung HijabFest di Cibubur waktu itu kebanyakan berasal dari Depok dan sekitar Cibubur, tapi ada juga pengunjung yang berasal dari Jakarta,” tandasnya .

Memang diakui menjadi tantangan  tersendiri bagi EO  dalam menyelenggarakan event selama pandemi Covid-19. Apalagi tahun 2022 situasi sudah new normal, bahkan normal. Tapi perizinan di Bandung, misalnya sangat sulit. 

“Tapi yang menjadi daya tarik Hijab Fest adalah dari sisi acara dengan men-drive berbagai komunitas. Misalnya komunitas yang suka musik dan komunitas-komunitas lainnya. Padahal kami hanya memegang satu izin bahwa mall sudah boleh buka. Itu saja yang menjadi kunci bagi kami  menyelenggarakan event. Walau terbayang penyelenggaraan event ini tidak mudah, bakal ada pengunjung atau tidak, bakal sukses atau tidak. Berbagai kecemasan ini yang terbayang saat akan menyelenggarakan event.  Alhamdullilah event  berjalan sukses, walau di gelar di tengah situasi pandemi,”urainya.

Sementara pada tahun 2022, Sheena menggelar kurang lebih  10 event  yang kebanyakan digelar di mall dan dua kali digelar di Sabuga ITB , Bandung. Khusus orang Bandung cukup familiar wilayah Sabuga Bandung. Bahkan HijabFest yang digelar di Sabuga ITB itu tenantnya mencapai 140-an. Tenant yang ikut HijabFest di Sabuga itu tidak hanya berasal dari Bandung, tapi ada juga tenant yang berasal dari bebera daerah di Indonesia.

Sebagai informasi, ketika Hijab Fest pertama tahun 2012 di Sabuga Bandung, tenant justru skala nasional. Ada dari Surabaya, Malang, bahkan tenant dari Aceh sempat mengikuti event ini. Mereka juga punya market sendiri.

Pemilihan lokasi di mall pun lebih bagus karena promosinya bisa dilakukan bersama-sama, baik dari pihak EO maupun pihak mall sendiri. Apalagi kalau di mall biasanya sudah ada pengunjung tetap. Bila halnya pihak-pihak EO menyelenggarakan sendiri, maka diperlukan effort cukup besar, terutama promosi. “Kalau di mall, mereka kan  mempunyai visitor yang datang ke mall juga. Jadi, mungkin bisa diarahkan untuk mengunjungi pameran,” jelas Sheena.

Ia menambahkan, rencananya tahun 2023 ini Hijab Fest akan ada di Sabuga Bandung. Ini merupakan event besar Hijab Fest. Dan seperti biasa Hijab Fest ingin menjadi sebuah agenda event yang dapat menarik kunjungan wisata. Apalagi Bandung merupakan pusatnya tekstil , pusatnya fesyen dan pusatnya mode baju . Hijab Fest ingin tetap di Bandung dan Insyah Allah Hijab Fest menjadi destinasi wisata bagi masyarakat penyuka hijab

Bila tidak ada aral melintang,  di tahun 2023 ini Hijab Fest akan menggelar 7 – 8 event, sedangkan event besarnya di Sabuga akan digelar dua kali dan sisanya akan digelar di mall-mall. Menurutnya yang menjadi penguat Hijab Fest bisa sukses adalah bekerjasama dengan pihak-pihak yang bisa menjadi sponsor pendukung seperti produk kosmetik dan perbankan.  Pihak sponsor itu bisa mendatangkan brand ambassador,  menggelar talk show dn acara-acara yang mungkin bisa membuat komunitas-komunitas lain bisa menghadiri event ini.

Sementara ciri khas Hijab Fest, lanjut bisanya event khusus bazaar yang cirinya benar-benar hard selling  yang menjadi tujuannya. Memang ada event yang lebih khusus ke conference-nya , lebih fokus ke seminar ata workshop, mungkin Hijab Fest core lebih ke baazar yang targetnya ke hard salling atau omzet para pelaku usaha Hijab.

Ia menambahkan, yang menjadi stimulus bagi exhibitor agar penjualannya menjadi “kencang”, sangat tergantung dari strategi tersendiri dari masing-masing brand. Ada yang kuat di reseller, ada yang kuat di online, ada yang kuat di tik tok dan sebagainya. Apalagi saat ini platform untuk promosi sangat banyak opsinya. “ Mereka bisa menggunakan instrumen yang sesuai kebutuhan.  Misalnya usia 35 tahun ke atas, mungkin ibu-ibu nya nggak main tik tok, atau main Instagram. “Bisa juga mereka review product atau menggunakan satu model untuk memperagakan baju-bajunya,” katanya serius.

Sementara pihak EO menurutnya bekerjasama dengan pihak media menguatkan sisi sosial media, memperkuat acara, sehingga menjadi daya tarik atau stimulus. Akhirnya terjadi kerjasama yang baik dan saling menguntungkan semua pihak.[] Siti Ruslina