Gen Z Lebih Independen dan Cerdas Dalam Menkonsumsi
Umumnya Gen Z menginginkan pekerjaan informal. Mereka ingin menjadi freelance, content creator, mitra Gojek, Logistik dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei Inventure sebanyak 53 persen mereka milih pekerjaaan karena mengejar passion. Sedangkan bila dibandingkan dengan generasi lainnya memilih pekerjaan establish.
Di tengah tekanan ekonomi, Gen Z tetap menempatkan perawatan kulit sebagai prioritas. “Ini menunjukkan betapa pentingnya aspek ‘penampilan’ dan ‘perawatan diri’ dalam gaya hidup mereka, khususnya yang berkaitan dengan 4S (Sugar, Skin, Sun, dan Screen), dimana ‘Skin‘ mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan kategori lainnya.” ucap Yuswohady.

Hasil survei ternyata Gen Z akan menghentikan minuman manis dengan adanya larangan cukai itu. Sebanyak 26 persen Gen Z beralih ke minuman rendah gula karena mengikuti tren gaya hidup yang sedang populer. Ada juga Gen Z yang tetap membeli minuman manis meski harga semakin mahal karena sudah terbiasa. Sedangkan 22 persen beralih ke minuman rendah gula karena takut terkena diabetes. Ini menunjukkan awareness mulai muncul.
Berdasarkan hasil survei tersebut, kira-kira landscape Gen Z ini seperti apa? Narpati Adityasa, Strategic Planning Director Hakuhodo Internasional Indonesia mengatakan, yang paling penting para Gen Z itu adalah personal connection. Sekitar 80 persen Gen Z di Indonesia lebih ke connection atau happiness. Menurut Gen Z, sukses itu tidak selalu bersifat materialistik. “Mungkin ini cukup menjelaskan mereka itu lebih mengejar passion, karena passion mungkin lebih ada sales content buat mereka,” kata Adit dalam diskusi Indonesia Industry Outlook (IIO) 2025, 24/10.
Pertanyaannya, apakah fenomena ini terjadi di seluruh Indonesia? Fenomena ini, menurut Adit menarik. Sepertinya pembicaraan yang terjadi di digital itu mem-framing persepsi Gen Z secara keseluruhan. “Padahal saya mulai melihat bahwa produk-produk less sugar di coffee shop semakin banyak,” katanya seraya menambah bahwa kini Gen Z yang olahraga di GBK (Gelora Bung Karno) makin banyak.
Adit menambahkan, riterasi yang disampaikan di media sosial akhirnya shifting people community terhadap Gen Z yang bisa dibilang bertentangan. Ketika kita berbicara happiness, banyak orang menyatakan bahwa Gen Z cukup individualistik. Tapi ternyata tidak. Tercatat 86 persen para Gen Z mempunyai balance antara family dan dengan dirinya. Hal ini cukup menarik karena informasi yang disajikan di media semuanya tidak benar.

Sementara keputusan pembelian memang betul terpengaruh denga FOMO, YOLO dan FOPO. Menurut Adit, dulu di zaman millenial lebih peduli pada experience. Mereka lebih peduli travelling. Travelling itu drive bukan karena FOMO. Mereka menganggap nggak punya rumah nggak apa-apa, yang penting experience. Perilaku ini terbawa ke Gen Z, namun perbedaannya karena mereka mempunyai core value yang sama, terutama Gen Z di Indonesia. Mereka cukup komunal dan mereka believe on other people opinion yang menurut hasil study men-drive perilaku mereka berkonsumsi.
“Mereka percaya sebelum membeli produk, mereka harus cek sama orang. Nah, karena kebiasaan itu, mungkin akhirnya men-drive adanya FOMO. Itu karena ada motivasi di belakangnya karena mereka mencari validasi atau mencari rekomendasi dari orang lain, sehingga terkesan menjadi FOMO,” tandasnya.
Sementara terminologi FOPO ini baru rising beberapa tahun belakangan ini. FOPO ini di-drive oleh perilaku narasi para netizen. Orang-orang Gen Z ini cukup peduli dengan kantong orang. Peduli terhadap masukan orang. Ini suatu fenomena yang akhirnya men-drive psikologi mereka dan akhirnya FOPO men-drive adanya flexing dan sebagainya.
CEO Rumah 123, Wasundewan melihat perubahan perilaku pembelian Gen Z ini dialami semua industri. Ke depan konsumsi terbesar akan berasal dari Gen Z. Itu sebabnya kita harus mensiasati perubahan behavior ini.
Sedangkan Gen X mungkin angkatan orang tua kita yang besar dan tumbuh pasa saat kondisi ekonomi juga sedang bertumbuh. Sementara Gen W masih dipengaruhi orang tua dalam hal pengambil keputusan. Ketika ingin mencari properti, misalnya, biasanya memutuskan terakhir pembelian berdasarkan konsultasi orang terdekat kita (orangtua atau keluarga-red). “Ada peranan keluarga kita dalam pengambil keputusan,” tambah Wasundewan.
Lalu 15 tahun kemudian, kata Wasundewan, muncul Gen Z yang usianya 27 tahun ke bawah. Ketika Gen Z mulai sekolah dan beranjak dewasa – selain keluarga – ada medium yang selalu menemani mereka. Gen Z ini teman dekatnya sosial media. Ketika Gen Z ingin membeli, maka besar pengaruhnya dari sosial media. Mereka ini lebih independen, karena bisa melakukan riset sendiri karena tools dan medianya ada.
“Proses pengambil keputusan untuk membeli journey bisa lebih pendek!,” kata Wasundewan seraya menambahkan bahwa Gen Z lebih independen dan lebih smart. Ketika mereka mengambil keputusan tidak banyak yang mempengaruhinya. Kalaupun ada yang mempengaruhinya, mungkin orang terdekat mereka.
Lebih lanjut ditambahkan, ketika Gen Z menggunakan tools untuk mecari sesuatu, mungkin petanya berubah. Biasanya googling, tapi ketika menggunakan TikTok ternyata cukup banyak mendapat informasi “Gaya TikTok menyajikan hasil pencarian mereka, mungkin buat Gen Z lebih menarik dan lebih komprehenship,” kata Wasundewan.
Kaitan dengan properti, menurut Wasundewan, apakah seperti TikTok melakukan review properti. Diawal mencari properti, apakah beli, sewa dan invest adalah Discovery. Bagaimana dengan budget sekian, kemampuan cicilan sebulan sekian dan mungkin kenaikan gaji beberapa tahun sekian, maka di lokasi mana harus mencari properti, bila kantor di Jalan Sudirman. “Discovery ini bisa dijawab oleh platform-platform sosial media, karena itu sangat targeted di salah satu properti tertentu,” jelas Wasundewan.
Bila generasi orangtua kita, untuk survei properti memerlukan beberapa hari. Beda halnya Gen Z yang sangat menghargai waktu. Cukup memerlukan waktu beberapa jam, sudah dapat diketahui lokasi, jarak, infrastruktur dan lain-lain. Selanjutnya ada financing. Sebab, 70 persen penduduk Indonesia membeli properti dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Di mana Gen Z bisa memperoleh informasi lengkap tentang financing? Itu bisa diperoleh dari platform seperti Rumah123. Sosial media hanya menginformasikan satu atau dua produk. Hal ini tidak bisa terjawab.
Adit menambahkan, generasi orangtua kita dalam cara mendidik kita beda. Orangtua kita mendidik kita keras sekali. Kerasnya bukan hanya verbal tapi juga fisik. Pada waktu itu orangtua kita berhasil. Nah, Happiness itu mungkin tularan. Namun demikian, pendekatan pendidikan seperti itu, menurut kita tidak berhasil. Kita tidak suka! Akhirnya hubungan kita dengan orangtua jarang atau ada gap.
Oeh karena itu, para orangtua milenial merubah pendekatan dalam hal mendidik anaknya. Mereka butuh dekat dengan anak. Akhirnya hal itu merubah bagaimana Gen Z berperilaku. Bahkan ada satu terminology menyebutkan bahwa orangtua milenial ini namanya generasi stroberi atau membangun relationship yang harmonis. Tidak melakukan pendekatan dengan kekerasan.
Gen Z sendiri, lanjut Adit, dibentuk oleh orangtua milenial yang mencoba mentransformasi cara edukasi ke anak-anaknya, sehingga akhirnya relationship menjadi lebih penting. Bila dulu kita mempunyai sahabat dekat adalah teman main kita atau keluarga . Kini sahabat dekat Gen Z tidak dibatasi jarak. Teman dekat Gen Z bisa berbeda negara. “Itulah yang menurut saya signifikasi perubahan terjadi karena adanya demografi dan adanya habit. Di mana kedekatan itu tidak lagi dibatasi oleh jarak. Akhirnya happiness mereka bisa dicari di tempat lain,” tandas Adit.[] Yuniman Taqwa/foto utama: ist
