Daya Beli Menurun, Perawatan Kulit Jalan Terus
Semenjak pandemi produk-produk terkait perawatan atau skincare mengalami kenaikan, dari sebelumnya lebih ke decorative/make up menjadi perawatan kulit. Bahkan skincare saat ini sudah menjadi kebutahan sehari-hari terutama di Gen Z.
Meskipun daya beli menurun di tengah kondisi ekonomi yang kian sulit, Generasi Z (Gen Z) masih menjadikan skincare sebagai salah satu pengeluaran yang tidak dipangkas. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Inventure September 2024, di antara berbagai kategori pengeluaran gaya hidup, perawatan kulit tetap menjadi prioritas utama bagi Gen Z.
Dalam temuan tersebut, terlihat bahwa pengeluaran terkait produk skincare dasar seperti cleanser, toner, dan moisturizer termasuk dalam kategori yang paling sedikit dipangkas. Gen Z juga cenderung mempertahankan pengeluaran untuk perawatan tubuh dasar seperti lotion dan sunblock. “Di tengah tekanan ekonomi, Gen Z tetap menempatkan perawatan kulit sebagai prioritas,” ujar Yuswohady dalam acara Indonesia Industry Outlook (IIO) 2025, pada 22 Oktober lalu.
“Ini menunjukkan betapa pentingnya aspek ‘penampilan’ dan ‘perawatan diri’ dalam gaya hidup mereka, khususnya yang berkaitan dengan 4S (Sugar, Skin, Sun, dan Screen), dimana ‘Skin‘ mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan kategori lainnya.” ucap Yuswohady.
Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group mengungkap, kondisi industri kosmetik nasional yang masih dalam tren pertumbuhan positif meskipun mulai terlihat sinyal pelemahan daya beli pada periode triwulan III/2024. Industri kosmetik nasional terus mengalami pertumbuhan pesat, utamanya produk skincare hingga parfum dalam beberapa tahun terakhir.

“Artinya, kebutuhan mereka untuk merawat diri melalui produk skincare mengalami kenaikan, sehingga dampaknya pemain di industri ini pun ikut naik hingga 10x lipat, dari yang awalnya red ocean menjadi black ocean saking padatnya,” ungkap pria yang akrab dipanggil Kiki seraya menambahkan, industri ini menjadi ramai dan sangat kompetitif.
Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), industri kosmetik terus mengalami pertumbuhan. Periode 2010-2019, tercatat sebanyak 700 pemain industri, hingga September 2024 yang terdaftar sebanyak 1700 pelaku usaha kosmetik. Pangsa pasar industri kosmetik nasional mencapai US$1,93 miliar per tahun dengan pertumbuhan konstan di level 5,16% year-on-year (yoy).
Sementara skincare mulai menjamur sejak pandemi di mana masyarakat tidak berpergian sehingga yang paling sering diperlukan skincare untuk perawatan. Sejak usai pandemi, bisnis skincare masih tumbuh karena munculnya kesadaran pola hidup yang sehat, termasuk merawat kondisi kulit, rambut, wajah, dan lainnya.
Fenomena ini juga tercermin dari hasil riset Inventure yang mengungkap mengenai produk beauty dan personal care yang paling kecil dipangkas dan tidak prioritas dipangkas oleh Gen Z adalah parfum, produk perawatan tubuh, sunscreen dan produk perawatan rambut. Untuk produk yang prioritas dan paling besar dipangkas untuk kategori produk beauty dan personal care adalah produk perawatan kuku dan nail polish.
Sedangkan sektor kosmetik, menurut Yongky Susilo, Consumer and Retail Strategist Nielsen Indonesia, tidak ada matinya. Kita semua lagi susah, tapi kosmetik lagi growth. Sejak 10 tahun terakhir beauty menjadi bintang. Jadi orang Indonesia dibilang bokek, tapi kecantikan jalan terus. Mungkin yang tadi di survei yang kelas atas yang mengurangi.
Kilala Tilaar dalam event Sneak Peek on Cosmetics Trend 2025 pada 26/11 mengatakan, perkembangan teknologi kecantikan, kepedulian lingkungan yang semakin tinggi, generasi yang kian kritis, dan kebutuhan pasar akan produk yang berbasis Vegan, Natural, Cruelty free, Clean Beauty, dan Recycable Eco-friendly, mengusung konsep Sustainability, mengedepankan Wellness & Wellbeing, menggunakan AI Technology serta Diagnose Technology memegang peranan penting di tahun 2025.

Umumnya produk vegan mengandalkan bahan alami dari tumbuhan, konsumen menaruh perhatian besar akan kandungan ingredient yang ada di dalam sebuah produk. Mereka memperhatikan value dan upaya keberlanjutan yang diupayakan oleh brand melalui pemilihan ingredient yang aman, alami, dan bebas dari bahan kimia berbahaya. Diperkirakan pada tahun 2025 akan semakin banyak brand kecantikan yang mengikuti tren untuk menciptakan produk yang berkelanjutan, alami, dan organik.
Tidak hanya natural dan organik yang berkelanjutan, tetapi secara teknologi bahan baku industri kecantikan sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Produk-produk yang diluncurkan pada tahun 2025 akan banyak berbicara mengenai “delivery system” technology, yaitu teknologi yang mampu membawa active ingredients masuk ke dalam lapisan kulit yang bermasalah secara tepat sasaran dan berkala. Teknologi ini disebut sebagai technology encapsulated active.
Gen Z dan Gen Alpha menaruh kepedulian besar pada isu lingkungan. Hal ini mendorong mereka untuk cenderung memilih produk-produk hybrid beauty, clean beauty yang ramah lingkungan dengan ‘keberpihakan’ pada alam. Menurut Kilala Tilaar, para generasi muda ini cenderung tertarik membeli produk-produk dengan label ‘natural’ dan ‘vegan’ dibandingkan generasi sebelumnya. Berdasarkan survei dari Helen + Gertrude pada 2023, sebanyak 27% responden dari kalangan Gen Z rutin membeli produk kecantikan yang memiliki konsep keberlanjutan atau ramah lingkungan. Mereka juga fokus pada produk dengan bahan-bahan alami.
Sustainability trend ini kemudian tidak hanya mencakup bahan baku dan formulasinya saja yang natural dan ramah lingkungan tetapi juga design packaging dan material packaging yang mendukung konsep sustainability. Semangat reuse, recycle, reduce menjadi tren pada penciptaan kemasan kosmetik dan personal care. Hal ini didorong oleh kepedulian konsumen pada kemasan yang ramah lingkungan, bisa didaur ulang, dan berkelanjutan. Namun, fungsionalitas dan daya tarik estetik juga tidak kalah penting bagi mereka. Gen Z, Gen Alpha, dan Millenial menyukai kemasan yang memiliki nilai ‘unik’ diiringi dengan inovasi dan kemudahan penggunaan. Di tahun 2025, tren ini diprediksi akan semakin populer.
Menurut Kilala Tilaar, teknologi kecantikan atau beauty tech, diprediksi akan memainkan peran yang semakin besar di tahun 2025. Penelitian dari McKinsey menunjukkan 71% konsumen saat ini berharap untuk merasakan pengalaman yang dipersonalisasi saat mereka berbelanja. Lebih lanjut, Penelitian McKinsey juga menunjukkan bahwa personalisasi dapat berdampak langsung pada siklus hidup pelanggan.
Hampir 80% konsumen lebih cenderung melakukan pembelian berulang dari sebuah brand dan merekomendasikan brand tersebut kepada teman atau anggota keluarga jika dianggap memberikan pengalaman yang dipersonalisasi. Hal ini tergambar dengan maraknya peluncuran produk-produk baru dalam bentuk professional devices yang menggunakan tehnologi AI yang dapat mendiagnosa keadaan kulit dengan menggunakan big data untuk dapat merekomendasikan formula yang cocok dengan permasalahan kulit yang dihadapi pelanggan
Dengan harapan memenangkan pelanggan baru, akan banyak brand dan perusahaan kecantikan yang menggunakan teknologi dan sains dengan cara yang inovatif. Beberapa brand kecantikan besar telah mengintegrasikan AI dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara personalized dan penggunaan teknologi canggih seperti alat terapi kulit berbasis LED. Sebagai contoh, sebuah perusahaan sanitary napkin menggunakan technology chip untuk me-release probiotik pada permukaan sanitary pads untuk menjaga kesehatan vaginal dan memberikan efek hangat yang berfungsi untuk menenangkan menstrual cramp.
Sementara pasar teknologi kecantikan diperkirakan akan terus berkembang pesat. Menurut Statista, diperkirakan akan terus meningkat selama lima tahun ke depan, bahkan mencapai nilai sekitar $8,93 miliar pada tahun 2026 nanti.
Menurut Kilala Tilaar, sejalan dengan laporan Pasar Kosmetik Vegan Global (Business Research Company, 2024) bahwa secara global, pasar produk kecantikan vegan ini bernilai USD 18,61 miliar pada tahun 2024. Angka ini diprediksi akan terus meningkat hingga USD25,61 miliar pada tahun 2028.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
