Pemprov Jabar Eksplorasi Kunjungan Wisata Berbasis Kereta Api
Jawa Barat (Jabar) terus berbenah diri melakukan eksplorasi pengembangan pariwisata. Salah satu program yang sedang dirancang adalah wisata berbasis kereta. Potensi akses jalur kereta api menembus destinasi wisata di sana memang tersedia.
Itu sebabnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) sedang mengembangkan konsep wisata berbasis kereta api yang disebut West Java Railway Heritage. Konsep ini menggabungkan perjalanan menggunakan kereta (termasuk kereta bersejarah dan yang sudah beroperasi) dengan kunjungan ke destinasi wisata di sepanjang jalur, serta potensi reaktivasi jalur lama seperti Banjar-Cijulang dan Garut-Cikajang untuk tujuan wisata.
Akhir Juli 2025, dibahas dalam rapat bersama di Kantor Disparbud Jabat. Turut hadir perwakilan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), PT GoTo Gojek Tokopedia, PT Bluebird Group, DPD Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Barat, DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi (PUTRI) Jawa Barat, DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Barat, serta beberapa tamu undangan lainnya.

Menurut Kepala Dinas Disparbud Jabar, Iendra Sofyan, program West Java Railway Heritage merupakan konsep cruising dimana wisatawan dapat turun di beberapa titik perhentian untuk menjelajahi tempat wisata. Konsep ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan pergerakan kunjungan wisatawan, sekaligus memaksimalkan konektivitas jalur kereta api penumpang maupun wisata yang menghubungkan berbagai daya tarik wisata di Jabar.
“Jawa Barat harus terus mengembangkan pariwisatanya. Salah satunya melalui wisata berbasis kereta api. Itulah potensi kita. Kenyamanan yang diberikan PT KAI maupun KCIC sudah baik. Ini bisa kita kemas menjadi sebuah branding bahwa konektivitas kereta api berbasis rel sejak pertama dibangun hingga yang modern ada di Jawa Barat,” katanya seraya menambahkan pariwisata Jabar sudah berjalan, tapi ada beberapa tantangan sesuai paradigma dan waktu. Artinya apapun yang terjadi kita harus tetap berinovasi, sebagaimana dikutip dari disparbud.jabarprov.go.id.
Iendra melanjutkan, kereta api mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai daya tarik dan sebagai akses mobilitas manusia dan barang. ”Kalau kita wisata dengan kereta api, kemudian berhenti di sebuah titik, untuk mencapai destinasi, tentukan menggunakan moda transportasi yang ada di sana. Artinya mengembangkan pengusaha lokal di sana. Tidak perlu membawa mobil atau travel dari Bandung, supaya tidak mematikan travel-travel yang ada di sana,” kata Iendra kepada pelakubisnis.com.
West Java Railway Heritage juga diharapkan dapat meningkatkan pergerakan wisatawan ke daerah-daerah non konvensional dengan memanfaatkan akses kereta api yang telah beroperasi menghubungkan Jawa Barat – Jawa Tengah/Jawa Timur, Jawa Barat- Jakarta, serta kereta Bandung Raya. Adapun konsep kerja sama kolaborasi dan pemasaran di antaranya penyusunan paket wisata terintegrasi, promosi dan aktivasi pasar, kolaborasi bisnis dan ekosistem, penguatan branding dan pengalaman unik, monitoring evaluasi dan pengembangan, serta ekspansi nasional dan internasional.
Kemudian menindaklanjuti dari rapat pada 31 Juli 2025, Disparbud Jabar melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat PT. Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) di Jakarta, dan Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Bandung, pada 4 Agustus 2025 untuk membahas beberapa kemungkinan strategi kerja sama. Dalam pertemuan itu, Disparbud Jabar membangun komitmen kolaborasi bersama sejumlah pihak termasuk PT KCIC dan PT KAI untuk mengoptimalisasi potensi wisata di sekitar jalur kereta api.

keberadaan kereta cepat atau Whoosh menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki Provinsi Jawa Barat. Bahkan Jabar menyimpan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia. Hingga saat ini pun, terdapat sejumlah rute kereta yang melintasi beberapa kabupaten/kota di Tanah Pasundan. Karenanya hal tersebut perlu dimaksimalkan dengan pembuatan paket-paket wisata yang gencar dipromosikan, baik oleh Pemprov Jabar, PT KCIC, maupun PT KAI.
Terkait penyusunan paket wisata, Disparbud Jabar juga menyiapkan program Super/Hot Deals yang mengedepankan aspek aksesibilitas, amenitas, dan atraksi (3A). Selain itu, Disparbud Jabar juga akan berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk menyiapkan destinasi unggulan yang akan dipromosikan kepada wisatawan.
“Itu menjadi tugas kami di Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk menyiapkan daya tarik wisatanya. Semakin banyak destinasi yang tersedia, semakin besar pula potensinya,” ungkap Kadisparbud.
Demi mendukung program ini, kolaborasi tak hanya dilakukan bersama PT KCIC dan PT KAI. Disparbud Jabar juga menggandeng stakeholder terkait di sektor industri pariwisata dan transportasi.
Lebih lanjut ditambahkan, PT KAI sudah kondusif dan bisa menjadi daya tarik. KAI bisa bercerita kepada masyarakat, apalagi pelajar. “Ini loh sejarah kereta dan anak-anak lebih suka kalau perjalanan pakai kereta. Kalau perlu satu gerbong dibikin lapangan futsal, saya dorong PT KAI. Kemudian satu gerbong mejanya bundar, di bikin seperti café,” urainya lebih lanjut.
Pemprov Jabar juga mengarahkan perhatian pada jalur kereta konvensional yang kini masuk dalam program reaktivasi oleh PT KAI. Sedikitnya empat jalur tengah disiapkan untuk dibuka kembali, yakni Banjar–Cijulang–Pangandaran–Parigi; Garut–Cikajang; Cikudapateuh (Bandung)–Banjaran–Ciwidey; serta Rancaekek–Tanjungsari.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat Rakor Perkeretaapian: Rencana Reaktivasi dan Pembangunan Jalur Kereta Api Baru di Bale Gedung Pakuan Kota Bandung, pada15/4 lalu mengatakan, jalur kereta api yang bakal direaktivasi antara lain adalah jalur Bandung-Pangandaran.”Reaktivasi kita yang paling dekat jalur kereta dari Bandung sampai Pangandaran. Itu baru sampai Banjar, kita bikin itu prioritas pertama kita selesaikan,” kata Dedi Mulyadi dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari liputan6.com, pada 19/4.
Kalau kita ke Pangandaran, itu jembatannya bagus, sudah ada sejak zaman Belanda. Jadi kalau kita mau ke Pangandaran berhentinya di Banjar, baru dilanjutkan pakai mobil dengan jarak tempuh 1 jam. Kita upayakan daya tariknya tetap ada, ke Pangandaran pakai kereta, nanti dari sana pakai mobil, sehingga pengusaha lokalnya jalan. Pengunjung sampai di Banjar, kata Iendra, bisa kulineran dulu. “ Itu program yang akan saya kembangkan. Tapi memang perlu pemahaman bersama . mudah-mudahan di akhir tahun ini sudah ada tiga paket yang bisa kita dorong, sekarang ini sedang dibicarakan dengan teman-teman, “ tandasnya.
Selain jalur KA Bandung – Pangandaran, Jabar juga akan menghidupkan jalur KA di Garut, jalur KA dari Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga Padalarang. Jalur lainnya yang akan direaktivasi ialah jalur KA Bandung – Ciwidey. Jalur kereta ini diharapkan dapat turut mengantisipasi kemacetan yang rutin terjadi di wilayah Bandung selatan saat musim liburan.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina
.
