Kawasan Pariwisata Rebana Fokus Pada Pemanfaatan Potensi Alam dan Budaya

Kawasan Rebana diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat dan nasional umumnya. Klaster industri dan metropolitan baru yang mencakup Kabupaten Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Cirebon, Kuningan, dan Kota Cirebon. Bagaimana potensi pariwisatanya?

Kawasan wisata di Rebana berfokus pada pemanfaatan potensi alam dan budaya di tujuh kabupaten/kota (Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Kuningan, Cirebon, dan Kota Cirebon) untuk mendorong ekonomi lokal, serta mengintegrasikan kawasan ini dengan infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban Subang dan Bandara Kertajati Majalengka. Tujuannya untuk menciptakan lapangan kerja, pemberdayaan masyarakat, serta menjadikan Rebana sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, termasuk pengembangan destinasi wisata baru dan penguatan ekonomi masyarakat.

Kawasan Rebana digadang-gadang sebagai  klaster industri dan metropolitan baru. yang terdiri dari tujuh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat yaitu Kabupaten Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Cirebon, Kuningan, dan Kota Cirebon telah ditetapkan sebagai Kawasan Rebana yang didukung dengan infrastruktur strategis nasional seperti Pelabuhan Internasional Patimban, Bandara Kertajati, jaringan jalan tol, dan kawasan industri melalui 13 Kawasan Peruntukan Industri.

Kawasan ini mencakup sekitar 20% dari luas wilayah Provinsi Jawa Barat dan dihuni oleh hampir 10 juta jiwa dengan kontribusi ekonomi sebesar 19% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Barat.

Arunika Garden salah satu destinasi wisata yang sedang viral di Kuningan/Foto: tangkap layar Tiktok @kulinermajelengka

“Dalam visi menuju Indonesia Emas 2045, Kawasan Rebana ini diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi, tidak hanya bagi Jawa Barat tetapi juga sebagai mesin baru pembangunan nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin ketika membuka The 2th Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting Project for Rebana Area Development which is related to Patimban International Port di Jakarta, pada 17/6.

Pelaksanaan Project for Rebana Area Development which is related to Patimban International Port diharapkan mampu mendorong pembangunan ekonomi dengan memajukan pengembangan industri dan infrastruktur di Kawasan Rebana, khususnya yang ada di sekitar Pelabuhan Internasional Patimban, melalui penguatan struktur dan kapasitas pelaksanaan Badan Pengelola Kawasan Rebana dan lembaga terkait lainnya.

“Adapun output yang diharapkan dapat dihasilkan melalui program ini, antara lain output pertama yakni peninjauan kembali dan pemutakhiran Rencana Induk (Masterplan) Pengembangan Kawasan Rebana dan pemilihan proyek-proyek prioritas. Lalu output kedua, penguatan sistem untuk mendukung implementasi proyek-proyek prioritas pada Kawasan Rebana. Dan juga output ketiga adalah penyusunan rencana detail pada proyek-proyek prioritas di Kawasan Rebana,” jelas Deputi Rudy.

Pemerintah mendukung percepatan pembangunan Kawasan Rebana ini melalui berbagai kebijakan, termasuk melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan, serta pengintegrasian berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) ke dalam Kawasan Rebana, seperti Bendungan Cipanas, Bendungan Jatigede, Pelabuhan Patimban, Bandara Udara Kertajati, Tol Cisumdawu, Kawasan Industri Patimban, dan sebagainya.

Sementara pengembangan kawasan wisata di Rebana berfokus pada pemanfaatan potensi alam dan budaya di tujuh kabupaten/kota (Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Kuningan, Cirebon, dan Kota Cirebon) untuk mendorong ekonomi lokal, serta mengintegrasikan kawasan ini dengan infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati. Tujuannya untuk menciptakan lapangan kerja, pemberdayaan masyarakat, serta menjadikan Rebana sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, termasuk pengembangan destinasi wisata baru dan penguatan ekonomi masyarakat.

Menurut  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan,  master plan Induk Kementerian Perindustrian di Indonesia ini ada 22  Wilayah Pusat Pengembangan Industri (WPPI), 2 diantaranya ada di Jawa Barat, yaitu Bodebek dan Kerawang. Sedangkan  kedua di Rebana.

“Pada era Ridwan Kamil, Rebana tidak ingin seperti WPPI  seperti Karawang dan Bekasi yang berantakan. Makanya Rebana ini dirancang betul-betul dan hati-hati. Sekarang jalur-jalur utamanya sudah ada. Kita masuk ke jalur-jalur pemprov (pemerintahan provensi).  Contoh sudah ada kawasan industri yang dikelola oleh Suryacipta Swadaya, di Subang,” kata Iendra serius.

Sedangkan kawasan perkotaan Rebana, kata Iendra, berada di kota Cirebon, dan kawasan rekreasi atau seperti Ubudnya di Bali berada di daerah Kuningan, Jabar. “Kalau mau rekreasi di Kuningan yang sekarang sudah siap di beberapa destinasi,”tukasnya.

Jadi sebenarnya sudah terkonsep. Langkah pertama mencari investor, langkah kedua adalah menarik kunjungan ke sana. Kita punya tantangan Bandara Kertajati yang sekarang lagi lesu. Airline banyak menarik diri di Kertajati. “Waktu pertama dibuka ada 12 penerbangan, tapi penumpang tidak ada. Bahkan sudah  menyediakan bis gratis ke sana, ternyata pengunjungnya kurang. Kita dorong dengan membuat paket wisata. Pak Gubernur berharap dengan adanya penerbangan  umrah dan haji di Kertajati, mudah-mudahan ada berkahnya,” tandas Iendra kepada pelakubisnis.com.

Sementara menurut pengusaha pariwisata, di Jawa Barat, Perry Tristianto, daerah Rebana, kurang cocok untuk pariwisata karena udaranya panas. Walaupun ada rencana daerah ini akan menjadi kawasan industri dan kota baru. Tapi kelemahannya di sana tidak melakukan marketing. Beda hanya apa yang dilakukan di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. “Saya dengar dari teman bahwa Batang memasang advertising di airport China tentang investasi di Batang, sedangkan Rebana nggak, Jawa Barat nggak,” ujarnya.

Pemilik tempat rekreasi De Ranch Ciater dan The Great Asia Africa Lembang ini menambahkan, kawasan Rebana  tidak cocok untuk pariwisata alam, tapi bagus untuk pariwisata kuliner. Kawasan Rebana yang bagus untuk pariwisata adalah daerah kuningan. “Kalau kita lihat di Kuningan hari sabtu dan minggu hotel di Cirebon penuh. Di Cirebon tidak ada wisata, lari ke Kuningan. Tapi hanya ada satu atau dua destinasi wisata di Kuningan yang dikunjungi turis asing,” tandas Perry kepada pelakubisnis.com.

Kebun Raya Kuningan, destinasi pilihan wisata di Kuningan/foto: ist

Kabupaten Kuningan merupakan satu dari 7 daerah di Jawa Barat yang masuk ke dalam kawasan Rebana. Dengan potensi pariwisata yang besar, Pemerintah Kabupaten Kuningan terus melakukan upaya agar pariwisata di Kabupaten Kuningan dapat terus berkembang.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kuningan, Elon Carlan mengatakan, Kuningan memang memiliki berbagai macam tempat wisata, bahkan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kuningan mayoritas berasal dari sektor pariwisata.

“Angkanya ada di Bappeda tapi dipastikan penyumbang PAD terbesar di tahun 2024 itu dari sektor pariwisata. Data 2024 wisatawan nusantara yang berkunjung sampai 4,1 juta. Kalau bicara pariwisata kan di dalamnya ada kuliner, agribisnis, afashion, semuanya menjadi support system, Sehingga semuanya ekonomi masyarakat itu berkembang,” tutur Elon, pada 14/5, sebagaimana dikutip dari detik.com/jabar/cirebon-raya, pada 15/5.

Elon merespon positif adanya Rebana. Menurutnya, masih dari sumber yang sama dengan masuknya Kuningan dalam kawasan Rebana dapat meningkatkan potensi pariwisata alam yang ada di Kuningan. “Potensial apalagi itu kan proyek strategis nasional. Bagaimana menyatukan potensi yang ada di Ciayumajakuning (Cirebon Metropolis) masing-masing memiliki keunggulan dan kita (Kuningan) punya alam dibandingkan dengan Cirebon, Indramayu, Majalengka. Karena 60 persen gunung Ciremai itu lokasinya ada di Kabupaten Kuningan,” tambahnya.

Salah satu destinasi yang disorot lain adalah Kebun Raya Kuningan. Kawasan wisata alam seluas sekitar 174 hektar ini  memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal. Pemerintah daerah berkomitmen menjadikan kawasan ini sebagai destinasi unggulan yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami ingin Kebun Raya Kuningan ke depan bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memperkuat konservasi alam dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar Kuningan,” kata Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., saat menjadi pembicara pada forum detikcom Regional Summit 2025 yang digelar di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, pada 19/5, sebagaimana dikutip dari kuningankab.go.id.

Sementara Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, turut hadir dalam Regional Summit Kawasan Rebana yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri RI bekerja sama dengan Detikcom, mengatakan, kota Cirebon bukan hanya kota pesisir biasa di utara Jawa Barat, tetapi merupakan simpul peradaban yang kaya akan warisan budaya, sejarah, dan spiritualitas.

“Kota Cirebon adalah titik temu antara sejarah dan masa depan. Warisan yang kami miliki bukan sekadar bangunan tua, melainkan nilai-nilai luhur yang masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari strateginews.id, pada 21/5..

Cirebon dikenal sebagai kota yang masih memelihara keberadaan keraton-keraton yang aktif sebagai penjaga tradisi dan sentra kegiatan budaya. Situs Gua Sunyaragi yang berasal dari abad ke-17 pun menjadi bukti kejayaan arsitektur serta spiritualitas masyarakat Cirebon di masa lampau.“Heritage bagi kami bukan hanya tentang bangunan, tetapi soal identitas yang menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan,” lanjut Wali Kota.

Pemerintah Kota Cirebon, kata Wali Kota, tengah menggiatkan kembali sektor pariwisata berbasis budaya. Salah satu langkah strategisnya adalah revitalisasi kawasan kota lama menjadi destinasi wisata heritage yang menggabungkan unsur sejarah kolonial, arsitektur tradisional, serta dinamika kehidupan urban modern.“Kami ingin wisatawan datang bukan sekadar singgah, tapi benar-benar merasakan dan mengalami Cirebon,” tegasnya.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa

.