Upaya Menarik Wisatawan, Pariwisata Jabar Kembangkan Paket Gastronomi
Juli lalu Bandung menggelar Gastronomi Tour on Bandros. Wisata di Kota Bandung ini menggabungkan pengalaman menjelajah tempat bersejarah sambil menikmati kelezatan kuliner khas Sunda dalam satu perjalanan.
Mengeksplorasi budaya boleh jadi dapat menarik wisatawan. Salah satu provinsi di PulauJawa yang mempunyai daya tarik dalam persektif gastronomi adalah di Jawa Barat. Di sini banyak makanan dan minuman khas Suku Sunda yang kaya akan citra rasa dengan kemasan kuliner tradisional.
Gastronomi adalah seni, filosofi, dan ilmu yang berfokus pada makanan dan minuman, meliputi studi tentang pemilihan, persiapan, penyajian, dan kenikmatan hidangan yang lezat, serta hubungan makanan dengan budaya, sosial, dan antropologi suatu daerah. Kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu gastros (perut) dan nomos (hukum/aturan), yang secara harfiah berarti “hukum yang mengatur perut”.
Pengembangan potensi wisata kuliner yang berkelanjutan seperti Soto Bandung, Sate Meranggi, dan minuman dingin seperti Es Cendol dan masih banyak lagi jenis makanan dan minuman di Jabar yang dapat dinikmati. Fokusnya adalah pada pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengembangan gastronomi sebagai daya tarik wisata.
Menuru Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Provinsi Jawa Barat, (Disparbud) Iendra Sofyan, gastronomi bukan sekedar kuliner, tapi lebih dalam lagi, mulai dari A sampai Z di suatu daerah. “Ke depan saya sedang mengembangkan kuliner dan gastronomi. Kuliner ini kan berkembang terus. Menurut saya hal ini tidak masalah karena kemajuan budaya,” kata Iendra kepada pelakubisnis.com.

Menurut Iendra, gastronomi belum banyak digarap sebagai daya tarik wisata. Padahal story telling gastronomi sangat menarik, karena tidak hanya informasi kuliner, tapi juga menyangkut perkembangan budaya makanan dan minuman dari lintas generasi. Dr. Riadi Darwis, M.Pd menulis buku Gastronomi Jawa Barat. “Bahkan kekhasan Cirebon pun sudah dibuat. Sambel menurut dia di Jawa Barat ada 77 jenis. Lalapan sudah ribuan. Beliau sudah mengidentifikasi dan membukukan gastronomi Jabar. Dan ini menjadi daya tarik wisata tersendiri, “lanjutnya.
Minggu ketiga Juli lalu, Bandung menggelar Gastronomi Tour on Bandros. Wisata di kota Bandung menjadi lebih kaya makna karena menggabungkan pengalaman menjelajah tempat bersejarah sambil menikmati kelezatan kuliner khas Sunda dalam satu perjalanan yang unik.
Program ini diselenggarakan melalui kerja sama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerja sama dengan Himpunan Pramuwisata Kota Bandung yang berlangsung pada 20, 21 dan 22 Juli 2025. Dalam kegiatan ini Disparbud turut diundang sebagai bagian dari implementasi kerja sama pengembangan gastronomi di Provinsi Jawa Barat.
Salah satu paket Gastronomi Tour on Bandros merupakan rangkaian pengalaman kuliner yang penuh nostalgia dan cita rasa khas Bandung. Perjalanan dimulai dengan sarapan pagi di Zodiac Hotel, dilanjutkan menjajal camilan dan yogurt di on Bandoengsche Melk Centrale (BMC) 1928. Setelah itu peserta mencicipi roti dan es krim jadul Sumber Hidangan Resto. Tur ditutup dengan makan siap ala Sunda di Bumi Mitoha, tempat yang sarat nuansa tradisional.,

Selain memanjakan lidah, kegiatan ini juga menyuguhkan narasi sejarah maupun budaya yang memperkaya pengalaman peserta. Semua dipandu langsung oleh pramuwisata berpengetahuan luas.
Dewi Turgarini, Dosen UPI sekaligus tour guide kegiatan ini menyampaikan bahwa wisata gastronomi memiliki karakter yang low maintenance tapi high impact. Dengan memaksimalkan potensi yang sudah ada, khususnya dari sisi kuliner, wisata ini dapat memberikan dampak besar bagi banyak sektor. Terbukti saat sektor pariwisata lumpuh karena pandemic, wisata gastronomi tetap bertahan karena terfokus di dalam daerah dan tidak bergantung pada kebijakan yang berubah-ubah. Kunci keberhasilannya ada pada kolaborasi yang terbangun antara pelaku wisata, restoran, hotel dan berbagai sektor pendukung lainnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai gastronomi memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata sekaligus sarana diplomasi ekonomi kreatif. Potensi ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata sekaligus mendorong pengeluaran wisatawan di daerah.
“Gastronomi bisa menjadi daya tarik wisata, bahkan menjadi diplomasi untuk ekonomi kreatif. Ini hal baru yang bisa kita promosikan ke dunia, untuk menarik lebih banyak kunjungan ke Indonesia,” ujar Kabid Industri Pariwisata Disparbud Jawa Barat, Rispiaga, usai acara Jentik Festival 2025: Celebrated The Uncelebrated West Java di Kota Bandung, pada 14/8/2025, sebagaimana dikutip dari rri.co.id, pada 14/8.
Pemprov Jabar, kata Rispiaga, tengah menjajaki kota atau kabupaten yang berpotensi diusulkan masuk dalam ekosistem UNESCO Creative City Network (UCCN) kategori gastronomi. Selama ini, beberapa tema seperti media art, film, dan animasi sudah ada, namun gastronomi masih belum terwakili. Bandung menjadi salah satu kandidat yang dipertimbangkan.
Menurutnya, gastronomi memiliki parameter yang lebih kompleks dibanding sekadar kuliner, meliputi pemberdayaan masyarakat, keberadaan industri pendukung, hingga riset. Pemilihan bahan baku lokal, sosialisasi budaya makan, hingga pelestarian tradisi menjadi unsur penting yang dinilai UNESCO.
Ketua Tim Pengembangan Kreatif Media dan Teknologi Bidang Ekonomi Kreatif Disparbud Kota Bandung, Sanny Megawati, menambahkan bahwa potensi gastronomi di Bandung sudah besar namun belum terekspos secara maksimal.
“Kami memiliki database besar di creator space Patra Komala. Dengan aktivasi seperti ini, kami bisa mengambil kebijakan berbasis big data. Gastronomi di tingkat dunia memang lebih mendalam daripada kuliner, sehingga butuh kolaborasi dengan akademisi dan komunitas,” katanya, masih dari sumber yang sama.
Pakar Gastronomi Indonesia dari Prodi Magister Pariwisata UPI, Dewi Turgarini, masih sumber rri.co.id, mengungkapkan, sejak 2018 pihaknya telah bekerja sama dengan Disparbud Kota Bandung mengembangkan wisata gastronomi melalui penelitian dan pengabdian masyarakat. Salah satu programnya adalah Gastronomi Tour on Bandros yang digelar rutin sebulan sekali, melibatkan hotel, restoran, katering, dan destinasi wisata.
“Kami sudah menjalankan 30 paket wisata gastronomi, termasuk yang akan menyambut tamu mancanegara pada 6 September 2025 mendatang. Wisata gastronomi bukan sekadar makan, tetapi menyangkut sejarah, tradisi, filosofi, bahan baku lokal, cara makan, penyajian unik, nilai edukasi, kesehatan, dan pengalaman tak terlupakan,” paparnya.
Sementara Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Ia menyampaikan, topik Bogor City of Gastronomy ini merupakan sebuah upaya untuk menguatkan kuliner yang ada di Bogor agar lebih dikenal lagi di tingkat nasional maupun internasional, dalam acara diskusi bersama iDEA Friends yang digelar oleh Ideafest di Samsara, Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor, 11/6/2025.
“Bogor itu punya banyak sekali kekayaan kuliner, laksa, soto kuning, sop buntut, asinan, doclang, toge goreng, roti unyil, cungkring, dan masih banyak lagi. Modalitas inilah yang kemudian kita coba kapitalisasi, kita jadikan sebagai branding Kota Bogor ke depan,” ucapnya.
Sehingga Kota Bogor sebagai City of Gastronomy akan diingat sebagai kota yang memiliki kekayaan kuliner yang spesifik.
Gastronomi sebagai sektor pariwisata memiliki dampak ekonomi bagi Jawa Barat. Sektor ini menjadi penggerak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menciptakan ribuan lapangan kerja baru mulai dari petani lokal yang memasok bahan baku, koki dan juru masak, hingga penyedia jasa pariwisata.
Restoran tradisional, warung makan, pusat oleh-oleh, dan bahkan industri rumahan skala kecil, semuanya mendapatkan dorongan ekonomi yang besar dari minat wisatawan terhadap kuliner lokal. Ini tidak hanya meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat, tetapi juga mengurangi angka pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan.[]Yuniman Taqwa
