Transaksi e-Commerce Melesat, UKM didorong Ke Bisnis Digital
Pertumbuhan bisnis e-commerce sejak pandemi dua tahun terakhir ini melesat signifikan. Transaksinya pada 2021 mencapai Rp401 triliun. Diperkirakan tahun 2022, transaksi e-commerce bisa meningkat mencapai Rp530 triliun. Bagaimana dengan bisnis UMKM menghadapi bisnis digital?
Berbagai sektor bisnis terkena pukulan telak akibat virus Corona. Pembatasan sosial dan minat belanja masyarakat selama dua tahun terakhir merekam banyak bisnis yang tumbang dan berguguran akibat pandemi . Namun, di tengah bayang-bayang ancaman pandemi yang belum juga reda, perlahan-lahan telah terjadi pergeseran model bisnis dari transaksi offline ke transaksi digital.
Badai Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, mendorong bisnis e-commerce cepat melesat. Indikatornya dapat dilihat dari transaksi perdagangan online yang cukup fantastik. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi e-commerce pada 2021 mencapai Rp401 triliun. Angka itu merupakan 99,50 persen dari perkiraan BI.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, total nilai transaksi e-commerce itu masih tumbuh signifikan dibandingkan capaian transaksi e-commerce pada tahun 2020. Ia menjelaskan capaian total nilai transaksi e-commerce di tahun 2021 itu masih tumbuh 50,8% bila dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp 266 triliun.
Tahun 2022 ini, Gubernur BI memperkirakan total nilai transaksi e-commerce akan kembali meningkat. Bahkan, dapat lebih tinggi dari yang disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) pada November 2021 lalu. “Perkembangan e-commerce pada Januari 2022 pun terus meningkat dan bahkan ada kecenderungan meningkat dari perkiraan kami ( sebesar Rp 530 triliun),”ungkap Perry, dikutip dari pemberitaan media nasional, Januari 2022.
Optimisme itu, menurut Perry, karena dilandasi sejumlah faktor kebijakan BI seperti pengembangan penggunaan QRIS, kemudian industri sistem pembayaran yang makin berinovasi, serta akseptasi dan preferensi masyarakat yang terus meningkat dalam melakukan aktivitas ekonomi lewat digital.
Menurut Koordinator Inisiatif Digital Sektor Strategis 1 Direktorat Ekonomi Digital Kominfo Wijayanto, peningkatan tersebut menjadikan bisnis online di Indonesia mengalami perkembangan sangat baik. Ini terlihat dari banyaknya bisnis online baru yang terus bermunculan.
”Sebagai pebisnis online, tuntutan pun datang dari konsumen untuk mendapat pelayanan terbaik seperti tersedianya akses untuk membeli produk yang diinginkan, pengiriman yang cepat, serta kecepatan dalam melayani konsumen,” tutur dia, sebagaimana dikutip dari sindonews.com, pada 30 Maret lalu.
Berdasarkan data pasar perdagangan elektronik (e-commerce) Indonesia diperkirakan dapat menjadi kontributor pertumbuhan utama di Asia Pasifik. Analisis RedSeer, pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan dapat meningkat menjadi US$137,5 miliar pada 2025.
Nilai transaksi tersebut merupakan pertumbuhan majemuk tahunan atau compounded annual growth rate (CAGR) yang tingkat pertumbuhan per tahun selama rentang periode waktu tertentu. (CAGR) sebesar 25,3% dari pencapaian tahun 2020 sebesar US$44,6 miliar. RedSeer juga memproyeksikan nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai US$67,4 miliar pada 2021. Pada 2022, nilai transaksi diproyeksikan menjadi US$86 miliar. Selanjutnya, nilai tersebut meningkat menjadi US$104 miliar pada 2023 dan US$121 miliar pada 2024, sebagaimana dikutip databoks.katadata.co.id, pada 18/3 lalu.
Dalam analisisnya, RedSeer melihat pertumbuhan pasar e-commerce di Indonesia didukung oleh empat hal, yaitu ekonomi berbasis konsumsi, demografi yang masih muda, ekonomi digital yang bertumbuh, dan keinginan konsumen yang ingin segalanya serba mudah.
Nilai transaksi e-commerce di Indonesia juga akan menjadi yang terbesar di Asia Pasifik. Dengan estimasi US$137,5 miliar pada 2025, ini berarti Indonesia mencakup 59% dari total nilai transaksi Asia Pasifik yang sebesar US$231 miliar.
Menurut Digital 2022 Global Overview Report, negara yang warganya paling sering belanja online adalah:
1. Thailand
Menurut hasil survei, proporsi pengguna internet di Thailand yang rutin melakukan belanja online tiap minggu mencapai 45,8%. Angka ini merupakan persentase terbesar di skala global.
2. Korea Selatan
Setelah Thailand, Korea Selatan menjadi negara peringkat kedua yang paling sering belanja online, dengan persentase pengguna internet pelanggan e-commerce sebanyak 43,1%.
3. Meksiko
Di peringkat ketiga ada Meksiko. Sebanyak 39,4% pengguna internet di negara tersebut rajin belanja kebutuhan mingguan secara online.
4. Turki
Di peringkat keempat ada Turki, dengan persentase pengguna internet yang rutin belanja online sebanyak 38,9%.
5. Indonesia
Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara paling sering belanja online, dengan persentase pengguna internet pelanggan e-commerce sebanyak 36%.
Sementara Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia (SDM), Dedy Permadi menyatakan Kementerian Kominfo mengharapkan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun 2022 membawa dampak kepada masyarakat, terutama pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
“Presidensi G20 menjadi momentum penting dalam berbagai bidang. Presidensi dan penyelenggaraan G20 di Indonesia diharapkan dapat menstimulus efek rambatan atau spill-over effect yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam acara Belajar Bareng Mitra #3 Bukalapak yang berlangsung virtual dari Jakarta Pusat, pada 30 Juni lalu.
Stafus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM menyatakan melalui penyelenggaraan Digital Economy Working Group (DEWG), Kementerian Kominfo mendorong digitalisasi UMKM. “DEWG Presidensi G20 Indonesia merupakan kelompok kerja yang membahas isu seputar ekonomi digital, transformasi digital, maupun isu-isu digital secara luas. Termasuk isu seputar pengembangan UMKM,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Kominfo.go.id.
Sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam transformasi digital Indonesia, UMKM menjadi salah satu yang terdampak pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Dedy Permadi meyakini digitalisasi dapat menjaga resiliensi UMKM untuk tumbuh dan bertahan dari efek pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun terakhir.
“Kontraksi ekonomi akibat pandemi bagi bisnis UMKM semakin menunjukkan urgensi digitalisasi UMKM di Indonesia. Dengan digitalisasi, UMKM bisa mendapatkan salah satu solusi untuk tetap bertahan di tengah pandemi maupun di tengah tantangan global lainnya,” jelasnya.
Menurut Dedy, meskipun menjadi pondasi utama perekonomian, UMKM di Indonesia terus menghadapi berbagai tantangan seperti tingginya biaya operasional, pertumbuhan pendapatan, hingga pasar yang kompetitif.
“Belum lagi dampak yang dialami akibat pandemi. Data dari Asian Development Bank Institute, 19,76 persen UMKM di Indonesia mengalami penurunan angka penjualan selama semester pertama tahun 2020. Kendala ini perlu segera diatasi, mengingat UMKM merupakan pondasi utama bagi perekonomian di Indonesia yang kontribusinya sangat besar, mencapai 61,97% terhadap PDB di Indonesia,” tuturnya.
Kementerian Kominfo aktif mendorong UMKM untuk memanfaatkan platform digital melalui inisiasi UMKM Go Digital. “Inisiasi ini turut diamplifikasi melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI), dan telah menambah sekitar 9,2 juta unit UMKM yang digitally onboard sejak peluncuran program pada Mei 2020 lalu,” jelas Stafus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM.
Tak hanya itu, pendampingan UMKM juga dilakukan secara berkelanjutan melalui program UMKM Active Selling. Menurut Dedy Permadi, program itu mendorong perluasan atau scaling-up adopsi teknologi dalam implementasi bisnis UMKM sehingga akses pasar dapat lebih diperluas.
“Program ini telah menjangkau 26.000 UMKM pada tahun 2021 dan menargetkan 30.000 UMKM di tahun 2022,” tegasnya.
Kementerian Kominfo juga meluncurkan program Adopsi Teknologi Digital 4.0 UMKM. Program itu ditargetkan dapat menjangkau hingga 70.000 UMKM di Indonesia pada tahun 2024.
“Program ini mendorong implementasi penggunaan teknologi 4.0 seperti Big Data, Quick Response (QR) Code Payment, dan Augmented atau Virtual Reality,” ujar Stafus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM.
Peningkatan keahlian kewirausahaan digital para pelaku UMKM juga menjadi perhatian Kementerian Kominfo, salah satunya lewat pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) di bawah Program Digital Talent Scholarship (DTS).“Hingga tahun 2021 lalu terdapat lebih dari 63.000 wirausahawan yang telah dilatih dalam DEA. Tahun 2022 ini, DEA menargetkan kepesertaan dari 40.000 wirausahan dengan beragam tema pelatihan, di antaranya terkait kelas strategi bisnis online dan keamanan siberuntuk UMKM,” jelas Dedy Permadi.[]Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utaa: McKinsey & Company



