GoTo Go Public, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Pertumbuhan kinerja GoTo bukan hanya diproyeksi terjadi tahun ini saja, melainkan terjadi secara konsisten dalam jangka panjang. Diproyeksikan bisnis GoTo akan tumbuh majemuk lebih dari 20% selama lima tahun ke depan karena didukung pertumbuhan pesat ekosistem internet dan basis pengguna GoTo.

Apa jadinya bila Tokopedia dan Gojek bersatu? Lahirlah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, perusahaan ekosistem digital berbasis teknologi Indonesia yang disingkat GoTo ini berdiri pada 17 Mei 2021. Pada saat itu, Tokopedia dan Gojek mengumumkan resmi menggabungkan diri dan membentuk GoTo.

Sebelumnya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) didirikan pada tahun 2015 dengan nama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Merupakan perusahaan induk dan penyedia platform digital yang mengintegrasikan sistem pelayanan yang berdasarkan dari pesanan konsumen, perdagangan secara elektronik dan produk digital, dan layanan teknologi keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui entitas anak. GoTo adalah gabungan dari Gojek dan Tokopedia, masing-masing memulai kegiatan operasi komersial pada tahun 2010 dan 2009. Per Juli 2021, Perusahaan dan entitas anak  mempekerjakan 8540 karyawan.

Meskipun GoTo sempat mencuat lantaran investasi anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) senilai Rp 6,4 triliun dituduh memiliki konflik kepentingan. Konflik kepentingan terjadi antara Menteri BUMN Erick Thohir dan dewan komisaris GoTo, bahkan hal ini kemudian berlanjut ke ranah politik dengan pembentukan panitia kerja ( Panja ) Komisi VI DPR RI, sebagaimana dikutip dari cnbc Indonesia.com, pada 12 Juli 2022.

Pengamat Pasar Modal dan CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto menilai bahwa masuknya Telkomsel ke bisnis GoTo merupakan hal wajar. Di mana langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk keberlangsungan bisnis. Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan industri telekomunikasi mengalami perlambatan, yakni hanya bertumbuh 2,8% di 2021. Oleh karena itu, berinvestasi di perusahaan digital bertujuan agar pertumbuhan bisnis bisa stabil.

“Apa yang dilakukan Telkomsel, mencari strategic partner yang bisa mendukung bisnis inti ke depan, salah satunya menyasar Gojek. Isunya adalah bagaimana perusahan Telkom ini berusaha untuk bisa menumbuhkembangkan atau perusahaannya sustain,” jelas dia dalam diskusi Isu Investasi Telkomsel, Fakta atau Fitnah (12/7).

Adapun dalam membuat keputusan untuk berinvestasi di GoTo, kata dia, masih menurut sumber cnbcIndonesia.com, Telkomsel memiliki pengawasan yang ketat dan melibatkan berbagai pihak.”Kontrolnya tidak hanya di komisaris. Komisaris tidak bisa melakukan apa-apa kalau tidak ada keputusan dari pemegang saham. Sangat ketat dan melibatkan banyak pihak. Telkom pemegang saham bukan hanya BUMN, tapi Singtel juga,” tegas Fendi.

Seperti diketahui sebesar 65% saham Telkomsel dimiliki Telkom yang merupakan perusahaan BUMN. Sedangkan sisanya yakni 35% dimiliki oleh Singapore Telecom Mobile TTE (Singtel Mobile) yang merupakan perusahaan milik pemerintah Singapura.

Sementara GoTo resmi menjadi menjadi perusahaan digital yang sahamnya tercatat dan diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 11 April 2022. Sehari setelah tercatat di BEI, minat masyarakat dalam Initial Public Offering (IPO) terhadap saham GoTo cukup tinggi.

Peminat saham GoTo datang dari single investor identification (SID) dan investor ritel. Adapun total investor yang turut berpartisipasi mencapai lebih 299.000. “Pada hari ini, kami mengawali perjalanan GoTo sebagai perusahaan terbuka yang tercatat di BEI,” ungkap Andre Soelistyo selaku CEO Grup GoTo, melalui keterangan resminya sebagaimana dikutip dari kompas.com 12/7.

Melalui keterangan resminya, PT GoTo Gojek Tokopedia mengklaim telah mengumpulkan total dana Rp 15,8 triliun. Dana tersebut berasal dari penawaran umum dan penjualan saham treasuri dalam rangka opsi penjatahan lebih (greenshoe). Sebesar Rp 13,7 triliun diperoleh dari penawaran umum saham melalui IPO. Sisanya, yakni Rp 2,1 triliun, didapat melalui penjualan saham treasuri dalam rangka opsi penjatahan lebih (greenshoe). Total dana tersebut menggambarkan kapitalisasi pasar sebesar Rp 400,3 triliun

Berdasarkan nilai kapitalisasi GoTo yang terkumpul, perusahaan teknologi ini menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar keempat setelah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di BEI. Bahkan, IPO GoTo juga menjadi IPO terbesar ketiga di Asia dan kelima di dunia untuk 2022 dihitung dari jumlah dana yang berhasil dikumpulkan.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan GoTo Sebanyak 40.615.056.000 (empat puluh miliar enam ratus lima belas juta lima puluh enam ribu) Saham Seri A yang seluruhnya merupakan Saham Baru dan dikeluarkan dari portepel Emiten, dengan nilai nominal Rp1 (satu Rupiah) per saham, yang mewakili sebesar 3,43% (tiga koma empat tiga persen) dari modal ditempatkan dan disetor Emiten setelah Penawaran Umum Perdana Saham (“Saham Yang Ditawarkan”), ditawarkan kepada masyarakat dengan harga penawaran Rp338 (tiga ratus tiga puluh delapan rupiah) setiap saham. Jumlah seluruh nilai Penawaran Umum Perdana Saham adalah sebesar Rp13.727.888.928.000 (tiga belas triliun tujuh ratus dua puluh tujuh miliar delapan ratus delapan puluh delapan juta sembilan ratus dua puluh delapan ribu Rupiah).

Sementara pada 4/7 lalu, saham emiten teknologi raksasa RI, GoTo Gojek Tokopedia (GoTo), dibuka di zona merah sebelum akhirnya menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) setelah harga sahamnya turun 6,49% ke posisi Rp 346 pada perdagangan Senin (4/7) pagi. Saham GoTo hari ini ditransaksikan sebesar Rp 220,33 miliar, dan tercatat menjadi salah satu yang paling ramai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham GoTo berpindah tangan 17.683 kali dan melibatkan 624 juta saham.

Sebelumnya, sejak awal bulan Mei dan nyaris sepanjang bulan Juni, saham GOTO mengalami reli yang cukup signifikan dan sempat menyentuh level tertinggi di Rp 404/saham pada 15 Juni lalu, naik 108% dari level terendah bulan Mei di harga Rp 194/saham.

Namun demikian, strategi GoTo untuk menerapkan berbagai inisiatif hyperlocal dan penjualan silang menjadi dasar keyakinan analis untuk merekomendasikan investor mempertahankan (hold) saham GoTo dengan target harga Rp 420, sebagaimana dikutip dari detik.com 18/7 lalu..

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan, dalam risetnya mengatakan potensi pertumbuhan GTV GoTo menjadi Rp 710 triliun tahun ini dibandingkan realisasi sebesar Rp 461 triliun pada tahun sebelumnya terutama karena penerapan strategi hyperlocal dan cross-pollination (penjualan silang) yang semakin optimal, sehingga bisa menjadi kunci pertumbuhan kinerja untuk jangka panjang.

Pertumbuhan kinerja GoTo bukan hanya diproyeksi terjadi tahun ini saja, melainkan terjadi secara konsisten dalam jangka panjang. “Kami memproyeksikan bisnis GOTO akan tumbuh dengan pertumbuhan majemuk lebih dari 20% selama lima tahun ke depan, didukung oleh pertumbuhan pesat ekosistem internet dan basis pengguna GOTO,” terusnya.

Data riset yang sama, nilai penjualan atau Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi internet Indonesia telah mencapai US$ 70 miliar (naik 49% YoY) pada 2021 dan diproyeksikan mencapai US$ 146 miliar pada tahun 2025 (CAGR: +20%). Seiring dengan itu, basis pengguna GoTo juga diperkirakan Farras akan terus meningkat. Terlebih seluruh segmen bisnis utama GoTo baik itu on-demand, e-commerce, maupun fintech, merupakan industri yang relatif muda di Indonesia sehingga ruang pertumbuhan masih sangat terbuka luas.

Menurut RedSeer, pada tahun 2021, e-commerce hanya menyumbang 8,7% dari total penjualan ritel Indonesia. Hal yang sama berlaku untuk logistik on-demand (dengan tingkat penetrasi 8,3%), dan mobilitas (5,2%). “Angka-angka ini menggambarkan ruang pertumbuhan yang besar untuk industri-industri ini,” ungkapnya.

Mengutip Wikipedia, selain menjadi singkatan dari nama kedua perusahaan, nama GoTo juga berasal dari kata “gotong royong”.Setelah Gojek dan Tokopedia bersatu, gabungan perusahaan tersebut diklaim memberikan dampak sekitar 2% kontribusi ke PDB Indonesia.

Sementara Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebut bahwa ekosistem Gojek dan GoToFinancial menyumbang 1,6% pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2021 lalu atau mencapai Rp 249 triliun.

Saat ini, GoTo menjalankan tiga pilar bisnis secara bersamaan yang terdiri atas layanan on-demand melalui Gojek, e-commerce melalui Tokopedia, dan financial technology melalui GoTo Financial. Ketiganya merupakan kekuatan fundamental  yang menjadikan ekosistem GoTo paling lengkap dibanding para pesaingnya.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/foto utama/ist