Tiga Kunci SKI Eksis di Pasar Ekspor, Tetap Jajaki Pasar Domestik
Meski baru memasuki tahun ketiga, kinerja PT Solar Karya Indonesia (SKI) terus meningkat. Tahun 2023 mencatat penjualan Rp 49 milyar dengan pangsa pasar 98 persen ekspor. Target revenue sampai akhir tahun 2024 bisa mencapai Rp 90 milyar. Bagaimana strateginya?

Adalah Christoper Liawan, Chief Executive Office (CEO) SKI yang membesut bisnis baru di lini industri solar panel Indonesia, meski sebenarnya ia bukan orang baru di industri solar panel. Sebelum membangun usaha sendiri, ia pernah menjabat Presiden Direktur Indonesia Solar Modul Manufacture.
Menurutnya potensi energi surya di Indonesia melimpah ruah. Namun demikian, potensi itu belum di manfaatkan secara optimal. Sementara pemain di bisnis ini masih didominasi produk-produk impor. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri baginya untuk memajukan industri solar panel di tanah air.
Christoper mengakui, memang investasi awal energi surya lebih mahal dibandingkan energi berbasis fosil. Tapi jangka panjang energi ini sangat efisien dibandingkan energi berbasis fosil “Cost production energi ini hanya sekitar Rp 400 per KWa,” kata Christoper kepada pelakubisnis.com, beberapa waktu lalu.
Apalagi pembangunan PLTS memerlukan waktu singkat. Pembangunan PLTS Terapung Carata, Purwakarta, Jawa Barat, kata Christoper, hanya memerlukan waktu tiga bulan untuk pembangunan PLTS tersebut. “Kalau Masdar dari Uni Emirat Arab berani investasi PLTS di Indonesia, berarti punya peluang besar di bisnis ini. Mana mungkin Masdar berani investasi jika tidak prospek,” tandasnya serius.
Boleh jadi hal itu yang mendorong Christoper berani menggelontorkan investasi US$ 3 juta atau sekitar Rp 44 miliar, untuk membangun industri manufaktur solar panel. Di semester II tahun 2022 ia memulai dengan membangun pabrik satu line mesin dengan kapasitas 80 MW per tahun. Di semester pertama tahun 2023, ia menambah satu line mesin dengan kapasitas yang sama, sehingga saat ini sudah terbangun pabrik solar panel dua line dengan total kapasitas 160 MW per tahun, walaupun utilisasi pabrik saat itu baru mencapai 50 persen.
Rencananya tahun ini, lanjut Christoper, akan ada penambahan kapasitas produksi satu line. Bila tidak ada aral melintang, awal Mei 2024 akan masuk mesin baru, sehingga kapasitas meningkat menjadi 200 MW pada tahun ini. Nanti sampai akhir tahun ini, kita lihat lagi market apakah ada penambahan kapasitas produksi atau tidak.
Menurut Christoper, mesin yang akan datang pada Mei mendatang adalah mesin untuk memproduksi solar panel dengan kapasitas kecil. Di mana SKI melakukan pengembangan produk solar panel dengan variasi produk yang terkecil 5 watt sampai 670 watt. “Saat ini solar panel ukuran kecil masih mengisi pasar ekspor,” katanya lanjut.
Difrensiasi produk-produk solar panel produksi SKI, menurut Christoper, kebanyakan tidak diproduksi pabrik-pabrik di Indonesia dan China. “Hari ini di China sudah menjadi konsumen panel surya, bukan lagi produsen. Sebab, cost untuk bikin solar panel ukuran kecil atau di bawah 300 watt, SKI leading dibandingkan China,” lanjutnya sambil menambahkan SKI saat masih semi otomatis. Tapi kalau sudah otomatis, pabrik hanya memproduksi satu tipe solar panel, karena untuk memproduksi produk massal. Sedangkan SKI produksinya masih campuran, karena tidak semua proses produksi dilakukan secara otomatis, masih ada proses yang dilakukan secara manual.
Lebih lanjut ditambahkan, bila produk SKI tidak berkualitas, maka tidak bisa bersaing dengan produk China dan pasar internasional. “Produk SKI bersaing di high quality, tapi kalau di low quality memang SKI tidak bermain di situ,” tambahnya. Pasalnya bermain di low quality tidak ada standar dasarnya, sehingga SKI bermain di level middle up.Sedangkan untuk bisa eksis di pasar, tambah Christoper, ada tiga faktor yang harus dipenuhi. Pertama, price, kedua quality dan ketiga delivery. “Delivery ini adalah komitmen SKI. Ketiga ini yang bisa membuat SKI berkembang,” tandasnya yang menerapkan rumus QCD (quality, cost, delivery -red) dalam menjalani usahanya.
Meski sebagai pendatang baru di industri solar panel, namun SKI mampu menunjukkan kinerja yang melesat. Betapa tidak, baru develop manufaktur pada tahun 2022, dalam hitungan kurang dari setahun mampu menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Sedikitnya tiap bulan melakukan ekspor sampai 5 kontainer ke negara-negara tersebut.

Ekspektasi pertumbuhan SKI tahun 2024, kata Christoper, bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2023. Bila pada tahun 2023, total penjualan mencapai Rp 49 milyar dengan pangsa pasar 98 persen ekspor.”Diperkirakan revenue sampai akhir tahun 2024 bisa mencapai Rp 90 milyar,” tambahnya dengan sumbangan porsi pasar domestik yang terus meningkat.
Menurut Christoper, harapan tahun 2024 ini akan jauh lebih baik dari tahun 2023, baik untuk pasar lokal maupun pasar ekspor. “Untuk pasar lokal, SKI sudah mendapat order pembangunan PLTS di Cilegon dengan kapasitas 1,5 MW. Pekerjaan dilakukan bertahap, mungkin baru selesai akhir tahun ini,” katanya. Nilai project-nya mencapai Rp 12 milyar. Padahal tahun lalu nilai project lokal baru sebesar Rp 2,5 milyar.
Lebih lanjut ditambahkan, SKI juga support project-project pemerintah, seperti project dari Pemda DKI Jakarta pada akhir tahun 2023 dengan kapasitas 1,1 MW untuk project PLTS Atap bangunan sekolah-sekolah. “Tahun 2024 ini belum ada. Harapan bisa lebih besar dari tahun sebelumnya,” tambahnya.
Prospek pasar lokal, menurut Christoper, sangat besar. Indikatornya adalah mulai ada kesadaran dari masyarakat menggunakan energi bersih. Driver utamanya adalah mobil listrik dan motor listrik yang terus tumbuh. Dari sini masyarakat belajar tentang energi bersih. Dari mana energi bersih itu dihasilkan. Mulai awareness masyarakat terhadap energi bersih meningkat. Bila mereka sudah menggunakan kendaraan listrik, maka akan merubah perilaku untuk merubah energi bersih di rumahnya.
“Sebenarnya segmen terbesar dari energi listrik adalah perumahan menengah ke bawah yang banyak di Indonesia. Nah, itu perlu dorongan dari pemerintah maupun bank pemerintah dalam hal pembiayaan,” kata Christoper menambahkan. Meskipun saat ini masih banyak yang menggunakan PLTS Atap adalah rumah menengah atas, karena secara permodalan mereka lebih mampu. Harapannya di tahun-tahun mendatang pemerintah mempermudah memberi izin dan membuat skema dengan bank-bank nasional untuk pendanaan seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk diaplikasikan ke rumah-rumah dengan memberi subsidi energi.
Akhir Januari lalu, Pemerintah telah menerbitkan revisi regulasi terkait Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada 29 Januari 2024 lalu. Peraturan tersebut menggantikan Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021 tentang PLTS Atap yang Terhubung pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang IUPTL untuk Kepentingan Umum. Dalam peraturan baru tersebut sudah tidak ada peniadaan mekanisme ekspor impor. Nilai kelebihan energi listrik dari sistem PLTS Atap pelanggan ke jaringan pemegang IUPTLU tidak diperhitungkan dalam penentuan jumlah tagihan listrik pelanggan.
Menanggapi perubahan permen tersebut, menurut Christoper, akan mengurangani daya tarik masyarakat untuk menggunakan PLTS Atap. Sebab, kalau kita bicara ekspo-impor – ketika siang tidak digunakan – kita suplay ke PLN, sehingga bisa mengurangi tagihan listrik. Otomatis hal ini sangat menarik untuk masyarakat. “Hari ini skema itu sudah tidak ada, sekarang hanya bisa pakai siang hari, otomatis mengurangi ketertarikan penggunaan energi panel surya untuk diterapkan di rumah,” tandasnya.
Dengan tidak ada kebijakan ekspor-impor energi PLTS Atap, maka otomatis hanya digunakan pada siang hari. Sedangkan untuk menggunakan pada malam hari otomatis menggunakan baterai, sehingga konsumen perlu mengalokasi dana tambahan untuk baterai. Di mana investasi baterai setara dengan investasi solar panel. “Kalau saya sebut kita mengalami kemunduran,” tambah Christoper.
Namun demikian, penerapan ISO 14001 tentang Lingkungan, sudah mencantumkan persyaratan untuk menggunakan energi bersih. Tapi industri-industri yang mengharuskan memiliki ISO 14001 hanya untuk kebutuhan kantor, sebagai persyaratan memperoleh ISO 14001. Sedangkan energi yang digunakan untuk proses produksi masih banyak menggunakan energi berbasis fosil. Tapi kebijakan ini, menurut Christoper, akan menambah potensi pasar solar panel.
Sementara dari segi harga, tambah Christoper, SKI sudah bisa bersaing dengan produk impor. Walaupun pemain solar panel yang betul-betul memproduksi sendiri belum banyak. Selama ini pemain-pemain solar panel kebanyakan impor. Tapi pertengahan tahun ini para importir sudah dikenakan beban pajak bea masuk sekitar 5 persen. Kebijakan ini untuk melindungi produksi dalam negeri. “Saat ini local content dari produk SKI sudah mencapai 40 persen. Manpower sendiri sudah menyumbang 12 -15 persen, bahan kimia, frame sudah bisa lokal dan bingkai solar panel menggunakan almunium produksi dalam negeri,” ujarnya seraya menambahkan sampai saat ini SKI mempekerjakan 130 karyawan yang 100 persen menggunakan tenaga lokal.
Menurut Christoper, masih 98 persen produk SKI membidik pasar ekspor. Itu sebabnya SKI sudah memiliki Standard UL Certification sebagai pabrikan solar panel berstandar internasional. Bahkan saat ini SKI sudah mendapat sertifikat KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) dari Kementerian Keuangan yang pelaksanaannnya dilakukan oleh Direktorat Jendral Bea dan Cukai.
Sementara Christoper menambahkan, untuk pengembangan pasar domestik masih digodok konsep partnership pengembangan pasar. “Sudah ada beberapa calon partnership yang sedang didekati dengan sistem franchise distributor. Jadi, kalau ada distributor ingin mencoba bisnis solar panel di daerah terbuka peluangnya,” katanya seraya menambahkan bahwa persyaratannya ada tempat yang memadai (ruko/toko) dengan modal awal Rp 300 juta untuk stok solar panel, sehingga bila ada konsumen yang ingin pasang solar panel bisa cepat dieksekusi. Sedangkan pihak SKI akan melakukan training tenaga kerja pihak partnership distributor.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
