Kolaborasi Sarinah Bersama YDBA Dorong UMKM Naik Kelas
Melalui Sarinah Pandu mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) naik kelas. Upaya tersebut dilakukan secara kolaborasi dengan banyak pihak, di antaranya dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Bagaimana proses tersebut dijalankan, sehingga UMKM bisa go internasional?
PT Sarinah berkolaborasi dengan YDBA menyelenggarakan pelatihan secara hybrid yang diikuti 300 UMKM, khusus bidang kerajinan dan kuliner binaan YDBA. Pelatihan tersebut terkait desain produk, berupa merek, packaging, informasi produk dan strategi promosi untuk menarik buyer.
Kegiatan pelatihan diselenggarakan pada 21 – 22 Februari 2024 bersamaan dengan diresmikannya program kolaborasi tersebut di Gedung Sarinah Jakarta. Direktur Utama PT Sarinah, Fetty Kwartati mengatakan, Sarinah memiliki visi yang sama dengan YDBA sehingga Sarinah percaya kolaborasi ini semakin memperkuat upaya bersama dalam membangun bangsa melalui UMKM.
UMKM diberikan program pelatihan untuk mempersiapkan diri menuju Future Retail Towards Global Market sehingga diharapkan UMKM dapat meningkatkan daya saingnya bukan hanya di pasar lokal namun global. “Diharapkan dapat membantu dan mempercepat UMKM dalam membangun jaringan bisnis yang luas dan memperluas pasar ke tingkat internasional,” lanjut Fetty.
Lebih lanjut ditambahkan, setelah diselenggarakan pelatihan selama 2 hari, para UMKM mengikuti kurasi untuk memeriahkan bazaar di Gedung Sarinah pada April 2024. Akan ada 50 UMKM terpilih yang mengikuti bazaar tersebut. Dan dari 50 UMKM tersebut akan dilakukan kurasi kembali untuk 5 UMKM terpilih yang akan hadir di Gerai Premium Sarinah selama 3 bulan pada Juni – Agustus 2024.
Event ini merupakan program rutin Sarinah Pandu sejak diresmikan pada 21 Maret 2022, setelah Sarinah direnovasi. Untuk kali ini, tambah Fetty, Sarinah berkolaborasi dengan YDBA melakukan training yang diikuti 50 peserta secara offline dan 250 peserta secara online. Sementara untuk bisa ikut dalam event-event selanjutnya, maka dilakukan kurasi. “Kurasi dari sisi produk, dari sisi design kemasan dan dari sisi kesiapan mitra UMKM itu sendiri untuk kapasitas yang lebih besar,” jelasnya.

Dari 300 UMKM tersebut, nanti dilihat berapa yang bisa masuk dalam display Sarinah. Kurasinya sangat selektif untuk bisa di display di Sarinah . Biasannya dari batch-batch sejenis sebelumnya yang lulus seleksi mencapai 5 sampai 10 UMKM. Karena memang kita harus selektif, sesuai dengan segmen yang ada di Sarinah Thambrin.
“Mereka tidak berhenti hanya di Sarinah Thamrin saja, bisa juga menggunakan channel-channel Sarinah yang lain, mungkin di daerah atau di bazaar-bazaar. Jenis produknya sangat beragam, mulai dari fesyen, F and B, craft, juga ada heath and beauty,” lanjutnya.
Menurut Fetty, program ini sudah disiapkan Sarinah untuk membantu pendampingan dan capacity building mitra- mitra UMKM. Dengan capacity building ini merupakan bentuk akses pemasaran yang dapat dilakukan melalui channel-channel Sarinah, di Jakarta, luar Jakarta sampai di luar negeri.
Program Sarinah Pandu merupakan sebuah gerakan memandu UKM guna memaksimalkan potensi produk nusantara menuju pasar global yang berkelanjutan dengan prinsip Asih, Asah, Asuh. Program ini salah satu Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Sarinah yang diperbarui sejalan dengan visi dan misi transformasi Sarinah yaitu ”Menumbuhkembangkan Keunggulan UMKM dan Produk Nusantara”
Kerjasama dengan YDBA, kata Fetty, dimulai dengan pelatihan, kemudian dilakukan kurasi produk-produk mitra UMKM sampai nanti display di gerai-gerai Sarinah. Nanti mereka masuk ke dalam komunitas Sarinah Pandu. Mitra-mitra UMKM yang masuk dalam komunitas ini bisa melakukan aktivitas lanjutan, seperti bazaar bersama maupun ada event-event lain.
Menurut Ketua YDBA Sigit P. Kumala, ini kesempatan yang bagi YDBA dengan Sarinah. “Kami mempunyai potensi membina UMKM, sedangkan Sarinah mempunyai fasilitasi pemasaran, kemudian diperkenalkan kepada dunia internasional. Itu perlunya berkolaborasi, sehingga binaan kami ini perlu kami benahi, produk mana yang cocok dengan segmen market Sarinah. Kolaborasi ini kami harapkan agar binaan kami ini bisa naik kelas,” tambah Sigit.
UMKM binaan YDBA, kata Sigit, yang aktif ada sekitar 2000 UMKM. Dari jumlah itu, sekitar 40 persen bergerak di bidang kuliner dan kerajinan. Dari jumlah itu dipilih 300 UMKM yang ikut dalam pelatihan. Nanti akan dikurasi lagi. “Sebagaimana Fetty katakan bahwa UMKM itu ada levelnya. Kalau di YDBA ada 4 tahapan, yaitu pemula, madya, pramandiri dan mandiri. Yang kami ikutsertakan dalam kolaborasi kali ini di level madya dan pramandiri. Harapannnya mereka belajar dan saya berharap banyak agar bisa aktif mengikuti pelatihan ini,” ujar Sigit seraya menambahkan, yang namanya kerajinan, desain perlu ditingkatkan. Setiap masa segmennya bergeser. Dulu di segmen senior, sekarang segmen anak muda gaya Korea banget.
Sigit menambahkan, di YDBA ada empat sektor. Untuk sektor spare part (komponen) dan otomotif (bengkel) sudah terwakili di Astra. Sedangkan sektor fesyen, kuliner dan kerajinan ini belum terwakili, makanya perlu berkolaborasi. Salah satunya berkolaborasi dengan Sarinah Pandu.” Ngomong jujur, Astra itu kan kompetensinya lebih ke otomotif. Kami punya manufaktur dan bengkel roda empat . UMKM binaan YDBA di bidang bengkel dan pembuatan komponen, kami diserahkan ke Astra, tapi untuk sekto pertanian atau sektor-sektor yang lain kuliner dan kerajinan, kami berkolaborasi , salah satunya dengan Sarinah Pandu.
Fetty menambahkan, Sarinah selain membuat toko juga menciptakan ekosistem untuk ritel UMKM naik kelas. “Sarinah Pandu merupakan salah satu program nyata yang dilakukan bersama partner lain, khususnya hari ini berkolaborasi dengan YDBA. Ini akan terus dilakukan agar semua pelaku UMKM bisa meningkatkan kapasitasnya ke internasional,” lanjutnya.
Menurut Fetty, dari sisi kapasitas atau kemampuan UMKM memang beda-beda. Ada UMKM yang sudah advance, ada yang masih harus banyak dibina. Saat ini sudah ada beberapa produk yang bisa ikut pameran internasional dan bahkan sudah ada yang ekspor. Tapi UMKM tersebut menjadi binaan di banyak tempat. Mereka mempunyai kesempatan yang lebih banyak. ”Kan aksesnya berbeda-beda. Kalau di Sarinah fokusnya adalah capacity building dan ritel management. Bagaimana men-display, bagaimana membuat branding, bagaimana membuat pesan produk menarik untuk dikomunikasikan secara digital,” tandas Fetty.
Tapi di sisi lainnya, tambah Fetty, bagaimana membuat kemasan menarik, misalnya, atau bagaimana produk-produk tersebut punya quality atau rasa yang enak. Jadi, masing-masing punya fokus area capacity building-nya tersendiri yang bisa dimaksimalkan oleh masing-masing pihak. Dari tahun 2022 sudah ada UMKM yang scale up melalui Sarinah Pandu. Kita pernah ikut pameran di Bangkok dan negara-negara lain, dengan mengikutsertakan komunitas Sarinah Pandu. Sarinah juga punya internasional gerai di Australia. Tahun ini akan tambah beberapa gerai di beberapa negara.

“Kami memang fokus di UMKM, karena hal tersebut Sarinah melakukan transformasi bagaimana menpercepat UMKM bisa naik kelas. Kami sediakan akses ke market melalui gerai-gerai Sarinah. Kami berikan capacity building untuk memoles area-area yang memang belum tercover selama ini. Setelah itu, kami juga bekerjasama dengan kementerian-kementerian lain (Kemenkop UKM, Kemenparekraf, Kemendag) dengan kolaborasi itu makanya Sarinah bisa go internasional,” jelas Fetty.
Improvement Sarinah Pandu lain adalah sebagai aggregator yang bisa memboyong UMKM ke global market. Kalau UMKM yang melakukan sendiri-sendiri , itu sangat sulit dan biasanya nggak bisa survive. Kalau ikut rombongan agrgator seperti Sarinah Pandu itu lebih dimudahkan. “Jadi kami berharap akan banyak aggregator seperti Sarinah yang bisa memboyong produk-produk yang sudah dikurasi , yang sudah siap go internasional. Kita bersama-sama secara kolektif ke global market,” urainya serius.
Program jangka pendek Sarinah adalah sebagai aggregator UMKM di toko-toko Sarinah juga mengikuti UMKM-UMKM dalam komunitas Sarina Pandu pada exhibition-exhibition dalam negeri dan luar negeri. Banyak negara-negara yang memberikan kesempatan untuk memamerkan produk Indonesia, melalui kolaborasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang akan membawa UMKM-UMKM ke pameran internasional.
Sarinah pun, lanjut Fetty, menjalin kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri . Kabarnya Kemenlu mau maksimalkan diaspora. Ada Indonesian house di Belanda. Diaspora menjadi marketing inteljen dan juga ada perbankan seperti BNI mereka punya program Xplora.
“Jadi ini memang harus membangun ekosistem, tidak bisa sendiri-sendiri. Memang harus berkolaborasi. Tahun ini ada beberapa pameran dagang internasional yang kami akan ikuti dengan memboyong brand-brand UMKM. Kemudian ada target untuk membuka store di luar negeri dengan bekerjasama pihak sana. Misalnya toko yang di Australia ada di airport, bekerjasama dengan pihak airport,” lanjut Fetty mengnci percakapan. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
