Diprediksi Kenaikan Industri Mamin Mencapai 30 Persen Jelang Lebaran
Nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) terbesar masih dialami oleh industri minuman walaupun mengalami penurunan nilai IKI sebesar 0,59 poin akibat penurunan nilai IKI produksi sebesar 3,49 poin, disusul oleh industri makanan yang mengalami kenaikan nilai IKI sebesar 0,94 poin. Diprediksi jelang lebaran permintaan industri mamin mencapai 30 persen

Selama Ramadan dan jelang lebaran produk-produk industri pengolahan, khususnya makanan dan minuman akan diserbu masyarakat. Pada momentum itu, merupakan tradisi umat Muslim untuk merayakan hari raya Idulfitri selalu disajikan dengan makanan dan minuman aneka rasa. Apalagi masyarakat di perkotaan yang tak mempunyai banyak waktu untuk membuat kue lebaran. Tak pelak lagi, makanan dan minuman kemasan akan diserbu masyarakat.
Boleh jadi hal itu yang menjadi salah satu pendorong IKI Maret 2024 mencapai 53,05, meningkat sebesar 0,49 poin dibandingkan Februari 2024 sebesar 52,56. Kenaikan nilai IKI pada Maret ini dipengaruhi oleh peningkatan nilai IKI pada variabel persediaan produk dan pesanan. Nilai IKI variabel persediaan produk meningkat 1,35 poin atau mengalami ekspansi tinggi sebesar 55,63 dan merupakan yang tertinggi sejak IKI dirilis pada bulan November 2022.
“Kondisi ini menunjukkan produk industri pengolahan terserap optimal di pasar terutama pasar domestik. Momen Ramadan merupakan salah satu pendorong penyerapan produk industri dengan optimal, mengingat sejak awal tahun 2024 ketidakstabilan kondisi perekonomian global menekan pesanan dan produksi industri pengolahan Indonesia,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, pada 27/3.
Nilai IKI terbesar (ekspansi terbesar) masih dialami oleh industri minuman walaupun mengalami penurunan nilai IKI sebesar 0,59 poin akibat penurunan nilai IKI produksi sebesar 3,49 poin, disusul oleh industri makanan yang mengalami kenaikan nilai IKI sebesar 0,94 poin melampaui industri farmasi, obat kimia dan tradisional.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman memprediksi kenaikan permintaan industri mamin bisa mencapai 30 persen pada Ramadan tahun ini. Bahkan pesanan dari ritel untuk produk makanan dan minuman telah meningkat sebulan sebelumnya. “Umumnya (permintaan) bisa 30 persen di bulan Ramadan ini, kami harapkan Ramadan kali ini bisa tumbuh lebih,” ujarnya di Jakarta, 11/3, sebagaimana dikutip dari radarsurabayabisnis.id.
Terkait bahan baku itu, industri makanan dan minuman membutuhkan garam industri sekitar 500.000 ton dari impor 400.000 ton dari dalam negeri. Sedangkan, gula kristal rafinasi atau GKR setiap bulan secara nasional berkisar antara 250.000 – 280.000 ton.
Gabungan Pengusaha Gapmmi menyebut ketersediaan bahan baku makanan dan minuman (mamin) hampir terpenuhi jelang Ramadan, kecuali garam untuk industri yang tersendat. Adhi mengatakan bahan baku berupa garam untuk industri mamin terkendala izin impor, khususnya garam yang tidak tersedia dalam negeri.

Di sisi lain, Ramadan juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan produk air minum dalam kemasan (AMDK) lebih dari 10% dibandingkan dengan bulan normal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat mengatakan, periode Ramadan dan Lebaran menjadi booster untuk permintaan produk makanan dan minuman, termasuk AMDK. “Permintaan bulan Ramadan dan Lebaran pada kondisi normal yang lalu bisa menambah permintaan 1 bulan sampai di atas 10% dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Rachmat, sebagaimana dikutip dari bisnis.com, pada 11/3.
Meskipun optimis pertumbuhan akan terjadi, Rachmat mewanti-wanti kebijakan atau peraturan yang justru menghambat industri AMDK pada periode ini, salah satunya pembatasan angkutan AMDK seperti yang terjadi pada tahun lalu.
Adhi menuturkan, ketersediaan bahan baku untuk menunjang kebutuhan produksi telah terpenuhi. Aktivitas produksi pun dapat digenjot untuk satu bulan ke depan. Terkait bahan baku, industri mamin memang beberapa diantaranya masih mengandalkan impor.
Adhi menilai, pertumbuhan itu juga didorong dengan adanya arus pergerakan masyarakat yang diprediksikan mencapai lebih dari 190 juta orang saat melakukan mudik Lebaran tahun ini.”Apalagi, berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diperkirakan jumlah pemudik mencapai 195 juta orang. Tentu ini diharapkan menambah konsumsi pangan,” katanya, sebagaimana dikutip dari voi.id, pada 27/3
Dia menambahkan, ada beberapa sektor mamin yang akan menjadi favorit masyarakat saat momentum Ramadan dan jelang Lebaran 2024 mendatang, seperti sirup, nata de coco, kolang-kaling, biskuit dan lain-lain. “Saat Lebaran, makanan biskuit dan kategori minuman penyegar akan bagus penjualannya,” ucap Adhi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan, menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri 1445H, komoditas pokok seperti gula, minyak goreng, tepung terigu, jagung untuk industri makanan,dan bahan baku daging untuk industri stoknya masih aman hingga 1-1,5 bulan ke depan. “Begitu juga air minum dalam kemasan yang produksinya sebesar 32,6 miliar liter per tahun, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sebesar 32,5 miliar liter per tahun,” imbuhnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, saat ini pemerintah mengupayakan pemenuhan pangan dari sumber alternatif seperti sagu. “Sagu berpotensi dikembangkan sebagai alternatif bahan pangan sumber karbohidrat utama nasional karena Indonesia memiliki lahan sagu yang diperkirakan mencapai 5,5 juta hektar yang berpotensi menghasilkan 34,3 juta ton pati sagu,” papar Agus.
Menurutnya, produk olahan sagu berupa beras analog sagu berpotensi menjadi pangan utama pengganti beras terutama pada saat terjadinya kelangkaan beras. “Beras analog sagu juga memiliki keunggulan berupa kandungan resistance starch yang tinggi dan kadar glikemiks indeks yang rendah sehingga baik untuk mencegah diabetes,” ujar Agus.
Penyelenggaraan Bazaar Lebaran diharapkan bisa menjadi kesempatan yang baik untuk mengenalkan berbagai produk-produk industri makanan dan minuman menjelang Lebaran, sekaligus memperlihatkan tren permintaan terhadap barang kebutuhan pokok terus meningkat. Untuk itu dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, di samping menjaga ketersediaan stok di pasar, juga perlu didukung dengan pendistribusian yang tepat sasaran.
Bazaar Lebaran ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan masyarakat sekitar untuk mendapatkan bahan makanan, minuman, dan sandang lainnya dengan harga terjangkau. “Pelaksanaan Bazaar Lebaran juga merupakan bentuk kepedulian dan wujud partisipasi Kementerian Perindustrian dalam menyambut Lebaran dengan meningkatkan peran Plasa Pameran lndustri yang bisa dimanfaatkan oleh para perajin dan pengusaha untuk berpromosi, sekaligus membantu masyarakat dalam mendapatkan barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” pungkas Menperin.[] Yuniman Taqwa/foto utama/Ist
