Dari Pasar Malam Gambir Sampai Jakarta Fair Kemayoran

Siapa sangka Jakarta Fair Kemayoran dimulai dari Pasar Malam Gambir sejak kolonial Belanda. Event ini beberapa kali mengalami transformasi, dari mulai era Gubernur Ali Sadikin sampai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Bagaimana pameran terbesar se-Asia Tenggara ini bertransformasi?

Sejarah panjang Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair dimulai dari pasar malam terbesar di wilayah Gambir pada era kolonial. Digelar pertama kali pada 31 Agustus 1898, acara ini diadakan setiap setahun sekali selama satu pekan antara Agustus dan September, untuk merayakan ulang tahun serta penobatan Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Setiap tahunnya, pasar malam ini menghadirkan beragam hiburan seni, kuliner khas, dan aneka produk yang ditawarkan kepada masyarakat Batavia. Hingga tahun 1936, sebanyak 310.000 pengunjung yang datang.

Pasca-kemerdekaan, berbagai pasar malam bermunculan di Jakarta. Hingga tahun 1960-an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ingin menyatukan pasar malam tersebut dalam sebuah festival terbuka dan terpusat yang lebih besar. Tujuannya mendorong pertumbuhan industri nasional dan mengenalkan produk-produk lokal kepada publik yang lebih luas, dengan paduan unsur hiburan dan budaya lokal Jakarta.

Ali Sadikin menunjuk Haji Syamsudin Mangan dari Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin)  merealisasikan ide ini dan membentuk panitia sementara di tahun 1967. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Djakarta Fair sebagai agenda tahunan melalui Peraturan Daerah No. 8 Tahun 1968. Sejak saat itu, PRJ sekaligus menjadi acara tetap dalam perayaan ulang tahun Jakarta.

GUbernur DKI Jakarta, Ali Sadikin mendampingi Presiden Soeharto dan Ibu Tien dalam pembukaan Jakarta Fair I 1968. (Pustaka Sinar Harapan)

Lahir Djakarta Fair pertama kali digelar pada 5 Juni – 20 Juli 1968 di Kawasan Monas. Diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto dengan simbol pelepasan burung merpati. Acara ini sukses menarik lebih dari 1,4 juta pengunjung dan dianggap memiliki jumlah pengunjung yang sangat banyak saat itu.

Sementara Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968  menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggaraan Pameran dan Pekan Raya Jakarta dibentuk sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda no. 8/1968 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara Arena Promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun, sebagaimana dikutip dari wikipedia.

Syamsuddin Mangan,  ketika itu dinilai berjasa dalam menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang mengubah wajah Pasar Malam Gambir yang kemudian terkenal dengan Djakarta Fair yang “bermutasi” menjadi Jakarta Fair atau lebih dikenal dengan Pekan Raya Jakarta. Karena kegigihan Syamsuddin Mangan Djakarta Fair mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sayang, sebelum melihat ide dan gagasannya terwujud Syamsuddin Mangan dipanggil yang Kuasa.

PRJ tahun  1969 atau DF 69 “memecahkan” rekor penyelenggaran PRJ terlama karena memakan waktu penyelenggaraan 71 hari. PRJ pada umumnya berlangsung 30 – 35 hari. Bahkan Presiden Amerika Serikat (AS) pada waktu itu Richard Nixon datang ke Indonesia, sempat mampir ke DF 69. Ia berhenti disebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza, sempat melambai-lambaikan tangannya ke pengunjung dan karyawan DF 69.

Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekadar pasar malam, “bermutasi” menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk. Area yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektare di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran yang menempati area seluas 44 hektare. Dan pada tahun ini juga pihak penyelengga berada di bawah PT Jakarta Internasional Tradefair Corporation (JITC).

PRJ menampilkan produk dalam negeri, baik berskala besar, menengah, kecil dan koperasi dari seluruh Indonesia. Panitia mengharapkan event ini menjadi pembangkit semangat promosi produk dalam negeri, selanjutnya meningkatkan lapangan kerja dan secara tidak langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Shuttle Bus secara gratis disediakan selama masa buka pameran dari Parkir IRTI Monas (seberang Kantor Gubernur DKI Jakarta) diperkirakan berangkat setiap 30 menit sekali.

Wisata dan belanja merupakan gabungan yang bisa dilakukan bagi jutaan pengunjung baik dari Jabodetabek, dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, maupun pengunjung dari mancanegara, sehingga acara ini diharapkan bisa menjadi wahana belanja sekaligus wisata.

Pembukaan Jakarta Fair Kemayoran 2025/foto: jakartaair.co.id

Berbagai produk unggulan dalam negeri serta hasil produksi industri kecil, UKM, dan koperasi dipamerkan dalam acara pameran terbesar di Asia Tenggara ini. Ada produk furniture, interior, building material, otomotif, handycraft, garment, sport & health, telekomunikasi, banking, stationary, komputer & elektronik, properti, kosmetik, food & drink, handphone, mainan anak-anak, sepatu, branded fashion, leather, branded product, multi-product, jasa dan produk BUMN, produk kreatif, dan berbagai produk unggulan lainnya.

Tahun 1999 penyelenggara PRJ berada di Yayasan Penyelenggara Pekan Raya Jakarta (YPRJ). Tema yang diusung pada tahun ini adalah Promosi Kebangkitan Perekonomian Nasional dan Peluang Kesempatan Berusaha.

Tapi tahun 2000 penyelenggaraan PRJ kembali dipegang oleh PT Jakarta Internation Trade Fair (JITF). Thema yang diusung dalam PRJ tahun itu adalah Indonesia Menuju Mellinium ke-3.

Sementara tahun 2007 penyelenggaraan PRJ dipegang oleh PT Jakarta Internasional Expo. Theman yang diusung pada PRJ tahun itu adalah Indonesia Damai Sejahtera.

Sedangkan PRJ tahun 2020 dan 2021 dibatalkan karena pandemi Covid-19. PR kembali diselenggarakan tahun 2022 diselenggrakan kembali oleh PT Jakartaang International Expo. Tema yang diusung adalah Majulah Produk-Produk Indonesia Untuk Pasar Domestik dan Dunia. Diharapkan ajang ini menjadi pemantik perekonomian Indonesia agar  bisa bangkit setelah pandemi  Covid-19 mulai mereda.

Sedangkan Jakarta Fair Kemayoran 2025 kali ini mengusung tema Mari Kita Bersama Mengembangkan UMKM dan Industri Kreatif Lainnya Agar Tumbuh Tangguh dan Mampu bersaing di Pasar Internasional dengan penyelenggara PT Jakarta International Expo yang berlangsung 19 Juni – 13 Juli 2025. [] Yunimn Taqwa