Siasat Grace Yuanita Besarkan Usaha Roti MIKAJO Lewat Pelatihan YDBA
Siapa sangka dari modal Rp 200 ribu, Grace Yuanita yang awalnya memproduksi roti sendirian, kini mampu membangun usaha bakery hingga memiliki 8 karyawan. Berkat ketekunannya mengikuti pelatihan sebagai UMKM binaan Yayasan Astra melalui YDBA dan LPB Pabanet (Pama Banua Etam), bisnis Grace kini terus bertumbuh.
Berawal dari kegemarannya membuat makanan untuk anak dan suami, hingga suatu hari ia membuat roti isi daging durian dan ternyata menjadi ladang usaha di tahun 2017. Kemudian seorang teman memperkenalkan padanya cara membuat roti labu. Disaat bersamaan terbersit dalam pikirannya untuk membuat cemilan yang tahan lama, sehingga dapat dijadikan oleh-oleh. Lahirlah produk Bagelan (roti kering). Pasalnya bila membuat roti basah hanya mampu bertahan tiga hari. Itulah awalnya mengapa ia kepincut membuat roti labu.

Adalah Grace Yuanita, pegiat UMKM yang membuat difrensiasi roti dengan bahan utama labu. Ia tidak menyangka usaha yang awalnya iseng-iseng justru menghasilkan cuan. Ia pun membuat brand Sendok Garpu supaya mudah dikenal.
“Awalnya membuat roti untuk cemilan anak-anak. Roti yang saya buat dibawa Bapak (suami-red) ke kantor. Teman-teman Bapak di kantor mencoba, akhirnya pesan minta dibuatin,” kata Grace menceritakan awal berjualan roti.
Momentum pesanan suaminya, menurut Grace usahanya mulai dikenal dari mulut ke mulut, merambah dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Saat itu, selain membuat roti basah berisi durian, mulai memcoba memperkenalkan roti labu. “Pertama kali saya berkenalan dengan Pama Banua, masih membuat roti durian pada tahun 2018. Lalu mulai mencoba varian baru bikin roti labu,” kata Grace kepada pelakubisnis.com.
Kebetulan anak-anak Grace di rumah suka dengan labu kuning. Sebagai seorang ibu, ia ingin membuat roti yang lebih sehat dan kaya vitamin. Akhirnya ia mencoba adonan roti dicampur labu kuning yang membuat warna roti berubah menjadi kuning. Roti labu tersebut dikeringkan dalam pemrosesan selama berhari-hari sehingga bisa tahan lama.
Menurut Grace, modal awal usahanya saat itu sekitar Rp200 ribu. Namun tak terbayang dari keisengannya membuat roti untuk konsumsi keluarga itu, justru menyeretnya menjadi pengusaha roti hingga saat ini mempekerjakan 8 karyawan.
Kisahnya menggeluti usaha roti bermula dari seorang teman yang memperkenalkannya dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), yang kini disebut Yayasan Astra – YDBA di Sangatta yang berkolaborasi dengan LPB Pabanet (Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Banua Etam) Sangatta, Kalimantan Timur.
Lebih lanjut ditambahkan, awal bergabung di LPB Pabanet, ia diperkenalkan dengan konsep 5R (Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas). Memang kelihatan sepele, tapi ketika diimplementasikan bukan perkara mudah. Konsep itu merubah habit untuk bisa bekerja rapi, bersih, merawat peralatan yang ada, rajin dan bekerja ringkas. Perlu waktu untuk membiasakan sistem kerja dengan pendekatan 5R.
“Kami juga diajarkan manajemen keuangan, bagaimana memotret produk dan dasar-dasar bisnis serta pelatihan Quality Control Circle (QCC). Dari itu mulai memperbaiki produk, memperbaiki foto produk dan sebagainya. Setiap ada pelatihan di LPB saya selalu ikut,” tandasnya seraya menambahkan, setelah ikut pelatihan beberapa kali, usahanya sempat vakum karena melahirkan anak ketiga. Baru setelah anak bungsunya berusia 2 tahun ia mulai kembali menggeluti usaha pembuatan roti.
Dan ketika mulai kembali berusaha pada tahun 2019, ada pesanan yang meminta adonan labu kuning sebagai bahan utama untuk membuat roti labu. Saat itu ia sampaikan kepada tim LPB bahwa ada pesanan membuat roti labu. Pihak LPB menyarankan lanjutkan saja produksinya. Mulai buka open PO (pre order)! Beberapa PO masuk dan ia pun mulai bangkit kembali berusaha, setelah dua tahun vakum.
“Saya itu senang melakukan trial and error resep pembuatan roti. Beberapa kali gagal, tapi coba terus,” urainya, walaupun omzet ketika mulai kembali berusaha setelah anak berusia 2 tahun hanya sekitar Rp 1 juta-an perbulan, karena tidak setiap hari produksi. Baru produksi bila ada pesanan saja.
Grace menambahkan, ketika mulai usaha kembali, saran suami supaya brand diganti menjadi MIKAJO. Singkatan dari nama anak-anaknya. Tapi ketika mendaftar NIB (Nomor Induk Berusaha) masih menggunakan brand Sendak Garpu. “Tapi Alhamdulillah di HAKI tahun ini sudah diganti menjadi MIKAJO. Jadi brandnya sekarang MIKAJO,” urai Sarjana Ilmu Fisika ini serius.

Menurut ibu tiga anak ini, usahanya kembali vakum untuk kedua kalinya pada tahun 2020 karena pandemic Covid-19. SBaru kembali buka usaha pada 2021 dengan pemasaran open PO. Pada saat itu pemasarannya masih menggunakan WhatsApp (WA) Tapi siapa nyana pada tahun 2022, dia berhasil menyabet juara sebagai UMKM mandiri versi Yayasan Astra – YDBA, perwakilan dari binaan LPB Pama Sangatta.
Saat itu MIKAJO mulai melakukan diversifikasi produk, dari mulai menjual roti dengan beberapa varian, ia juga menjual roti labu yang sudah dikeringkan, juga kue-kue kering lainnya. Omzet pun mulai merangak naik. Pada tahun 2022 omzet mencapai Rp 5 jutaan per bulan.
Sampai saat ini omzet mencapai Rp100-jutaan pertahun. Target tahun depan MIKAJO bisa lebih dikenal di Sangatta dan bisa membuka toko di Samarinda dan Balikpapan.
Di LPB Pama Sangatta, kata Grace, ada Okusa, dimana UMKM binaan LPB Pabanet dibantu mendistribusikan produknya ke reseller-reseller jaringan Okusa (Olahan Kuliner Sangatta). “Okusa mendistribusikan sampai Bandara, Balikpapan yang dapat dijumpai hotel dan pusat oleh-oleh. Jaringan pemasaran di Kutai Timur sudah besar,” jelasnya. Untuk produk Bagelan, misalnya, sebulan bisa mencapai 100 pieces. Justru yang booming rotinya.
Bahkan, sejak tahun 2022, lanjut Grace memberanikan diri membuka toko dua lantai sekaligus berfungsi sebagai dapur. Keberanian ini muncul dari dorongan suami dan dukungan LPB Pama. Pihak LPB menyarankan tempat produksi dan penjualan terpisah. “Kata suami kalau bisnis ini mau ditekuni, dia support,” tambahnya.
Menurut wanita 39 tahun ini, awal bisnis roti hanya menggunakan 1 oven kecil manual. Terus berkembang dengan menggunakan 2 oven ukuran sedang menggunakan gas. Sekarang sudah menggunakan oven deck 2 pintu dengan kapasitas 8 loyang ukuran30 x 40 cm. “Selama setengah hari dari jam 6 pagi sampai 1 siang mampu memproduksi 300 pieces roti, sedangkan setengah harinya oven digunakan untuk membuat kue jenis lain,” tambah pengurus Koperasi Olahan Kuliner Sangatta Kalimantan Timur.
Ia menambahkan, khusus membuat Bagelan tergantung kondisi karena pembuatannya memerlukan waktu. Sedikitnya perlu waktu 2 hari. Satu hari roti harus dikeringkan, baru hari berikutnya dipotong-potong dan dimasukkan kembali ke oven untuk dikeringkan kembali. Sekali produksi dapat sekitar 30 bungkus.
“Saat ini Bagelan yang baru bisa dijual di luar Sangatta, seperti Samarinda dan Balikpapan, karena tahan lama. Biasanya Bagelan dibeli untuk oleh-oleh. Bahkan Bagelan sudah didapat di Jakarta melalui jaringan pemasaran YDBA,” ujarnya sambil menambahkan, ada beberapa pelanggan MIKAJO yang berlokasi di Samarinda dan Balikpapan yang khusus memesan roti gandum. Roti gandum yang diproduksi Grace, tanpa menggunakan telor dan susu. Menurutnya roti gandum juga best seller, selain roti labu.[]Yuniman Taqwa
