Cara Yoyon Yunianto Cetak Cuan dari Bengkel Prioritas Jaya AC
Berbekal ijazah SD, di usia 15 tahun Yoyon Yunianto sudah bergelut dengan dunia kerja. Dari ikut-ikutan kerja sampai mampu membuka bengkel sendiri. Tahun pertama membuka bengkel AC mobil, omzet baru sekitar Rp 33 juta per bulan. Tapi kini omzetnya melesat berkali-kali lipat dari 3 gerai bengkel dan satu toko sparepart. November mendatang ia akan membuka cabang ke-4 Bengkel Prioritas Jaya Abadi AC di Tangerang.

Kemiskinan yang membelenggu kehidupannya memaksa Yoyon Yunianto tak lagi melanjutkan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Praktis ia hanya memiliki ijazah Sekolah Dasar (SD). Baginya tak ada pilihan selain bekerja serabutan. Kala itu ia menjadi keluarga transmigran yang tinggal di sebuah desa di dekat Sungai Musi, persisnya di Desa Jalur, Banyuasin, Sumatra Selatan. Dari kecil ia diasuh neneknya karena ia sudah kehilangan sosok ayah sejak usia 3 tahun. “Jadi saya tinggal dengan nenek. Ibu saya menikah lagi dan pergi ke Jakarta ikut suami barunya,”ujar pria keturunan Jawa ini.
Namun tak lama, pada akhir tahun 1999, berbekal ijazah SD, di usia 15 tahun ia berangkat kerja ke Jakarta. Waktu itu ia dibawa ibunya karena di kampung sulit mendapat pekerjaan. Kebetulan ayah sambungnya seorang mekanik di sebuah bengkel mesin di Jalan Jembatan dua, Jakarta Barat. “Saya berhenti sekolah bukan berarti saya berhenti belajar,” kata Yoyon kepada pelakubisnis.com, 20 Oktober 2025.
Kemudian ia bergabung di bengkel mesin tempat ayah sambungnya bekerja sebagai mekanik. Kesempatan itu benar-benar ia manfaatkan untuk belajar. Walaupun awalnya bekerja hanya disuruh belajar saja, tapi akhirnya dikasih upah juga. “Mungkin karena saya rajin dan disiplin, sehingga bos menggaji saya,” lanjut Yoyon ketika mulai belajar mesin sambil bekerja seraya menambahkan hanya belajar selama 8 bulan di tempat sang ayah sambungnya.
Rupanya, bagi Yoyon belajar bengkel mesin itu agak sulit dan terlalu kompleks masalah yang ditemui. Akhirnya ia ikut Pak Lik (paman-red) di bengkel AC mobil, pada Agustus 2001. Tak kurang dari 7 tahun mengikuti pamannya. “Saya betul-betul belajar. Seluruh kegiatan di bengkel AC dipelajari, hingga tahun 2005 saya sudah menjadi mekanik senior bengkel AC mobil,” tandasnya serius.
Dengan posisi sebagai mekanik AC mobil senior, mulai ada tawaran bekerja di tempat lain yang lebih menarik dengan gaji lebih besar, yakni di Bengkel AC Mahkota, kawasan Cibubur, Jakarta Timur. “Selama 9 tahun saya bekerja sebagai mekanik senior AC mobil. Semua sistem AC mobil sudah dikuasai. Mulai dari mengelas, service kompresor, dashboard, semuanya bisa,” cerita Yoyon yang telah ditinggal bapak kandungnya sejak usia tiga tahun.
Baru pada 2014 mendapat kesempatan memulai usaha. Seorang teman pemilik bengkel AC Mobil sederhana di wilayah Cibubur menawarkan usaha bengkelnya. Teman itu ingin menjual bengkel dengan harga Rp 38 juta, di atas lahan yang disewa 2 tahun, namun ketika di-take over Yoyon baru berjalan satu tahun lebih. “Saya tidak punya uang sebesar itu, hanya punya Rp 25 juta,” tambah Yoyon. Akhirnya teman tersebut sepakat kekurangan pembayaran akan dicicil. Namun dalam kurun waktu 2 bulan kekurangan itu sudah bisa dilunasi.
“Saya mulai usaha dari sebuah bengkel AC kaki lima beralaskan tanah dengan alat sederhana, di bilangan Lapangan Tembak, Cibubur, Jakarta Timur. Dengan 3 karyawan, termasuk saya mulai membuka usaha bengkel AC mobil,” ujar pria 40 tahun ini dengan memberi nama bengkelnya Prioritas Jaya Abadi AC atau Prioritas PJA AC. Padahal modal awal Rp 25 juta itu, tadinya akan ia gunakan untuk DP membeli rumah. Akhirnya dijadikan modal membuka bengkel AC.
Saat awal menjadi pengusaha bengkel mendapat penghasilan Rp 5 -10 juta per bulan sudah sangat besar bagi Yoyon. Ia membandingkan penghasilannya saat terakhir bekerja ikut orang lain, yakni sebesar Rp 3 – 4 juta per bulan. “Saat itu menurut saya sudah merasa hebat. Hingga akhirnya berkenalan dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada tahun 2016,”ungkapnya.
Dengan bergabung menjadi binaan YDBA, mulai ikut training, mulai dari basic mentality, 5R (Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas), manajemen keuangan, standar pelayanan, digital marketing sampai perpajakan, di samping itu ia juga mendapat pendampingan. “Saat itu baru merasa, saya hanya debu di tengah UMKM bengkel. Ternyata banyak sekali UMKM-UMKM besar yang telah dibina di YDBA,” tutur Yoyon yang pernah mengikuti training Chinaplas 2025 di China bersama UMKM binaan YDBA.
Tidak hanya itu, YDBA membantu memperluas jaringan pemasaran dengan memperkenalkan showroom-showroom mobil Astra untuk bagaimana mengerjakan service AC. Selain itu, dipertemukan dengan pihak Grab, bagaimana bisa bekerjasama untuk maintenance AC mobil taksi online tersebut. “Selama korporasi itu ada link dengan Astra, pihak YDBA share ke mitra binaannya,”jelas Yoyon.
Menurutnya, bengkel-bengkel seperti Prioritas Jaya AC ini dibina oleh YDBA karena salah satu tujuannya untuk bisa menangani mobil-mobil prajual Astra, Karena tidak semua mobil dapat ditangani anak perusahaan Astra Group seperti Auto 2000.
Ia melanjutkan, perlahan mulai dilakukan improve bengkel yang mulanya berlantai tanah, kemudian mulai dipasang keramik. Atap bangunan diperbaiki, ruang tunggu dipasang AC dan renovasi lainnya, sehingga berdampak positif terhadap kinerja bengkel. Pelanggan semakin meningkat.
Pada tahun – tahun pertama membuka bengkel AC mobil, omzetnya masih sekitar Rp 33 juta per bulan. Tapi siapa sangka kini omzet bengkel Yoyon melesat berkali-kali lipat. Bahkan pada tahun 2018, ia membuka bengkel ke-2, di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lalu, karena bengkel pertama hanya berkapasitas 4 mobil dan sudah overload sampai parkir di pinggir jalan. “Kalau dibiarkan kondisi bengkel seperti ini, saya bisa dibenci banyak orang, karena mengganggu arus lalu lintas. Akhirnya pada 2020 ketika pandemic Covid-19, Yoyon membeli lahan, tak jauh dari bengkel pertamanya, di Cibubur-Ciracas, menjadi gerai bengkel ke-3,” tandas Wakil Ketua Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA) ini yang kini mulai merambah ke bisnis penyediaan sparepart AC Mobil.
Di samping itu, Yoyon aktif di beberapa komunitas bengkel AC mobil. Salah satu adalah HOREE DSK (DKI Jakarta, Sumatra dan Kalimantan) sebagai wakil ketua. Menurutnya, untuk bisa bergabung di komunitas ini dilakukan kurasi, terutama masalah integritas. Anggotanya saat ini ada 35 bengkel AC mobil. Komunitas ini tak sekedar berkumpul saja melainkan memiliki benefit dalam hal membangun jejaring bisnis dan berpeluang berkolaborasi maju bersama membangun bisnis. Belum lama komunitas ini baru saja menandatangani MoU dengan supplier. Setiap pembelian sparepart AC oleh anggota komunitas ada cashback untuk komunitas. Tahun 2024 terkumpul cashback sebesar Rp 240 juta untuk komunitas. “Itu menurut saya pentingnya kita berjejaring. Selain mendapat harga sparepart lebih murah, juga ada cashback,” tambahnya.
Ia menambahkan, sebagai pengusaha ada ungkapan: Ketidakpastian adalah Kepastian. Oleh karena itu, mental menjadi fondasi dasar dalam menjalankan usaha. Turbulensi naik turunnya usaha dengan sejumlah kompleksitas masalah yang dihadapi memerlukan mental yang tangguh untuk menghadapi persoalan yang muncul.
Basic mentality yang kuat, tambah Yoyon, yang membuat UMKM dikenal dengan slogan from zero to hero, dari nol menjadi pahlawan. Kenapa? UMKM tidak mempunyai dana yang cukup untuk menyiapkan segala kebutuhan. “Semua harus dipelajari sendiri, dari keuangan, HRD dan sebagainya. Mental menjadi basic utama,” urainya. Pelatihan basic mentality di YDBA dibangun menjadi leadership yang baik, disiplin dan tangguh.
Pihak YDBA memberikan pelatihan dengan modul sebagai panduan dalam menjalankan usaha. Tak hanya itu, YDBA melakukan pendampingan dan assessment yang dilakukan secara periodik. Akhirnya awal tahun 2025 bengkel Yoyon dinyatakan berstatus mandiri.
Setelah mendapat pelatihan, lanjut Yoyon, dilakukan trainer of trainer atau transfer ilmu bagi karyawan di bengkel. “Saya rutin melakukan training 5R dengan karyawan di setiap kesempatan. Dari 3 bengkel saya, 5R saya lombakan setiap bulan. Siapa yang paling bagus nilainya mendapat reward . Walaupun nilai reward tidak besar, tapi bisa menjadi penyemangat,” jelas Yoyon yang pernah terpilih mengikuti training “The Program on Corporate Management for Indonesia (IDCM) selama 2 minggu, yang diselenggarakan Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), di Jepang tahun 2023.

“Soalnya 5R ini membangun kesadaran, kerjaannya hanya diminta ringkas atau memilih, resik atau membersihkan, rapih atau menyusun , rajin dan rawat. Pekerjaannya sepele, tapi membangun habbit itu yang susah,” lanjut Yoyon yang saat ini memiliki 30 karyawan yang tersebar di 3 gerai bengkelnya.
Tapi yang jelas, menurut Yoyon, bisnis jasa seperti ini harus didukung dengan dengan pelayanan yang maksimal. Kalau pelayanan buruk pelanggan akhirnya akan mundur. Artinya perlu ada keunggulan kompetitif dan komperatif untuk bisa bersaing. Dengan kata lain harga tidak terlalu mahal, tapi kualitas pekerjaan tak perlu diragukan.
Ia melanjutkan, tiga atau empat tahun yang lalu, Ketua HBBA, mengatakan pasar di Indonesia itu besar. Potensi ini diincar pemain dari luar negeri. Pemain besar seperti B Quick, dan rencananya Kansa Motor Bengkel AC juga akan masuk ke Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu mempunyai volume, rencananya akan membuka 100-an cabang di Indoneasia. Bila itu terjadi, maka volume pekerjaannya besar. Bukan tidak mungkin UMKM bengkel AC bisa mati, karena harga mereka bisa lebih murah.
“Makanya UMKM harus berbenah, berhimpun . intergritas kita harus dikuatkan. Itu yang mulai saya bangun, kalau tidak, kita akan terjajah selamanya. Kata-kata merdeka hanya menjadi simbol kalau kita nggak benar-benar bisa wujudkan,” tegas Yoyon yang sering diucapkan dengan sesama anggota komunitas bengkel AC.
Walaupun kita bisa kerja dari hulu sampai hilir, tambah Yoyon, tapi bicara bisnis seringkali kita tidak paham masalah manajemen keuangan. Kita fokus sama pekerjaan saja. “Tapi tengok teman-teman kita orang Tionghoa, tidak tahu skill teknik, tapi bisa atur uang, dia bisa mendelegasikan pekerjaan. Saya bilang sama teman-teman, boleh kita kerja keras, tapi jangan lama-lama, harus mulai kerja cerdas. Kalau kamu kerja keras dan uang sudah ada, mulailah kamu kerjakan uang kamu dengan cara bayar orang di bagian IT, administrasi, sehingga bekerja untuk merapihkan usaha kita,” saran Yoyon, yang mulai banyak diundang sebagai pembicara dan pemateri seperti di Astratech Youth Enterpreneur Development Program dan momen sharing session di hadapan alumni ITB.
Menurut Yoyon, masalah Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan. Contohnya negara-negara maju di dunia ini, bukan ditopang dengan Sumer Daya Alam (SDA), tapi karena SDM. Contoh Jepang tidak punya apa-apa, negaranya berada di ring of fire (cincin api) yang sering gempa bumi, tapi karena SDM-nya berkualitas, maka ia bisa ciptakan besi yang harganya Rp 3000/kg, menjadi jutaan rupiah. Swiss tidak punya kebun coklat, tapi produksi coklatnya menjadi No 1 di dunia.
“Makanya sekarang saya mulai kerja cerdas. Yang tadinya saya tidak tahu, saya cari orang yang tahu, tidak tahu di manajemen, saya cari orang yang tahu. Tapi kalau soal mekanik, semua mekanik di bengkel saya, didikan saya semua,” akunya serius.
Yoyon tetap optimis melihat prospek pasar di tanah air. Saat ini Indonesia berada di persimpangan jalan, dari negara berkembang menuju negara maju. Indonesia dengan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan bonus demografi akan membawa negara ini menjadi lebih maju.
Tak heran bila ia optimis menyiapkan kader dan membangun sistem yang lebih baik. Selain itu, ia juga memiliki target memiliki 5 gerai bengkel dan membangun pasif income PJA dari luar core business saat ini. Ia juga memiliki target jangka panjang, kelak akan membawa dan menjadikan PJA sebagai Holding Business yang membawahi unit-unit bisnisnya yang lain. “Sekarang ini saya sedang proses buka cabang baru di Tangerang, joint dengan orangtua dan adik saya yang memegang pengelolaannya. Insya Allah 1 November 2025 mulai dibuka,” tandasnya mengunci percakapan.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa
