PT Lotte Chemical Indonesi: Pabrik Petrokimia Terintegrasi Terbesar di Asia Tenggara

PT Lotte Chemical Indonesi (LCI) menjadi fasilitas hilirisasi migas kedua di Indonesia yang mencapai tahap industri petrokimia terintegrasi sejak pembangunan Petrochemical Complex Chandra Asri sekitar tiga dekade lalu. Diresmikannya pabrik ini, maka kekayaan alam Indonesia tidak lagi berhenti pada ekspor bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi .

Setelah melalui proses panjang dan upaya terukur serta berkelanjutan guna memperkuat industri nasional serta kemandirian energi, Pemerintah akhirnya menuntaskan salah satu tonggak penting program hilirisasi minyak dan gas bumi (migas). Sebuah pabrik petrokimia terintegrasi kini berdiri di Cilegon, Banten. Bukti bahwa keberhasilan Indonesia mengolah kekayaan sumber daya alamnya sendiri.

Keberhasilan ini menjadi cerminan nyata dari arah kebijakan pemerintah yang menjadikan hilirisasi sebagai prioritas utama dalam program Asta Cita. Komitmen tersebut secara konkret diwujudkan lewat peresmian Pabrik New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) oleh Presiden Prabowo Subianto, didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, di Cilegon, Kamis (6/11).

Peresmian ini menandai beroperasinya salah satu proyek industri petrokimia yang menjadi tonggak penting dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi industri nasional. “Saya terima kasih, dan saya terima kasih pembantu-pembantu saya ini bekerja dengan baik dan mereka juga ingin meneruskan, ingin memberi contoh kepada generasi penerus pemerintah yang bersih, yang tidak korup sehingga kita bisa melaksanakan pembangunan besar-besaran,” ujarnya.

Presiden menekankan bahwa pembangunan nasional yang besar hanya dapat diwujudkan dengan kepercayaan yang didapat baik dari masyarakat maupun dunia internasional. Dalam bidang investasi, Presiden menyoroti peran investasi asing yang membawa manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

LCI pabrik petrokimia terintergrasi terbesar se-Asia Tenggara/foto: doc LCI

“Lotte perusahaan mungkin salah satu terbesar di dunia mungkin, asetnya 100 miliar dolar dan mereka investasi di kita 65 triliun. Prestasi hari ini peresmian LCI, terima kasih. Saya bangga,” katanya.

Proyek mulai digagas sejak 2016 ini menghabiskan investasi sekitar USD3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun. Proyek ini menandai hadirnya kembali pembangunan kompleks Naphtha Cracker di Indonesia setelah sekitar 30 tahun.

Sempat mangkrak selama 5 tahun, namun berkat inisiatif dan terobosan dari Menteri Bahlil yang kala itu menjabat sebagai Menteri Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kendala terkait proses penyediaan lahan akhirnya bisa diselesaikan. Demikian pula halnya dengan kemudahan investasi, mulai dari penyederhanaan perizinan hingga pemberian insentif yang kompetitif.

Hingga akhirnya pada April 2022 proses pembangunan pabrik berhasil dimulai dan bisa beroperasi sejak Oktober 2025. Ketika berproduksi penuh, fasilitas ini diperkirakan menghasilkan 15 produk petrokimia hilirisasi migas senilai sekitar USD2 miliar per tahun, terdiri atas USD1,4 miliar substitusi impor dan USD600 juta tambahan ekspor, sehingga turut memperkuat neraca perdagangan sektor industri kimia nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa fasilitas ini merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dan akan memproduksi etilena, propilena, beserta berbagai produk turunannya, bahan baku penting bagi banyak industri domestik.

“Kalau dalam kurs sekarang sudah mencapai sekitar Rp63-64 triliun, dan menjadikannya salah satu investasi petroleum terbesar di Asia Tenggara. Jadi proyek ini terbesar di Asia Tenggara, mereka punya juga ada Lotte di Malaysia, tapi di sini yang paling besar,” ujar Bahlil.

Dari sisi lapangan kerja, proyek ini memberikan dampak signifikan. Selama tahap konstruksi dan operasional diperkirakan menyerap sekitar 40 ribu tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

 “Dengan pabrik ini, kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya. 70 persen adalah subtitusi impor, 30 persen kita ekspor. Total nilainya, revenue-nya, jualannya per tahun, itu 2 miliar USD. Jadi 1,4-1,5 di sini, sisanya kita ekspor,” kata Bahlil.

Di pabrik ini, bahan baku berupa naphta diproses menjadi produk hulu dan hilir untuk selanjutnya menjadi bahan baku penting pembuatan produk mulai dari botol plastik, kabel, hingga bumper mobil. Kehadiran pabrik ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri hilir, meningkatkan neraca perdagangan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Total nilai revenue per tahun, itu 2 miliar USD/foto; doc.LCI

Chairman LOTTE Group Shin Dong-bin memandang proyek ini sebagai simbol kemitraan strategis antara Korea Selatan dan Indonesia serta fondasi untuk memperkuat daya saing industri petrokimia tanah air.

“Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar perusahaan Korea di Indonesia, melambangkan kemitraan yang kuat antara kedua negara, serta akan menjadi fondasi penting untuk memperkuat industri petrokimia Indonesia dan daya saing nasionalnya,” ungkapnya.

LCI menjadi fasilitas hilirisasi migas kedua di Indonesia yang mencapai tahap industri petrokimia terintegrasi sejak pembangunan Petrochemical Complex Chandra Asri sekitar tiga dekade lalu. Dengan diresmikannya pabrik New Ethylene Project melalui proyek hilirisasi, Pemerintah berupaya agar kekayaan alam Indonesia tidak lagi berhenti pada ekspor bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memperkuat ekonomi nasional.

Sementara Kementerian Perindustrian terus berupaya mempercepat transformasi dan melakukan penguatan industri kimia nasional melalui peningkatan kapasitas produksi bahan baku, percepatan industrialisasi, dan perluasan investasi strategis di sektor petrokimia. Upaya ini menjadi bagian penting dari agenda pemerintah untuk memperkuat struktur industri nasional agar semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Salah satu wujud nyata dari upaya tersebut yaitu peresmian pabrik baru LCI di Cilegon, Banten. Fasilitas baru ini menandai realisasi komitmen investasi jangka panjang dari Lotte Group dan menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim industri di Indonesia, khususnya di sektor kimia dasar. 

“Pembangunan pabrik ini menunjukkan Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, terutama industri kimia dasar,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya setelah acara peresmian pabrik LCI oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Cilegon, pada 6/11.

Agus menjelaskan, keberadaan pabrik baru ini diharapkan semakin memperkuat sektor industri kimia, terutama petrokimia hulu yang menjadi tulang punggung bagi berbagai industri hilir seperti farmasi, makanan dan minuman, elektronik, hingga otomotif. “Industri kimia memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan baku esensial bagi berbagai sektor industri. Karena itu, penguatan kapasitas produksinya menjadi prioritas nasional,” ungkapnya.

Agus mengungkapkan, kebutuhan bahan kimia nasional pada tahun 2024 mencapai lebih dari 53 juta ton per tahun, dengan 72% di antaranya berbasis migas dan batubara. Namun, kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut, sehingga impor petrokimia masih mendekati USD 11 miliar per tahun dan meningkat sekitar 10% setiap tahunnya.

“Karena itu, pembangunan pabrik Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia dasar,” ujar Menperin.

Selain memberikan multiplier effect bagi industri nasional, pabrik baru LCI juga tentu akan membuka peluang bagi tumbuhnya industri turunan baru berbasis produk aromatik dan olefin. “Investasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing industri kimia Indonesia di pasar global,” lanjut Agus.

Agus menegaskan, pengembangan industri kimia sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita, khususnya dalam memperkuat struktur industri, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperluas potensi ekspor.

Kompleks pabrik ini seluas 110 hektare ini memiliki kapasitas produksi naphtha cracker sebesar 3 juta ton per tahun, menghasilkan 1 juta ton etilena, 520 ribu ton propilena, 350 ribu ton polipropilena, 140 ribu ton butadiena, dan 400 ribu ton BTX (benzena, toluena, xilena) setiap tahun. Fasilitas ini mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2025 dan terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450 ribu ton yang telah beroperasi sebelumnya, sehingga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi rantai produksi.

Dengan teknologi desain mutakhir dari Korea, kompleks ini menggabungkan efisiensi energi tinggi dan sistem rendah karbon. Fasilitas ini juga dirancang untuk menggunakan hingga 50% LPG selain naphtha sebagai bahan baku utama, memungkinkan efisiensi biaya dan operasional yang signifikan. Selain itu, implementasi sistem digital Asset Information Management (AIM) berbasis model 3D juga memperkuat integrasi data dan pemeliharaan preventif, meningkatkan keandalan dan produktivitas fasilitas.

LCI menargetkan pasar Asia Tenggara sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi di industri petrokimia global, seiring dengan meningkatnya permintaan produk kimia dasar di kawasan ini. Lebih dari sekadar fasilitas produksi, LCI berkomitmen untuk menjadi pusat inovasi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia sekaligus mitra jangka panjang bagi Indonesia dalam membangun industri petrokimia berdaya saing dan berkelanjutan.[] Yuniman Taqwa