KEK Dapat Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus mesin percepatan program hilirisasi yang menjadi prioritas pemerintah. KEK memainkan peran penting dalam mendukung agenda hilirisasi nasional dan memperkuat daya saing investasi Indonesia

KEK kini berkembang melampaui tujuan investasi, menjadi pendorong produktivitas industri, dekarbonisasi, dan pembangunan inklusif. Seiring perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. KEK menjadi platform strategis untuk menguji kebijakan, membangun klaster industri, dan menerapkan prinsip keberlanjutan sejak awal.

Ivo van de Griend selaku Director of Strategy, Risk & Transactions Deloitte Southeast Asia, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem KEK. Hal tersebut disampaikan,  ketika memandu sesi sesi SEZ Business Dialogue: “SEZ as a Catalyst for Economic Growth and Sustainable Development” pada SEZ Business Forum yang digelar di Jakarta pada 9 Desember 2025.

Menurut Ivo, forum ini memperlihatkan bagaimana KEK dapat menjadi katalis transformasi industri, investasi hijau, dan ketahanan ekonomi jangka panjang, menegaskan posisi KEK sebagai mesin pertumbuhan baru Indonesia.

KEK mampu menghadirkan efisiensi dan keberlanjutan secara simultan/foto: ist

Transformasi tersebut tercermin dari pengalaman sektor oleochemical. Devarakonda Sai Krishna selaku Managing Director Oleochemical Unilever Asia, menyebut Indonesia memiliki peluang besar memimpin produksi oleochemical berkelanjutan di kawasan.

“Efisiensi karbon dalam proses manufaktur kami meningkat signifikan melalui kerja sama dengan pemasok untuk meningkatkan efisiensi energi. Limbah cair dengan potensi emisi tinggi kami olah menjadi biogas, yang kini memenuhi bagian dari kebutuhan energi kami berkat ekosistem industri yang terhubung dengan perkebunan dan mitra yang memiliki visi serupa,” jelasnya.

Pengalaman ini menunjukkan bagaimana ekosistem KEK mampu menghadirkan efisiensi dan keberlanjutan secara simultan, sekaligus memperkuat daya saing industri melalui integrasi dengan rantai pasok regional.

Sementara itu, sektor energi juga memberikan gambaran serupa. Aditya Dewobroto selaku Vice President Strategy & Portfolio PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa KEK memperkuat kemandirian energi sekaligus mendorong transisi menuju produksi rendah emisi. Stabilitas infrastruktur dan integrasi kawasan menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan investasi energi.

“Optimalisasi rantai pasok dalam kawasan membuat proses produksi lebih efisien. Tahun ini sebagian kebutuhan energi utilitas kami telah dipenuhi dari sumber rendah emisi, dan kami terus meningkatkan porsi tersebut seiring berkembangnya ekosistem industri dalam KEK,” ungkapnya.

Dari perspektif investor global, kepastian menjadi faktor penentu. Donald MacLeod, President Global Business Development at Worley, menegaskan bahwa KEK harus diposisikan sebagai penyedia layanan terpadu dengan utilitas hijau. “Dengan perencanaan bersama seperti jaringan hidrogen, pipa CO₂, dan energi terbarukan, risiko investasi dapat ditekan sehingga membuka peluang Indonesia meraih green premium,” jelasnya seraya menambahkan kepercayaan, bukan teknologi, sering menjadi faktor yang menentukan keberhasilan proyek, sehingga kolaborasi antar pemangku kepentingan sangat krusial.

Kebutuhan akan standar global juga menjadi sorotan. Song Yuyan, Director General of Green Partnership of Industrial Parks in China (GPIPC) Secretariat, menekankan bahwa KEK berperan sebagai simpul strategis yang menghubungkan Indonesia dengan pasar global.

“Kawasan industri perlu membangun standar Environmental, Social, Governance (ESG) dan sistem manajemen yang kuat, mulai dari energi bersih hingga pengelolaan air dan prinsip industrial simbiosis. Mengikuti pedoman internasional seperti standar UNIDO penting untuk memastikan praktik keberlanjutan yang diakui dunia,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, selaku Wakil Ketua I Bidang Regulasi dan Kelembagaan KEK menegaskan,  KEK merupakan instrumen kunci pemerataan pembangunan sekaligus penggerak utama transformasi ekonomi Indonesia. 

“Indonesia telah menetapkan 25 KEK sebagai prototipe kawasan yang menawarkan insentif kompetitif dan proses perizinan sederhana. KEK didukung infrastruktur terintegrasi dan menunjukkan nilai investasi yang tinggi melalui Incremental Capital Output Ratio (ICOR) rendah antara 2 hingga 4,” ujar Elen.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan negara sahabat, pelaku usaha, asosiasi bisnis, investor global, dan pengembang KEK, Elen menekankan bahwa forum ini merupakan momentum strategis dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

“Forum ini diadakan untuk memperkuat posisi KEK Indonesia sebagai pilar pertumbuhan berkualitas dan destinasi investasi unggulan. Saya yakin sinergi dalam forum ini akan menghasilkan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ucapnya.

Sementara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu menegaskan,  KEK akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus mesin percepatan program hilirisasi yang menjadi prioritas pemerintah. “KEK memainkan peran penting dalam mendukung agenda hilirisasi nasional dan memperkuat daya saing investasi Indonesia,” ujarnya saat memberikan keynote speech pada forum ini. 

Todoua Pasaribu: KEK percepatan program hilirisasi/foto: facebook

Pasaribu juga mengungkapkan,  sektor hilirisasi menjadi motor terbesar realisasi investasi. “Investasi hilirisasi telah mencapai Rp431 triliun atau 13,1% dari total realisasi. Ini membuktikan hilirisasi bukan hanya angka, tetapi nilai tambah yang nyata,” tegasnya.

Untuk memastikan pelayanan investasi lebih cepat dan transparan, Pasaribu menyampaikan bahwa pemerintah telah menerapkan reformasi regulasi. “Kini proses perizinan dilaksanakan dengan mekanisme fiktif positif dan Service Level Agreement. Reformasi ini menciptakan efisiensi nyata dalam ekosistem perizinan nasional,” jelasnya.

Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menekankan pentingnya KEK dalam transformasi ekonomi menuju Visi Indonesia Emas 2045. “KEK mendorong industrialisasi, memperkuat pariwisata, mengintegrasikan rantai suplai, dan menciptakan ruang inovasi. KEK adalah pusat pertumbuhan baru yang meningkatkan kontribusi ekonomi nasional sekaligus pemerataan pembangunan,” jelasnya.

Ia juga memaparkan keunggulan KEK yang dipandang menarik oleh investor internasional. “KEK menyediakan layanan perizinan satu pintu, insentif fiskal dan nonfiskal yang kompetitif, serta dukungan regulasi yang memungkinkan percepatan investasi. Dengan ekosistem terintegrasi ini, KEK memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” tegasnya.

Menurut Edwin, forum ini bukan hanya wadah diskusi, tetapi wadah percepatan investasi. “Melalui dialog tematik dan one-on-one business matchmaking, forum ini akan memperkuat kemitraan dan menghasilkan kesepakatan bisnis yang mendukung transformasi ekonomi jangka panjang. Kami berharap forum ini menghasilkan hasil nyata dan meningkatkan kepercayaan kepada KEK Indonesia,” ujarnya.

Sinergi para pemangku kepentingan dalam forum ini menjadi momentum untuk melihat lebih jauh peran KEK dalam mendorong pengembangan kegiatan usaha dan sektor industri di masa depan. Melalui pertukaran gagasan dan paparan peluang investasi, forum ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi yang berkelanjutan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. [] Yuniman Taqwa