Kolaborasi Dorong Bisnis Berkembang Cepat

Ingin usaha cepat berkembang? Kolaborasi menjadi instrumen yang patut dipertimbangkan dalam menjalankan usaha. Tanpa menggelontarkan investasi menggunung, bisnis anda dalam tempo singkat bisa melesat!

Kolaborasi bisnis merupakan proses partisipasi beberapa orang ataupun kelompok organisasi untuk bekerja sama mencapai hasil tertentu dalam bisnis. Kolaborasi memanfaatkan koneksi internal maupun eksternal untuk menciptakan ide, menemukan solusi, dan mencapai tujuan bersama untuk bisnis. Jadi, cara ini akan menguntungkan kedua kolaborator dan dibina melalui komunikasi yang terbuka, jujur, dan produktif. 

Bila dulu kita jualan dengan kompetisi, kini jualan melalui ekosistem. Boleh jadi  kolaborasi merupakan suatu kewajiban. Kita lihat McDonald’s mengeluarkan produk hasil kolaborasi dengan Grup KPop BTS lewat produk BTS Meal yang viral di sosial media sejak promo varian produk hasil kolaburasi ini tiba-tiba gerainya membludak diserbu pengunjung.

Banyak sekali contoh kolaborasi bisnis di Tanah Air. Contoh yang gampang adalah Gojek yang semula sebagai ojek online, kemudian berkembang menjadi taxi online, masuk go blue bird, masuk gofood, masuk ke Gomart, Gopay, Goinvest dan ke mana-mana.

Menurut Founding Chairman Indonesia Brand Forum (IBF) Yuswohady, sebuah brand bisa menggurita dengan cepat kaya Gojek, ketika dia mempunyai mindset mendasar yang melihat marketnya bukan hanya produk, tapi marketnya adalah ekosistem. Ketika kita melihat ekosistem, maka kita akan membangun ekosistem. Membangun ekosistem, maka pendeketannya adalah kolaborasi.

Bahkan, Tokopedia dan Gojek telah bersatu menjadi GoTo. Ini merupakan perusahaan induk dan penyedia platform digital yang mengintegrasikan sistem pelayanan yang berdasarkan dari pesanan konsumen, perdagangan secara elektronik dan produk digital, dan layanan teknologi keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui entitas anak. GoTo adalah gabungan dari Gojek dan Tokopedia, masing-masing memulai kegiatan operasi komersial pada tahun 2010 dan 2009. Per Juli 2021, Perusahaan dan entitas anak  mempekerjakan 8540 karyawan.

GoTo resmi menjadi menjadi perusahaan digital yang sahamnya tercatat dan diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 11 April 2022. Saat ini, GoTo menjalankan tiga pilar bisnis secara bersamaan yang terdiri atas layanan on-demand melalui Gojek, e-commerce melalui Tokopedia, dan financial technology melalui GoTo Financial. Ketiganya merupakan kekuatan fundamental  yang menjadikan ekosistem GoTo paling lengkap dibanding para pesaingnya, lihat pelakubisnis.com, pada Juli 2022.

Alfamart – Aladin menggabungkan kekuatan dari kedua pemain yang berasal dari medan bisnis  berbeda/Foto: Ist

Sementara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (pemilik jaringan Alfamart) dengan PT Bank Aladin Syariah Tbk (Bank Aladin) telah melakukan kolaborasi. Teknologi digital perbankan milik Bank Aladin dengan ekosistem milik Alfamart. Kolaborasi ini  menggabungkan kekuatan dari kedua pemain yang berasal dari medan bisnis  berbeda. Alfamart sebagai salah satu penguasa jaringan ritel nasional, sementara Bank Aladin merupakan bank syariah yang berplatform digital. Melalui lebih dari 17 ribu jaringan ekosistem Alfamart, masyarakat memiliki akses ke layanan perbankan syariah dengan mudah.

Menurut Ryan Alfons Kaloh, Marketing Director Alfamart, kolaborasi Aladin dengan Alfamart ini  merupakan potensi besar yang bisa dimasuki yang perlu digarap secara maksimal. Setiap harinya Alfamart dikunjungi sekitar 5 juta lebih konsumen. “Konsumen Alfarmart  mungkin ada di segmen B dan C. Nah, kalau disatukan dengan tujuan Aladin, ini pas sekali. Keduanya melayani segmen yang sama. Bagi saya kolaborasi dengan Bank Aladin itu pas sekali. Kedua melayani segmen market yang sama baik secara potensi market maupun demografinya,” kata alumni Program S2 Manajemen Marketing, Prasetiya Mulya Business School ini dalam acara Indonesia Brand Forum September tahun lalu.

Menurut Ryan Alfons, memang produk perbankan adalah regulated. Pasti tidak semudah seperti produk customer  goods. Tapi dalam hal ini harus mengikuti semua aturan yang ditetapkan Bank Indonesia. Itu yang paling utama yang harus dipenuhi sama-sama. Ibaratnya yang paling sederhana sekali adalah setor dan tarik uang.  Dengan keterbatasan kantor cabang, ATM dan sebagainya, maka nasabah Bank Aladin bisa setor dan tarik uang di Alfamart di mana saja.

Kolaborasi antara Alfamart dengan Bank Aladin, menurut Ryan Alfons, tidak hanya dalam jangka pendek  saja, tapi diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. Di lihat dari Alfamart sebagai perusahaan public, sudah melakukan investasi langsung di Bank Aladin, sehingga lebih serius melihat kolaborasi ini dalam jangka panjang dan untuk menghadapi persaingan saat ini serta perubahan konsumen.

Lebih lanjut ditambahkan, bagaimana Alfamart memaksimalkan asset yang dimiliki dan yang tidak dimiliki oleh Alfamart. Melihat satu sisi, Bank Aladin mempunyai keunggulan. Sementara Alfamart mempunyai lebih dari 17.000-an  gerai. Alfamart ibarat menjadi kantor cabang Bank Aladin yang terbuka di seluruh Indonesia. “Memang kelihatannya hanya sebagai 17.000-an gerai, tetapi kalau digali ke dalam, berarti Aladin sudah ada karyawan di situ, jaringan yang luas, ada cash handling, ada sistem yang ada di belakang itu yang memungkinkan untuk melakukan transaksi finansial secara online atau digital yang terbuka di 17.000-an gerai kami,” tambah Ryan Alfons.

Contohnya, Louis Vuitton punya market dan kemudian Supreme punya market, maka Louis Vuitton dapat market Supreme dan market Louis Vuitton. Artinya marketnya digabungkan.

Pertanyaannya kenapa Louis Vuitton mau berkolaborasi dengan Supreme. Padahal Louis Vuitton brand kelas atas, ibarat berada di “menara gading”, sedangkan Supreme merupakan brand millennial. Louis Vuitton ingin dianggap anak muda. Ini contoh leverage brand audience.

Berikutnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) berkolaborasi dengan Liga Satu. BRI punya market lebih dikenal di desa-desa, dan mulai masuk kota. Tetapi terakhir BRI ingin menggaet fans sepak bola, maka BRI berkolaborasi dengan sport event (Liga Satu), sehingga BRI dapat market Liga Satu dan sebaliknya Liga satu dapat market BRI. 

Sinergize brand asset. Contonya kolaborasi Aladin dengan Alfamart. Melalui kolaborasi, merek juga bisa menyinergikan asset yang dimiliki masing-masing pihak yang berkolaborasi sehingga menghasilkan kekuatan gabungan yang jauh lebih besar. Rumusnya bukan sekedar: 1 + 1 = 2; tapi 1 + 1 > 2.

Allo Bank, misalnya, bayangkan bila tidak bersinergi dengan Salim Group, dengan Grab dan Traveloka. Dia membangun ekosistemnya sendiri, maka Allo Bank tidak akan cepat berkembang. “Sesuatu yang seharusnya memerlukan waktu 30 tahun, bila dikompres hanya perlu waktu tiga tahun. Pak CT bilang ini akan menjadi ekostem fisik maupun online terbesar di Indonesia. Pak CT berani promosi seperti itu, karena dia yakin gandeng Salim, gandeng Bukalapak, gandeng Grab dan terusnya. Hal itu kalau dilakukan tanpa kolaborasi, maka perlu waktu 30 sampai 40 tahun, maka dikompres menjadi tiga tahun,” kata Yuswohady.

Dan satu lagi kreativitas   anak bangsa dari industri sepatu  yang sukses berkolaborasi dengan banyak merek di Tanah Air. Tak hanya dengan Luwak White Koffie. Pada Juni 2021, kolaborasi pertama Aerostreet dilakukan dengan akun meme terbesar di Indonesia, ‘Dagelan’. Setelah itu berturut-turut kolaborasi dengan BonCabe, Indomie, Promag, Le Minerale, Wafer Tango yang menampilkan motif wafer 3D, Sheila on 7 (grup musik), Better Chocolate Sandwich, Tini Wini Biti dan sebagainya. Masing-masing selalu menampilkan gambaran unik yang membedakan satu merek dengan merek lainnya.

Adhitya Caesarico, Direktur Utama PT Adco Pakis Mas mengatakan, dalam upaya memberikan sensasi produk sepatu yang berbeda dan out of the box, Aerostreet tak pernah berhenti untuk terus melakukan sinergi bersama dengan berbagai brand melalui campaign apa saja yang akan diusung ke depan. “Karena ini produk konten maka yang diutamakan adalah campaign yang dibawa sekaligus fresh dan baru, sehingga bisa menciptakan viral,” pangkasnya.

Jadi, ketika kedua mereka bersinergi, maka tujuan utamanya membentuk layanan atau produk yang unik dan inovatif kepada pelanggan. Hal ini akan memberikan keunggulan kompetitif dan berpotensi meningkatkan pangsa pasar. Kedua belah pihak berpotensi mendapatkan keuntungan dari investasi kolaborasi yang dijalankan itu. [] Yuniman Taqwa/Ilustrasi: Pinterest