Gandeng UMKM Perempuan Lombok, Ace Robin Menembus Pasar Ekspor
Konsisten, tekun, ulet dan berani yang membuat Ace Robin mampu mendampingi UMKM Lombok selama 32 tahun hingga mereka bertumbuh. Di awal mereka datang naik sepeda, kini tak sedikit dari UMKM nya yang sudah memiliki motor dan mobil hingga naik haji berkali-kali. Diakuinya boleh jadi 60% dari UMKM perempuan binaannya berhasil mengembang usaha.

Lebih dari 3 dekade menekuni usaha ekspor furniture dan handcraft secara konsisten. Persis tahun 1987 merantau ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama suami. Saat itu pemilik nama Ace Robin Gemah Ripah Ningsih datang untuk tujuan berolahraga diving. Kebetulan Ia dan suami senang diving. Selama di Lombok di waktu-waktu senggang ia berkeliling ke komunitas pengrajin gerabah yang saat itu sudah dibina Lombok Pottery Center – Sebuah badan kerjasama Pemerintah RI dengan Pemerintah NewZealand – semacam AIDS Program.
Perbedaan iklim dulu dengan sekarang jauh berbeda terutama dalam hal infrastruktur. Sekarang ini sosial media (sosmed) menguasai semua usia. Di era 1990-an, Infrastruktur di Lombok dan jaringan komunikasi masih sangat terbatas. Sistem dan alat komunikasi hanya terbatas pada telepon, mesin telex dan yang paling canggih adalah mesin fax. “Jadi apa-apa harus segera direspon. Contoh Pegawai untuk menjawab telepon saja harus di ajarkan bagaimana memegang gagang telpon dan bagaimana harus bicara itu pun perlu kesabaran,”kenang Ace di awal membangun usaha ekspor furniture dan gerabah di Lombok.
Tahun 1991 ia mendirikan CV Global Export Services. Saat itu berdagang kerajinan tangan bukanlah merupakan satu usaha yang menjanjikan. Saat itu menurutnya kerajinan tangan yang sudah maju ada di Pulau Jawa.
Ia bercerita, kala itu di awal tahun 1990-an ia membina ibu-ibu (ina-ina dalam bahasa Lombok-red) para pembuat “gerabah” dari 4 desa di Lombok yakni: Banyumulek, Penujak, Masbagik dan Loyok. “Saat itu ada kira kira dua ratus orang wanita (Ibu Ibu) per desa Pembuat Gerabah. Dari mulai mengajarkan ukuran dengan bantuan penggaris sederhana untuk misal tinggi – saat itu Ibu Ibu tidak faham ukuran centimeter, bahkan tidak faham literacy dan numeracy,”papar istri dari Peter Clive Cranfield ini.
Yang menjadi pertanyaan besar bagi Ace saat itu, bagaimana harus mengajarkan Ibu Ibu untuk dapat menerima dan paham apa yang perusahaan inginkan. “Misal, Gerabah Tinggi setelah dibakar adalah 70cm dan diameter 40cm. Mereka tidak paham seperti itu. Jadi kita berikan bambu warna hijau setinggi 70cm dan bambu merah 40cm. Mengajarkan kepada Ibu Ibu tentang QUALITY CONTROL yang bahasa nya ‘Jujur ukuran’,”tuturnya.
Tak henti-henti Ace memberikan informasi (pembelajaran) kepada para pengrajin gerabah di Lombok. Sebelum Ace masuk ke komunitas pengrajin gerabah di Lombok ini, harga jual satuan gerabah dengan ukuran tinggi bambu hijau Rp 300 ribu /buah. Tapi dengan harga tersebut pengrajin harus menunggu berbulan-bulan baru laku.
“Saya katakan, Mari pikir, GLOBAL –CV Global Export Services-red– sekali beli 100 buah ukuran bambu hijau, berapa akan dijual dan pembelian dilakukan setiap dua minggu sekali. Setiap 20 gerabah hijau selesai dibuat dengan ukuran benar, kita akan bayar kontan. Gerabah-gerabah akan dijual ke luar negeri, Jika KUALITAS BAGUS, maka pesanan akan terus berlangsung. Itu baru satu subject yang harus di terangkan – belum warna, cara bayar, bagaimana hitung dan sebagainya. Merupakan tantangan tersendiri agar maksud dan tujuan perusahaan tercapai,”ungkap mantan President Rotary Club Mataram Lombok periode 2018-2020 ini.
Dalam perjalanannya dari 1991 sampai dengan 2015 Ace membina 12 DESA di Lombok dan beberapa Desa di Pulau Bali dan Pulau Jawa. “Saya sendiri bukan asli orang Lombok. Kerajinan tangan yang sudah maju ada nya di Jawa,”kata Aje kepada pelakubisnis.com.
Tak percuma perempuan tangguh ini membangun visi, menjadi perusahaan dagang kerajinan tangan Indonesia skala Nasional yang terpercaya dan terkemuka serta dikenal di mancanegara dan berharap kerajinan tangan dihargai juga oleh masyarakat Indonesia. Dengan misi, memasarkan kerajinan tangan Lombok khusus nya dan kerajinan tangan Indonesia umumnya, yang berkualitas dengan harga terjangkau dan bermanfaat serta menjamin kepuasan pelanggan serta ber mitra berkelanjutan dengan semua pihak.
Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan di Pasar Swite, ia bertemu dengan buyer asal Denmark yang saat itu tertarik dengan kerajinan tangan Lombok dari gerabah dan kerajinan tangan lainnya. “Buyer ada kesulitan untuk mengirim barang nya ke luar negeri dan mencari mitra untuk kerjasama. Qadar Allah saya menjadi exporteer nya. Rezeki sudah di sediakan Allah SWT,”ungkap Ace Robin ketika pertama kali mendapat buyer.

Singkat cerita, akhirnya ia memberanikan diri bermitra menjadi agennya bagi para pengrajin gerabah di Lombok. Pada simpul ini Ace Robin mulai masuk ke industri handcraft dan mulai mengekspor gerabah. Pada APRIL 1992 ia melakukan export perdana kerajinan 1x20FCL ke Denmark.
Diakuinya, membina para pengrajin gerabah hingga membawa ke pasar ekspor bukan hal yang mudah dan instan. Semua proses ia pelajari. Mulai belajar bagaimana MENGISI PEB (Pemberitahuan Export Barang) – jungkir balik ke Bea Cukai, Dinas Perdagangan. “Apalagi dalam PEB mau disebutkan “Pelabuhan Muat” nya dicatat dari Lombok padahal di fiat Muat nya di Surabaya. Setelah selesai export – harus mengurus COO –Certificate of Origin, red -. Untuk semua pihak ini adalah hal yang baru,” terang Ace seraya bercerita bagaiman dulu dalam proses administrasi harus diketik dengan mesin ketik jadul. Jika salah tulis formulir harus diganti. Tidak adal pelatihan atau mentoring seperti UMKM sekarang.
“Saya yakin teman-teman perempuan sesungguhnya dengan fasilitas yang disiapkan pemerintah saat ini mungkin lebih cepat berhasil dibandingkan UMKM perempuan di era saya. Para ina-ina (ibu-ibu) di Lombok banyak menghasilkan gerabah yang indah-indah dan sangat bagus. Saya pun tertarik dengan kerajinan khas Lombok ini,”ungkap Ace Robin kepada para peserta Webinar “Potret UMKM Perempuan Tangguh Dalam Pusaran Ekonomi Global”, awal Juli lalu.
UMKM di era Ace Robin sangat berbeda dengan kondisi UMKM sekarang. Dimana ia harus bergulat dengan segala situasi dan kondisi. Itu perlunya harus ada kerja sama, bermitra dengan Pengrajin, Pemerintah, juga buyers. “Urusan modal, karena buyer dan kami merasa saling membutuhkan, kami minta saat order dibayar 50%. Sebelum container berangkat dibayar full. Tentu saja ini resiko untuk buyers. Bisa saja kami tidak penuhi order mereka. Tapi saya pikir, jika sekali kita khianati mereka dan mereka tidak percaya, maka pintu selanjutnya akan tertutup untuk kita,” tutur Ace serius penuh makna.
Demikian juga kepada pengrajin, setelah ia mendapat kepercayaan dari buyers dengan dibayar dimuka 50, maka Ace pun membayar kepada pengrajin dengan hal yang sama. “Order Rp 1juta – DP 50%. Dibayar FULL setelah tiba di gudang kami dan di QC. Para Pengrajin tidak harus pinjam ke Bank untuk modal kerja,”ujar Managing Director PT Medana Bay Medina Indonesia.
Hingga pada Oktober 1992 kali pertama Ace ikut Pameran Produksi Export. Dilalahnya saat itu Exhibitor yang ikut mungkin hanya 500 perusahaan tapi buyers yang didatangkan pemerintah 2000 perusahaan. “ Jadi kami kebanjiran Buyers waktu itu,”ungkap Ace kepada para peserta Webinar Potret UMKM Perempuan Tangguh Dalam Pusaran Ekonomi Global, 3 Juli lalu.
Alhasil, perubahan UMKM pun di Lombok pun terjadi. Dimana muncul gambaran banyak para pengrajin saat datang ke kantornya pertama kali hanya dengan sepeda, setelah lima tahun bisa beli motor atau mobil. “Alhamdulillah saat itu ada yang bisa berangkat haji ber kali kali,”kupas Ace seraya menambahkan, dalam pembinaan kepada para UMKM, ia juga mengajarkan soal mengelola keuangan.
Tak pelak, sukses Ace membina UMKM ia buktikan dengan mendapatkan penghargaan PRIMANIYARTA (2006) dari Pemerintah Indonesia, sebagai Exporteer Daerah Unggulan.
Menurutnya mendapatkan Primaniyarta bukanlah tujuan awal tapi adalah bentuk apresiasi pemerintah kepada pelaku usaha yang go international saat itu.
Diakuinya sampai sekarang masih ada tiga buyers yang jumpa di PPE 1994 terus melakukan order (Mexico, Spanyol, USA) sampai sekarang.
Menyoal IKM/UMKM perempuan binaannya, ia mengaku mereka dapat mengembangkan usaha lebih luas. Mereka mempunyai banyak client dari Daerah lain (misal Bali, Jakarta dan juga mancanegara). Bahkan saat ini tak sedikit yang sudah berani berpameran sendiri.
Dalam satu tahun berapa banyak pelaku IKM/UMKM perempuan yang berhasil mengembangkan usaha? “Para IKM/UMKM Perempuan itu sangaat gigih, kuat dan siap tempur. Mereka menjadi tulang punggung keluarga. Mereka banyak yang hanya berpendidikan tamatan SD tapi cerdas !! Para perempuan ini JELI melihat peluang dan TIDAK LUPA kepada mitra lama nya – misal kami. Saya tidak dapat menjelaskan berapa per tahún yang berhasil – tapi mungkin 60% para PEREMPUAN ini berhasil mengembang usahanya,”jawab Ace kepada pelakubisnis.com.
Ace sendiri dalam perkembangannya kini memiliki banyak usaha seperti cargo, menjadi rekanan PT NEWMONT (sekarang PTAMMAN-red), dengan PT Freeport membuka dua sekolah swasta dari SD s/d SMA (sekolah setara international school) dan satu sekolah khusus untuk orang Indonesia khususnya para Nelayan. Ia juga menjadi dealer outboard motor Honda dan mengelola Medana Bay Marina – marina (tempat tambat kapal khusus yachts-red).
Menurutnya, dilihat secara kasat mata di lapangan, saat ini bukan hanya di sektor kerajinan saja yang dikuasai kaum perempuan, tapi dalam Food and Fashion Industries, hampir dikuasai PEREMPUAN.
Fenomena apa ini? Ace menilai, keseteraan perempuan-keseteraan gender semakin melesat ke depan. Tidak bisa lagi di semua sektor sekarang menjadikan perempuan sebagai objek ketiga. Saat ini perempuan mampu sejajar dengan Pria dalam arti yang positif. “Kaum perempuan yang memang secara naluri memiliki keinginan untuk survive bagi keluarganya sehingga mendorong mereka menjadi entrepreneur,” ujar Ace meniru pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Di akhir webinar, Ace menyampaikan, “Nothing is impossible and have a big dream. Minta Ridho Allah SWT yakin dan percaya kepada Allah SWT ketika membangun Usaha,”. []Siti Ruslina
