70 Persen UMKM Binaan Pertamina Didominasi Perempuan

Tak kurang dari 14 ribu UMKM perempuan binaan Pertamina dan Rumah BUMN Pertamina didorong menjadi UMKM Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global. Dari tahapan itu diharapkan melahirkan Pertapreneur Aggregator  untuk membantu UMKM lainnya! Bagaimana model pembinaannya? Seperti apa peran UMKM Perempuan di dalamnya? 

Manager SMEPP PT Pertamina (Persero) Dewi Sri Utami/Foto: Dok Pertamina

PT Pertamina (Persero) bukan hanya menjalankan program kemitraan UMKM, tapi sejak tahun 2020 Pertamina mendapat mandat dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membina 35 Rumah BUMN yang tersebar di seluruh  Indonesia. Di Rumah BUMN itu tempat berkumpul UMKM untuk berkonsultasi dan menjadi fasilisator UMKM-UMKM yang ada.

Menurut Manager SMEPP PT Pertamina (Persero) Dewi Sri Utami, Pertamina mendorong UMKM perempuan dalam menggerakkan perekonomian nasional.  Jumlah pengusaha perempuan baik dari Program Kemitraan Pertamina maupun Rumah BUMN sekitar 14.000-an jika dihitung sejak 4 tahun terakhir ini. “Rata-rata program kemitraan ini lamanya tiga tahun atau sudah tidak mikro lagi, Mereka sudah mendapat kredit-kredit usaha lainnnya yang lebih besar,” kata Dewi dalam acara Webinar “Potret UMKM Perempuan di Pusaran Global” yang diselenggarakan pelakubisnis.com, 3 Juli lalu.

Atas kontribusi Pertamina melakukan pemberdayaan UMKM perempuan, kata Dewi, Pertamina mendapat penghargaan rekor MURI di tahun 2021. Ini merupakan bukti Pertamina peduli terhadap pemberdayakan  perempuan.  

Di Pertamina memiliki kurikulum yang telah dilaksanakan sejak tahun 2020 dalam bentuk UMK Academy bagi UMKM Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global. Setiap tahun jumlah peserta senantiasa bertambah. “Ada beberapa kurikulum yang disesuaikan  dengan modul-modul bagi para UMKM,” ujarnya seraya menambahkan jumlah peserta UMK Academy, baik dari program kemitraan dan  Rumah BUMN, 70 persen diikuti UMKM perempuan   Umumnya mereka  bergerak dibidang food and beverage fesyen serta kerajinan.

Dewi menambahkan, UMK Academy binaan Pertamina itu sebanyak 5613 sudah Go Digital dan 547 UMKM sudah Go Global. Dari angka-angka tersebut 70 persen perempuan. Program pelatihan ini berlangsung selama 4 bulan. Untuk mengikuti program ini dilakukan kurasi.  Tahun ini diikuti oleh 850 UMKM yang terseleksi. Penilaiannya apakah  usahanya masih berjalan?  UMKM-UMKM yang  kreditnya lancar.

Di bulan pertama, lanjut Dewi, seluruh peserta mengikuti Program Go Modern. Materinya meliputi pengenalan alat, desain kemasan, branding, latihan akutansi dan kegiatan yang berkaitan dengan perpajakan.  Pengajarnya berasal dari kementerian terkait dan dan Markplus. Peserta UMK Academy yang lulus bisa melanjutkan  ke program digital. Kalau hanya sampai Go Modern tidak dipaksakan ke Go Digital. Tapi rata-rata setelah Go Modern pasti masuk Go Digital. “Penyaringan akan muncul pada saat tahapan Go Online dan Go Global,” papar Dewi.

Pada pelatihan Go Digital hanya pelatihan dasar Go Digital, misalnya pembayaran dengan menggunakan aplikasi, penggunaan whasapps dan sebagainya. Setelah lulus Go Digital akan masuk ke Go Online. Pada tahap Go Online lebih banyak diajarkan penggunaan sosial media, seperti membuat iklan, kemudian pelatihan melakukan penjualan di markerplace, belajar membuat akun, bagaimana mereka merespon transaksi yang ada, kecepatan dan sebagainya juga diukur. “Kadang ada juga yang sudah punya akun marketplace tapi tidak pernah ditengok, karena konsumen masuk tidak digubris sehingga  ditinggalkan,”ungkap Dewi.

Lebih lanjut ditambahkan, UMKM jua diberikan pelatihan pembuatan website, membuat blog untuk usaha mereka. Di bulan ketiga ada yang lulus, kemudian masuk ke Go Global. “Di Go Global inilah yang benar-benar terpilih. Kami akan menggandeng Kementerian Perdagangan  melalui Pusat  Pelatihan  Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP). Disinilah mereka diajarkan tidak hanya sekedar membuat, tapi bagaimana bertransaksi dari awal secara global, seperti pengurusan dokumen dan sebagainya,”papar Dewi Sri Utami.

Kurikulum Pembinaan UMKM Pertamina/Foto: pelakubisnis.com

Pelatihan Go Global ini berlangsung selama satu bulan. Dari masing-masing lulusan, misalnya dari  Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global ini akan diambil champion-champion, dalam  arti penilaian performance usahanya bagus diambil 10 terbaik dari masing-masing kategori, untuk kemudian nanti dilatih  lagi. Dan setelah Go Global mereka akan diikutsertakan   di Pertapreneur Aggregator.

Pertarpeneur Aggregator  adalah sebuah program yang diberikan kepada  UKM yang berhasil, supaya dia bisa menjadi aggregator bagi yang lainnya. Jadi tidak maju sendiri, tapi bisa menjadi networking collaboration, setelah Go Global dia bisa menjadi jangkar UMKM-UMKM lainnya dalam hal menuju ekspor.

Sebagai contoh SMEPP Pertamina memiliki pemenang pertama aggregator dari Bali, pengusaha kain sarung Bali. Karena permintaan sangat banyak di wilayah Amerika dan negara lain, sehingga dia tidak bisa mencukupi. Ibu  ini tidak bisa mencukupi permintaan. Karena kalau sudah komitmen untuk Go Global untuk ekspor itu sudah harus bisa memenuhi pemintaan. Jadi komitmen harus 1 kontainer harus bisa terpenuhi sehingga beliau menggandeng UMKM-UMKM di sekitar wilayahnya. Sehingga beliau sudah menjadi aggregator bagi UMKM lainnya.

Agregator ini kemudian berinisiatif menggandeng UMKM lain misalnya di Jawa Timur ada usaha tekstil yang nyaris mati diajak kembali memproduksi kainnya. “Kemudian pembatik-pembatik diajak, sehingga beliau sudah menjadi agragator bagi UMKM lainnya. Ini yang kami lakukan, tidak hanya go modern, go digital, go online dan go gobal, tapi setelah itu nanti akan ada pertapreuner aggragator. Supya yang maju tidak sendiri, tapi menggandeng  UMKM-UMKM lainnya,” jelas Dewi.

“Salah satu kekuatan yang dikembangkan Asia Garment adalah penggunaan digital marketing sebagai sarana penjualan yang saat ini belum menjadi perhatian serius UMKM lain. Selain itu, kami berkolaborasi dengan UMKM lain dalam memenuhi pesanan buyer. Kolaborasi selain membantu meningkatkan kapasitas produksi, meningkatkan omzet, juga menjadi lebih efisien dari segi waktu dan harga,“ kata Nurhayati Aisyah, Direktur Asia Garment Internasional, pada 22/12, sebagaimana dikutip dari dunia-energi.com.

Asia Garment menjadi juara pertama Pertapreneur Agregator Program 2022 yang digagas Pertamina dan diumumkan saat penutupan SMEXPO Pertamina. Sementara juara kedua disabet pemilik usaha Bali Honey Ismail Marzuki dan pemenang ketiga pemilik usaha Bakmi Mbah Hardjo Bambang Tri Mulyono. Meeta Fauzan dari CV Almira menjadi juara harapan pertama sementara juara harapan dua diraih Ni Made Roni dari Made Tea.

Sementara di Pertamina masalah pembiayaan, jelas Dewi,  tidak membatasi apakah itu pengusaha perempuan maupun pengusaha laki-laki. Selama persyaratan yang diajukan sudah memenuhi persyaratan, minimal sudah berjalan 6 bulan usaha berjalan,  mempunyai surat izin usaha, sekarang namanya NIB, keterangan dari pemerintah setempat tingkat lurah. “Kemudian  dicek usahanya, tentu saja akan  berikan akses permodalan,” urai Dewi.  

Sebelumnya masalah pembiayaan UMKM dilakukan Pertamina sendiri. Di mana saat  perjanjian harus ikut serta pasangannya atau kalau perempuan masih layang diikutsertakan orangtuanya atau saudara kandung sebagai penjamin bahwa yang bersangkutan  berniat mengembangkan pinjamannya.

Namun sejak tahun 2023 ini, seluruh BUMN untuk dana kemitraan  di kumpulkan di BRI. Pihak BRI yang akan menyalurkan. Untuk penyalur di BRI ini lebih mudah lagi karena tidak ada persyaratan jaminan. Fokusnya untuk usaha mikro atau kecil. Sampai Mei 2023, ada 1700 UMKM penerima kredit dengan nilai hampir Rp 50 miliar. Sebagian besar penerimanya perempuan dengan kategori usaha Food and Beverage, perdagangan dan pertanian.

Platform pinjaman ketika masih dipegang oleh pertamina, tambah Dewi,  maksimal Rp 250 juta tapi pakai jaminan.  Tapi sejak diserahkan ke BRI tahun 2023 platform pinjaman maksimal Rp 60 juta. “Memang fokusnya supaya bisa merangkul usaha-usaha mikro. Selama ini mereka kesulitan mendapat akses pendanaan, terkendala jaminan. Rata-rata yang disalurkan kemarin antara Rp 30 juta- Rp 50 juta. Saya rasa itu sudah bisa meng-cover UMKM-UMKM yang pemula atau  usaha mikro,” lanjutnya.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi SMEP Pertamina, UMKM perempuan lebih tangguh. Apalagi pada saat Covid-19 tahun 2021. Beberapa UMKM ada yang pembayaran kredit terlambat.  Setelah dilakukan evaluasi, ternyata UMKM perempuan ini tetap membayar cicilan, meski tidak penuh. Mereka  lebih tangguh dalam hal meng-switching usaha. Tadinya mereka usaha batik, tiba-tiba lebih kreatif. Tadinya usaha kuliner, merubah model usahanya secara online.

Menurut Dewi, masalah gagal bayar ini banyak faktornya. Misalnya usahanya mengalami kendala karena covid-19 kemarin. Kemudian kadang-kadang memang ada satu atau dua UMKM yang lolos seleksi mendapat kredit, walau sebetulnya tidak layak mendapat kredit. Dia pengusaha, tapi pengusaha bandel-bandel, Jumlahnya tidak banyak.

Bila berdasarkan monitoring dan evaluasi, terjadi macet di bulan pertama, maka  dikirimkan surat konfirmasi untuk menanyakan usahanya. Tapi kalau macet  sudah beberapa bulan, maka akan dilakukan relaksasi untuk menjadwal ulang pembayaran. Di saat penjadwalan ulang juga masih macet, kata Dewi, buatkan reconditioning dimana jasa dan adminitrasinya kredit dihapuskan. Dilihat lagi apakah usahanya bisa berjalan dan diberi  dukungan supaya usahanya tetap bisa berjalan,.

“Selama ini kami tidak mengikutkan UMKM-UMKM macet dalam pameran. Kami prioritaskan yang lancar pembayaran kredit. Tapi kalau macetnya karena pandemi atau karena usahanya setelah pandemi susah untuk naik lagi, kami coba melakukan pendekatan setelah dilakukan monitoring dan evaluasi. Oke! Boleh ikut pameran, namun ada syarat dan ketentuan. Misalnya minimal membayar tambahan satu cicilan dulu. Ada itikad baik untuk membayar utang. dari sekian keuntungan untuk membayar kredit,” tutur Dewi. [] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina