Review Spoiler Para Perasuk (2026)
Oleh: Abrar Rizq Ramadhan
Dunia sineas Indonesia dimeriahkan oleh nama-nama besar seperti Joko Anwar, Hanung Bramantyo, dan Garin Nugroho. Namun belakangan muncul sutradara muda yang kerap luput dari antusiasme masyarakat. Dia adalah Wregas Bhanuteja (34) yang memulai karir film panjangnya dengan Penyalin Cahaya (2021). Wregas aktif membuat film pendek di masa-masa awal perintisan karirnya dan tidak jarang menerima penghargaan bergengsi dari tingkat internasional seperti Semaine De La Citique dan Cannes Film Festival. Pada awal tahun 2026, Wregas kembali membawa filmnya, Para Perasuk, tampil di Sundance dan mencuri banyak perhatian penonton global. Film yang dibintangi oleh Angga Yunanda itu kemudian resmi rilis di bioskop komersial Indonesia pada 23 April 2026.
Para Perasuk merebut hati banyak penonton Indonesia dengan penulisan ceritanya yang rapih dan komponen audio visual yang megah. Namun, film ini nampaknya bukan tontonan yang dapat dinikmati awam karena narasi plotnya yang memacu otak untuk berpikir. Ditambah pemaduan unsur surreal dan realis magis di film ini juga menjadi salah satu faktornya. Atas hal-hal tersebut, penonton Para Perasuk hanya mencapai angka kisaran 100.000 orang pada 28 April 2026, atau 6 hari penayangan. Angka yang medioker untuk sebuah film yang bagus dan dibintangi oleh deretan aktor/aktris megah: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chico Kurniawan, Bryan Domani.
Plot (Spoiler)
Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa fiktif yang berjarak 2 jam perjalanan dengan bis dari Jakarta. Masyarakatnya tumbuh dengan dialek Betawi pinggiran. Desa ini memiliki tradisi lokal berupa sambetan, yakni sebuah pesta mistis dengan menggerakan para pelamun melalui medium roh hewan oleh para perasuk. Terdapat beberapa sanggar yang melestarikan budaya sambetan ini, meskipun zaman perlahan mulai menafikan eksistensinya. Sambetan telah menjadi alat untuk mengekspresikan suka cita, membawa kesenangan bagi yang sedang bersedih, dan menghidupi ekonomi dan budaya Desa Latas dari tahun ke tahun. Masalah lalu tiba Ketika PT Wanaria datang dan berusaha untuk menggusur Desa Latas demi membangun kawasan industri seperti perumahan dan air minum kemasan. Titik kritisnya adalah ketika seorang sepuh desa yang memiliki mata air murni hendak ditawari ratusan juta oleh Wanaria demi dieksploitasi. Masalahnya sang sepuh juga sedang mengalami dilemma perihal penyakit yang diderita cucunya dan memerlukan uang ratusan juta Rupiah untuk biaya pengobatan. Guru Asri (Anggun C. Sasmi) selaku guru sanggar sambetan memimpin aksi protes terhadap Wanaria dengan menghimpun dana demi melindungi mata air.

Perspektif film ini kemudian menyorot karakter Bayu Laksana (Angga Yunanda), seorang pemuda asal Jakarta yang telah jatuh cinta dengan budaya sambetan Desa Latas. Ia terus berlatih memainkan slompret agar bisa menggerakan roh hewan dengan sempurna ketika menyambet para pelamun. Menghadapi situasi di desanya, ia merasa harus bisa menjadi perasuk utama dengan berkompetisi di ajang pemilihan dan meraih posisi pertama. Namun, Bayu juga memiliki masalahnya sendiri. Ayahnya ditawari oleh Wanaria untuk menggusur rumah milik mendiang neneknya demi uang sebanyak 250 juta. Ditambah, ayahnya juga dekat dengan seorang janda muda yang semakin membuat Bayu merasa geram. Ia berpikir bahwa jika ia harus kembali ke Jakarta, maka semuanya akan runyam. Hidup sumpek di tengah kota dan makan sulit. Lebih baik hidup bahagia berkecukupan di Latas.
Bayu juga jatuh cinta dengan Laksmi (Maudy Ayunda) yang baru aktif menjadi pelamun di sanggar sambetan. Mereka kerap berlatih bersama dan berbagi pengalaman menyakitkan di sela-sela sesi latihan. Namun, situasi semakin runyam dan merusak rasionalitas Bayu. Ayahnya yang semakin tergiur untuk pindah, sepupu-sepupunya di Jakarta merendahkan profesi perasuk, sahabat Bayu yang bernama Pawit (Chico Kurniawan) berhasil membuat hati Laksmi luluh, Ananto (Bryan Domani) yang semakin mengungguli Bayu, dan tentunya ancaman nyata Wanaria atas tanah desanya. Pikiran Bayu merusak tubuhnya sendiri dengan memforsir pencarian roh lintah yang tidak pernah bangkit sejak 20 tahun silam. Dengan berlaga seperti lintah, menggeliat di tanah dan menghisap darah hewan, Bayu merusak dirinya sendiri atas tekanan dan gagalnya harapan.
Semua itu berlalu ketika Bayu gagal meraih posisi pertama dalam ajang pemilihan perasuk utama. Dirinya semakin rusak dan fase ini membawanya menuju kejatuhan. Ditambah ayahnya telah memutuskan untuk menjual rumahnya dan yang tersisa kini hanyalah puing-puing bangunan. Satu hal yang menyadarkan Bayu dari kesalahannya justru adalah mereka yang selalu muncul dalam pikirannya. Pawit adalah sahabat terbaiknya, Laksmi adalah gadis yang ia kasihi, Ananto bukan saingan tapi alasan untuk berkembang, Guru Asri telah membimbingnya selama ini, dan ayahnya yang telah membesarkannya. Bayu sadar bahwa pikiran negatif yang membawanya kepada kejatuhan. Alih-alih membawa kebahagiaan dengan sambetan, roh lintahnya menyedot darah kebencian. Ini bukan sambetan, tapi eksploitas emosi.
Bayu menerima kesalahannya dan berserah diri. Ketika film mencapai klimaks dengan adegan licik security Wanaria yang memfitnah sanggar sambetan dengan menyusupi para pelamun dan membuat kegaduhan, Bayu dapat menanganinya dengan kepala dingin. Tujuan Wanaria jelas adalah mendiskreditkan sanggar sambetan yang terus vokal menentang eksploitasi alam. Namun, Bayu memimpin para perasuk untuk mengontrol roh hewan di tubuh para pelamun dengan menunjukkan kasih saying. Ketika mereka dipukuli oleh security, Bayu mengerahkan roh bulus agar para pelamun tidak kesakitan. Saat longgar, para pelamun diarahakan menjadi roh semut yang lincah. Dan terakhir, ketika security terkepung, alih-alih balas dendam dengan roh lintah, Bayu mengerahkan roh monyet yang memeluk para pemukul tersebut. Hal tersebut menandahkan kasih sayang. Film lalu berakhir dengan penerimaan diri Bayu yang berdamai dengan masa lalunya dan ayahnya di Jakarta.
Makna dan Teknis
Film ini dapat dipahami sebagai kritik sosial atas eksploitas lingkungan yang dilakukan oleh Perusahaan-perusahaan industri kapitalis. Nama Desa Latas saja mengingatkan saya atas Desa Wadas di Purworejo, Jawa Tengah yang dieksploitas demi tambang dan bendungan. Wanaria diposisikan sebagai antagonis yang merusak budaya dan lingkungan. Sementara itu, sanggar sambetan adalah protagonis yang melawan ketertindasan itu dengan kultur lokal. Konflik antar Latas dan Wanaria adalah cerminan realitas sosial yang patut diperhatikan oleh pemerintah Indonesia yang dipacu oleh Hasrat atas industrialisasi. Dalam film ini juga, sanggar sambetan dengan representasi Bayu di akhir babak menunjukkan bahwa mereka berbeda dari musuh mereka. Alih-alih membunuh dengan lintah, mereka memeluk dan memaafkan para security yang memukul dengan brutal ibarat saudara sendiri. Bayu yang mengorkestrasi klimaks tersebut telah mencapai tahapan trascendential atas penyerahan diri dari amarah duniawi.
Bayu sebagai karakter adalah sosok yang manusiawi. Ia jatuh cinta, berteman, dan mendendam. Lingkaran kisah hidupnya dalam film adalah wujud absurdisme. Hidup terkadang berada di atas, terkadang terjun bebas. Namun, manusia tetap harus bangkit dan membawa bola-bola mimpi kembali ke puncak gunung. Bayu benar-benar karakter yang rapuh. Character developmentnya yang membuat film ini menjadi sangat indah, di luar pacingnya yang tidak bikin ngantuk. Dari kisahnya, kita paham betul bahwa salah penafsiran sangat berujung fatal. Emosi dan pikiran juga tidak boleh sampai terbawa ego yang hanya akan membunuh diri sendiri. Rasa dendam atas masa lalunya hingga cemburu ketika Laksmi dekat dengan Pawit yang juga berkompetisi dengannya di ajang pemilihan perasuk utama, membuat Bayu hilang kendali. Sepupu-sepupunya di Jakarta yang telah menerima sekularisasi budaya menghina-hina profesinya sebagai perasuk yang semakin membuat Bayu emosi. Adegan ini juga menjadi cerminan dan kritik atas persepsi masyarakat sekuler/rasional yang merendahkan nilai budaya. Atas hal itu, Bayu mengincar roh lintah. Kini ia bertapa dengan menggeliat seperti lintah selama seminggu total. Hidup bagaikan lintah nyatanya adalah hama bagi sesama karena fungsi lintah sebagai hewan penyedot darah. Kebencian Bayu menjadikan lintah sebagai hewan perusak, padahal jika ia berpikiran jernih, lintah dapat menjadi sarana pengobatan yang menyembuhkan.
Dari sini kita belajar untuk tidak impulsif dan egois. Karena hal tersebut yang tidak hanya akan membunuh kita, tapi juga orang-orang yang kita sayangi. Laksmi hampir dirasuki roh lintah secara total dan merusak karena imbasnya. Tidak ada yang dapat disesali selain penerimaan. Ending film ini merubah Bayu yang awalnya seorang rapuh egois, menjadi pribadi yang berserah diri. Ia melihat segalanya dari berbagai sisi, bahkan kepada musuh-musuhnya. Bisa saja para security Wanaria hanyalah dituntut oleh atasannya dan memiliki keluarga yang menanti mereka? Bisa saja petinggi Wanaria di Latas hanya butuh validasi dari pekerjaannya yang sama-sama depresif? Maka mereka hanya butuh kasih sayang. Oleh karenanya Bayu menggunakan roh monyet kepada para pelamun dan memeluk para security yang memukuli mereka dengan brutal.

Dari segi visual, sinematografi selalu ditempatkan dengan posisinya. Adegan ketika Guru Asri menginterogasi Bayu dengan kamera slow zoom in dari wide ke close up, memperlihatkan ekspresi sang Guru yang sangat natural. Tentunya akting dari seluruh jajaran cast sangat mendukung visi film. Satu hal adegan yang paling saya suka adalah ketika masuk ke alam sambet, menjadikan sensasi film yang awalnya realis menjadi sureal. Visualisasi alam sambet yang megah dan dreamlike membawa kita pada kebingungan atas ruang yang dihadirkan. Tempat apa ini? Ini adalah tempat di mana para pelamun disambet dengan roh hewan dan merasakan kepuasan di alam sambet. Roh kupu membawa pelamun ke hadapan kebun bunga, roh kerbau membawakan sensasi kesegaran, hingga roh kutu yang membawa pelamun untuk terbang seperti bangsat di tengah hutan. Visualisasi itu megah sekali, meskipun secara CGI masih perlu banyak diperbaiki.
Secara audio, seluruh musik sambetan tidak ada yang gagal. Penuh keunikan dari satu theme roh hewan ke musik theme yang lain. Ditambah dengan teriakan para orkestra perasuk yang membawa sensasi merinding. Koreografi yang indah dan musik yang sesuai menjadikan sisi audio visual film ini tidak kalah hebat dengan film-film besar seperti Sore (2025) yang menang di bagian pencipta lagu terbaik. OST film ini yang berjudul Aku Yang Engkau Cari karya Maudy Ayunda sangat menyocokkan dengan adegan penerimaan Bayu di akhir babak ketiga.
Secara singkat, Para Perasuk memuat tayangan kritik sosial atas eksploitasi alam, kritik sekularisasi yang mereduksi peran budaya, hingga hidup Bahagia tanpa memikirkan kendali orang lain. Sisi audio dan visual yang sama megahnya juga didukung oleh kejeniusan akting para aktor dan aktris yang membuat film ini layak mendapat rating tinggi. Secara subjektif, film ini relate untuk saya meski berbeda subjek dari pengalaman Bayu. Karenanya saya menilai film ini jauh dari objektifitas dengan skor 10/10. Sungguh mahakarya dari sutradara underhyped, Wrgeas Bhanuteja.[]
