Menepis Diskriminasi Gender Kaum Hawa

Kaum hawa mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa menduduki posisi puncak dalam profesi apapun. Jangan batasi mimpi anda karena label peran domestik dan diskriminasi gender.

RA Kartini telah mencatat sejarah kaum wanita di Indonesia. Frame berpikirnya di masa silam mampu merubah peran domestik kaum hawa yang tadinya diidentikkan hanya sebatas mengurus rumah tangga, bergeser kesetaraan denga kaum hawa. Bayangkan bila tidak ada tokoh emansipasi itu, mungkin wanita tetap termaginalkan dengan mengusung label bahwa kodrat wanita hanya menyandang peran domestic semata.

RA Kartini yang dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, mampu merubah peradaban wanita setara dengan pria. Masalah gender yang kerap mendiskriditkan kedudukan wanita, kini telah terkubur. Wanita kini mempunyai kedudukan sejajar dengan pria. Dalam urusan pekerjaan, misalnya, mempunyai peluang yang sama untuk dapat berkontribusi di segala lini.

8 Perempuan hebat di jajaran pemerintahan (Foto: Majalah Kartini)

Kita dapat jumpai kedudukan wanita di segala bidang dan profesi. Di Kabinet Presiden Joko Widodo, misalnya, sedikitnya ada delapan menteri yang diduduki perempuan. Kedelapan menteri tersebut pertama, Retno Lestari Priansari Marsudi – Menteri Luar Negeri. Penunjukkan Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri hal yang menjadi sorotan, dikarenakan Retno merupakan Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia.

Kedua, Susi Pudjiastuti – Menteri Kelautan dan Perikanan. Ada berbagai hal yang membuat Susi Pudjiastuti ramai dibicarakan publik, salah satunya adalah fakta bahwa ia tidak lulus SMA. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menghalangi Susi untuk merintis usahanya dari bawah hingga menjadi sukses seperti sekarang. Sebelum menjabat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi merupakan Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product (eksportir hasil-hasil perikanan) dan PT ASI Pudjiastuti Aviation (maskapai penerbangan Susi Air).
Ketiga. Sri Mulyani Indrawati – Menteri Keuangan. wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010. Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. Begitu, dia berkantor di Kantor Bank Dunia, dia praktis meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan. Beliau dinobatkan sebagai Menkeu Terbaik di Asia Pasifik tiga kali berturut-turut sejak 2017, 2018 hingga tahun 2019 versi majalah keuangan FinanceAsia pada 2 April 2019.

Keempat, Siti Nurbaya Bakar – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sudah 30 tahun Siti Nurbaya malang melintang di jajaran pemerintahan. Siti Nubaya merupakan Ketua DPP Partai Nasional Demokrat dan ia juga aktif sebagai dosen di IPB dan pembina lembaga swadaya masyarakat.

Kelima, Puan Maharani – Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Nama Puan Maharani memang sudah sering kali terdengar. Ia terlahir dalam keluarga politisi mulai dari kakeknya, Soekarno proklamator Republik Indonesia, dan juga ibunya Megawati Soekarnoputri, Presiden RI kelima sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan.
Keenam, Nila F. Moeloek – Menteri Kesehatan. Nama Nila Moeloek memang tidak asing di dunia kesehatan. Pada kabinet Indonesia Bersatu II di bawah SBY, Nila nyaris menduduki jabatan menteri kesehatan, akan tetapi tanpa alasan yang jelas, ia batal dilantik meski sudah mengikuti proses seleksi. Nila yang juga merupakan istri dr. Farid Anfasa Moelok, Menteri Kesehatan di era presiden B.J. Habibie pada 1997 – 1999 dinilai sebagai sosok yang kaya akan pengalaman.

Ketuju, Yohana Susana Yambise – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. elain memiliki menteri luar negeri perempuan pertama, kabinet kerja Jokowi – JK ini juga mempunyai menteri wanita pertama yang berasal dari Papua.

Kedelapan, Rini Mariani Soemarno – Menteri Badan Usaha Milik Negara. Rini Soemarno, yang menjadi Kepala Staff Tim Transisi merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Wellesly College Massachusetts AS pada 1981. Pada awal karirnya, Rini sempat bekerja di Departemen Keuangan Amerika Serikat, setelah itu ia kembali ke Indonesia dan mulai meniti karir hingga berhasil menjadi presiden direktur di beberapa perusahaan besar diantaranya adalah PT. Astra Internasional dan PT. Kanzen Motor Indonesia. Rini juga memiliki pengalaman di dunia politik, ia pernah mepercaya menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004).

Bahkan, Indonesia pernah dipimpin oleh presiden pertama perempuan, Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004, yaitu Megawati Soekarnoputri. Sampai kini beliau sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Itu baru di sektor pemerintahan. Di sektor swasta pun keterlibatan perempuan dijumpai CEO-CEO tangguh perempuan. Sedikitnya ada enam pemimpin puncak dii BUMN. Pertama, terdapat nama Nicke Widyawati, sebagai Direktur Utama Pertamina (Persero). Kedua, Dwina Septiani Wijaya, Direktur Utama Peruri. Ketiga, Desi Arryani diangkat sebagai Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk. Keempat, Emma Sri Martini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Kelima, Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia . Keenam, Setia Milatia Moemin, Direktur Utama Perum Damri.

Peran perempuan dalam dunia kerja di tanah air kian mendapat perhatian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan telah mengalami perbaikan dalam 3 tahun terakhir.Pada 2015 misalnya, TPAK perempuan sebesar 48,87%, 50,77% di 2016 dan 50,89% pada 2017.
Angka itu merupakan persentase penduduk berusia lebih dari 15 tahun yang merupakan angkatan kerja. Artinya, jumlah perempuan yang memperoleh kesempatan kerja sudah sekitar separuh dari jumlah seluruh perempuan usia kerja yang ada di tanah air.Hal ini tak lepas dari komitmen pelaku usaha dalam negeri untuk meningkatkan peran perempuan di dunia kerja, sebagaimana dikutip dari detik.com.

Sementara pada Mei tahun lalu, PT Blue Bird (Persero) Tbk, meluncurkan buku berjudul “Kartini Blue Bird: The Spirit of Emak-Emak”. Peluncuran buku ini merupakan bagian program Blue Bird bernama Kartini Blue Bird (KBB) yang pada awalnya digagas oleh Noni Purnomo sebagai upaya untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan Indonesia, khususnya ibu-ibu rumah tangga dan para istri dari pengemudi Blue Bird.

Penulis buku “Kartini Blue Bird: The Spirit of Emak-Emak”, Maria Hartiningsih menceritakan tentang upaya, kerja keras dan perjuangan luar biasa yang dilakukan oleh kaum perempuan untuk meraih kesempatan, mendapatkan skill dan keahlian, hingga pada akhirnya dapat membantu perekonomian dan kesejahteraan keluarganya.
Gambaran ini menunjukkan betapa kaum hawa tak ingin eksistensi hanya menjalankan peran domestic (menguru rumah tangga-red) belaka. Spirit mereka membantu ekonomi keluarga telah mematahkan stigma hanya urusan domestik belaka. Mereka pun dengan sekuat tenaga ingin berkontribusi membantu keuangan keluarga.

Sementara organisasi global penyedia jasa audit, tax, dan advisory merilis hasil terbarunya berjudul “Women in Business”. Sampel survei dilakukan terhadap perusahaan publik maupun perseorangan berdasarkan wawancara atas 5,506 CEO, Managing Director, Chairman maupun Eksekutif Senior lainnya dari berbagai industry.

Hasilnya, lembaga yang telah beroperasi pada 136 negara tersebut, menemukan fakta bahwa persentase secara global posisi senior yang dipegang oleh wanita naik 1% dari tahun 2016 menjadi 25% di tahun ini dan terhitung naik 6% dibandingkan pertama kali dilaksanakan survei 13 tahun lalu, Namun persentase bisnis dengan tidak adanya wanita di posisi manajemen senior secara global juga naik dari 33% di 2016 menjadi 34% di 2017, sebagaimana dikutip dari swa.co.id.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengatakan hasil survey juga menunjukkan, jumlah pemimpin wanita Indonesia yang menakhkodai suatu perusahaan melonjak drastis. Dengan menempati urutan teratas di Asia Pasifik dan nomor 2 di seluruh dunia yaitu 46% wanita di Indonesia berhasil berada di pucuk senior kepemimpinan, naik dari angka 36% di tahun 2016.

Sayangnya, partisipasi perempuan dibidang e-commerce masih rendah. partisipasi peran perempuan sebagai pelaku e-commerce sebagai penjual terpantau paling rendah di antara negara anggota Asean. Menurut, Indah Mustikasari, Senior Content Marketer iPrice Group, partisipasi perempuan dalam dewan direksi perusahaan-perusahaan dagang-el RI baru mencapai 31%, lebih rendah dari Filipina (55%), Malaysia (42%), Thailand (40%), Vietnam (37%), dan Singapura (34%), sebagaimana dikutip dari grid.id.

Sebuah riset dari Peterson Institute pada 2016, memaparkan bahwa sebanyak 21.980 perusahaan di 91 negara mengemukakan bahwa peran pemimpin perempuan di manajemen perusahaan dagang-el dapat menghasilkan laba tahunan 2,7% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang dipimpin oleh pria.

Indah memaparkan di Indonesia hanya 21% perempuan yang menduduki posisi presiden direktur dalam manajemen perusahaan dagang-el, sedangkan di level direktur juga 21%, dan di level kepala divisi 36%.

Sementara itu, Deputi Eksekutif Direktur UN Women Lakshmi Puri menuturkan, sudah saatnya wanita melakukan perubahan. Semua tantangan yang ada bisa dilawan dengan membangun kapasitas dan kepercayaan diri.”Kita harus bangun kepercayaan diri dan kemampuan untuk bermimpi, untuk melakukan apapun. Itu adalah hal yang penting,” tuturnya, sebagaimana dikutip dari liputan6.com, pada Juli 2017 lalu.

Sebelumnya pendiri Alibaba Jack Ma membeberkan rahasia kesuksesan dirinya dan perusahaan adalah karena wanita. Saat ini, 47 persen karyawan Alibaba adalah wanita dan jumlahnya akan terus ditingkatkan. Bahkan jajaran pimpinan Alibaba Group, 34 persen merupakan wanita.”Saya berterima kasih untuk wanita yang bekerja di perusahaan kami. Saya pria beruntung yang sukses karena didukung oleh wanita. Itu rahasia perusahaan. Tak ada perusahaan yang berbagi rahasianya, tapi Alibaba mau,” tutur pria berharta Rp 555 triliun ini.[] Yuniman Taqwa