Wisata Pertambangan di Kota Tua Sawahlunto
Bila anda ke Padang Sumatera Barat, jangan lupa mengunjungi Sawahlunto. Kota kecil ini dikelilingi bukit dengan setting abad ke-18 peninggalan kolonial Belanda. Walau kota ini dulunya sebagai daerah pertambangan, tapi kini berubah menjadi wisata pertambangan yang patut dikunjungi.
Bila bicara paska tambang, imajinasi kita melayang pada lubang-lubang besar menganga yang digenangi air. Itulah potret yang terjadi di sebagian pertambangan Timah di Bangka Belitung, misalnya. Sebuah pemandangan gersang, dengan lubang ternganga, sehingga merusak ekosistem di sekitar lingkungan itu.
Tapi jangan bayangkan fenomena itu terdapat di Sawahlunto – sebuah kota kecil – di Sumatera Barat. Justru realitanya jauh bertolak belakang dibandingkan dengan daerah-daerah paska tambang lainnya di Indonesia. Padahal Sawahlunto pernah dieksploitasi besar-besaran terahdap sumber daya mineral (batubara) pada zaman kolonial Belanda.
Pertambangan barubara di situ telah tutup. Kejayaan pertambangan batubara tempo dulu, kini masih dapat disaksikan. Sitting kehidupan di wilayah pertambangan itu justru kini menjadi salah satu destinasi wisata yang patut dikunjungi. Ada beberapa situs pertambangan di Sawahlunto yang kaya akan memori masa silam.
Masih lekat dalam ingat sejarah ketika Willem Hendrik De Greve, seorang ahli geologi yang ditunjuk pemerintah Hindia Belanda untuk menyelidiki keberedaan batubara di Sawahlunto. Pada 1868, ia menemukan kandungan batubara di sungai Ombilin. Setelah diketahui kandungan sumber daya alam dan potensi ekonominya, pemerintah Hindia Belanda memutuskan melanjutkan eksplorasi. Saat bersamaan juga dimulai pembangunan infrastruktur tambang dan pendukungnya di Sawahlunto.

Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan pada 1883 hingga 1894. Aktivitas pertambangan sendiri dimulai sejak 1892 dengan produksi batubara sebanyak 48.000 ton. Eksploitasi batubara terus berlanjut hingga berakhir pada 2004. Di saat berakhirnya eksploitasi barubara tersebut, Sawahlunto tak berubah menjadi “kota mati”, tapi justru mempunyai daya tarik, yaitu wisata pertambangan.
Kota Sawahlunto terletak di lembah sungai Lunto. Kota kecil ini masih banyak ditemukan bangunan tua peninggalan Belanda beserta tata ruangnya. Pasar, Gereja St. Barbara, dan Gedung Societeit adalah sebagian dari bangunan tua yang masih lestari hingga kini. Dari sekian banyak bangunan peninggalan Belanda itu, yang khas di Sawahlunto adalah beberapa bangunan yang ada kaitannya dengan tambang batubara.
Sedikitnya ada tiga lokasi di Sawahlunto yang berhubungan dengan daerah penghasil batubara. Pertama, Lubang Tambang Mbah Soerono atau Lubang Suro. Lubang ini merupakan tambang batubara pertama di Sawahlunto, yaitu pada 1898. Nama lubang ini diambil dari nama seorang mandor pertambangan asal Jawa Mbah Suro yang mengomandoi para buruh paksa untuk pembukaan lubang tersebut.
Mbah Suro ditugaskan pemerintah Hindia Belanda pada awal abad 20 untuk mengawasi kegiatan pertambangan di bawah tanah (underground mine). Ada banyak versi cerita mengenai sosok mandor yang satu ini. Menurut cerita, Mbah Suro adalah seorang pekerja keras, tegas, dan taat beragama serta disegani karena dipercaya memiliki ilmu kebal. Versi lain menceritrakan bahwa Mbah Suro seorang mandor yang kejam, sering menyiksa anak buahnya menggunakan cambuk. Entah versi mana yang benar. Tapi Mbah Suro merupakan sosok berpengaruh dalam kegiatan pertambangan di sana, sehingga namanya diabadikan menjadi situs wisata ini.
Pembuatan terowongan ini mengerahkan pekerja paksa berasal dari berbagai penjara seperti Jawa, Sulawesi, Medan, dan Padang. Mereka di bawah ke Sawahlunto menggunakan kapal menuju pelabuhan Teluk Bayur. Dari sini dilanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju Sawahlunto. Jalur rel kereta dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur telah ada sejak 1894 yang digunakan untuk mengangkut hasil tambang batubara sekaligus alat transportasi. Sebagai fasilitas pendukung, stasiun kereta api Sawahlunto dengan fasilitas memadai baru dibangun pada 1918. Kini stasiun kereta api tersebut dijadikan sebagai museum kereta api.
Lubang Mbah Suro ini kabarnya sepanjang 1,5 kilometer. Lubang ini dulunya merupakan salah satu lokasi pertambangan batubara bawah tanah. Kita bisa mendapat informai lengkap sejarah lubang Mbah Soero ini dari pemandu yang akan menemani sepanjang perjalanan menyusuri terowongan. Meski suasana di dalam terowongan agak seram, jutru memancing adrenaline.
Di depan gerbang lubang masuk bisa dijumpai patung dua orang pekerja yang sedang mendorong sebuah kereta kecil berisi batubara dan satu orang mandor. Ketika kaki melangkah memasuki lubang, barisan anak tangga menggiring pengunjung turun menjelajahi bekas tambang batubara tersebut. Panjang lubang ini mencapai ratusan meter, dengan dua pintu angin. Sekitar 1923, lubang pertambangan batubara ini sempat ditutup karena besarnya rembesan air.
Sebelum masuk ke terowongan, pengunjung disarankan menggunakan perlengkapan keamanan seperti helm dan sepatu tambang tersedia di ruang khusus. Juga disediakan loker tempat menyimpan barang-barang pengunjung. Setelah perlengkapan dikenakan, seorang pemandu siap mengantar masuk ke terowongan tambang. Puluhan anak tangga mengantarkan pengunjung menuju ke dalam perut bumi. Lampu-lampu sudah dipasang untuk menerangi terowongan. Hanya sampai kedalaman sekitar 18 meter saja, karena di bawah lagi masih dipenuhi air.
Di lantai terowongan sudah penggunakan paving blok, sementara dinding berbentuk setengah lingkaran masih asli berupa batu bata dan sebagian dinding alami berupa lapisan batubara. Selang besar berdiameter 50 cm diletakkan di sepanjang terowongan untuk memasok udara segar ke dalam. Tak sampai satu kilometer, perjalanan mentok sampai ujung terowongan yang ditutup beton.

Sebenarnya di balik beton itu ada terowongan yang menghubungkan langsung menuju bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang kini berubah fungsi menjadi Masjid Agung Sawahlunto. Rencananya terowongan menuju masjid itu akan dibuka untuk memperkaya daya tarik wisata.
Masjid ini tergolong unik karena merupakan bekas bangunan PLTU. Bangunan ini dialihfungsikan menjadi masjid sejak tahun 1952. Bagian kubah merupakan bagian tambahan yang digunakan untuk menutupi cerobong asap.
Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi empat kubah dengan ukuran lebih kecil. Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar
Selain itu, di Sawahlunto pun dapat dijumpai museum kereta api. Rekam jejak museum ini menarik ditelusuri. Keberadaan stasiun Sawahlunto berkaitan erat dengan aktivitas penambangan batubara yang dilakukan secara besar–besaran oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Keberadaan satsiun kereta itu sebagai upaya memperlancar pengangkutan batubara. Pemerintah Kolonial Belanda membangun jalur kereta api sepanjang 150 kilometer dari Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) ke Sawahlunto dengan melintasi Lembah Anai dan menyusuri Danau Singkarak. Pembangunan jalur kereta ini dilakukan Sumatra Staats Spoorwegen atau perusahaan kereta api negara Sumatera mulai 1891 dan selesai seluruhnya pada 1894.
Sedangkan gedung stasiun kereta api Sawahlunto dibangun pada 1912 dan memulainya untuk kepentingan pengangkutan batubara. Lebih dari 100 tahun kereta pengangkut batubara ini mampu menarik 200 gerbong yang berisikan batubara kualitas terbaik pada jaman penjajahan Belanda.
Sayangnya awal 2000-an kemerosotan produksi batubara yang puncaknya pada 2003 sehingga pengangkutan batubara dengan kereta api dihentikan. Hingga saat ini stasiun hanya digunakan untuk melayani kereta wisata sewa dan reguler pada hari Minggu.

Di dalam museum dijumpai koleksi peralatan kereta api, beberapa rangkaian gerbong, atau miniatur lokomotif uap. Salah satu lokomotif uap terkenal yang disebut “Mak Itam”, sebuah lokomotif uap buatan Jerman yang digunakan 1963. Kini Mak Itam sudah tidak bisa digunakan lagi. Tapi, kita masih bisa naik kereta api reguler untuk napak tilas sekaligus menikmati keindahan bumi minang.
Di samping itu, kita dapat menyaksikan bangunan bersejarah yang tersebar di Kota Sawahlunto. Salah satu yang terkenal adalah Museum Goedang Ransoem. Museum ini menempati bekas area dapur umum para pekerja tambang dan telah didirikan sejak 1918. Meski sudah berumur satu abad, tapi bangunan ini tetap berdiri kokoh. Tempat ini sering dijadikan tempat berfoto (selfie) karena banyak spot-spot vintage unik yang sayang dilewatkan.
Dapur umum itu juga bertanggungjawab pada ketersediaan makanan pasien rumah sakit di Sawahlunto. Setiap harinya, dapur umum tersebut mampu menyediakan makanan untuk sekitar 6000 orang. Banyak orang dipekerjakan di dapur umum ini termasuk juga anak-anak.

Bangunan dapur umum itu terbilang luas dengan peralatan masak raksasa. Untuk mendukung proses penyediaan makanan, dapur umum ini dilengkapi dengan peralatan masak paling modern di masa itu. Bahkan di awal abad 20, perlengkapan dapur modern di Sawahlunto menjadi yang pertama ada di Indonesia.
Sawalunto merupakan kota tua yang sampai kita masih terjaga keasriannya. Di sini juga terdapat bangun hotel tua yaitu Hotel Ombilin. Sejak zaman penjajahan Belanda, hotel menjadi tempat menginap bagi para tamu-tamu terhormat dari Belanda. Bangunannya sangat unik dan menyisakan beberapa bagian yang masih asli.
Juga terdapat bangunan gereja tua yang masih terjaga keasliannya, sehingga membuat banyak wisatawan berhenti sejenak untuk sekedar berfoto. Gereja ini sudah ada sejak tahun 1920-an. Arsitektur bagian luarnya pun merupakan arsitektur gereja khas Belanda.
Walau jalan di Sawahlunto tidak terlalu lebar namun cukup mulus dan bersih. Jalanan berkelok-kelok membelah beberapa bangunan tua yang masih terpelihara rapi. Keasrian kota ini juga cukup terjaga. Bukit-bukit yang mengelilingi Sawahlunto ditumbuhi pepohonan hijau. Tulisan “Sawahlunto” di atas bukit menjadi landmark kota ini, bisa dilihat dari kejauhan.
Jarak dari Padang atau Bukittinggi Sawahlunto sekitar 100 km atau sekitar dua atau tiga jam perjalan darat. Tapi setibanya di Sawaluntoh – penat selama di perjalanan – akan terbayar semuanya. Sawahlunto, kota tua yang patu diperhitungkan dalam perjalanan destinasi wisata ke Sumatera Barat. [] Yuniman Taqwa
