Jejak Thomas Riska di Bisnis Pariwisata Lampung

Paska gagal dari pemilihan calon wakil gubernur , putera daerah ini berakrobatik kembali ke dunia bisnis dengan membangun cottage, resto dan kolam renang. Pun tak disangkanya bila suatu hari ia memiliki pulau yang kini menjadi icon wisata bahari di Provinsi Lampung.
Ingatan Hensilyana Berthy menerawang ke masa lalu! Di kisaran 2006, suaminya, Thomas Azis Riska bertekad maju dalam Pemilihan Wakil Gubernur Provinsi Lampung. Sebagai putera daerah, Thomas terpanggil untuk mengabdi pada kampung halamannya . Ia berbaur dengan masyarakat, blusukan menangkap aspirasi demi merumuskan kebijakan, bila ia terpilih kelak.
Thomas gagal meraih kursi orang nomor dua di Provinsi Lampung. Namun bukan Thomas bila tak punya energi untuk bangkit dari keterpurukan. Daya juangnya sebagai pebisnis dipertaruhkan untuk kembali membangun kerajaan bisnisnya. Ia pun kembali ke habitatnya menjadi kontraktor yang sudah puluhan tahun ditekuni sebelum terjun ke dunia politik.
Memang tak mudah untuk bangkit dari keterpurukan. Bahkan laki-laki kelahiran Tanjung Karang, 11 Januari 1972 ini paska kekalahannya dalam pilkada sempat mengalami kecelakaan yang membuat kakinya cidera.
Vakum beberapa saat karena ia benar-benar terpuruk. Thomas kembali merajut bisnis yang terberai. Ia kembali bangkit menyusun strategi kembali ke dunia bisnis.
Dari hasil proyek paska kebangkitan usahanya, ia mencoba peruntungan dengan membenahi Resto Bukit Mas , yang semula sebagai tempat mengumpulkan para pendukungnya kemudian pada tahun 2010 dikembangkan menjadi cottage, resto dan kolam renang.
Dulu di tahun 2010 itu sudah mulai masyarakat ber swafoto, dimana kala itu android belum begitu populer di tanah air, orang masih menggunakan Blackberry dan Iphone. Karena melihat anak-anak muda saat itu mulai asyik berswafoto, muncul ide dari Thomas untuk mengemas Bukit Mas menjadi salah satu objek swafoto kala itu.

Tak jauh dari Bukit Mas yang berlokasi di daerah Sukadana Ham, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Thomas kembali menemukan tempat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat wisata yang kemudian diberi nama Puncak Mas.
Jika Bukit Mas dikemas menjadi cottage, resto dan kolam renang, sedangkan Puncak Mas hadir dengan konsep wisata city view dan sea view. Persisnya Desember 2014 Thomas membangun tempat wisata yang berada pada ketinggian sekitar 3200 mdpl (meter di atas permukaan laut-red) ini.
Awalnya hanya membangun satu pondok dan satu rumah pohon. Lama-lama pengunjung semakin banyak, dibuatlah instagram sebagai salah satu cara mengakses social media (socmed). “Awalnya kita kasih gratis, lama-lama ticketing dengan harga Rp 20 ribu,”ujar Hensil sambil menambahkan, tahun 2016-2017 merupakan milestone dimana Puncak Mas terus membangun.

Dijelaskan Public Relation Puncak Mas, Rudy Sabli kepada pelakubisnis.com, sesuai dengan taglinenya, yakni “Puncak Mas, Surganya Selfie”, nilai jual tempat wisata yang satu ini memang menghadirkan pemandangan dengan konsep city view dan sea view dimana dari atas Puncak Mas, kita mendapat tiga view yakni laut, perbukitan dan perkotaan. “Owner ingin mewujudkan tempat wisata selain wisata bahari. Konsepnya wisata buatan, konsep city view dan sea view yang kami ambil untuk bisa melihat tiga view, laut, perbukitan dan kota Bandar Lampung,”terang mantan wartawan ini.
Ia mengulik sejarah sebelum adanya Puncak Mas. Dimana pada saat panen durian banyak orang yang berkunjung ke Bukit Mas menjadi tahu spot di tempat ini sangat bagus. Sebelumnya Sukadana Ham memang terkenal dengan daerah penghasil durian yang manis.
Selain melihat tren instagramebel karena dari tempat ini bisa menikmati tiga view sekaligus, difrensiasi Puncak Mas dengan yang lain menurut Rudy adalah kehadiran tempat wisata ini membawa imbas positif bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi petani durian. “Sejak adanya Puncak Mas, kalau dulu mereka harus ke pasar menjual duriannya tapi sekarang pembeli yang mencari mereka,”kata Rudy seraya mengungkapkan sebelumnya Puncak Mas merupakan lahan perkebunan durian.
Ia menambahkan, hingga saat ini area wisata Puncak Mas baru dibangun 2,5 hektar. Masih ada sekitar 3,5 hektar lagi untuk bisa dikembangkan. Yang menarik ditandai dari kehadiran tempat wisata ini adalah hampir 80% membuka jalan bagi masyarakat sekitar. “Kami juga melibatkan masyarakat sekitar untuk berjualan disini. Dari 12 tenant yang berjualan kuliner disini, sekitar 8 diantaranya merupakan masyarakat sekitar Puncak Mas. Dan kami berikan diskon besar untuk pembelian tiket khusus untuk warga sekitar Puncak Mas. Kami juga melakukan pelebaran jalan untuk memberi akses bagi masyarakat,”papar Rudy.
Meski konsep swafoto memiliki lifecycle yang boleh jadi sangat cepat dan sudah bisa diprediksi bila suatu hari orang akan bosan. Namun dari sisi marketing pihaknya akan terus berinovasi menghasilkan kreatifitas yang menarik perhatian pengunjung. “Kami selenggarakan event minimal setahun dua kali. Seperti yang belum lama ini ada Puncak Mas Mencari Bakat dan Puncak Mas Berwarna. Dan ternyata antusias pengunjung lumayan bagus,”terang Rudy yang kerap menyapa banyak pengunjung yang datang dengan menyamar sebagai pengunjung juga untuk mendapatkan masukan-masukan, kritik dan saran.
Sejatinya masih banyak peluang bisnis di sektor pariwisata Lampung. Selain dapat mengeksplor keindahan alamnya, kota Lampung juga terus berbenah melakukan akselerasi untuk sarana infrastrukturnya seperti hadirnya akses jalan tol yang menghubungkan Bakauheni hingga ke kota Palembang. Dimana nantinya fungsi tol itu akan dibangun-bangun feeder-feeder yang memungkinkan orang yang hendak jalan-jalan ke Palembang bisa singgah ke Lampung.
Tentu saja kondisi ini membawa angin segar bagi setiap pebisnis yang jeli melihat peluang. Tak terkecuali bagi Thomas. Pun ia melihat, saat ini wisata bahari masih menjadi favorit bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Namun, mengemas wisata buatan dengan kreatifitas yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang tren seperti berswafoto pun tak kalah seru.
Sekarang Puncak Mas jadi terkenal. “Kami buka sampai jam 9 malam. View di malam hari bagus sekali. Ada penginapan sekitar 9 kamar, hostel 4 kamar dan 6 unit cottage. Sejauh ini banyak tamu luar kota yang datang kemari,”tutur Hensil yang mengaku memang saat ini tingkat occupancy penginapan di Puncak Mas baru sekitar 30% terisi di hari-hari biasa, kecuali peak season seperti liburan akhir tahun kemarin yang ramai pengunjung.
Sedangkan jumlah pengunjung di momen liburan sekolah dan liburan akhir tahun seperti kemarin menurut Rudy bisa mencapai 1000 orang/hari. Sementara di hari-hari biasa paling tinggi 200 pengunjung per hari. “Kalau liburan panjang pengunjung Puncak Mas bisa naik 3 kali lipat,”timpal Hensil yang saat ini menjabat Branch Manager Bank Danamon Lampung.

Setahun mengelola Puncak Mas, Thomas membangun wisata bahari Pulau Tegal Mas yang belakangan ini banyak diulas para netizen di social media. “Ada temannya yang minta tolong dicarikan investor untuk membenahi Pulai Tegal yang lokasinya tak jauh dari Pahawang. Namun, karena tak kunjung ada investor yang mau, akhirnya Thomas memberanikan diri mengambil alih. Persisnya Desember 2018 Pulau Tegal Mas dibangun,”cerita Hensil.
Awalnya Thomas hanya mengambil alih lahan seluas 60 hektar namun kini telah memiliki 90 hektar dari total luas Pulau Tegal Mas yang mencapai 120 hektar.
Pulau Tegal Mas berlokasi di daerah Kabupaten Pesawaran, Lampung. Tepatnya berada di seberang Pantai Sari Ringgung yang berjarak sekitar 24 km dari Bandar Lampung. Untuk mencapainya kita bisa naik perahu kayu dengan lama perjalanan 20 sampai 30 menit, setengah dari perjalanan kita menyeberang ke Pahawang.
Dana puluhan millar rupiah pun digelontorkan dari pinjaman teman. Namun, seiring dengan waktu Pulau Tegal Mas kini semakin dikenal dan menjadi icon bagi Provinsi Lampung. Harga tiket masuk Pulau Tegal Mas yang semula Rp 25 ribu, naik menjadi Rp 50 ribu/orang. Diakui Hensil, untuk membangun infrastruktur Pulau Tegal Mas tidak gampang. Ada banyak biaya untuk mengurangi sampah. Belum lagi bicara sarana seperti listrik yang saat ini masih menggunakan genset yang pengeluarannya sebulan mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi kebutuhan untuk maintenance kapal.
Saat ini Thomas bekerjasama dengan nelayan-nelayan yang mengantar tamu ke Pulau Tegal Mas. “Ada sekitar 50-an kapal yang kerjasama dengan kami. Pulau Tegal Mas sedang menjadi icon Lampung saat ini. Kalau dulu orang hanya tahu Pahawang sebagai tempat wisata bawah laut. Tapi sekarang ada Tegal Mas, yang tak hanya menawarkan sensasi wisata bawah laut, tapi kami bangun cottage di atas lautnya,”papar S2 Manajemen Pemasaran, Universitas Bandar Lampung ini.
Ia menambahkan, sekarang sedang ramai-ramainya orang datang ke Tegal Mas. Dulu Pahawang, untuk wisata bawah laut tapi di Tegal Mas wisatawan tak hanya bisa menikmati wisata bawah laut, di atas lautnya juga di set up penginapan seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jadi untuk masyarakat yang tinggal di wilayah Jawa Barat dan Sumatera tak perlu jauh-jauh lagi ke Raja Empat atau Maldives sekalipun. Karena di Pulau Tegal Mas juga tersedia sekitar 28 unit penginapan dengan konsep wisma, cottage dan hostel .” Semua dilengkapi AC, TV, Sofa dan sebagainya,”jelas wanita asal Kalimantan Timur ini.
Berangkat dari modal dana yang minim Thomas membangun Pulau Tegal Mas yang sebelumnya sepi tak berpenghuni dan tak terurus. Namun ia melihat peluang yang besar dari posisi dan kondisi alam sekitar pulau tersebut. Tak jarang rombongan divers melakukan diving di sekitar Pulau Tegal Mas. “Sekarang tak ada lagi Pulau Tegal yang tak berpenghuni, dan banyak sampah. Dulu kalau ke Mutun, orang gak mau ke Pulau Tegal,”jelas Hensil.
Diakuinya, satu dua kali posting ke social media, nama pulau ini langsung dikenal masyarakat. Terlebih ketika Thomas berhasil menemukan ikan hiu tutul di perairan sekitar Pulau Tegal Mas yang langsung viral dan menjadi magnet bagi pulau ini bagi wisatawan. “Sekarang ini kebutuhan mendatangi tempat baru itu lebih besar dari keinginan berwisata biasa. Kalau dulu kita ingin berwisata ke suatu tempat yang sudah kita kenal untuk seru-seruan, tapi sekarang orang berlomba-lomba mencari tempat wisata baru. Mindsetnya berubah sekarang. Ekspektasi pengunjung sebelum datang tentu sangat besar. Mengantisipasi hal ini dibuat magnet nya yang sedang tren dan belum ada di tempat lain. Sekarang yang sedang tren kebutuhan berfoto, maka nilai jual utamanya adalah view,”tambah wanita kelahiran 1979 ini . []Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/Foto: pelakubisnis.com
