PT Sri Kandi Aquarium: Dari Banyuwangi sampai Pasar Global
PT Sri Kandi Aquarium (KSA) berhasil membudidaya koral hidup dengan membidik pasr ekspor. Kinerja ekspornya mampu menembus 20 negara dengan nilai mencapai US$ 450 ribu pada tahun 2025. Bagaimana perusahaan ini mampu menambus pasar Global?
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, bisnis budidaya koral hidup memiliki daya tarik kuat dan peluang besar untuk ekspor. Menurutnya, produk berbasis potensi kelautan dan perikanan Indonesia dapat terus dikembangkan untuk mendorong ekspor komoditas bernilai tambah dan berdaya saing. Ia mengajak pelaku usaha budidaya koral dan ikan hias untuk memanfaatkan program pengembangan ekspor dari Kementerian Perdagangan agar dapat memperkuat penetrasi ke pasar global.
Budi menilai, pengembangan koral hasil budidaya dapat berjalan seiring dengan penguatan komoditas ikan hias Indonesia. Keduanya memiliki pasar yang saling terkait, khususnya untuk memenuhi kebutuhan hobi akuarium di pasar global.
Sementara Indonesia memiliki potensi besar sebagai eksportir koral dunia. Pada Januari–Juni 2026, nilai ekspor koral Indonesia mencapai USD 8,8 juta, meningkat 2,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 8,5 juta. Kinerja ini menunjukkan ekspor koral Indonesia berpeluang untuk dikembangkan.
Bahkan, Indonesia menempati posisi kedua eksportir koral dunia pada 2025 dengan pangsa 12,68 persen setelah Jepang sebesar 20,92 persen. Nilai ekspor produk koral Indonesia pada periode tersebut mencapai USD 18,12 juta dengan total volume ekspor sebesar 9,55 ton.
Adapun pasar utama ekspor koral Indonesia pada 2025 adalah Tiongkok dengan nilai USD 4,63 juta atau 25,57 persen dari total ekspor koral Indonesia. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 4,59 juta atau 25,37 persen. Selanjutnya, Vietnam sebesar USD 1,78 juta, Jerman USD 863 ribu, dan Inggris USD 846 ribu.

Salah satu pelaku usaha yang konsisten mengembangkan komoditas tersebut adalah PT Sri Kandi Aquarium (SKA), di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Pada 28 Agustus lalu, Mendag Budi melepas ekspor koral hidup KSA senilai USD 2.500 atau sekitar Rp41 juta ke Amerika Serikat (AS).
Sebagai komoditas hidup yang sangat sensitif, ratusan koral hasil budidaya ini harus melewati pengawasan ketat oleh Satuan Pelayanan Ketapang Banyuwangi sebelum diterbangkan ke Negeri Paman Sam. Langkah ini merujuk pada regulasi Undang-Undang No. 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
Selama tahun 2025, misalnya, SKA mencatatkan kinerja ekspor senilai USD 450 ribu atau setara Rp7,8 miliar. Tujuan ekspor terbesarnya adalah AS serta beberapa negara di kawasan Uni Eropa dan Asia. SKA secara rutin mengekspor sekitar 6–15 kali dalam sebulan berdasarkan permintaan.
SKA tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN). Budidaya dilakukan secara in situ di perairan Selat Bali yang memiliki arus kuat, kedalaman, dan topografi terumbu yang sesuai untuk pertumbuhan koral hias.
Hingga saat ini, SKA berhasil mengembangkan 29 jenis koral, Sementara kapasitas produksinya mencapai sekitar 80 ribu koloni atau biji koral dalam setahun. Di antara jenis koral yang dibudidayakan adalah Acropora, Euphyllia, Alveopora, dan Montipora yang telah diekspor ke berbagai negara. “Kami mulai ekspor sejak tahun 2011. Sampai sekarang sudah sekitar 20 negara yang menjadi tujuan ekspor,” kata pemilik SKA, I Ketut Sukandi, pada 28/8/2026.
Seluruh produksi tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Perusahaan belum melayani penjualan koral hidup untuk pasar domestik karena permintaan dari luar negeri masih cukup tinggi.
“Penanaman kita lakukan di laut. Untuk kebutuhan ekspor, biasanya kita panen antara usia 3 bulan hingga 2 tahun, sesuai permintaan pasar,” ujar I Ketut Sukandi, pemilik Sri Kandi Aquarium, pada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi tempat budidaya Sri Kandi Aquarium, di Kecamatan Kalipuro, sebagaimana banyuwangikab.go.id yang posting 24/2/2026..
Sebelum diekspor, koral-koral yang telah dipanen, didisplay dan disiapkan di dalam akuarium. Di tempat ini terdapat 20 akuarium air laut yang masing-masing menampung 200 koral siap ekspor. Tiap akuarium dilengkapi dengan sistem sirkulasi air dan sinar Ultra Violet (UV) yang memadai.
Ketut menambahkan, usahanya telah mendapat izin dari kementerian untuk ekspor sejak 2011. “Permintaan terus bertambah. Saat ini pasar terbesar kami adalah China, Amerika Serikat dan Eropa,” ungkap Ketut seraya menambahkan, dalam satu kali ekspor, mampu mengirim 200 hingga 1.200 pieces koral dengan nilai sekirar US$ 6000.
Kendati peluang pasar menjanjikan, budidaya koral bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kondisi gelombang laut yang cukup besar pada periode tertentu. Ketut mencontohkan kondisi laut pada Agustus. Gelombang yang besar membuat meja-meja budidaya di laut harus diperkuat agar tidak bergeser atau bahkan terbalik, sebagaimana dikutip dari timesindonesia.co.id yang posting pada 28/8/2026.
Ketutu berharap semakin banyak masyarakat Banyuwangi yang tertarik mengembangkan budi daya koral. Saat ini, jumlah pelaku usaha koral di Banyuwangi masih relatif terbatas, yakni sekitar 10 pembudidaya, sementara di seluruh Indonesia hanya sekitar 100 pemain.

“Produk koral budidaya memiliki potensi pasar yang baik, termasuk di pasar global. Kementerian Perdagangan dapat memberikan pendampingan khusus untuk produk kelautan seperti koral agar nilai jualnya lebih bagus dan produknya lebih menarik. Pendampingan ini adalah bagian dari upaya kami meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujar Budi.
Ketut mengungkapkan, proses ekspor selama ini telah berjalan dengan baik. Ia berharap, integrasi perizinan antarkementerian dapat terus diperkuat dan diterapkan otomatisasi sehingga administrasi ekspor bisa lebih cepat dan efisien.
“Secara umum, proses ekspor sudah berjalan baik. Kami berharap perizinan antarkementerian dapat semakin terintegrasi secara otomatis. Dengan begitu, kami tidak perlu lagi mengajukan dokumen secara manual sehingga ekspor dapat lebih cepat dan efisien,” ujar Ketut.
“Produk koral budidaya memiliki potensi pasar yang baik, termasuk di pasar global. Kementerian Perdagangan dapat memberikan pendampingan khusus untuk produk kelautan seperti koral agar nilai jualnya lebih bagus dan produknya lebih menarik. Pendampingan ini adalah bagian dari upaya kami meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujar Budi.
Budi menjelaskan, untuk memperluas pasar ekspor, Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan (perwadag) di 33 negara yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Para perwadag bertugas mempromosikan produk Indonesia dan mencari buyer potensial di negara tujuan ekspor.
Melalui perwadag, para pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitasi penjajakan kerja sama bisnis (business matching) untuk bertemu calon buyer dari luar negeri. Pelaku usaha tidak harus datang langsung ke negara tujuan karena penjajakan dapat dilakukan secara daring.
Sementara kiat sukses bisnis budidaya koral hidup harus yang dibesut Ketut, berfokus pada keberlanjutan lingkungan, penguatan teknis lapangan, dan pemahaman pasar global. Seluruh koral yang diekspor adalah hasil transplantasi/budidaya sendiri di laut (Desa Bulusan, Kalipuro, Banyuwangi), bukan merusak ekosistem alam. Hal ini menjaga kepercayaan pasar internasional yang sangat ketat terhadap isu lingkungan.[] Yuniman Taqwa
