GoodThings, Usung Konsep Gotong Royong Lewat Fesyen dan Wastra Nusantara
Usaha fesyen Novita Emilia menunjukkan bagaimana kreativitas dan kemampuan membaca peluang dapat membawa usaha kecil berkembang lebih maju. Tak pelak, milestone bisnis garmen yang dijalani puluhan tahun rontok dalam sekejab karena pandemi, namun ia bangkit lagi dan melahirkan brand fesyen lokal GoodThings yang mengusung konsep mindful and sustainable fashion.

Berawal dari produksi pakaian, pemilik usaha ini terus melakukan inovasi hingga melahirkan produk dengan karakter yang kuat dan mengangkat konsep semangat gotong royong. Usaha tersebut dirintis Novita Emilia Bersama suaminya, Kevin sejak 2024. Sang suami memiliki keahlian sebagai pattern maker, sementara produksi didukung oleh tenaga penjahit dan mesin jahit yang telah mereka miliki. Keterampilan yang ada kemudian dikembangkan menjadi modal untuk memperluas usaha di bidang fesyen. “Dulu kami memiliki 2 tempat dengan total karyawan 70 orang,”jelas Novita Emilia, Owner brand fesyen Goodthings kepada pelakubisnis.com di booth Paviliun Yayasan Astra di event GIIAS Agustus 2026.
Sebelum pandemi Covid-19, usaha konveksi Novita sempat berkembang cukup besar. Produksi dilakukan di dua tempat dengan jumlah karyawan mencapai sekitar 60 hingga 70 orang. Mereka menangani berbagai proses, mulai dari menjahit, memotong bahan, finishing, cutting hingga packing.
Namun, pandemi Covid-19 membuat aktivitas produksi terhenti. Kebijakan PPKM menyebabkan kegiatan usaha praktis berhenti dan tidak ada lagi pemasukan. Kondisi tersebut memaksa pasangan ini memutar otak untuk mencari cara agar usaha tetap bertahan. “Pas Covid, semua produksi berhenti karena kan PPKM itu. Jadi kita semua berhenti.”kenang Novita.
Di tengah situasi sulit itu, mereka melihat bahan yang masih tersedia sebagai modal yang bisa dimanfaatkan. Ketika masker menjadi barang yang banyak dibutuhkan masyarakat, mereka pun mencoba memproduksi masker.
Produk masker kemudian dipasarkan melalui media sosial dan jaringan reseller. Upaya tersebut sempat memberikan jalan keluar bagi usaha mereka. Namun, masuknya masker impor dengan harga murah membuat produksi masker akhirnya tidak lagi menarik secara bisnis.
Tak berhenti di sana, ia kembali mencari produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat pandemi. Kali ini pilihannya adalah celana pendek yang banyak digunakan masyarakat karena sebagian besar aktivitas dilakukan dari rumah. “Ya kami buat celana hawai gitu, celana kolor yang pakai karet. Ternyata produksi kita dipesan sama pedagang Pasar Tanah Abang,”cerita Novita.
Produk tersebut ternyata mendapat respons positif. Melalui jaringan pedagang dan reseller, produksi celana pendek mampu mencapai jumlah puluhan ribu hingga ratusan ribu pieces. Keberhasilan ini kembali memberikan napas bagi usaha yang sebelumnya terdampak pandemi.
Setelah peluang tersebut berakhir, pasangan ini kembali melakukan inovasi. Mereka kemudian mencoba membuat brand sendiri yang memproduksi pakaian sehari-hari untuk perempuan dengan menggunakan bahan rayon.
Produk baru tersebut ternyata mendapat respons positif dari salah satu department store besar di Indonesia yang memiliki hampir 100 cabang. Produk mereka dipesan dan bahkan mengalami pemesanan ulang berkali-kali.
Kerja sama tersebut kemudian berkembang menjadi private label. Department store tersebut meminta agar merek tertentu dibuat secara eksklusif untuk mereka dan tidak dijual ke department store lain.
Di sisi lain, mereka tetap memiliki jaringan reseller yang ingin memasarkan produknya. Agar tidak menimbulkan persaingan dengan reseller, mereka membuat label lain dengan produk yang sama tetapi menggunakan nama berbeda.
Mereka juga memilih untuk tidak menjual produk melalui kanal online dengan merek yang digunakan reseller. Keputusan itu diambil untuk menjaga hubungan dengan para reseller yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha mereka.

Untuk penjualan langsung, mereka kemudian mengembangkan merek GoodThings yang konsepnya, menggabungkan keindahan motif batik tradisional dan kain lurik menjadi pakaian bergaya etnik modern namun casual, elegan dan nyaman dipakai. Merek tersebut dijual sendiri dan tidak menggunakan jaringan reseller. Merek-merek yang dimiliki juga telah dipatenkan.
Perjalanan usaha kemudian memasuki babak baru ketika mereka menjadi binaan Astra. Mereka mendapat kesempatan mengikuti pameran dan pelatihan fesyen bersama salah satu sekolah fesyen ternama di Jakarta. “Tahun ini kita jadi binaannya Astra. Lalu kita ikut diajak pameran sama Astra. Terus kita diajak pelatihan fesyen dengan sekolah fesyen di Jakarta yang terkenal. Lalu, setelah kedongkrak kemarin kita sukses di acaranya Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), kita digandeng lagi sama Yayasan Astra yang lain. Kan Astra yayasannya banyak tuh. Ada Yayasan Astra Pendidikan juga kan. Yayasan Astra Pendidikan menggandeng kita GoodThings untuk membuat produk turunan dari produk mereka,”ungkap Novita.
Setelah mengikuti kegiatan yang digelar Astra, usaha mereka kembali mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan yayasan lain di lingkungan Astra. Salah satunya adalah Yayasan Astra Pendidikan yang menggandeng Goodthings untuk mengembangkan produk turunan dari hasil pendidikan masyarakat di daerah pedalaman.
Bahan-bahan yang dihasilkan melalui kegiatan pendidikan tersebut, seperti tenun dan batik, kemudian dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi. Proses produksinya dilakukan melalui kerja sama dengan GoodThings, khususnya dalam pengerjaan jahit dan pengembangan model.
Bagi GoodThings, kolaborasi tersebut sejalan dengan DNA usaha mereka, yakni gotong royong. Konsep tersebut tidak sekadar menjadi slogan, tetapi diterjemahkan ke dalam desain dan proses produksi pakaian. “DNA kita gotong royong. Kita meng-cover nama Indonesia. Indonesia dengan budaya gotong royongnya”, ujar ibu dua anak ini.
Semangat gotong royong juga terlihat dari keberanian mereka memadukan sejumlah motif dalam satu busana. Beberapa motif berbeda dapat ditempatkan dalam satu pakaian dengan warna yang tetap dibuat selaras.
Konsep tersebut sekaligus menggambarkan keberagaman Indonesia. Perbedaan motif yang disatukan dalam satu busana menjadi simbol bahwa berbagai unsur yang berbeda dapat bekerja bersama dan menghasilkan sesuatu yang harmonis.
Dalam pemilihan material, GoodThings menggunakan batik dan bahan katun, namun tetap terbuka terhadap penggunaan bahan lain yang nyaman. Perpaduan antara satu bahan dengan bahan lainnya menjadi salah satu karakter produk mereka.
Keunikan desain dan permainan warna menjadi kekuatan lain yang ditawarkan. Setiap produk dibuat dengan perpaduan motif dan warna yang berbeda sehingga menghasilkan karakter jahitan yang tidak sama antara satu pakaian dengan pakaian lainnya.
Perkembangan usaha juga terlihat dari semakin luasnya peluang pemasaran. Produk mereka telah diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan dan mulai mendapat perhatian dari pasar ritel, termasuk peluang masuk ke Alun-alun Grand Indonesia serta kanal penjualan di bandara.
Untuk pasar Grand Indonesia, mereka bahkan diminta menyiapkan sampel untuk kategori teenager, yakni konsumen usia sekitar 8 hingga 16 tahun. Konsep warna dan koleksinya pun disesuaikan dengan karakter segmen tersebut.
Langkah GoodThings menembus pasar yang lebih luas juga terlihat ketika mereka mengikuti Trade Expo Indonesia 2025. Dalam ajang tersebut, mereka berkesempatan memperkenalkan produknya kepada Menteri Perdagangan, Budi Santoso serta Atase Perdagangan Afrika Selatan dan menitipkan sampel pakaian untuk dipromosikan di Lagos, Nigeria.
Novita juga mendapat masukan dari Menteri Perdagangan agar berani membuat gebrakan dengan memadukan gaya modern dan sentuhan Wastra Nusantara. Pertemuan tersebut menjadi pengalaman penting sekaligus memberikan semangat baru bagi GoodThings untuk terus berkembang.
Perjalanan GoodThings memperlihatkan bahwa UMKM dapat tumbuh melalui kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta keberanian menciptakan produk yang memiliki identitas. Dari bertahan menghadapi pandemi, membangun merek, menjalin kemitraan hingga membawa produk lokal menuju pasar yang lebih luas, semangat gotong royong menjadi benang merah yang terus dipertahankan.[]Siti Ruslina
