Menangkap Jejak Pembatalan Perjalanan Umrah

Akibat virus corona disinyalir perusahaan haji khusus dan umrah bakal terhenti. Bahkan sudah ada beberapa pemainnya yang mem-PHK karyawan. Bagaimana PT Kanomas Arci Wisata menyiasati kondisi ini agar bisnis tetap tumbuh?

Hingga saat ini Kementerian Agama masih menutup sementara pendaftaran umroh dari aplikasi SISKAPATUH (Sistem Komputerisasi Terpadu Umrah dan Haji Khusus) terkait dengan kebijakan otoritas Arab Saudi  yang tak juga mencabut penangguhan penerbitan visa umrah bagi warga negara Indonesia karena wabah pandemi yang merebak begitu cepat.

Dian A Rachmat, Dirut PT Kanomas Arci Wisata (kanan) bersama Kepala Cabang Kanomas Surabaya (Foto: Dok Kanomas)

Menyikapi hal ini Dian Aristia Rachmat Direktur Utama PT Kanomas Arci Wisata memberikan komentarnya tentang kondisi  terakhir perusahaan-perusahaan travel haji dan umrah paska merebaknya wabah Covid-19.  Menurutnya, boleh jadi semua travel,  khususnya penyelenggara  umrah  praktis terhenti. “Yang bisa kami lakukan saat ini adalah prepare untuk  rescheduling  yang tertunda keberangkatannya terhitung tanggal 27 Februari lalu sampai dengan bulan Syawal nanti. Praktisnya tertunda sekitar 4 bulan dari akhir Februari hingga sekitar Juni 2020,” kata Dian memulai percakapan.

Biasanya, lanjut Dian,  setelah  musim  haji  kegiatan penjualan sudah dimulai sejak 1 Muharram.  Kalau memang pada saat itu sudah dibuka kembali kegiatan umrah, maka pada saat itu pihaknya siap-siap mengurus  jamaah yang tertunda keberangkatannya. Pada periode ini,  travel-travel agent sudah mulai menawarkan paket umrah setelah tanggal 1 Muharam. Namun untuk tahun ini seperti Kanomas akan memprioritaskan keberangkatan jamaah yang tertunda keberangkatannya.

Pada 27 Pebruari lalu, Kanomas rencananya memberangkatkan 3 grup jamaah . Grup pertama berangkat pada pukul 11 siang dengan Saudia Airlines, grup kedua siap berangkat dengan Turkish Airlines pada pukul 20.00 WIB. Grup sebanyak 45 orang ini merupakan jamaah  untuk Paket Umrah Plus Turky. Lalu grup ketiga rencananya akan diikuti 37 jamaah berangkat  pukul 00:30 WIB dengan Etihad untuk perjalanan Umroh Plus Amman Aqsho.

“Di luar dugaan,  27 Februari 2020, pukul 6 pagi kami dapat info kalau Arab Saudi menolak jamaah umrah dari beberapa negara yang terpapar virus corona,  termasuk Indonesia.  Pada waktu itu, pukul 9 pagi jamaah sudah check in di airport, bagasi sudah masuk dan tim kami yang di airport sudah menyatakan situasi aman.   Sampai  jamaah boarding dan akhirnya  grup jamaah kami terbang pukul 11 siang dengan Saudia Airlines,”ungkap Dian

Dalam perjalanan siang itu, sempat tersiar kabar ada beberapa penerbangan yang harus kembali lagi. Bahkan ada airlines yang putar balik tanpa membawa penumpang.  Tapi Dian bersyukur, rombongan Kanomas saat itu masuk ke ruang karantina sekitar dua jam, lalu ke ruang imigrasi dan akhirnya bisa keluar dari airport dengan lancar.  Sedangkan penerbangan rombongan jamaah lain yang transit seperti yang menggunakan penerbangan Etihad dan Emirates,  ketika transit di bandara transit seperti  Abudhabi, Dubai, mereka  tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi melainkan dikembalikan pulang ke Jakarta.

“Alhamdulillah rombongan kami bisa menjalankan ibadah umrah secara normal.  Sempat mendapat kendala ketika perpindahan dari kota Mekkah ke Madinah karena ada pengecekan harus antri, pengecekan check suhu tubuh antri sampai 5 jam,”papar Dian menceritakan pengalaman timnya di hari terakhir keberangkatan rombongan umrah   akhir Februari lalu.

Sementara, lanjutnya,  jamaah yang siap berangkat pukul 8 malam dan pukul 00.30 dini hari pada jam 1 siang sudah berkumpul di SwissBell  Airport Hotel. Namun  pada pukul 4 sore pihaknya mendapat kabar bahwa penerbangan Turkish Airlines dan Etihad  mulai sore itu menolak  semua jamaah umrah.

“Kami langsung dengan memberi opsi ingin melakukan refund atau rescheduling atau mengambil paket tour tanpa umrah dan mengembalikan sisa uang jamaah. Ternyata semua jamaah  hingga hari ini (24/3) memilih  rescheduling,”ungkap Dian yang sempat menawarkan kepada jamaah yang mengambil paket Umrah Plus Aqsho untuk mengambil perjalanan tour ke Amman Aqsho saja saat itu  tanpa umrah, namun tak satu pun jamaah yang mau dan memilih rescheduling  keberangkatannya.

Sekedar informasi,  Kanomas mempunyai standar operating procedure (SOP) dalam bagian itenary (agenda) perjalanan umrah setiap  jamaah yang akan berangkat tidak langsung dikumpulkan di airport, tapi  terlebih dulu transit di SwissBell Hotel dekat airport untuk kenyamanan jamaah sebelum keberangkatannya.  “Di hotel itu kami briefing perjalanan, ada manasik juga, makan siang dan dapat melakukan kegiatan sholat lebih nyaman,”ujar Dian.

Dian melanjutkan, sekitar 90% dari total jamaah yang tertunda keberangkatannya itu tidak mau refund. Mereka memilih  rescheduling.   Mereka berharap  ketika  Arab Saudi membuka kembali keran kegiatan umrah, pada saat itu para jamaah bisa melaksanakan ibadah umrahnya.  Ada juga yang beralasan, daripada uangnya terpakai untuk pengeluaran yang lain, lebih baik mereka memilih reschedule.

Ia menyebut total jamaah yang tertunda keberangkatannya mencapai kurang lebih 5000 orang dan sudah terlanjur dibayarkan ke pihak vendor-vendor di Arab Saudi.  “Setidaknya tanggungjawab kami ketika rescheduling tidak terlalu besar,”tambahnya.

Total jumlah jamaah tersebut terdiri dari sekitar 3000  jamaah yang dikelola Kanomas langsung dari segmen B2C –business to customer. Sedangkan selebihnya sekitar 2000 orang merupakan jamaah yang dikelola mitra agent dari segmen B2B (business to business). “Tiket, hotel, visa dan handling bandara kami yang kerjakan. Selebihnya untuk kegiatan selama di  Arab Saudi  biasanya mereka sudah punya tim di sana,”ungkap mantan professional Qatar Airways ini.

“Mungkin akan memakan waktu 2 bulan untuk prepare jamaah yang rescheduling, baru setelah itu kami mulai berjualan sekitar awal September.  Bila ada kegiatan haji bisa dijalankan tahun ini, berarti sekitar Muharam kami akan prioritasnya yang tertunda keberangkatannya. ,”jelasnya.

Berapa besar kerugian  Kanomas akibat  ditolaknya jamaah umrah di Indonesia oleh Kerajaan Arab Saudi? Dian menjawab, belum bisa mengkalkulasi detilnya. Yang jelas, pihaknya berharap, tiket penerbangan yang sudah dibeli tidak hangus dan bisa reschedule ke vendor-vendor seperti hotel dan transport dalam kota di Arab Saudi. “Saya dengar kabar, visa yang sudah expired nanti bisa di apply ulang dan tanpa dikenakan biaya lagi. Lumayan kalau bayar lagi sekarang biaya visa umrah US$ 250. Tapi memang belum ada statement dari pihak Kedutaan Arab Saudi atau pihak  muassasah yang bicara sebagai pihak sponsor Harusnya sih gratis karena belum digunakan,” terang Dian.

Langkah strategis apa yang harus diambil pemerintah dan pelaku usaha untuk menghadapi kondisi demikian?  “Mungkin pertama bisa membantu pengurangan pajak. Dengan tidak beroperasinya perusahaan travel penyelenggara umrah, secara otomatis tidak ada pemasukan sama sekali. Sedangkan perusahaan tetap harus menggaji karyawan,”jawabnya seraya menyebutkan, sudah banyak perusahaan travel yang mengambil tindakan merumahkan karyawan tanpa digaji atau paling tidak gaji tidak full sebulan. Dian berharap tak sampai mem-PHK 140-an karyawannya yang tersebar di  3  kantor Kanomas dan pihaknya hingga saat ini masih membayar full gaji karyawannya.

Bila pada stimulus fiscal dari pemerintah dengan memberikan insentif tahap pertama yang lebih menekankan dampak di sektor pariwisata dengan mengurangi diskon tarif pesawat dan sebagainya.  Hal ini menurut Dian tak akan berpengaruh bagi bisnisnya karena stimulus tersebut hanya diperuntukkan bagi perjalanan domestic, sementara Kanomas tidak punya banyak paket inbound saat ini, ditambah lagi situasinya saat ini tidaklah pas karena ada kebijakan Social Distancing.

Kalaupun ada yang bisa dilakukan pemerintah, hal yang memungkinkan menurut Dian adalah pengurangan pajak untuk perusahaan dan kemudahan-kemudahan kepengurusan dokumen. Seperti saat ini ada  memoratorium perpanjangan ijin umrah sudah dibuka kembali. Contoh! Sekarang ini Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) harus menyertakan sertifikasi BPW  (Biro Perjalanan Wisata-red), harus masuk akreditasi dan sebagainya. “Mungkin itu yang menambah effort bagi perusahaan untuk masalah pengurusan perijinan. Mungkin nantinya bisa dibantu lebih mudah dan cepat. Saya juga belum bisa kasih statement apa-apa yang bisa kita minta ke pemerintah. Biar pihak asosiasi yang menentukan agar satu suara yang mewakili kami,”jelasnya.

Bagaimana dengan penyelenggaraan haji tahun ini? Dian berujar, ia mendengar kabar pihak Kementerian Haji Arab Saudi sudah melayangkan suratnya ke Kementerian Agama Indonesia untuk menunda pembayaran ke vendor-vendor seperti hotel, transportasi, catering, penyediaan tenda dan sebagainya. Ada beberapa pihak yang menyimpulkan kalau penyelenggaraan haji tahun ini ditunda atau ditiadakan. “Tapi kami sendiri belum  mendapatkan surat pemberitahuan tentang hal itu dari Kementerian Agama Indonesia maupun kepada Kementerian Haji Arab Saudi. Kondisinya saat ini juga serba salah karena bank juga tutup, dan kurs dollar juga naik tinggi. Kami berharap bisnis ini tetap berjalan dan calon jamaah haji juga sudah siap berangkat terakomodir kalau bisa berangkat tahun ini,” ujarnya.

Dalam hal ini Kanomas memiliki paket haji khusus dengan keberangkatan menunggu paling lama 6 tahun, Haji Furoddah dan Paket Haji Mujamalah. Tahun ini  untuk Paket Haji Khusus sebanyak 105 pax dan sekitar 250 pax terdaftar di Paket Haji Furodhah dan Paket Haji Muzamallah.

Saat ini justru karena kegiatan umrah tidak ada, maka untuk mengisi waktu Kanomas mem-push penjualannya dengan menawarkan Paket Haji Furodhah agar bisnis bisa jalan terus dan mulai menawarkan paket umrah di sekitar kuartal IV hingga awal tahun depan. “Itu sudah kami jual dari sekarang. Meski di kantor tidak ada aktifitas, namun para tim kami tetap berjualan meski online,” kata Dian.

Seberapa besar opportunity loss yang dialami Kanomas? Dian berkomentar,”Bila dihitung kasar, tahun lalu kami bisa produksi tiket sampai dengan 450 ribu tiket per tahun. Kemudian visa terjual sekitar 500 ribu dan yang full capacity untuk yang B2B dan B2C.  Tahun ini prediksi kami loss sampai dengan setengah tahun. Berarti setara dengan setengah omzet dari tahun lalu,” terang Dian mengunci percakapan  [] Siti Ruslina