Tahun 2025: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kisaran 5,2 Persen

Ekonomi Indonesia menurut survei Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) diperkirakan akan tetap tumbuh diangka 5,2 persen tahun 2025. Angka ini menempatkan Indonesia bertengger  nomor dua di antara negara anggota G20. Apakah prediksi ini sesuai harapan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?

Organisasi Kerja sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi global tetap stabil di angka 3,1% pada tahun 2024. Angka ini meningkat menjadi 3,2% pada tahun 2025. OECD memperkirakan daya tahan ekonomi global masih cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari aktivitas ekonomi yang masih cukup solid, inflasi yang terus menurun, dan kepercayaan sektor swasta mulai membaik. OECD memperkirakan inflasi menurun dari 6,9% pada 2023 menjadi 5 % pada 2024 dan 3,4% pada 2025.

“Ekonomi global telah menunjukkan ketahanan, inflasi telah menurun mendekati target bank sentral, dan risiko terhadap prospek semakin seimbang. Kami memperkirakan pertumbuhan global yang stabil pada 2024 dan 2025, meskipun tetap di bawah rata-rata jangka panjangnya,” ujar Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann.

Sementara Ekonomi Indonesia menurut survei OECD diperkirakan akan tetap tumbuh kuat sebesar 5,1% pada tahun 2024 dan 5,2% pada tahun 2025 atau nomor dua di antara negara anggota G20. Pertumbuhan Indonesia ditopang oleh konsumsi swasta yang tetap kuat, investasi swasta yang meningkat, dan ditambah volume ekspor yang naik akibat permintaan komoditas global yang tinggi.

Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2024 menyebutkan,   Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025-2029 akan stagnan di angka 5,1%.

Josua Pardede: proyeksi pertumbuhan ekonomi indonesia tahun 2025 sekitar 51,15 persen/foto; ist

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,15% pada tahun 2025. Pertumbuhan ekonomi tahun depan masih didorong dari konsumsi rumah tangga dan investasi. 

“Namun masih ada risiko dari eksternal seperti kebijakan proteksionis AS hingga volatilitas harga komoditas,” jelas Josua dalam acara Media Briefing Permata Bank Economi Outlook 2025 di Hotel St. Regis, pada 3/12/2024. 

Proyeksi optimis ini, kata Josua, memberikan dasar kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Selain itu juga memaksimalkan potensi konsumsi rumah tangga, memperkuat diversifikasi ekspor serta menarik investasi asing. 

Josua menambahkan, dibutuhkan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis guna menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. “Kami percaya bahwa memanfaatkan potensi domestik yang dimiliki Indonesia menjadi kunci dalam mengatasi tantangan perekonomian akibat dinamika ekonomi global,” ujarnya.

Josua menambahkan,  stabilitas ekonomi Indonesia dapat tercapai melalui kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan potensi domestik Indonesia untuk mengatasi tantangan yang muncul akibat dinamika ekonomi global. “Dukungan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global,” tambahnya.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meramalkan perekonomian Indonesia tahun 2025 belum banyak perubahan. Ekspektasi yang diinginkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sulit terealisasi. “Apindo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 belum akan mengalami lompatan jauh, dan akan tetap stagnan berada dalam rentang 4,90% hingga 5,20% (yoy),” ungkap Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani dalam konferensi pers di kantor Apindo, pada 19/12/2024.

Shinta Kamdani : perekonomian Indonesia tahun 2025 belum banyak perubahan/foto: ist

Shinta Kamdani mengatakan ketidakpastian global dan tantangan domestik menjadi faktor utama yang mempengaruhi proyeksi ini. Shinta menyoroti lima sektor utama yang akan mendominasi distribusi PDB tahun depan, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi.

“Paket kebijakan ekonomi maupun stimulus yang diberikan pemerintah ini harus pandai.  Dengan kata lain kita melihat secara menyeluruh, mungkin awal yang sudah dilakukan pemerintah ini sudah baik tapi kita perlu melihat dari scop yang lebih luas,” kata Shinta, baru-baru ini, sebagaimana dikutip dari metronews.com, pada 20/12/2024.

Josua  melihat bahwa tahun 2025 mendatang,  inflasi Indonesia diproyeksikan masih berada dalam target Bank Indonesia yaitu 3,12%. Meski demikian kenaikan PPN menjadi 12% serta pemberlakuan cukai plastik, rokok dan minuman manis  akan memberikan tekanan pada inflasi.

Dalam hal harga energi global telah menurun sejak puncaknya pada 2022. Sementara itu, harga komoditas utama Indonesia, seperti minyak mentah, batu bara, dan Crude Palm Oil (CPO), diperkirakan akan melanjutkan tren penurunan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan produksi minyak mentah, permintaan batu bara yang terbatas, dan normalisasi produksi CPO.

Dengan proyeksi ini, Permata Institute for Economic Research (PIER) memberikan pandangan yang hati-hati, namun optimis mengenai perekonomian global dan Indonesia pada 2025, sambil menekankan pentingnya kebijakan domestik yang tepat guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Berdasarkan Economic Outlook 2025 oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI, Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dari 5,11% (y.o.y) di Triwulan-I 2024 ke 5,05% (y.o.y) di Triwulan-II 2024, didorong oleh pertumbuhan belanja Pemerintah yang melambat secara drastis walaupun ada faktor musiman.

Sedikitnya 11 dari 17 sektor perekonomian mengalami perlambatan pertumbuhan di Triwulan-II 2024 dibandingkan triwulan sebelumnya dan sebagian besar sektor yang mengalami peningkatan pertumbuhan lebih dipengaruhi oleh faktor musiman.

Hal ini berkontribusi terhadap 53% dari total aktivitas ekonomi, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,93% (y.o.y) di Triwulan-II 2024, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,91% (y.o.y), didorong oleh berbagai periode libur nasional.

Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan tumbuh 4,96% (rentang estimasi 4,94% – 4,98%) pada Triwulan-III 2024, 5,00% – 5,05% untuk FY2024, dan 5,0% – 5,1% untuk FY2025.

Ekonomi 2025 masih mengandalkan konsumsi domestik, diikuti dengan realisasi investasi, dan ekspor komoditas dengan dukungan hilirisasi yang semakin masif. Secara sektoral, porsi terbesar masih dipegang oleh industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi. “Masing-masing sektor tersebut diproyeksikan akan menguasai >10% porsi distribusi dalam PDB tahun depan,” kata Shinta. [] Yuniman Taqwa