MAK Tetap Ekspor di Tengah Pandemi
Kinerja PT Mega Andalan Kalasan (MAK) tak terganggu di tengah pandemi. Kegiatan ekspor Hospital Furniture tetap berjalan. Salah satu kunci sukses menembus pasar luar negeri adalah diterapkannya Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti SNI ISO 13485 tentang sistem manajemen mutu alat kesehatan yang mengacu ke standar internasional.
Meski di tengah Pandemi Covid-19, kinerja PT Mega Andalan Kalasan (MAK) yang bergerak di bidang hospital equipment meliputi berbagai macam bed series dan sebagainya tetap melakukan kegiatan ekspor. Menurut catatan Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Syarif Hidayat, menyampaikan melalui Bea Cukai Yogyakarta pihaknya melayani dokumen ekspor MAK pada 7/1 lalu. Sebanyak 88 box Hospital Furniture diekspor ke Melbourne, Australia dengan nilai devisanya mencapai US$ 45,504 atau sekitar Rp 640 juta.
Sementara 2 Juni tahun lalu, MAK dari Jalan Prambanan-Piyungan KM 5,5, Jawa Tengah melakukan ekspor yang dihadiri oleh Susanto Sudiro selaku Vice Presiden MAK, Joko Santoso selaku Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Yogyakarta, dan Yuna Pancawati selaku Kabid Perdagangan Luar Negeri beserta staf dari Disperindag DIY.
“Ekspor ini kami lakukan sekaligus untuk meningkatkan devisa negara serta menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar,” ungkap Susanto. Ia mengapresiasi kepada Bea Cukai atas fasilitas dari kawasan berikat yang telah memberi banyak manfaat kepada perusahaannya.
MAK telah berhasil menembus pasar ekspor di 40 negara, dengan pasar terbesar di Negeri Sakura Jepang. Kepala Kantor Bea Cukai Yogyakarta, Hengky Aritonang memaparkan, pada ekspor kali ini, MAK mengekspor 35 boks Hospital FurnitureTRG-26- ICA Metal Frame Set (ranjang pasien) dalam satu kontainer ukuran 20 feet ke Jepang. “Nilai ekspor komoditi kali ini mencapai US$ 6261,85,” ujarnya.
“Dengan tetap menjaga konsistensi ekspor dan memenuhi kebutuhan alkes di dalam negeri, semoga menjadi faktor pendorong bangkitnya perekonomian Indonesia. Bea Cukai Yogyakarta akan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi perusahaan yang berada di bawah pengawasan kami,” pungkas Hengky
MAK amerupakan salah satu perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat. Selain melakukan ekspor ke Australia, MAK juga mengirim produknya ke Jepang, Myanmar, Filipina, Perancis, dan negara-negara lain.
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S Achmad, yang melakukan kunjungan kerja ke MAK pada Agustus 2020. Dalam kunjungan tersebut, CEO MAK, Hendy Rianto, menyampaikan bahwa produk MAK tidak hanya dijual untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi sekitar 40% produksinya telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 40 negara.
Salah satu kunci sukses diterimanya produk MAK di pasar global adalah diterapkannya Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti SNI ISO 13485 tentang sistem manajemen mutu alat kesehatan yang mengacu ke standar internasional, sejak awal tahap desain hingga akhir dari proses manufaktur. Untuk menjaga kualitas produk, MAK memiliki fasilitas laboratorium pengujian yang telah dibuktikan kompetensinya melalui akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) berdasarkan SNI ISO/IEC 17025 dan produk-produknya telah tersertifikasi SNI.

Produk hospital equipment meliputi berbagai macam bed series produksi MAK diekspor ke-40 negara di dunia
Di sisi lain, Hendy Rianto mengatakan, sejak diumumkannya status pandemi Covid-19, produk MAK sebagai substitusi impor menjadi salah satu andalan untuk memenuhi kebutuhan tempat tidur rumah sakit yang mendadak dan dalam jumlah besar. Pada saat yang sama permintaan ekspor mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga MAK sama sekali tidak melakukan pemutusan hubungan kerja kepada satu orang karyawanpun. Semua karyawan tetap bekerja seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan yang digariskan oleh pemerintah.
Sementara kantor-kantor pelayanan Bea Cukai di beberapa daerah melancarkan program Customs Visit Customer (CVC) ke perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat, sebagai wadah untuk mengenali lebih jauh para pengguna jasa sekaligus wadah diskusi dan asistensi antara Bea Cukai dan pelaku industri.
CVC ke kawasan berikat juga dilaksanakan Kepala Kantor Bea Cukai Yogyakarta, Hengky Aritonang dengan mengunjungi MAK pada 17 Februari 2021. Rombongan Bea Cukai Yogyakarta disambut oleh CEO perusahaan, Buntoro Setio Mulyo.
Dalam kesempatan itu Buntoro menjelaskan perjalanan MAK yang dimulai dari bengkel menjadi perusahaan peralatan rumah sakit pada tahun 1988 sampai dengan saat ini. MAK tumbuh menjadi salah satu perusahaan manufaktur di bidang hospital equipment terbaik di Indonesia dan saat ini termasuk sepuluh perusahaan besar di dunia yang memiliki kapasitas produksi alat kesehatan yang cukup besar. MAK mampu menyisihkan produsen dalam negeri yang jumlahnya sekitar 193 perusahaan,” jelas Hengky mengutip kata-kata Buntoro.
Ia menambahkan, produk MAK sudah mendunia, diekspor ke Jepang dan bahkan ke beberapa high risk country, yaitu Tanzania, Sudan, dan Libya. MAK juga mendukung dalam penanggulangan pandemi Covid-19 dengan memperbanyak produksi yaitu mencapai 4000 bed/tempat tidur dalam setiap bulan sehingga dapat mencukupi kebutuhan tempat tidur rumah sakit di berbagai negara.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada MAK atas kerja sama yang terjalin selama ini. Atas kinerja dan kepatuhan yang baik, MAK sempat dinobatkan sebagai perusahaan pembayar pajak terbesar untuk Kabupaten Sleman pada tahun 2014 sampai dengan 2016 dengan menyetorkan pajak puluhan miliar rupiah ke kas negara,” lengkap Hengky.
Data pelakubisnis.com, yang disampaikan Export Marketing Manager MAK, E. Dwi Etnawati, pada Trade Expor Indonesia 2018, akhir Oktober 2018, ada beberapa pertimbangan, mengapa Jepang memilih MAK. Dulunya Jepang ber-partner bisnis dengan Taiwan, kemudian Malaysia. MAK bisa mengalihkan dari Malaysia ke Indonesia. Memang MAK agresif mengadakan pendekatan dengan buyer dari Jepang.
Selain itu, MAK menggunakan robot dan mesin-mesin yang canggih. “Kebetulan kita mempunyai engineering yang hebat, karena bisa mendesain secara customize,” tambahnya. Di mana presisi produk harus tetap. Kurang 1 mm saja akan jadi masalah. Buyer Jepang benar-benar customize.Tidak hanya itu, yang membuat MAK lebih kompetitif di pasar karena seluruh proses produksi dilakukan satu atap di pabriknya. Kandungan lokalnya sangat tinggi. Hanya ada satu komponen, yaitu motor penggerak yang diimpor dari Denmark. “Dengan proses produksi satu atap, membuat waktu produksi lebih cepat,” tambahnya. Itu membuat delivery MAK tepat waktu.
MAK ekspor ke Jepang, mau tidak mau harus mengikuti standar negeri Sakura tersebut. Bahkan, beberapa tahun yang lalu, MAK melakukan kerjasama memproduksi tempat tidur yang diperuntukkan para manula, bernama Tasomak. “Peresmian pabrik EOP, pihak Jepang datang, menyaksikan ekspor perdana produk baru tersebut,” tambahnya. Apalagi para manula di Jepang jumlahnya semakin meningkat. Ini membuat ekspor MAK optimis meningkat ke Jepang.
Kalau produk bisa masuk Jepang, jelas Dwi Etnawati, kualitasnya pasti bagus. Selain itu, service-nya harus cepat. Setiap ada komplain harus diselesaikan secara cepat. “Bahkan, handphone saya ini standby 24 jam untuk mengantisipasi bila ada komplain dari pihak buyer.
Kunci keberhasilan MAK dalam meningkatkan ekspor secara berkelanjutan tidak lepas dari upaya terus menerus dilakukan (continuous improvement) dalam meningkatkan nilai-nilai Quality, Cost dan Delivery (QCD) untuk menjamin kepuasan pelanggan. Kualitas yang sesuai harapan konsumen, harga yang kompetitif, dan pengiriman tepat waktu menjadi keunggulan utama yang dilakukan MAK. Untuk menjamin kualitas produk MAK melakukan uji produk di Laboratorium MAK yang telah disertifikasi oleh KAN serta menjaga GMP (Good Manufacturing Practice) dengan menerapkan Management Information System atau Industri 4.0 sejak 2013.
Perusahaan ini memproduksi alat-alat kesehatan, seperti beds, examination, operation, transfer solution, cabinet & locker, room accessories, trolley, dan waiting room. Sedikitnya ada 200 model/tipe produk-produk yang diproduksi MAK. Perusahaan ini awalnya sebagai perusahaan pembuat bemper truk. Sejak 1998 bertransformasi menjadi produsen peralatan rumah sakit.
Sejarah berdirinya MAK tak bisa dilepaskan dari sosok nyentrik bernama Buntoro. Ia merantau ke Jakarta dari Purbalingga, Jawa Tengah sejak SMA, lalu kuliah di Universitas Trisakti mengambil jurusan Tekno Elektro dengan baik, menunaikan skripsi, namun menolak ikut sidang. Saat itu ia percaya bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh gelar sarjana.
Setelah selesai kewajiban kuliah, pada 1984, Buntoro diajak kawan lamanya bergabung mendirikan usaha produksi bumper mobil. Buntoro dan lima kawan: Hendy Rianto, Budi Atmoko, Rianto, Panggih Suwito serta Haryono bergerak bersama dalam PT Mega Adi Karsa, yang kini bernama PT Mega Andalan Kalasan (MAK) dengan modal awal hasil saweran sebesar 80 juta. Hendy dan Rianto adalah teman sejak di Purbalingga. Sementara yang lainnya, adalah kawan Rianto sesama alumni Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo, sebagaimana dikutip dari http://itjen.kemenperin.go.id.
Pada 1988 pendiri MAK menyadari permasalahan bahwa Indonesia membutuhkan tempat tidur rumah sakit berkualitas tinggi, dengan harga yang lebih terjangkau, yang mampu menangani kondisi rumah sakit di Indonesia. Berbekal kompetensi di bidang teknologi mekanik, MAK hadir memberikan solusi kebutuhan tersebut.
Pada 1988, MAK mendapat pesanan sebanyak 50 tempat tidur senilai Rp50 juta dari Puskes ABRI untuk RS dr. Ramelan. Belakangan, Buntoro tahu bahwa Puskes ABRI membeli produk MAK diawali dengan rasa kasihan. Sempat terpukul, namun Buntoro berupaya agar proyek ini juga mengubah rasa iba menjadi bangga. Pada 1989 perlahan MAK bangkit dan mampu merestrukturisasi utang.
Ada cerita lucu pada masa-masa awal Buntoro membuat produk peralatan rumah sakit ini. MAK pada 1991 mendapat proyek dari RS Husada. Namun susah-susah gampang, ada pula isu bahwa RS Husada hendak memenuhi kebutuhan 20 tempat tidur ini melalui impor. Buntoro mengutus Surya, tenaga marketingnya untuk menawarkan harga setengah untuk kualitas yang sama. Syaratnya: MAK dibolehkan pinjam tempat tidur impor itu untuk dicontek.
Situasi saat itu, produk impor sebagai pilihan pihak rumah sakit begitu kuat. Buntoro tak hilang akal. Ia menghadap langsung pimpinan puncak rumah sakit kala itu, dr. Samsi Jacobalis, Sp.B. Dengan menggugah nasionalisme, MAK diberi kesempatan. Tibalah waktu yang dijanjikan. Walau sempat diwarnai drama pihak rumah sakit yang urung membeli produk MAK. Akhirnya tenaga marketing MAK berhasil mendapat kesempatan mempresentasikan produknya.
Sementara Dwi Etnawati menambahkan, MAK awalnya dari sebuah bengkel kecil yang menempati sebuah garasi, tapi kini MAK berkembang menjadi perusahaan peralatan rumah sakit seperti tempat tidur, lemari pasien, meja pasien, kursi roda, alat untuk memindahkan pasien, meja periksa, lemari obat, dan sebagainya. Boleh dibilang, MAK adalah one stop services untuk produk furnitur rumah sakit. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa



