Potret Bisnis Tas Khoirul Anam di Tengah Pandemi
Bisnis tas Khoirul Anam terjun bebas anjlok hingga ke titik nadir. Sebelum pandemic ia mampu meraup omzet Rp 400 – 500 juta per bulan. Tapi kini ia hanya mampu mencetak omzet paling besar Rp15 juta per bulan. Bagaimana ia mempertahankan usahanya?
Dari channel YouTube CV Larriz Collection’s, terlihat seorang pemuda dengan pakaian setelan jas tengah sibuk di suatu tempat konveksi tas. Tak lama ia menaiki tangga setinggi kurang lebih 4 meter sambil membawa dua tas koper besar berukuran 24 inci. Sesampainya di lantai atas ia langsung melempar dua tas koper tadi ke lantai bawah dengan lemparan yang cukup keras. Apa yang terjadi? Ternyata kondisi tas koper tersebut sampai ke roda-rodanya pun tidak rusak sama sekali. Tas koper yang ia lempar tadi tetap kuat dan kokoh.
Siapa gerangan pria berjas yang membawa koper itu? Ia adalah Khoirul Anam, pengusaha tas asal Bogor, Jawa Barat. Kondisi pandemic Covid-19 menyeret bisnis tasnya terpuruk hingga berkali-kali lipat. Biasanya per bulan ia mendapat order membuat puluhan ribu tas koper, karena memang segmen pasar terbesarnya adalah perusahaan travel perjalanan haji dan umroh. “Sekarang tidak ada keberangkatan haji dan umroh, otomatis usaha tas saya ikut terimbas. Untuk travel umrah saja biasanya 1 travel bisa pesan sampai 4 ribu koper per bulan,”ungkap Khoirul kepada pelakubisnis.com.
Diakuinya segmen pasar terbesar usahanya di bawah bendera CV Larriz Collection’s memang agen travel perjalanan umroh. Dulu hampir setiap bulan ia menerima order ribuan koper dan tas selempang untuk para jamaah umroh.
Melihat peluang besar di industri tas, di tahun 2009 ia mulai serius menekuni bisnis tas. Saat itu ia mulai menggenjot penetrasi pasar dan menawarkan ke perusahaan-perusahaan. Dan di tahun itu ia melihat potensi besar di pasar travel umroh. Maraknya bisnis travel umroh saat itu mendorongnya mengajukan penawaran ke banyak perusahaan travel perjalanan haji dan umroh.
Gayung bersambut, di tahun 2009 itu kali pertama ia mendapat order 500 set koper dari agen travel PT Hannien Tour. Dengan keterbatasan modal ia pun memberanikan diri meminta DP (down payment-red) hingga 80% dan komitmen itu disetujui pihak klien. Dari situ pertumbuhan bisnis tas Khoirul mulai melejit. Namun tak dipungkiri, sukses dan majunya usaha tasnya tak lepas dari segmen pasar terbesarnya di kalangan agen travel umroh.
Ramainya bisnis travel umroh ikut berdampak bagi bisnis tas Khoirul. Tak pelak, puluhan ribu tas koper dibuat. Diakuinya milestone terbaik dari pertumbuhan bisnisnya terjadi di tahun di kisaran 2009 hingga 2017. Dimana saat itu setidaknya ada sekitar 20 klien perusahaan travel perjalanan haji dan umroh yang menjadi kliennya. “Satu travel umroh bisa memesan 4 ribuan set. Dari ESQ Travel pernah pesan 2500 set, DAQU Travel milik KH Yusuf Mansur, AFI Tour milik artis Sahrul Gunawan, semua pesan ke saya. Volume koper bisa sampai puluhan ribuan pieces koper per bulan, tergantung kuota jamaah umrohnya,”terang pria asal Bogor ini.
Hingga di awal tahun 2019 ia mendapat tawaran dari Kementerian Agama (Kemenag-red) untuk memproduksi 500 ribu set koper untuk keberangkatan seluruh jamaah haji Indonesia tahun 2020. Namun untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Muncul pandemic covid-19 yang dalam sekejab melumpuhkan ekonomi dunia . Tak terkecuali bagi Indonesia yang per Maret 2020 harus menelan pahit tak dapat memberangkatkan jamaah baik keberangkatan haji dan umroh. “Rencananya tahun 2020 baru turun PO –pre order-. Karena nilai order yang sangat besar, ratusan milyar rupiah, pihak Departemen Agama minta kami buat badan usaha perseroan terbatas (PT). Lahirlah PT King Choir Indonesia (KCI) yang mengambil kata dari nama pemiliknya, Choirul menjadi King Choir (raja kebaikan-red) dari Indonesia. “Sementara waktu itu SPK Depag (Departemen Agama-red) belum turun, jadi belum sempat mencari dana investasi kemana-mana ,”ujar Choirul yang mengaku hanya berpendidikan sekolah dasar (SD) dan meneruskan pendidikan ke pondok pesantren di daerah Parung, Jawa Barat.
Semasa di pesantren bakat dagang mulai terasah. Di waktu senggang ia minta ijin dengan pengurus pesantren untuk pergi ke pasar karena kebetulan neneknya berdagang nasi uduk di pasar dekat pesantren. Sampai di pasar, selain bantu neneknya, ia berjualan kantong plastic sambil bekerja menjadi kuli panggul.
Lulus pesantren ia kerja di restoran-restoran dan foodcourt. Ia bersyukur meski tak mempunyai ijazah SMA, namun ia dimudahkan dalam mencari pekerjaan sampai ia dibawa atasannya bergabung di Restoran Papa Ron’s Pizza di daerah Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dari tahun 2007 hingga 2010 bekerja di restoran pizza ini ia banyak belajar tentang ilmu marketing bahkan ia bisa sambil bekerja paruh waktu di tempat lain. Pada masa-masa itu ia ‘nyambi’ bekerja di perusahaan advertising yang mempromosikan produk alat kesehatan. “Saya freelance di tempat lain. Cuma waktu itu sistemnya komisi. Kalau bisa menjual produk, saya baru dapat uang, kalau tidak terjual produknya ya tidak dapat apa-apa,”ujarnya yang sempat bergabung dengan PT Elite Advertising ini.
Di perusahaan advertising ini ia juga diajarkan cara menjual produk. Ilmu marketing yang ia peroleh kemudian ia terapkan di setiap peluang bisnis yang muncul di depan mata. Saat itu ia melihat peluang menjual produk jam tangan waterproof yang dibelinya di Proyek Pasar Senen Jaya, Jakarta Pusat. Kemudian ia tawarkan dari kantor ke kantor. Selain menyebarkan brosur, ia juga melakukan demo untuk membuktikan jam tangan yang dijualnya memang benar tahan air. Ia rendam Jam tangan itu dalam sebuah wadah untuk meyakinkan konsumen. “Saat itu saya dapat order dari klien sebanyak 200 pieces untuk merchandise mereka. Tahun berikutnya saya tawarkan jam tangan lagi ke kantornya. Tapi waktu itu mereka mau ganti merchandise nya dengan tas. Mereka tanya, bisa gak mas carikan merchandise tas?,”cerita Choirul ketika pertama kali terjun ke usaha produksi tas.
Peluang di depan mata tak mungkin juga ia tolak. Ia pun menyanggupi order tas jenis ransel yang diminta kliennya. Ia memutar otak bagaimana bisa mendapatkan tas untuk merchandise kantor tersebut. Ia pun bertemu dengan seorang teman yang bisa membuat tas. “ Tapi dia gak punya mesin. Akhirnya saya beli mesin 2 unit. Kami mulai memproduksi 200 tas untuk perusahaan klien itu,” jelas Choirul yang mulai memproduksi tas tahun 2008 dari rumahnya di wilayah Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat yang hingga kini menjadi sentra produksi tas-tasnya.
Diakui pria kelahiran 11 Desember 1985 ini, ia pribadi tidak bisa menjahit dan membuat pola tas. Namun karena terus belajar akhirnya ia bisa membuat pola tas. Dari 2009 sampai 2019 itu, ia memproduksi sendiri semua produknya. Dari dua mesin sampai bisa 82 mesin termasuk mesin-mesin bartek dan mesin jahit cangklong, dan lain-lain. Di awal ia hanya memiliki tenaga kerja sekitar 5 orang. Namun dalam perjalanan bisnisnya ia bisa merekrut lebih dari 100 orang. Hampir semuanya karyawan tetap. “Sekarang tinggal 6 sampai 7 orang. Ada yang dibayar bulanan, ada pula yang dibayar dengan cara borongan,”papar Khoirul yang mau tidak mau harus memangkas jumlah karyawannya karena berkurangnya order yang turun fantastis.
Sayangnya lagi hingga saat ini ia belum memiliki jaringan di kalangan UKM/UMKM. Diakuinya selama ini manajemen bisnisnya masih mengandalkan filosofi bekerja dan berdoa. Ia yakini, kemajuan usahanya tak lepas dari pertolongan Tuhan YME. “Saya meyakini semua karena doa dan berusaha. Kadang di luar logika kita yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Seperti ketika mendapat order koper 4 ribu set dari travel Ustadz Yusuf Mansur. Lagi-lagi saya dimudahkan dalam hal permodalan. Ada Kopindo (Koperasi Indonesia Berjamaah-red) yang bisa memberikan dana talangan. Mereka bilang, kamu pinjam disini saja tanpa harus kasih jaminan. Menurut saya, manusia itu tugasnya hanya ikhtiar, kalau masalah hasil Allah yang menentukan. Sejauh ini saya merasa semua atas ijin Allah. Bertemu dengan banyak jaringan bisnis itu pun terjadi karena Allah. Alhamdulillah sampai saat ini pinjam ke bank juga tidak,”ungkap mantan santri ini.
Makanya, kendati Indonesia tengah mengalami pandemic, namun sebagai pelaku bisnis, ia terus berusaha memaintain klien-klien lama dan tetap mengajukan proposal penawaran baik ke pihak ketiga maupun langsung ke klien. Ia juga cukup percaya diri menawarkan produk-produknya yang ia klaim dalam websitenya memiliki 5 keunggulan utama yakni, berkualitas, terpercaya, harga terjangkau, berpengalaman dan bisa ‘custom’. “Kami lihat produknya bagus. Kebetulan sedang mencari vendor untuk merchadise Telkom. Secara kebetulan dari website nya kami ketemu usaha Pak Khoirul. Setelah lihat hasil kerjanya memang bagus. Kami minta dibuatkan holder card id. Terbuat dari bahan kulit sapi, kalau di pasaran harganya Rp 1 jutaan, di tempat ini kami dapat harga ratusan ribu saja,”aku Safrizal dari PT Telkom Indonesia,Tbk Cabang Jakarta Utara, salah satu klien Khoirul yang dihubungi pelakubisnis.com lewat percakapan what’s app.
Diakui Khoirul saat ini kita harus mampu bertahan. Sepanjang 2 tahun ini ia memaksimalkan promosi lewat website PT King Choir Indonesia dan dari website ini pula sedikitnya ada pemasukan dari google ads. Kendati sudah memiliki website namun ia mengaku kurang paham dengan digital marketing yang boleh jadi merupakan kendala terbesar untuknya saat ini.
Ke depannya ia berharap, dalam situasi pandemic ini ia mampu membangun brand untuk mengisi pasar dalam negeri. []Siti Ruslina/Foto: KCI



