Merek-Merek Melesat di Tengah “Triple Disruption”

Sejumlah merek mampu melesat d tengah “triple disruption’ yang banyak menyalip perusahaan-perusahaan yang sebelumnya eksis di Indonesia. Apa siasat mereka?

Satu dekade terakhir ini terjadi “triple disruption” yaitu digital disruption, millennial disruption, dan pandemic disruption. Ketiga fenomena itu telah melakukan seleksi terhadap merek-merek lokal yang ada di pasar. Brand-brand yang dulunya berjaya di pasar, berlahan bergeser dengan munculnya brand-brand baru karena disruption tersebut..

Fenomena tiga disrupsi yang membilas merek-merek lokal ini  dibahas dalam ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2021 yang berlangsung pada 2-4 November 2021. Dalam ajang ini, sejumlah merek lokal yang melewati masa-masa pembilasan ini terpilih memaparkan kinerja merek berikut strategi bisnisnya masing-masing.

Dalam 5-6 tahun terakhir, tidak bisa dipungkiri jika sejumlah brand yang muncul di Tanah Air, kian populer, masif digunakan, bahkan cukup dominan di industrinya masing-masing adalah yang tergolong millennial brands. Artinya, tidak saja spesifik menyasar kalangan milenial tapi juga diciptakan kaum milenial.

Ciri khas dari para millennial brands ini adalah mereka merupakan startup yang didirikan serta berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Karakter lain yang menarik adalah mereka sukses karena berhasil melakukan “riding the disruption wave” (berselancar di atas disrupsi).  

Seperti diketahui, “triple disruption” telah berlangsung beberapa tahun terakhir, yaitu digital disruption, millennial disruption, dan pandemic disruption. Para millennial brands ini berhasil berselancar di atas triple disruption. Mereka hadir memanfaatkan kemajuan teknologi digital serta munculnya kaum milenial. Malah tak sedikit dari perusahaan tersebut yang memang dilahirkan serta dikembangkan oleh kaum milenial itu sendiri.

“Para millennial brands ini besar kemungkinan akan semakin mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia ke depannya. Mereka piawai melakukan digialtization dan adaptation yang sangat diperlukan di tengah perkembangan teknologi digital yang demikian cepat dan melekat dalam kehidupan kita,” ujar Yuswohady, Managing Partner Inventure.

Beberapa brand yang bisa disebut di sini diantaranya MS Glow. Perusahaan kosmetik (skincare, bodycare, dan kosmetik) ini terus tumbuh. Kini memiliki 40 item produk, 78.147 jaringan penjualan, dan 1 juta pieces penjualan per bulan. Lalu ada Elemen Bike yang penjualannya melejit mendekati Rp 1 triliun di tahun 2020. Begitu juga SiCepat. Jumlah paket yang diantarnya kini mencapai 2,8 juta per hari, naik dari tahun 2020 (1 juta paket).

RANS, misalnya.  Perusahaan  besutan Raffi Ahmad terus mekar. Dari karyawan 3 orang, RANS yang baru berusia 3 tahun, kini berawak 300 orang, dan telah memikat grup besar, EMTEK untuk membeli sahamnya. Mereka yang tumbuh ini adalah para juara di tengah pandemi!

Raffi Ahmad dan istrinya, Nagita Slavina membangun RANS pada 2018. Awalnya, konten yang disajikan hanya mengangkat seputar aktivitas keseharian mereka. Saluran distribusi konten pun masih melalui Instagram dan YouTube.

Namun dalam waktu tiga tahun, RANS telah berkembang menjadi sebuah kerajaan dengan gurita bisnis yang luar biasa. Akun Youtube-nya menjadi 5 besar terbanyak di Indonesia: hampir menyentuh 22 juta. “Saat ini jumlah followers dan subscribers di semua platform digital kami sudah mencapai 108 juta,” ujar Abrar Rafles Dahlan, Head of Production & Digital RANS Entertainment, dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) 2021, pada 3/11.

Portofolio usahanya begitu beragam: mulai dari entertainment, label musik, hingga animasi. Bahkan mengakuisisi klub sepakbola Indonesia, Cilegon FC yang kemudian bersalin nama menjadi RANS FC. Integrasi seluruh lini bisnis menjadi kekuatan utama RANS dalam membangun gurita bisnis. “Salah satu kunci sukses kami adalah membenangmerahkan semua lini bisnis ke dalam satu payung yaitu media digital kami,” Kata Abrar.

Sedikitnya ada 10 bisnis yang dikepakkan Raffi, yakni RANS Entertaiment, RANS music, PowerRANSgers, RANS Animation Studio, RANS Esport, Toko Mama Gigi by Nagita Slavina, RANS Cilegon Football Club, Mylk, dan RANS PIK Basketball. “Terakhir kami akan meluncurkan RANS Zoo di PIK,” kata Abrar.

Tidak hanya itu, Wahyoo, misalnya,  kini telah bertransformasi menjadi layanan terpadu yang mendukung pertumbuhan usaha pemilik warung makan atau warteg. Layanan yang disediakan platform ini meliputi kemudahan berbelanja (supply chain) lewat ponsel, layanan teknologi pendukung, pelatihan wirausaha, hingga kegiatan komunitas. Tak heran ada yang menyebut Wahyoo sebagai digital social enterprise dengan fokus membantu warung makan naik kelas 

Menurut Peter Shearer, CEO Wahyoo, setelah melewati masa pandemi 2020-2021 yang berat, Wahyoo kini bersiap untuk memasuki fase-fase baru, khususnya di era new-normal sejalan dengan makin membaiknya situasi pandemi. “Lewat pengalaman, kemampuan, serta infrastruktur yang dibangun selama 4 tahun, kami ingin Wahyoo mampu melebarkan sayap ke kota-kota lain baik Pulau Jawa maupun di luar Jawa, khususnya Bali demi memberi dampak yang lebih luas lagi bagi masyarakat. Akhir tahun ini kami ingin bisa hadir di Bandung dan Bali. Kami ingin warung makan naik kelas,” katanya.

Sementara Javara  teramat fasih  mengenali  kekayaan warisan keanekaragaman hayati pangan dan budaya pangan dan ekosistem  yang menyertainya. Tidak hanya fasih, Helianti Hilman, founder Javara juga berhasil mengantarkan  warisan  pangan Nusantara  ini  menuju pentas dunia. 

Ibarat manajer artis,  Helianti  mengemas secara eksklusif dan menonjolkan kearifan budaya Indonesia yang kental  para ‘artis-artisnya’  yaitu  produk pangan Nusantara  sehingga disukai masyarakat  internasional.

Dari pengalaman  dan perjalanan Helianti menggarap pasar global,  memang dibutuhkan keberanian  dan nyali  besar untuk menerobos ketakutan-ketakutan yang seringkali datang dari  diri kita sendiri. Namun berbekal keyakinan dan kesediaan untuk  adaptasi, Helianti percaya bahwa pintu akan terbuka  dengan sendirinya. Selayaknya menjadi Cool+Agile brand, dengan kesediaan kita  beradaptasi segala hal  yang awalnya dianggap sebagai tantangan, bisa berubah  menjadi sebuah peluang.  

“Untuk masuk ke pasar mancanegara prinsipnya pantang menyerah.  Harus berani, jangan  takut mencoba. Apapun pasti bisa,“  ujar Helianti, yang kini  berlaku sebagai Executive Chairperson PT  Kampung Kearifan Indonesia (KKI). 

Menurutnya, kita harus create winning product, harus punya pembeda, dan unik. Selain itu, Helianti juga menekankan, bahwa kita  juga harus benar-benar cermat mengenali pasar,   termasuk  karakter dan behaviour-nya.

Lalu ada perusahaan ekspedisi SiCepat. Terbilang belakangan hadir di  bisnis kurir Tanah Air, perusahaan yang dibangun tahun 2014 ini diawal usahanya hanya melayani 500-1000 pack sehari. Namun dalam tempo 7 tahun mampu melayani 2,8 juta pack per hari.

Keberhasilan itu, menurut Chief  Marketing & Corporate Communication Officer PT SiCepat Ekspres Indonesia, Wiwin Dewi Herawati, adalah  karena konsisten dalam pelayanan. Kalau sudah memberikan pelayanan yang baik, jangan puas sampai disitu. Harus terus dikembangkan seperti apa maunya konsumen.

“Tentu dimunculkan  beberapa inovasi. Seorang brand itu harus memiliki creative thinking. Jadi, perjalanan SiCepat itu karena kami konsisten dalam pelayanan dan terus berinovasi,” kata Wiwin dalam ajang IBF 2021.

Menurutnya, SiCepat merupakan  jasa kurir pertama yang memulai pick up service. Pada saat itu tidak satupun ekspedisi yang berani memberikan pelayanan  seperti itu.  Dulu seller (penjual) online  mesti mengantri ke tempat-tempat gerai ekspedisi. Kalau cuma 1 atau 2 paket itu tak masalah. Tapi ketika paketnya sampai 100 pack, maka  itu jadi masalah. Padahal waktu itu dibuka layanan pick up service dan seller tak diberikan biaya Rp1 pun.  Otomatis banyak konsumen suka.

Kuncinya di mindset, kata Wiwin. Untuk menyamakan  mindset,   selalu dibahas bersama tim SiCepat bahwa kita bekerja selalu ada kompetisi. Kalau kita tidak berani  berkompetisi, maka kita akan ketinggalan. “Jadi hari ini dapat 500 pack, besok dapat 5 juta pack. Menghadapi kondisi itu mesti siap! Karena whatever, kalau tidak siap, ada yang lain yang ambil order kita.  Peluang tidak datang dua kali. Peluang yang datang hari ini harus bisa manfaatkan,”ujarnya.

Sedikitnya ada 25 perusahaan yang disajikan dalam IBF. Keberhasilan perusahaan-perusahaan tersebut berhasil berselancar di atas triple disruption” yaitu digital disruption, millennial disruption, dan pandemic disruption.. Brand-brand ini bukan tidak mungkin menyalip peursahaan-perusahaan yang dulunya merajai sejumlah bisnis di dalam negeri.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa