Rafin’s Snack Produk UMKM Tembus Pasar Ekspor
Muhammad Ravie Cahya Anso membesut bisnis cemilan dengan brand Rafins’s. Bisnisnya dimulai Agustus 2018 ini, kini menembus pasar ekspor ke Mesir. Tahun ini menargetkan perluasan pasar. Tim Rafin’s Snack akan mengikuti rangkaian pendampingan intensif dari Kementerian Perindustrian untuk meningkatkan kapasitas bisnis mereka sehingga target ekspor dapat tercapai.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Perindustrian berupaya meningkatkan kapasitas bisnis para pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Salah satu program strategisnya melalui pendampingan intensif kepada IKM terpilih asal Lampung dalam rangka Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) tahun 2022.
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan, pihaknya telah menggandeng Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota Lampung, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, top brands, Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara), dan Dekranasda untuk menggelar kick off Gernas BBI Lampung dengan tema #LagawiFest – Lampung Bangga Wirausaha Industri, Satu Bumi Juta Karya, pada 17 Maret lalu. Dalam acara tersebut, Kemenperin sekaligus mengumumkan 30 IKM terpilih yang diseleksi dari 478 IKM pendaftar melalui website esmartikm.id.
Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita, salah satu IKM asal Lampung yang mulai melejit lantaran kualitas produk dan strategi pemasaran online adalah Rafin’s Snack. “Rafin’s Snack terkenal dengan produk kulit ikannya yang telah menjangkau pasar Mesir, dan sempat dijual di perhelatan MotoGP Mandalika. Ini bukti bahwa makanan ringan Indonesia tak hanya disukai lidah wisatawan lokal, tapi juga mancanegara.
Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim mengatakan dengan adanya produk UMKM dari Lampung yang berkesempatan menjadi buah tangan pada gelaran MotorGP Mandalika menjadi dorongan dan harapan bagi pelaku UMKM untuk semakin berkembang, dikutip dari Antara (15/3).
“Masuknya salah satu UMKM lokal Lampung Rafin’s Snack sebagai salah satu produk yang menjadi buah tangan dalam kegiatan Motor GP Mandalika ini jadi suatu penghargaan,” ujar Chusnunia Chalim.
Rumah Rafin’s Snack yang memiliki tagline ‘Snacknya Anak Bangsa’ itu, tidak hanya menyediakan berbagai jajanan bermerek dagang Rafin’s, melainkan juga produk-produk UKM khas Pringsewu, Lampung.
Rafin’s Snack memproduksi beragam makanan ringan khas Indonesia berbahan baku lokal dan dikemas secara apik. IKM ini moncer ke berbagai penjuru nusantara melalui penjualan produk keripik kulit ikan patin (fish skin). Kulit ikan patin ini dipasok langsung dari Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran, serta Sumatera Utara. Kulit ikan tersebut melalui proses penggorengan dua kali, dan diracik dengan bumbu khas Rafin’s snack.
Pendiri Rafin’s Snack, Muhammad Ravie Cahya Anso mengatakan, selain keripik kulit ikan, Rafin’s Snack juga memproduksi keripik kentang, keripik singkong, dan keripik pisang kepok. Saat gelaran MotoGP 18-20 Maret lalu, Rafin’s Snack sengaja dijual dengan kemasan premium khusus untuk acara tersebut.
“Setelah acara MotorGP lalu, kami dapat distributor dengan harga lebih bagus untuk memasarkan produk dengan kemasan premium untuk masuk ke pasar modern,” ujarnya. Selama ini, Rafin’s Snack banyak dipasarkan melalui toko jajanan dan oleh-oleh di tujuh kota besar melalui reseller dan toko online.
Perlu dicatat, usaha kecil menengah (UKM) asal Lampung berhasil membukukan transaksi ekspor produk makanan ringan ke Mesir senilai US$35.000 atau sekitar Rp500 juta. Ekspor ini terwujud melalui penandatanganan nota kesepahaman yang dilangsungkan secara hibrida antara Rafin’s Snack asal Lampung dan Almo Mart Asian Supermarket asal Mesir. Penandatanganan kontrak ekspor kali ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Trade Expo Indonesia ke-36 Digital Edition. Penandatanganan MoU dilakukan oleh pemilik Almo Mart yaitu Louayy Muhammad Khayrullah dan Sri Wahyuni, serta pemilik usaha Rafin’s Snack yaitu Muhammad Ravie Cahya Ansor dan Rospawati.
Atase Perdagangan KBRI Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi menyampaikan, kolaborasi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat membuka peluang bagi pelaku UKM untuk menembus pasar ekspor. “Kolaborasi bersama antara pemerintah, pelaku usaha, diaspora Indonesia, dan semua pihak lainnya dapat memberikan kesempatan UKM untuk siap masuk ke pasar global. Hasil kolaborasi sedang kita saksikan bersama, yaitu antara Almo Mart Asian Supermarket di Mesir dan Rafin’s Snack di Lampung,” kata Irman dalam siaran pers, pada 24/11 tahun lalu.
Produk ini juga rutin dikirimkan ke Mesir sejak akhir 2021. “Konsumen Mesir sangat menyukai keripik talas, singkong, dan kulit ikan karena mereka kurang familiar dengan talas dan singkong. Kami kirim biasanya 600kg per minggu, dan sampai sekarang ada permintaan tambahan pengiriman, namun kami baru sanggup maksimal dua kontainer per bulan,” papar Ravie.
Rafin’s Snack juga berencana menjajaki pasar Jepang dan Singapura setelah sukses ekspor ke Mesir. “Di Jepang agak lebih detil persyaratannya, terutama soal teknik penggorengan. Karenanya, kami sedang cari strategi agar bisa memenuhi ini,” tandasnya.
Ravie pun mengungkapkan, tahun ini timnya menargetkan perluasan pasar dan memproduksi ragam rasa baru dalam produknya. Tim Rafin’s Snack akan mengikuti rangkaian pendampingan intensif dari Kementerian Perindustrian untuk meningkatkan kapasitas bisnis mereka sehingga target ekspor dapat tercapai.
“Harapannya dengan adanya negara baru yang dituju ini produk yang dikirim akan lebih banyak. Sekarang saja untuk produksi kami sudah menyerap 15 tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Setiap harinya kita produksi 5.000 kemasan,” katanya.
Kisah bisnis Ravie dimulai pada tahun 2018 ketika berusia 19 tahun. Saat itu ia mulai masuk Universitas. Di sela-sela kuliah, pria ini sudah memulai usaha makanan ringan (snacks) yakni crispy fish skin yang diberi nama “Rafin’s”.
Awal mula munculnya ide Rafin’s ini karena banyaknya peminat dari snack sejenis, tapi ternyata produk makanan yang sering ia temui di supermarket dan minimarket itu merupakan produk impor. Berangkat dari situlah Ravie terdorong untuk membuat produk sejenis untuk menunjukkan bahwa produk dalam negeri juga mampu bersaing dengan produk impor, sebagaimana dikutip dari liputan6.com, pada 29 Mei 2020.
Tentunya ia tidak asal memulai bisnis, tapi melakukan riset terlebih dahulu, untuk mengetahui apa yang saat itu sedang disukai dan dibutuhkan pasar. Lalu ia menemukan bahwa saat itu sedang booming salted egg.
Mulailah ia beranjak untuk mengembangkan idenya untuk membuat produk cemilan kulit ikan bercitarasa telur asin atau salted egg. Dengan modal awal Rp 500 ribu saja, ia gunakan uang itu untuk produksi dan sebagainya, hingga menghasilkan 10 pieces snack Rafin’s. Namun, ia tidak langsung menjual produknya untuk mengembalikan modal.
“Saya memproduksi tester yang ditujukan kepada potensial market, untuk mengetahui apakah produk varian rasa salted egg banyak diminati atau tidak, sekaligus juga untuk mencari market,” jelasnya masih dari sumber yang sama.
Salah satu produk snack Rafin’s yang yang banyak digemari masyarakat adalah produk keripik kulit ikan patin (fish skin). Menurut Ravie, kulit ikan patin ini mirip dengan kulit ikan salmon. Proses pembuatan kulit ikan patin tersebut pertama-tama dijemur. Kemudian dipilah-pilah ikan yang bagus. Kulit ikan yang sudah setengah matang ini dipotong-potong
Setelah dipotong-potong, tahap berikutnya masuk ke ruang produksi (penggorengan-red). Penggorengan dilakukan tidak terlalu lama, tapi dilakukan dua kali penggorengan. Setelah digoreng, minyaknya ditiriskan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah toples pastik ukuran besar dan baru diberi bumbu. Wadah toples tersebut ditutup dan digoyang-goyang agar bumbuhnya merata.
Selanjutkan masuk dalam tahap pengemasan. Yang berisi 70 gram setiap kemasan. Setelah ditimbang dengan ukuran berat yang sesuai, baru dikemas dengan mesin pengemas. Usai dikemas, baru siap dijual, baik dijual secara online maupun offline, bahkan tembus ke pasar ekspor. [] Yuniman Taqwa/foto umata: ist



