Estafet Kepemimpinan di PT Martina Berto Tbk
Estafet kepemimpinan di PT Martina Berto Tbk tidak berlangsung instan. Estafet itu berproses. Bahkan, diprosesnya dibukukan bertajuk: Challenges’, yang diluncurkan tahun 2016 lalu. Bagaimana kunci estafet kepemimpinan itu berlangsung?
PT Martina Berto Tbk bukan pemain baru di industri kosmetik di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1977 oleh Dr HC. Martha Tilaar, (Alm) Pranata Bernard, dan Theresa Harsini Setiady. Tahun 1981, perusahaan mendirikan pabrik modern pertama di Jalan Pulo Ayang No 3, Pulogadung Industrial Estate, Jakarta Timur yang memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek “Sariayu Martha Tilaar” untuk pertama kalinya.
Tak berhenti sampai di situ, perusahaan ini pada tahun 1986, mendirikan pabrik modern kedua di Jalan Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Karena pertumbuhan penjualan yang pesat, pada tahun 1995, perusahaan mengalihkan produksi herbal untuk Gunung Putri, Bogor. Sementara pabrik Pulo Ayang ditransfer ke anak perusahaan, yaitu PT Cempaka Belkosindo Indah yang memproduksi kosmetik dengan merek “Mirabella” dan “Cempaka”.

Pada tahun 2005, PT Cempaka Indah Belkosindo digabung dengan perusahaan sehingga merek “Mirabella” dan “Cempaka” juga dikombinasikan dengan produksi di pabrik Pulo Kambing. “Selanjutnya, pabrik Pulo Ayang dialihkan dan memungkinkan sebagai kantor penjualan disamping untuk perusahaan Distribution Center, yang terletak di Jalan Pulo Ayang No 24-25, Kawasan Industri Pulogadung,” jelas Bryan David Emil Tilaar, President Director PT Martina Berto Tbk.
Pada tahun 1993, perusahaan mengakuisisi PT Cedefindo, yang bidang usaha utamanya adalah Kontrak Manufaktur (Makloon) dalam produk kosmetik, sebagai perluasan bisnis perusahaan untuk hulu. Selanjutnya, perusahaan menjual aset pabrik di Gunung Putri dan kemudian terus menjalankan pabrik jamu dengan perjanjian sewa sampai akhir 2011.
Aktivitas perusahaan utama adalah memproduksi barang kosmetik dan obat tradisional (jamu); pemasaran dan niaga kosmetik, perawatan kecantikan dan barang obat tradisional. Selain itu, perusahaan memiliki dukungan dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh anak perusahaannya, PT Cedefindo, yang kosmetik manufaktur kontrak atau makloon dengan kering, semi-padat, cair, dan aerosol. Selain itu, termasuk layanan formulasi, pendaftaran, pembuatan bahan baku / kemasan, proses produksi, pengemasan, dan satu-stop layanan logistik untuk internal Martha Tilaar Group dan eksternal kepada perusahaan lain.
Martina Berto mengelola brand-brand hampir di semua level segmen, dari segmen C untuk brand Mirabella dan Cempaka. Lalu, membidik segmen B melalui brand legendarisnya, Sariayu Martha Tilaar dan Belia yang menyasar segmen remaja. Hingga segmen A Plus untuk brand Dewi Sri Spa Martha Tilaar dan Martha Tilaar PAC serta di segmen A ada Biokos Martha Tilaar dan Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar.
Ada mitos populer beredar bahwa ‘generasi pertama membangun, generasi kedua mempertahankan dan meningkatkan, lalu generasi ketiga menghancurkan’. Mitos tersebut seolah berubah menjadi kenyataan dengan adanya data yang menyebutkan bahwa sekitar 30% bisnis keluarga sukses diturunkan ke generasi kedua. Hanya 10% sampai 15% bisnis yang sukses diturunkan dari generasi kedua ke generasi ketiga. Angka itu kian menurun hingga generasi keempat yakni hanya 3% sampai 5%. Jadi sebenarnya anggapan tersebut mitos atau fakta?
Sejak tahun 2005 estafet kepemimpinan mulai dialihkan pada generasi kedua. Saat itu, Bryan, anak sulung Martha Tilaar menduduki posisi sebagai Presiden Direktur PT Martina Berto Tbk. Sedangkan di Martha Tilaar Group menduduki posisi Presiden Komisaris.
Menurut Bryan, orang tuanya (almarhum bapak) dan ibu berharap anak-anaknya ke depan hidup lebih baik. Orang tua berharap sedapat mungkin dapat pendidikan yang bagus dan tinggi. Kalau mereka berminat berkarya di bisnis yang sudah dirintis oleh orang tua, om, tante ( keluarga besar-red ). Walaupun orang tua tidak memaksa sama sekali. “Sejak kecil kami memang diarahkan supaya memiliki minat, mencintai, mendalami walaupun sekali lagi bukan paksaan,” kata Bryan kepada pelakubisnis.com 28/5 lalu.
Lebih lanjut ditambahkan, posisinya sebagai orang pertama di PT Martina Berto bukan paksaan sama sekali. Meskipun bila tidak berkarya di perusahaan ini juga tidak apa-apa, atau katakanlah mau berkarya di bidang bidang lain. “Jadi saya selama ini “easy- easy going” saja dan cukup”manageable, ” ujarnya seraya menambahkan kedua adiknya (Kilala Tillar dan Pinkan Tilaar-red) dan kakaknya (Wulan Tillar-red) juga bergabung di Martha Tilaar Group.
“Baik saya dan Kakak maupun Adik-adik semua cukup manageable. Fluktuasi ya ada, tapi biasa, semua beres, ok-ok saja. Khusus untuk PT Martina Berto salah satu bisnis yang besar di Grup Martha Tilaar adalah awalnya joint venture keluarga besar ibu dan beberapa pemegang saham -saham yang memiliki Kalbe Group,” lanjut Bryan.
Ia menambahkan, keluarganya banyak belajar dari business partner pemilik Kalbe group. “Antara lain Pak Dr Benyamin Setiawan, Pak Fransiscus Bing Aryanto. Mereka berdua ini dari pemegang saham Kalbe Group. Ketika krisis tahun 1997,1998 di Indonesia, Kalbe Group mau divest sahamnya yang ada di PT Martina Berto. Lalu Saya, sepupu saya, sebagai tim profesional yang ikut bantu. Kita pikir ada baiknya pihak keluarga besar Ibu Martha Tilaar beli jumlah saham yang besar dengan angka belinya yang tidak kecil. Akhirnya bisa juga dalam 1 tahun sekian negosiasi,” cerita Bryan.
Diakui Bryan, untuk pertama kali dalam hidupnya belajar tentang mergers dan akusisi. Ia juga belajar banyak dari independent financial consultants dan bagaimana suatu waktu perusahaan tumbuh lebih besar. Sampai akhirnya tahun 2011 awal Martina berto menjadi perusahaan public. Walaupun masih harus banyak belajar manage bagaimana menjadi perusahaan publik yang masuk dalam big cap atau kapitalisasi pasar yang besar.
“Sekarang masih small medium cap istilahnya, saya inginkan suatu waktu size business besar trilliunan, puluhan dan ratusan trilliun. PT Martina Berto konsolidasi di industri beauty personal care jamu. Jiwa saya dalam tanda kutip kapitalis, kalau ibu dan adik-adik very sosial entrepreneur,” jelas Bryan serius.
Bryan Tilaar selaku Direktur Utama PT Martina Berto Tbk berbagi pengalaman dalam hal pengelolaan bisnis. Pada acara Share Your Values, Live Your Legacy yang diadakan oleh Standard Chartered Priority yang diadakan di Ballroom Mandarin Oriental Hotel Jakarta beberapa waktu lalu yang juga dihadiri Tri Djoko Santoso, seorang financial and wealth educator, Bryan memberikan gambaran strategi perusahaan yang merupakan dari Dr. ( H.C) Martha Tilaar yang harus dijalankan oleh generasi kedua dengan baik. Agar bisnis tetap bertahan dan terus berkembang, maka diperlukan perencanaan yang baik dari segi manajemen (human capital) dan keuangan (financial capital).
“Selain itu, perusahaan juga harus memiliki etika dan integritas dalam menjalankan bisnisnya,” ujar Bryan serius. Baginya, pengelolaan aset dan bisnis sangat perlu untuk dilakukan dengan sebaik-baiknya agar apa yang telah sukses dikukuhkan oleh generasi pertama dapat terus berkibar,” tandasnya lagi.

Sementara kedua pewaris Martha Tilaar Group (MTG) Bryan Tilaar (Anak Martha Tilaar) dan Samuel Pranata (Anak Ratna Pranata) meluncurkan buku berjudul ‘The 2nd Generation Challenges’, pada Juni 2016. Kedua putra dari pendiri MTG itu membuat buku tersebut untuk memotivasi para pewaris perusahaan keluarga agar bisnis yang telah dibangun susah payah oleh orangtua tidak hancur begitu saja tapi justru semakin besar di tangan generasi selanjutnya, sebagaimana dikutip dari detik.com, pada 28/6/2016.
Seperti yang saat ini Samuel dan Bryan lakukan selama puluhan tahun untuk terus meningkatkan bisnis orangtua mereka. Keduanya juga berbagi kunci sukses yang diakui mereka sudah ditanamkan oleh orangtua dalam membangun bisnis.
“Prinsipnya ibu memang menanamkan core value ada lima, DJITU. Yang pertama disiplin, sebagai pemimpin tentu kita harus mencontohkan kepada karyawan di sana bagaimana sikap disiplin bukan datang seenaknya, kerja sesukanya, tidak begitu,” ujar Samuel yang kini menduduki posisi Coporate Social Responsibility, Communication, System & Procedure Director MTG itu.
Bersikap jujur ini penting bagi seorang pemimpin. Ketika Anda melakukan kesalahan tentu harus mengakuinya bukan justru menyalahkan karyawan lain dan menjadikannya kambing hitam. Beberapa pemimpin yang gagal membesarkan perusahaan salah satu faktor penyebabnya karena tidak bisa bersikap jujur dengan diri sendiri maupun orang lain.
Inovasi juga sebagai salah satu faktor penentu tumbuhnya perusahaan. Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, tentu sebagai generasi penerus harus bisa berpikir kreatif bagaimana menciptakan suatu inovasi-inovasi baru. Buat sesuatu yang bisa menjadi terobosan bukan dengan hanya mengikuti tren.
Sebagai generasi penerus tentu kita harus tekun. Ketika mengalami kegagalan maka harus coba dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Jangan berhenti hanya karena mementingkan ego masing-masing.
Faktor ulet juga menjadi kunci sukses bagaimana bisa membangun bisnis keluarga. Bryan bercerita bahwa walaupun ia putra sulung Martha Tilaar, dirinya tak langsung menduduki posisi pemimpin. Ia mulai merangkak dari staf sejak 1995 dan terus menekuni kariernya hingga kini menduduki posisi Direktur Utama PT Martina Berto Tbk. “Saya baru menjadi Dirut (Direktur Utama) setelah puluhan tahun bekerja. Makanya tekun itu diperlukan untuk bisa menjadi seorang pemimpin,” ujar pria lulusan Universitas Redlands, Amerika Serikat itu.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina
