Pala Nusantara Tembus Omzet Rp600 Juta Per Bulan
Jam tangan eksotik Pala Nusantara yang terbuat dari kayu ini mendapat respon positif di kalangan Ibu-ibu pejabat. Bahkan, menjadi official merchandise bagi para Presiden mancanegara yang akan menghadiri KTT G20 pada November mendatang di Bali. Bagaimana lika-liku UKM ini mampu membangun branding dengan kearifan lokal?

Tahun 2010 Ilham Pinastiko menciptakan jam tangan yang terbuat dari material kayu sonokeling, kulit dan kuningan. Dari hobby mengoleksi jam tangan bermerek dan keahlian mendesain produk, ia mendevelop produk jam tangan yang berbeda dari jam tangan umumnya. Berkongsi dengan seorang teman ia pun mengembangkan produk jam tangan eksotik pertama di Indonesia. Namun, karena ada masalah internal, ia ‘bercerai’ dalam arti pecah kongsi dengan manajemen pioneer jam kayu di tanah air tersebut.
Hanya 5 tahun ia bertahan dalam manajemen sebelumnya hingga akhirnya ia memutuskan mengembangkan usaha sendiri. “Padahal eksposurnya sudah sangat bagus, peminatnya banyak dan demandnya cukup tinggi,”kata pria kelahiran Bandung 1986 ini.
Pun akhirnya Ilham membangun kembali produk sejenis dengan brand Pala Nusantara pada tahun 2016. “Pala Nusantara merupakan brand jam tangan eksotik yang terbuat dari kayu. Ini brand jam tangan yang kedua dari Indonesia.
Kelahiran Pala Nusantara menjadi milestone bagi industri jam tangan di tanah air. “Satu per satu mulai bermunculan followers yang meniru desain kami,” kata alumni Program Studi Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kepada pelakubisnis.com, minggu keempat Mei 2022.
Menurutnya, saat awal membesut Pala Nusantara, muncul kesan ini adalah brand jam tangan hasil karya seniman yang dibuat limited edition, tak heran bila harganya mencapai Rp1 juta. Namun setelah dievaluasi, konsep yang dikembangkan diyakini kurang berjalan di masa mendatang. Itu sebabnya, pada tahun 2018, dilakukan perubahan strategi dimana ia mendevelop industri manufaktur jam tangan dengan difrensiasi terbuat dari kayu dengan tampilan yang eksotik. “Tahun 2018 saya develop lagi Pala Nusantara dengan struktur yang lebih baik. Mimpi kami, brand ini akan menjadi brand global,” tandas Founder & COO PT Kreasi Pala Nusantara ini.

Pala Nusantara merupakan sebuah bisnis yang menceritakan tentang mitologi dan budaya nusantara melalui produk jam tangan sebagai mediumnya. Mimpi Ilham, ingin menjadikan Pala Nusantara sebagai brand global sama terkenalnya seperti buah pala. Mengambil filosofi dari buah Pala. Dulu buah pala di zaman Belanda harganya mencapai senilai 1kg emas. Fungsinya seperti kulkas, pada tahun 1400-an. Daging yang ditimbun dalam buah Pala bisa awet sampai 6 bulan.
“That’s way, kenapa orang Belanda ingin mengambil jutaan ton kubik buah Pala setiap harinya dari Indonesia. Tak heran bila buah Pala terkenal di seluruh dunia. Banyak negara-negara Eropa yang menjajah Maluku yang terkenal sebagai daerah penghasil buah Pala. Dari sisi story telling, saya ingin Pala Nusantara bisa terkenal di seluruh dunia seperti buah Pala. Alhamdulillah akhirnya pelan-pelan bangun awareness, kemudian jadi brand nasional, jajaki prosesnya , alon-alon asal kelakon,” urai Ilham mengawali kisah membangun brand Pala Nusantara.
Menurutnya seorang entrepreneur ketika membuat brand harus memiliki filosofi dan latar belakang yang memotivasi atas nama brand itu.

Sudah ada pengalaman dan sudah babat alas dari merek sebelumnya, jadi ia sudah berhasil membuka dan mengedukasi pasar, sehingga pasar lebih mudah menerima dan akhirnya tidak sulit baginya melakukan penetrasi pasar.
Persisnya tahun 2016 Ilham mulai mengembangkan bisnis produk aksesoris jam tangan Pala Nusantara. Start dari omzet Rp30 – 50 juta/bulan, ia mendevelop bisnis ini dibantu 2 temannya dan merekrut satu pegawai.
Awalnya, dengan modal Rp15 juta, semua dilakukan bertiga. Di tahun-tahun pertama hanya membuat sekitar 40 pieces jam tangan yang habis terjual 2 sampai 3 bulan. Belum ada target penjualan. “Pertama produksi kami jual dengan harga bandrol Rp800 ribu sampai Rp1 juta per piece. Saat itu omzetnya mencapai Rp30-an juta per bulan,” tambahnya yang saat itu masih menyerahkan urusan produksi ke ‘tukang jahit’ (maklon).
Lebih lanjut ia mengatakan, pasar dan cara marketing Pala Nusantara berbeda dari brand yang ia besut sebelumnya. Bila brand sebelumnya membidik pasar eksklusif Jakarta dan lebih ke pusat kota dengan target anak muda. Sedangkan Pala Nusantara membidik pasar ibu-ibu kelas menengah atas, ibu-ibu pejabat misalnya. Lebih mengejar ke segmen pasar wanita yang suka dengan desain bernuansa pop nusantara dengan warna-warni yang menarik perhatian. Kendati demikian diakuinya saat ini Gen Z dan kalangan milenial juga suka menggunakan produknya.
Ia mencoba menyentuh pasar dengan pricing dan desain serta warna yang berbeda. Jadi diawal harga jual hingga Rp1 juta masih dianggap ‘welcome’ oleh pasar. Namun lewat Pala Nusantara ia mengubah paradigma masyarakat tentang fungsi jam tangan. Menurutnya fungsi jam tangan saat ini tak hanya sebagai alat pengukur waktu, tapi jam tangan juga berfungsi sebagai bagian dari gaya hidup. Alhasil, produk aksesoris jam tangan eksotik ini kini mampu meraup omzet sampai Rp600 juta per bulan.
Ilham menambahkan, di 2016 orang masih belum tertarik cerita tentang filosofi nusantara itu. Tapi lama kelamaan orang tertarik karena terus dibentuk menjadi bagian dari tren fesyen.
Langkah komunikasi yang dilakukan adalah dengan melakukan treatment ke pelanggan soal atribut pakaian, ditambah dengan banyaknya penyelenggaraan ‘achievement’ yang mengikutsertakan Pala Nusantara. Diantaranya mengikuti berbagai lomba desain dan ajang pameran-pameran fesyen.
“Kami hadir di InaCraft, Indonesia Fashion Week dan lain-lain namun masih sebagai Support Fashion belum menjadi Main Fashion karena objeknya masih terlalu kecil,”, cerita Ilham.
Menurutnya cara pemasaran yang bagus dari sebuah brand fesyen itu memang harusnya berangkat melalui ajang kompetisi. Karena brand Pala Nusantara akan diekspos media , lalu dapat pengakuan dan dapat penghargaan, juga akan mendapat banyak masukan tentang ilmu branding dan marketing. “Sebenarnya mengikuti kompetisi itu faedahnya banyak,” nilai Ilham sambil menambahkan metode pemasaran yang lakukan sekarang berbeda dari brand sebelumnya.

Ia pun berkomitmen mencari cara yang unik untuk bisa berkompetisi. Tak pelak, sejumlah kompetisi pun diikuti. Seperti ajang kompetisi Big Start yang diselenggarakan Blibli.com untuk para startup. Lalu, ada Golden Award dari InaCraft. Kemudian Pala Nusantara juga mendapat penghargaan “Good Design Indonesia” secara beruntun dari tahun 2017 sampai tahun 2020 yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan. Selain itu Pala Nusantara juga membawa banyak cerita tentang budaya Indonesia dalam ajang Super Design Show Milan Design Week di Tortona tahun 2019.
”Tahun 2022 belum mendapat penghargaan karena pandemi di 2021-2022 belum ada aktifitas lagi dan kompetisi di Indonesia secara offline belum ada lagi. Di tahun 2019 kemarin kami banyak meraih penghargaan. Kalau tahun ini belum ada inovasi baru karena Pala Nusantara harus punya sesuatu yang baru lagi, baik itu material, mesin atau kulitnya yang menjadi support item produk kami,” tandas Ilham.
Diakuinya sudah cukup banyak privilege dari penyelenggaraan pameran seperti InaCraft. Diantaranya mendapat booth gratis, media gratis dan berkesempatan mengikuti kompetisi. Yang jelas sebelum pandemic, di tahun 2019 kemarin ada 12 – 13 ajang kompetisi yang diikuti Pala Nusantara dan menang semua.
Pada tahun 2018 Ilham mendapat suntikan dana dari seorang teman setelah ia mampu mempresentasikan produknya. Pada momen itu ia pun mengubah strategi bisnisnya. Sebenarnya ada Venture Capital dari Jakarta yang berminat menyuntikkan dana untuk usaha jam tangannya. Namun belum ada titik ketemu. Sampai Pala Nusantara berkembang, ia meminta calon investor tersebut untuk terus memantau perkembangan usaha jam tangannya.
Diakui Ilham, kondisi pandemic 2020 – 2021 ia mengalami kerugian kehilangan momen karena tidak bisa melakukan kegiatan marketing yang spektakuler. Menurutnya survival mode on ini menguras banyak energi dan keuangan. Objektifnya di periode pandemi kemarin semua berpikir bagaimana bisa bertahan. “Jadi di tahun 2022 ini baru starter untuk injak gas,”ujar suami Patria Widiayuningrum ini.
Di periode pandemi, lanjut Ilham, secara marketing tidak melakukan banyak hal. Orientasi hanya jualan. Tidak melakukan strategi pemasaran atau meluncurkan teknologi baru yang membuat usahanya spektakuler. Yang jelas tetap berproduksi. “Alhamdulillah kami bisa survive dari Covid-19 tanpa melakukan pengurangan karyawan dan tanpa mengurangi gaji, bisa kasih THR bahkan sempat kasih gaji ke-14 dalam dua tahun ini. Survival mode on ini alhamdulillah berhasil dilalui. Dalam kondisi krisis seperti pandemic ini memang ada faktor yang harus dikorbankan. Pekerjaan satu divisi yang kami korbankan yaitu Divisi Marketing. Kompetisi dan ajang bergengsi dikurangi karena memang harus survival mode on,” jelasnya seraya mengatakan sampai saat ini jumlah karyawannya mencapai 42 orang.
Untungnya brand awareness Pala Nusantara sudah semakin kuat. Sehingga penjualan di momen pandemi tetap berjalan. Bahkan di 2021-2022 penjualan naik. Omzet 2019 Rp250 juta per bulan, sekarang sudah sampai Rp600 juta per bulan.
Munculnya pandemic, lanjut Ilham, membuatnya memutar otak dengan melakukan survival mode on . Salah satu kebijakannya adalah dengan meniadakan kegiatan marketing branding karena biayanya lumayan besar. Alhasil Pala Nusantara mampu bertahan dan justru akhirnya menambah revenue.
Namun di tahun 2022 ini, tambah Ilham, Pala Nusantara akan kembali recovery, kalau semua situasi sudah normal, ia akan kembali membangun tim marketing brandingnya. Karena ia pahami, bila orientasinya hanya berjualan maka produknya tidak jauh berbeda dengan barang-barang dari China. “Jadi memang value branding itu harus digarap, harus digenjot lagi,”terangnya yang mengakui tahun ini akan kembali start untuk memulai kembali bisnisnya dengan skala yang berbeda. Akan ada manuver lain yang tengah disiapkan Ilham.
Pertanyaan selanjutnya, apakah Pala Nusantara sudah ekspor? Ia menjawab, “Stigma barang ekspor biasanya dijual konteneran. Sedangkan produk jam tangan sangat mungil. Pelanggan atau buyer dari luar memang ada tapi jumlahnya tidak banyak. Paling membeli 3 sampai 4 lusin,” tambah Ilham.
Sementara di pasar lokal, menurut Ilham, Pala Nusantara memiliki segmen pasar klien eksklusif yang memesan custom dalam jumlah tertentu. Ada dari bank-bank di Indonesia. Belum lama Pala Nusantara terpilih menjadi souvenir resmi delegasi negara di Side Events G20 Parekraf di Jakarta yang diinisiasi Kemenparekraf RI untuk mempromosikan ragam produk ekonomi kreatif sekaligus mendukung pelaksanaan ajang perhelatan dunia tersebut yang diselenggarakan di Indonesia. “Mereka memesan sebanyak 55 jam tangan Pala Nusantara untuk para tamu,”tutur Ilham.
Bahkan jam tangan Pala Nusantara kembali terpilih sebagai souvenir untuk para presiden negara-negara di dunia yang akan hadir nanti di puncak acara KTT G20 pada Oktober – November 2022. “Ini ajang bergengsi! Menjadi official merchandise bagi Presiden di dunia di ajang G20,”kata Ilham.
Menurut Ilham, brand asli lokal seperti Pala Nusantara yang punya manufaktur produksi sendiri di Indonesia, mengangkat kearifan lokal dan karyawannya orang Indonesia yang terlatih itu mungkin cuma ada 3 brand yang sekarang existing. Rata-rata mereka lahir dari Jawa Tengah dan berkompetisi bagi brand lokal.
Menurutnya tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya Pala Nusantara merupakan brand yang lahir dari kota Bandung. Baru belakangan orang tahu Pala Nusantara adalah produk dari Bandung. Saat itu mulailah bermunculan Bank Jabar, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai mengenal dan mendekat ke Pala Nusantara. “Basic-nya karena keprofesian sebagai desainer dimana saya berprinsip melakukan yang terbaik yang saya kerjakan, maka seperti Pala Nusantaranya juga jadi ikut kebantu,”tuturnya.
Ilham juga aktif di Komunitas UKM Jawa Barat yang sebenarnya terbentuk dari jalur-jalur kompetisi. Sampai mendapat fasilitasi dari Bekraf ikut pameran ke New York pada 2018 silam. Respon pengunjung di New York yang datang cukup antusias. “Karena terbuat dari kayu mereka sangat respek melihatnya dan saat itu dapat sekitar 8 buyer, namun kuantitinya belum banyak. Sebenarnya mereka mencari vendor UKM yang menjual produk lebih murah dan simpel, untuk dijual lebih mahal,” lanjut Ilham.
Pala Nusantara juga berkolaburasi dengan beberapa pihak sebagai upaya untuk memperlebar pasar. Diantaranya dengan perusahaan biotek Mycotech yang menghasilkan tali jam yang terbuat dari jamur sebagai pengganti bahan kulit, dengan Ruang Guru membuat souvenir dan mendapat lisensi dari RuangGuru juga untuk menjual ke ritel. Lalu kerjasama juga dengan PemProv Jawa Barat, Deskranasda Jawa Barat dan sebagainya. [] Siti Ruslina
