Mengintip Potensi Ekonomi Kabupaten Wakatobi
Wakatobi menyimpan sejuta pesona wisata! Dari mulai keindahan wisata bawah laut, wisata pantai, peninggalan bersejarah, budidaya rumput laut hingga seni budaya. Setelah ditetapkan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi wisata prioritas oleh pemerintah pusat, Wakatobi terus berbenah.
Sebelum kemerdekaan Wakatobi berada di bawah kekuasaan Kesultanan Buton. Setelah Indonesia Merdeka, Sulawesi Tenggara berdiri sebagai provinsi. Wilayah Wakatobi hanya berstatus beberapa kecamatan dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton. Sejak 18 Desember 2003 Wakatobi resmi ditetapkan sebagai salah satu kabupaten pemekaran di Sulawesi Tenggara yang terbentuk berdasarkan Undang–Undang Nomor 29 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Kolaka Utara.
Wakatobi berada di perairan “Coral Tri-Angle” atau wilayah segitiga terumbu karang, yaitu wilayah yang memiliki keanekaragaman terumbu karang dan keanekaragaman hayati laut lainnya tertinggi di dunia. Keberadaan 25 buah gugusan terumbu karang dan kedalaman yang ideal menjadikan perairan di taman nasional kepulauan Wakatobi tempat ideal bagi berbagai jenis biota laut.
Lebih dari 750 spesies karang yang teridentifikasi dan beragam. Keragaman laut di Wakatobi menjadikannya sebagai cagar biosfer oleh UNESCO. Flora dan fauna yang melimpah dengan hutan lebat, bakau, mata air purba dan spesies endemic menjadi kekayaan alam yang dimiliki Wakatobi.
Di sini menyimpan sejuta pesona wisata, mulai dari keindahan wisata bawah laut, wisata pantai, peninggalan bersejarah, hingga seni budaya. Setelah ditetapkan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi wisata prioritas oleh pemerintah pusat, Wakatobi terus berbenah.
Salah satuya adalah Matahora Cottage by The Beach yang merupakan rencana investasi prioritas yang akan ditawarkan kepada investor. Lokasinya berada di Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Cottage ini memiliki konsep langsung berhadapan dengan bibir pantai dan mengusung tema ekologis. Bisnis cottage ini menyesuaikan dengan kondisi Wakatobi, yaitu wilayah daratan yang berada di taman nasional. Tema ekologi juga didukung dengan tiga kata kunci visi pariwisata Wakatobi, yaitu ekowisata berkelas dunia, berkelanjuta dan berbasis masyarakat. Oleh karena itu, konsep bangunan cottage yang diusulkan menggunakan material alam serta konsep arsitektur vernacular rumah panggung khas Wakatobi dan semi modern.
Cottage by The Beach diarahkan masuk dalam industri hotel bintang tiga dengan jumlah kamar sebanyak 70 unit dengan fasilitas pendukung seperti spa, restaurant, persewaan kapal dan perlengkapan diving dan snorkeling. Target pasar bisnis ini adalah masyarakat pendapatan menengah atas, korporasi dan wisatawan.
Di samping tu, kepulauan wakatobi dikelilingi pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Tak pelak, wilayah ini menjadi tujuan wisata pantai yang potensial untuk dikelola. Bukan tanpa alasan jika kawasan pantai di Wakatobi sangat cocok untuk wisata diving, snorkeling, berenang dan memancing.
Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi mendata beberapa obyek wisata yang menarik, di antaranya Pantai Kaluku, Pantai Moli’i Sahatu, Pantai Jodoh, Pantai Melai One, Pantai Waikesa, Pantai Sousu, dan Pantai Waha atau Pantai Cemara. Sejumlah wisata hutan yang menarik di antaranya Hutan Lindung Motika, Hutan Lindung Tindoi, serta Hutan Mangrove Liya Bahari dan Liya Togo.
Selain itu, para wisatawan juga dapat menikmati wisata pemandian air di sejumlah goa. Wisata pemandian ini tergolong tradisional, pada umumnya digunakan anak-anak setempat sebagai tempat bermain. Karena relatif dekat dengan garis pantai, air di pemandian ini umumnya terasa asin mirip air payau. Wisata pemandian ini di antaranya Air Goa Kontamale, Air Goa Tee Kosapi, Pemandian Alam Tee Kuea, Air Goa Walobu, Wa Pia-pia, dan Watu Tofengka.
Sementara untuk mempelancara konektivitas antarpulau di Wakatobi, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan tiga pelabuhan penyeberangan dan satu unit kapal penyeberangan. Peresmian dipusatkan di Dermaga Rakyat Wanci, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, 9 Juni lalu..
Ketiga pelabuhan penyeberangan tersebut adalah Pelabuhan Kaledupa, Pelabuhan Tomia, dan Pelabuhan Binongko. Sementara satu unit kapal penyeberangan yaitu Kapal Motor Penumpang (KMP) Sultan Murhum II. Kapal roro ini akan dioperasikan untuk melayani angkutan penyeberangan perintis rute Kamaru – Kaledupa, Kaledupa- Tomia, dan Tomia – Binongko dengan trip empat kali seminggu.
“Kita harapkan dengan beroperasinya pelabuhan dan kapal ini, aktivitas dan mobilitas masyarakat semakin mudah. Utamanya untuk angkutan barang yang berkaitan dengan sembako dan konektivitas antarpulau di Wakatobi diharapkan semakin baik,” ujar Presiden Jokowi.
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan, pembangunan pelabuhan penyeberangan dan kapal di Wakatobi ini merupakan salah satu wujud negara hadir melalui pembangunan transportasi yang berparadigma Indonesia-sentris (pembangunan tidak hanya terpusat di pulau Jawa).
“Kita bangun infrastruktur transportasi di pulau kecil dan terluar agar konektivitas bisa berjalan dengan baik,” ujar Budi.
Menhub berharap, keberadaan pelabuhan dan kapal ini akan mendukung Wakatobi sebagai salah satu kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) dan dapat menumbuhkan titik-titik ekonomi baru di Wakatobi dan sekitarnya.
“Kehadiran pelabuhan dan kapal ini sangat dinantikan masyarakat Wakatobi dan sekitarnya. Kami pastikan apa yang dibangun ini dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat di Wakatobi. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan para turis domestik dan mancanegara untuk menikmati keindahan alam yang ada di Wakatobi,” kata Budi.
Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan soft launching Kampung Budidaya Rumput Laut di Desa Liya Bahari, Kecamatan Wangi Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 8 Juni lalu. Peresmian ini bagian dari rangkaian peringatan Hari Laut Sedunia (World Ocean Day) tahun 2022.
Menurut Trenggono, tujuan program kampung budidaya adalah untuk membantu masyarakat pembudidaya meningkatkan kualitas dan volume produk yang dihasilkan. “Saat ini potensi kawasan yang termanfaatkan belum optimal, tahun depan kita harap bisa meningkat menjadi 450 hektare sesuai potensi yang ada,” ungkap Menteri Trenggono di lokasi.
Sebagai tahap awal, KKP memberikan bantuan lima paket kebun bibit serta sarana budidaya meliputi tali, pelampung, dan bibit hasil kultur jaringan. Bantuan akan terus ditambah sehingga target perluasan area budidaya menjadi 450 hektare pada 2023 bisa terealisasi.
Untuk mendukung lancarnya aktivitas budidaya rumput laut dengan luas 450 hektare tersebut, paling tidak dibutuhkan 45 hektare kebun bibit. Untuk itulah, dia meminta jajarannya di Ditjen Perikanan Budidaya untuk melakukan pembangunan kebun bibit seoptimal mungkin.
“Implikasi dari optimalisasi potensi, tentu industri bisa hadir sehingga ekonomi masyarakat pembudidaya bisa terus tumbuh. Dengan demikian nilai tukar pembudidaya juga bisa meningkat,” ungkapnya.
Kampung perikanan budidaya merupakan satu dari tiga program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Melalui program pembangunan ini, KKP juga memberikan dukungan pinjaman modal dan pasar, hingga pendampingan kepada para pembudidaya untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya.
Sementara itu, Bupati Wakatobi Haliana menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan lima paket kebun bibit yang disalurkan KKP. Menurutnya, hambatan para nelayan selama ini memang berada di bibit yang kurang berkualitas.
Dari 3000 ton produksi, sebagian besar merupakan rumput laut jenis Eucheuma spinossum yang harganya di kisaran Rp6.000 sampai Rp8.000 per kilogram. Sedangkan jenis Eucheuma cottonii yang harganya empat kali lebih tinggi, produksinya masih minim.
“Dengan adanya kebun bibit ini mudah-mudahan bisa membantu persoalan bibit yang selama ini dihadapi pembudidaya. Jika persoalan bibit ini diatasi, nilai produksi yang tadinya Rp43 miliar tentu bisa meningkat lagi,” terangnya.
Sebagai informasi, peringatan Hari Laut Sedunia 2022 di Wakatobi diisi dengan berbagai kegiatan yang selaras dengan tema yang diusung KKP yakni Revitalisasi Sektor Kelautan dan Perikanan dengan Ekonomi Biru. Selain soft launching Kampung Budidaya Rumput di Desa Liya Bahari, KKP juga menggelar aksi bersih-bersih pesisir di kampung nelayan Suku Bajo di Desa Mola Utara. Kemudian pameran produk UMKM dan kampanye Gemar Ikan yang menyasar masyarakat dan para pelajar.
Sementara berdasarkan laporan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi ekonomi makro Kabupaten Wakatobi tahun 2021 menunjukkan perbaikan.
“Yang patut disyukuri misalnya di Indeks Pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Wakatobi naik dari 69, 48 persen menjadi 69,87 persen. Meski situasi Covid-19 dan implikasinya pada sosial ekonomi dan keuangan. Namun berkat kebijakan dan kinerja kita bersama, kondisi ekonomi makro kabupaten Wakatobi tahun 2021 mengalami perbaikan berdasarkan laporan BPS,” kata Bupati Wakatobi Haliana.
Sedangkan gini rasio yang menggambarkan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, turun dari 0,336 menjadi 0,335 semakin mendekati angka 0 (Nol).Gini rasio adalah mengukur kemerataan atau ketimpangan pendapatan kesejahteraan yang skalanya 0-1. [] Yuniman Taqwa



