Harga Minyak Dunia Terkoreksi Cukup Dalam

Harga minyak dunia beberapa bulan terakhir ini menunjukan tren menurun. Bahkan, patokan harga minyak Indonesia (ICP) pun turut melemah. Harga Minyak Indonesia pada Juli 2022 turun sebesar USD10,89 per barrel dari USD117,62 per barel menjadi USD106,73 per barrel Faktor apa penyebabnya?

Setelah beberapa bulan lalu, tren harga minyak menunjukkan peningkatan, tapi belakangan ini  harga minyak dunia mulai menurun. Pada 26 Juli lalu, misalnya, harga miyak ditutup melemah pada perdagangan, karena investor khawatir  kepercayaan konsumen lebih rendah dan bersiap menyambut 20 juta barrel minyak mentah  yang akan dirilis dari Strategic Petroleum Reserve AS.

Mengutip CNBC, Rabu (27/7/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 75 sen, atau 0,7 persen menjadi menetap di posisi USD104,40 per barrel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), merosot USD1,72 atau 1,8 persen menjadi USD94,98 per barel.

Harga minyak dunia turun pada 26/7 dipicu rencana Amerika Serikat  merilis cadangan minyak strategis. Seperti dilansir Reuters, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2022 turun US$1,72, atau sekitar 1,8 persen, menjadi US$94,98 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2022 merosot 75 sen, atau sekitar 0,7 persen, menjadi US$104,40 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara pada 1/8 pukul 06:39 WIB, harga minyak jenis brent tercatat US$ 103,28/barel. Ambles 6,21% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.Sepertinya investor melepas kontrak minyak untuk mendapatkan keuntungan. Sebab, harga si emas hitam memang sudah naik tinggi, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com, pada 1/8.

Buktinya, meski harga minyak jatuh lebih dari 6% tetapi harga minyak masih membukukan kenaikan 3,12% secara mingguan. Artinya, harga komoditas ini memang sebelumnya sudah naik tinggi sekali. Sepanjang minggu lalu, harga minyak jenis brent meroket 11,82% secara point-to-point. Isu seputar pasokan begitu kuat mempengaruhi pasar minyak. Stok minyak Amerika Serikat (AS) pada pekan yang berakhir 22 Juli 2022 berkurang drastis 4,52 juta barrel. Penurunan stok minyak AS terjadi karena ekspor yang mencapai 4,5 juta barrel/hari pada pekan lalu. Ini adalah angka ekspor minyak terbesar sepanjang sejarah Negeri Adikuasa.

Memang kini AS  jadi andalan pemasok minyak di berbagai negara, terutama di Eropa. Ini karena Uni Eropa ‘mengharamkan’ minyak dari Rusia, sebagai sanksi atas serangan Negeri Beruang Merah ke Ukraina. Jadi tidak heran ekspor minyak AS melonjak sehingga stok dalam negeri turun drastis.

Tidak hanya dari AS, pasokan dari OPEC+ juga sulit diharapkan untuk naik. Dalam waktu dekat ini, negara-negara anggota OPEC+ berencana untuk mengadakan rapat dan pasar melihat kemungkinan kartel ini menambah produksi tidak akan besar.

Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan akan menjual tambahan 20 juta barel minyak mentah SPR sebagai bagian dari rencana sebelumnya untuk memanfaatkan fasilitas tersebut guna meredakan lonjakan harga minyak yang didorong invasi Rusia ke Ukraina pada Februari, dan pemulihan permintaan yang menurun di awal pandemi, sebagaimana dikutip dari suara.com, pada 27/7 lalu.

Harga minyak mendapatkan dorongan awal dari berita bahwa Rusia meningkatkan tekanan gasnya di Eropa. Pada hari  Senin (25/7), Gazprom mengatakan pasokan melalui pipa Nord Stream 1 ke Jerman akan turun menjadi hanya 20 persen dari kapasitas. Jerman, ekonomi terbesar Eropa, mungkin harus menjatah gas bagi industri agar rakyatnya tetap hangat selama bulan-bulan musim dingin.

Sementara akhir Maret lalu, pemerintah mengatakan akan merilis rekor 1 juta barel per hari minyak mentah SPR selama enam bulan.”Pasar bereaksi terhadap pengumuman SPR dan membantu membatasi sejumlah hal, sampai batas tertentu,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.

“Pengumuman itu menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa Rusia, meski membantah, tidak akan menghindar dari menggunakan energinya sebagai senjata untuk mendapatkan konsesi dalam perangnya melawan Ukraina dan mungkin bisa memperkirakan keberhasilan jangka pendek,” kata Tamas Varga, analis broker minyak PVM.

Tak urung harga rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) minyak mentah Indonesia pada Juli 2022 turun sebesar USD10,89 per barrel dari USD117,62 per barel menjadi USD106,73 per barrel. Faktor yang mempengaruhi penurunan harga minyak dunia, antara lain meningkatnya pasokan minyak mentah global pada Juni dibandingkan produksi bulan sebelumnya.

“Harga rata-rata minyak mentah Indonesia untuk  Juli 2022 ditetapkan sebesar USD106,73 per barrel,” demikian bunyi diktum keempat Keputusan Menteri ESDM Nomor 111.K/MG.03/DJM/2022 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia  Juli 2022 yang ditetapkan  1 Agustus 2022.

Dikutip dari Executive Summary Tim Harga Minyak Mentah Indonesia, harga rata-rata minyak mentah utama pada  Juli 2022 dibandingkan  Juni 2022 mengalami penurunan, antara lain terkait pasokan minyak mentah dunia.

OPEC dalam laporan  Juli 2022 bahwa produksi minyak mentah global pada  Juni meningkat rata-rata 1,32 juta bopd menjadi 99,82 juta bopd dibandingkan dengan produksi bulan sebelumnya.

IEA dalam laporan  Juli 2022 bahwa pasokan minyak dunia melonjak 690 ribu bopd menjadi 99,5 juta bopd pada  Juni dibandingkan dengan produksi bulan sebelumnya.

Keputusan OPEC mempertahankan kebijakan untuk kenaikan produksi pada Juli dan Agustus masing-masing sebesar 648.000 bopd.

Faktor lainnya adalah OPEC dalam Laporan  Juli 2022 bahwa proyeksi permintaan minyak dunia pada kuartal 2  2022 turun sebesar 0,2 juta bopd dibandingkan publikasi sebelumnya. Selain itu, peningkatan stok minyak di Amerika Serikat berdasarkan data EIA untuk periode yang sama terhadap bulan sebelumnya, yaitu:

Stok minyak mentah yaitu sebesar 3,4 juta barel dari sebelumnya 418,7 juta barel menjadi 422,1 juta barel.

Stok gasoline yaitu sebesar 7,6 juta barel, dari sebelumnya 217,5 juta barel menjadi 225,1 juta barel.

Stok distillate yaitu sebesar 2,0 juta barel, dari sebelumnya 109,7 juta barel menjadi 111,7 juta barel.

Sementara penurunan harga minyak mentah dunia selama Juli 2022 juga dipengaruhi oleh penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi global, yaitu:

IMF menyampaikan koreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 menjadi 3,2% dari perkiraan sebelumnya pada bulan April sebesar 3,6%.

US Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk dua bulan berturut-turut, memberikan pengetatan paling agresif dalam lebih dari satu generasi.

Kekhawatiran pelaku pasar atas resesi dunia, kenaikan inflasi yang tinggi, pandemi yang berkelanjutan dan pengetatan moneter.

Sementara  kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah Tiongkok untuk mengetatkan aturan pembatasan sosial di beberapa wilayahnya dalam upaya mencegah penyebaran virus Corona, berdampak pada kekhawatiran pasar pada penurunan permintaan minyak mentah.

“Selain itu, kondisi Korea Selatan mengalami inflasi pada Juni pada level tertinggi selama hampir 24 tahun. Hal ini menjadi kekhawatiran pelaku pasar pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak,” demikian dikutip dari exsum tersebut.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada  Juli 2022 dibandingkan  Juni 2022 sebagai berikut:

Dated Brent turun sebesar USD11,00 per barel dari USD123,70 per barel menjadi USD112,70 per barrel.

WTI (Nymex) turun sebesar USD14,96 per barrel dari USD114,34 per barrel menjadi USD99,38 per barrel.

Brent (ICE) turun sebesar USD12,38 per barrel dari USD117,50 per barrel menjadi USD105,12 per barrel.

Basket OPEC turun sebesar USD9,34 per barrel dari USD117,83 per barrel menjadi USD108,49 per barel (sampai dengan tanggal 29 Juli 2022). (TW). [] Yuniman Taqwa