Mengintip Komunikasi Politik Kandidat Presiden

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Suhu politik dalam negeri kini mulai memanas! Meski daftar pencalonan pemilihan presiden dan wakil presiden baru  dibuka Oktober tahun mendatang, tapi partai politik mulai adu strategi. Partai Nasdem, misalnya, 3 Oktober lalu, secara resmi mendeklarasikan Anies Baswedan menjadi calon presiden . Meskipun  secara kuota – partai besutan Surya Paloh ini – tak memenuhi  ambang batas 20 persen perwakilan di DPR atau presidential threshold, tapi tak membuatnya ragu mengusung kandidat bakal orang nomor satu di negeri ini.

Padahal PDIP sebagai salah-satunya partai yang memenuhi persyaratan ambang batas pencalon presiden masih menunggu momentum yang tepat untuk mengusung siapa kandidat yang akan dicalonkan sebagai persiden. Memang secara persyaratan, partai yang diketuai oleh Megawati Soekarno Putri  tak ada masalah. Tinggal injak pedal gas partai ini pun – setiap saat – bisa  mencalonkan kandidat terbaik yang bakal diusung.

Boleh jadi kondisi  PDIP bukan perkarang “cespleng” menghadapi  arena bursa calon presiden di pemilu tahun 2024. Setelah Joko Widodo  tidak memungkinkan lagi dicalonkan jadi presiden karena undang-undang hanya membatas presiden hanya  dua periode. Sementara di PDIP, sedikitnya mempunyai dua kandidat yang masuk dalam radar bursa calon presiden. Pertama, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengan dan kedua Puan Maharani,  ketua DPR RI dan sekaligus sebagai Putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri.

Meski hasil survei sejumlah lembaga survei kredibel menempatkan tingkat elektabilitas Ganjar Pronowo bertengger diposisi puncak, mengalahkan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Apalagi Puan Maharani yang jauh tertinggal di bawah kandidat-kandidat tersebut. Namun demikian, tak membuat Puan patah arang menghadapi fenomena tersebut. Disinyalir Megawati akan mencalonkan Putrinya yang sekaligus sebagai regenerasi dari trah Soekarno

Megawati  ditunjuk oleh kongres PDIP  mempunyai hak prerogative  untuk menentukan siapa calon yang akan diusung oleh PDIP sebagai presiden pada pemilu 2024. Boleh jadi Megawati masih “meneropong”  pergerakan bursa calon presdien selama satu tahun mendatang. Keputusan Megawati  menentukan siapa calon yang akan diusung masih perlu waktu untuk melihat fluktuatif turun naiknya elektabiltas calon presiden.

Mungkin  ada beban psikologi di pundak Megawati untuk menentukan calon presiden yang akan diusung PDIP pada pemilu 2024. Bukan tidak mungkin Puan Maharani kini dikasih kesempatan untuk melakukan  sosialisasi — apa pun namanya untuk meningkatkan elektabilitas – dirinya  ke akar rumput . Dapatkah dalam waktu setahun  – trah Soekarno ini – mampu merubah landscape atau peta dukungan  di kalangan akar rumput terhadap Puan Maharani.

Mungkin baru satu tahun terakhir ini Puan mulai turun gunung menghadiri acara-acara partai ke daerah. Sosialisasi secara konvensional justru lebih banyak dilakukan Puan Maharani untuk menanamkan awareness diri di masyarakat melalui baliho atau billboard yang terpajang di seantero sudut-sudut negeri.

Cara-cara komunikasi konvesnional seperti itu, belum tentu mempunyai efek psikologis bagi masyarakat. Masyakat hanya mengetahui wajah, tapi tak mampu menyentuh kedekatan psikologis Puan dengan rakyat.  Komunikasi cara demikian,  sebetulnya hanya sebagai pelengkap untuk memperkuat awareness sang tokoh. Tapi sebelumnya harus ada langkah komunikasi langsung dengan gesture yang merakyat, yang dapat menarik sempatik rakyat, dengan membangun kedekatan pskilogis kepada rakyat.

Pendekatan komunikasi demikian yang dilakukan presiden Joko Widodo – dari mulai menjadi Walikota Solo – sampai menjadi presiden. Bila saja undang-undang pemilihan presiden memperkenankan presiden bisa tiga periode, maka bukan tidak mungkin Joko Widodo dapat “melenggang”  kembali  menjadi presiden.

Membangun komunikasi-komunikasi dengan rakyat tidak bisa instant, ibarat membalik “telapak tangan” langsung mendapat feed back yang diharapkan. Dalam pemilihan langsung – komunikasi harus dirancang jauh hari, dengan menunjukkan empati bahwa komunikator – sebagai figur yang bisa mewakili perasaan dan “harapan rakyat”. Model-model komunikasi demikian akan menciptakan feed back dari komunikan yang notabene rakyat merasa tak ada jarak psikologis dengan calon pemimpin.

Itulah investasi politik yang jauh bernilai bila ingin menarik simpatik rakyat. Puan Maharani tidak melakukan itu jauh hari. Sementara Ganjar  Pranowo – mempunyai kesempatan – jauh lebih luas melakukan komunikasi langsung dengan rakyat. Jabatan sebagai Gubernur Jawa Tengah, memungkinkan ia  menyapa rakyat Jawa Tengah.   

Sementara wilayah Jawa Tengah dikenal sebagai “kandang banteng” atau basis PDIP. Dalam beberapa pemilu Jawa Tengah selalu dimenangkan oleh Partai “Banteng Moncong Putih”. Bahkan Jawa Tengah merupakan wilayah strategis dalam peta perpolitikan nasional.  Provinsi ini menjadi provinsi ketiga, setelah Jawa Timur dan Jawa Barat dalam daftar pemilih terbanyak. Posisi itu cukup signifkan dalam mendulang suara kemenangan bagi PDIP.

Ganjar Mafhum terhadap posisi strategis itu. Ia betul memanfaatkan “kandang Banteng” untuk membangun komunikasi dengan gaya merakyat. Sejumlah instrumen komunikasi, khususnya media sosial (medsos) dimanfaatkan secara apik. Gaya bahasa tubuh yang akrab dengan rakyat, menjadi daya pikat dalam berkomunikasi di media sosial. Ganjar memanfaatkan itu secara maksimal!

Alhasil, komunikasi melalui medsos  terus menggelinding ke beberapa wilayah di Indonesia. Itulah efek medsos dengan cepat menjadi viral menembus batas ruang dan waktu. Itulah Ganjar! Ia piawai memposisikan “bahasa tubuhnya”, sehingga menimbulkan kesan akrab dan gaul di masyarakat. Fenomena ini yang menjadi efek domino yang menyebar luas d wilayah Indonesia.

Itu sebabnya tak heran bila lembaga-lembaga survei – dalam setiap survei yang dilakukan – beberapa bulan terakhir ini menempatkan elektabilitas Ganjar di peringkat pertama.  Hasil survei itu merupakan potret bahwa Ganjar berhasil membangun top of mind dirinya, sehingga namanya terus berada di peringkat pertama dalam survei-survei calon presiden.

Saya melihat ada chemistry antara Ganjar dengan Jokowi. Ketika Surya Paloh mengumumkan calon presiden dari Partai Nasdem, yaitu Anies Baswedan, pada 3 Oktober lalu. Pada hari yang sama Jokowi bersama Ganjar Pranowo, berada dalam satu momentum peresmian pembangunan pabrik Pipa di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah. Pada saat itu terjadi “efek kejut” bahwa Jokowi mengajak Ganjar satu mobil bersamanya.

Fenomena itu, ditafsirkan banyak kalangan bahwa Jokowi mendukung Ganjar sebagai calon presiden pada pemilu 2024. Simbol itu makin memperkuat posisi Ganjar dalam calon bursa presiden 2024. Itulah simbol-simbol politik yang dapat diterjemahkan dalam multi tafsir.

Dan yang membuat Ganjar semakin simpatik – sampai saat ini – ia  tetap” tegak lurus” sebagai kader PDIP.  Ia bukan tipe kader kacang yang lupa pada kulitnya. Ia  tetap bersahaja. Posisinya sampai menduduki Gubernur Jawa Tengah karena PDIP. PDIP yang telah membesarkan dirinya. Bukan tidak mungkin Megawati kepincut mencalonan Ganjar sebagai calon presiden dari PDIP pada pemilu 2024!***/foto ilustrasi: ist

*Penulis pemimpin  redaksi pelakubisnis.com