Kebijakan Arab Saudi Permudah Perjalanan Umrah
Sejatinya kebijakan baru Arab Saudi soal pengurusan visa semakin mudah dan bisa dilakukan secara perorangan online dari rumah. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi calon jamaah umrah di dunia. Namun untuk pasar Indonesia penetrasinya perlu waktu mengingat sampai sekarang sekitar 70% perjalanan ibadah umrah di Indonesia masih didominasi segmen pasar kelas grup (rombongan) yang masih membutuhkan bimbingan dari travel haji dan umrah. Namun fenomena ini perlu diantisipasi agar tidak kehilangan ceruk pasar!

Salah satu Visi Arab Saudi tahun 2030 menargetkan kunjungan jamaah mencapai 30 juta pada tahun 2030. Kebijakan terbaru pemerintah Arab Saudi menuju Visi Saudi 2030 yang tengah sibuk membangun industri pariwisatanya menjadi ceruk pasar tersendiri yang memantik pelaku bisnis pemyelenggara travel umrah untuk terus berbenah dan lebih kreatif dalam berinovasi.
Perubahan-perubahan kebijakan yang terjadi ini di Arab Saudi harus disesuaikan dengan kondisi supply demand di sana. Memang ada kenaikan harga yang begitu signifikan yang berkaitan dengan akomodasi di Arab Saudi, baik di Mekkah maupun Madinah. Regulasi di segmen program haji khusus misalnya yang dikelola para travel itu, sekarang mengalami perubahan. Di mana bila sebelumnya kita harus bernegosiasi dengan negara-negara di Asia Tenggara, tapi sekarang kita diberi kebebasan oleh pemerintah Arab Saudi untuk mencari mahtab yang terbaik bagi jamaah dari Indonesia.
Upaya Kerajaan Arab Saudi untuk mencapai target tersebut adalah dengan mengeluarkan regulasi membuka Visa Schengen atau Visa Turis bisa digunakan sekalian untuk perjalanan umrah. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen untuk mendongkrak kunjungan turis ke Arab Saudi. Mereka yang mempunyai Visi Schengen, dapat langsung menunaikan ibadah umrah sambil melakukan kunjungan destinasi wisata di Arab Saudi.
Kebijakan visa yang semakin personal dan customize ini tak bisa dihindari. Namun di sisi lain, tidak hanya segmen umrah yang ditargetkan tapi juga membidik pengguna visa turis di mana pemerintah Arab Saudi sekarang membuka destinasi-destinasi selain Mekkah dan Madinah untuk menggarap segmen non muslim.
Kalau dulu hanya melibatkan Kementerian Haji dan Umrah, tapi sekarang mengajak Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang masuk ke negaranya. Imbasnya, jumlah turis yang masuk ke negara Arab Saudi meningkat drastis. Tidak hanya di Indonesia tapi juga turis di dunia. Maka dibuatlah platform Business to Customer (B2C) untuk melakukan reservasi secara online cukup dari rumah.
Padahal sebelumnya mereka yang ingin menunaikan ibadah umrah harus menggunakan Visa umrah. Dengan kebijakan baru kerajaan Arab Saudi tersebut – dengan pendekatan business to customer (B to C) — membuka peluang bagi siapapun yang memiliki kepentingan ke Arab Saudi dapat melakukan umrah, sehingga tidak perlu double mengurus Visa.
Kebijakan itu berimplikasi bagi ekosistem destinasi wisata ke Arab Saudi. Saudi Airline, misalnya, membuka 100 paket penerbangan dari Eropa ke Arab Saudi atau sebaliknya. Menurut VP Sales & Marketing General Sales Agent Saudia Airlines, Herry Setiawan, Saudia banyak melakukan kolaborasi dengan travel agent untuk mengusung destinasi halal. “Kami persiapkan penerbangannya, lalu travel agent yang bikin paket destinasi wisatanya ke Arab Saudi,” ujarnya kepada pelakubisnis.com, di Isra Festival, 23/12 lalu.
Menurut Herry, sekitar 70% jamaah umrah di Indonesia berangkat dengan rombongan atau sekitar 30 keberangkatan inividu. Artinya, Indonesia masih berpeluang besar menangkap jamaah umrah dari Indonesia. “Apalagi Jamaah dari daerah tidak tahu tata cara mengurus visa, pesan tiket dan sebagainya,” lanjutnya seraya menambahkan kalau menggunakan visa umrah hanya sebatas perjalanan menunaikan ibadah umrah, sedangkan menggunakan Visa Schengen, selain dapat melakukan perjalanan wisata, juga dapat menunaikan ibadah umrah.
Lebih lanjut ditambahkan, untuk mengurus Visa Schengen, harus ada rekening koran, jaminan dari perusahaan. Persyaratan itu merupakan jaminan untuk mencegah terjadinya over stay mereka yang berangkat ke Arab Saudi. “Malaysia dan Singapura sudah banyak individu yang menggunakan Visa Schengen,” tambah Harry.
Harry menambahkan, untuk segmen tertentu, seperti traveller bisa menggunakan Visa Schengen. Di mana kelas menengah ke atas – yang sudah terbiasa berwisata atau business trip akan menggunakan Visa Schengen. Apalagi akhir tahun banyak wisata yang berkunjung ke Arab Saudi.
Ada yang menarik Ketika kita sampai di Bandara King Abdul Azi , tambah Harry, karena pemimpin bandara baru yang notabener perempuan, petugas imigrasi perempuat yang siap memberikan informasi kepada mereka yang baru tiba di bandara. “Bila anda kelihatan berdiri dan terkesan kurang paham, maka petugas imigrasi tersebut akan menghampiri anda dan membantu menyampaikan arahan mau ke mana tujuannya. Petugas itu berkomunikasi bahasa Inggris dengan pasih akan membimbing anda,” katanya serius.
Sejauh ini Saudia Airlines di Jakarta ada sejak tahun 2019 ada 28 line penerbangan per minggu. Artinya perminggu ada 4 hari jadwal penerbangan dengan 7 kali penerbangan. Sedangkan di Surabaya ada 8 line dan di Medan ada 2 line.
Di samping itu, pihak hotel sudah mempersiapkan diri sejak mulai dibukanya perjalanan ibadah umrah paska pandemic. Di mana sebelum – karena pandemic Covid-19 banyak hotel yang sepi pengunjung. Kini hotel-hotel di Arab Saudi mulai melakukan renovasi hotel karena mulai meningkatnya kunjungan untuk menunaikan ibadah umrah dan haji. Biasanya akhir tahun (Desember-red) hotel-hotel pada penuh, sehingga harga menjadi mahal.
Di Indonesia industri travel umrah masih dilindungi pemerintah melalui UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggara Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) yang diberikan kewenangan penuh untuk beradaptasi dan dibutuhkan upaya kreatif dan terobosan solutif untuk tetap bertumbuh.
Menurut Ketua Umum Himpuh (Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji), Budi Darmawan, kebijakan baru Arab Saudi memantik penyelenggara umrah dan haji untuk lebih kreatif berimprovisasi karena kita punya pasar muslim yang cukup besar. Kita yang selama ini hanya berorientasi pada segmen pasar umrah haji. “Kita harus berimprovisasi untuk mengembangkan destinasi-destinasi lain supaya bisnis travel bisa hidup dan eksis,” terang Budi Darmawan.
Menurut Jachja Machmoed, Ketua Isra Festival 2022, para penyelenggara haji dan umrah harus memahami Standard Operating Prosedure (SOP) yang harus dijalankan. “Banyak kejadian di masa lalu, setibanya di hotel di Mekkah atau Madinah, hanya dua hari langsung disuruh ke luar hotel” katanya seraya menambahkan, kejadian ini karena pihak penyelenggara haji atau umrah hanya mengacu pada kepercayaan dari para Muttawif atau tour guide yang mungkin Ighoma hanya sebagai supir, sehingga ketika ia melakukan reservasi hotel tidak tercatat dalam sistem hotel tersebut. Mereka hanya menggunaka azas saling percaya, tanpa diikuti oleh koridor-koridor yang berlaku di hotel, misalnya.
Oleh karena itu, kasus-kasus seperti ini, tambahnya, harus diedukasi ke masyarakat. Isra Festival 2022 sebagai ajang edukasi kepada masyarakat agar mendapat pemahaman tentang profesionalisme travel haji dan umrah. Umpamannya, dalam menjalankan usahanya. Travel haji dan umrah harus melakukan transaksi yang benar dan legal dalam hal reservasi hotel, misalnya. Artinya reservasi hotel harus resmi dilakukan oleh petugas hotel, sehingga mendapat bukti pembayaran atau reservasi hotel.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina/Ilustrasi: Pinterest

