Bursa Sajadah: Melenggang Menjadi Top of Mind

Sampai saat ini belum ada kompetitor yang head to head dengan Bursa Sajadah. Posisi ini yang menempatkan Bursa Sajadah bertengger di peringkat pertama dalam top of mind di kategori perlengkapan dan oleh-oleh umroh dan haji.

Para jamaah yang baru pulang umrah atau menunaikan ibadah haji kerap disibukkan dengan membawa oleh-oleh dari tanah suci. Sementara keterbatasan waktu dan ingin menjaga kekhusukan ibadah, membuat mereka kehilangan kesempatan hunting membeli oleh-oleh. Fenomena itu ditangkap menjadi peluang bisnis yang marak bermunculan di Indonesia.         

Salah satunya adalah Bursa Sajadah. Berdiri sejak tahun 2000 ini, bertujuan untuk memberikan kemudahan terutama kepada calon jamaah dalam memperoleh perlengkapan maupun oleh-oleh haji atau umroh. Tidak hanya itu, perlengkapan ibadah, busana muslim, makanan khas timur tengah & suplemen alami juga tersedia lengkap di sini.

Dari tahun ke tahun Bursa Sajadah terus berkembang dan membuktikan diri sebagai toko pusat perlengkapan muslim terlengkap dan terbesar di Indonesia. Total ada sembilan cabang yang tersebar di delapan kota; Bandung, Bekasi, Bogor, Jakarta, Malang, Solo, Surabaya, dan Tangerang.

Bahkan menjelang pergantian tahun ini, Bursa Sajadah  sudah mengambil persiapan dalam menghadapi bulan Ramadhan di tahun 2023 yang akan jatuh pada akhir bulan Maret. Momen bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan besar yang selalu diambil Bursa Sajadah untuk menjalankan berbagai macam program khusus. Salah satu program yang biasa dilakukan dalam menghadapi bulan suci Ramadhan yaitu Bursa Sajadah menyediakan aneka produk hampers   yang hanya tersedia pada waktu tertentu, seperti aneka sajadah, kurma, kismis, kacang arab, snack-snack, dan lain lain.

Menurut Business Development Bursa Sajadah, Afrizal Juansyah, culture orang Indonesia kalau pulang menunaikan ibadah umroh atau haji berpikir untuk membawa oleh-oleh. Karena culture masyarakat kita seperti itu, akhirnya barang-barang yang ada di Arab Saudi di bawa ke Indonesia. “Karena barang-barang itu sudah ada di Indonesia, sebaiknya beli di sini aja,” kata Afrizal kepada pelakubisnis.com.

“Semua produk-produk yang dijual di sini diimpor langsung dari sana (Arab Saudi-red), tapi sampai di Indonesia dikemas lagi,” tambahnya seraya menambahkan untuk sajadah kebanyakan impor dari Turki, Madinah bahkan ada dari China. Bursa Sajadah ini mengusung tagline: Ibadah Tenang, Oleh-Oleh Aman. Tapi ada juga sajadah yang diproduksi sendiri oleh Bursa Sajadah, tapi mutu dan kualitas sama dengan sajadah produksi dari Turki.

Afrizal menambahkan, Bursa Sajadah  banyak yang menyangka hanya menjual sajadah saja. Padahal menjual aneka produk, sehingga menjadi pusat oleh-oleh usai menjalankan ibadah umbroh dan haji. Sedangkan untuk sajadah ada sekitar 7000 SKU (Stock Keeping Unit). Bursa Sajadah merupakan muslim one stop shopping.

Lebih lanjut ditambahkan, Bursa Sajadah dibagi tiga main departemen, yaitu: Sajadah, makanan Timur Tengah dan perlengkapan ibadah. Kurma, misalnya, kemasannya dibuat lebih premium dan customize.   

Bursa Sajadah kerja sama dengan UMKM menjual pernak-pernik oleh-oleh haji/ Foto: pelakubisnis.com

Ketika pandemic Covid-19, kata Afrizal, banyak perusahaan yang terpuruk. Alhamdulillah Bursa Sajadah justru meningkat. Penjualan sajadah, umpamanya, mengalami peningkatan. Pasalnya, saat pandemic, masjid-masjid tidak menggelar karpet atau sajadah, sehingga jamaah membawa sajadah masing-masing dari rumah. Memang dari penjualan oleh-oleh mengalami penurunan signifikan, tapi permintaannya pindah ke sajadah.

Ada brand-brand yang dijual di Bursa Sajadah dilakukan dengan cara konsinyasi. Tapi menurut Afrizal tetap dilakukan kurasi dari kualitas barang. Bursa Sajadah juga bekerjasama dengan UMKM-UMKM. “Boneka unta ini produk dari UMKM Bandung. Di mana stok barang boneka saat pandemic tidak bisa disalurkan ke pasar. Akhirnya pernik-pernik itu kita beli semua untuk  stok. Kami optimis ke depannya pasarnya akan lebih baik,” tambah Afrizal. Dengan cara demikian, secara tidak langsung juga membantu UMKM.

Walaupun karyawan Bursa Sajadah sebelum pandemic sempat mencapai 300 karyawan. Tapi karena pandemic mengalami penyusutan. Dan kini karyawan mulai berlahan bertambah. Kini angkanya sudah mencapi 150 karyawan. Saat ini masih masa  recovery. Karyawan-karyawan lama mulai dari kembali bekerja.

Menurut Afrizal, tiap tahun Bursa Sajadah ada campaign. “Tahun 2022 campaign kita adalah service excellence. Alhamdulillah dengan memprogramkan itu ada impact. Daya beli customer setelah pandemic malah naik. Yang biasanya beli sajadah Rp 300 ribu, kini malah naik menjadi Rp 500 ribu. Apalagi momen-momen seperti sekarang ini, mau bulan Ramadhan,” katanya serius. Bahkan lebaran tahun 2023, Bursa Sajadah sudah memesan dan mempersiapkan hampers.

Tahun depan, kata Afrizal, Bursa Sajadah akan melakukan kolaborasi dengan banyak majelis taklim untuk memberikan kajian, demo masak dan banyak kegiatan lainnya. Apalagi kini eranya kolaborasi, sehingga Bursa Sajadah tidak hanya melulu dagang.

Di samping itu, kita bisa berbelanja dengan mengunjungi langsung ke outlet Bursa Sajadah, juga pelanggan bisa melengkapi kebutuhan Perlengkapan ibadah hingga oleh-oleh Haji Umroh dengan berbelanja di official store Bursa Sajadah di Instagram, marketplace, dan website.

Sejauh ini perencanaan program pembukaan 100 mitra gerai Bursa Sajadah yang bermitra dengan Tour Travel Haji Umroh di berbagai kota di seluruh Indonesia terus dijalankan sebagai upaya  mengembangkan bisnis agen dan reseller.

Bursa Sajadah menjadi yang pertama dan satu-satunya toko pusat perlengkapan Muslim dan oleh-oleh Haji/Umroh yang dapat yang  franchise dengan memanfaatkan potensi market Muslim serta konsistensi demand dari jamaah Haji/Umroh di Indonesia. “Kami hadir sebagai bisnis yang tangguh melewati masa pandemi dan siap mendampingi perjalanan diri dan hidup umat Muslim modern menjadi lebih baik dan berkualitas,” ujar Afrizal Juansyah.

Menurut Afrizal, kenapa Bursa Sajadah bisa mengklaim muslim top of mind nomor satu, karena sebetulnya tidak ada yang  head to head dengan Bursa Sajadah. “Bursa Sajadah punya pabrik yang output-nya bukan hanya ke Bursa Sajadah saja, tapi disalurkan 90 persen ke distributor, Bursa Sajadah hanya pasarkan 10 persen doang,” lanjutnya serius.

Sajadah yang khusus masuk di Bursa Sajadah hanya untuk dipasarkan di outletnya saja. Dengan kata lain, segmennya terpisah dengan sajadah-sajadah yang ada di Pasar Tanah Abang, misalnya. Bursa Sajadah tidak ingin melawan konsumennya sendiri. Itu sebabnya, segmen pasarnya dibedakan, sehingga tidak terjadi kanibalisme.

Bahkan, Bursa Sajadah sudah ekspor sampai Thaiwan, memang belum sampai ke Eropa. Di Thaiwan banyak orang Indonesia. Ketika mereka mau menjalankan haji atau umroh, bingung membeli peralatannya. “Insya Allah Bursa Sajadah punya cabang di Thaiwan. Walaupun di sana ada peluang, tapi saat ini masih fokus untuk pasar dalam negeri dulu,” kata Afrizal. [] Siti Ruslina