Menguak Tren Destinasi Halal, Indonesia Pasar Potensial

Indonesia merupakan pasar potensial destinasi halal yang banyak dilirik perusahaan-perusahaan travel dalam dan luar negeri. Bagi Arab Saudi salah satunya yang mulai melakukan swastanisasi dalam menjaring sebanyak mungkin wisata muslim maupun non muslim masuk ke negaranya dengan pendekatan B to C.

Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 dari Mastercard dan Crecent Rating memproyeksikan, wisatawan muslim akan mencapai 140 juta pada 2023. Angka ini akan meningkat menjadi 160 juta pada 2024. Tren ini membangkitkan gairah  industri perjalanan wisata religi yang mengusung tema ‘halal’ baik inbound maupun outbond .

Indonesia masuk destinasi wisata halal kedua versi GMTI 2022/Foto: islam-center.or.id

Sementara Indonesia berada di peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, dalam riset GMTI 2022. Dalam edisi ketujuh ini, riset GMTI 2022 mengikutsertakan 138 negara dalam pemeringkatan, baik negara dengan mayoritas penduduk muslim maupun minoritas. Indonesia mendapat peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal atau ramah muslim (muslim-friendly) terbaik dari 138 negara di dunia, dengan total skor 70.

Posisi ini berada di atas Arab Saudi dengan skor 70, Turki 70, dan Uni Emirat Arab (UEA) 66. Adapun Indonesia berada satu peringkat di bawah Malaysia dengan skor yang berbeda tipis, yaitu selisih empat poin.

Kriteria GMTI berdasarkan “Crescent Rating model ACES”, yang telah diresmikan dalam laporan GMTI 2017. Model ACES ini mencakup empat hal yaitu Access 10 persen, Communications  20 persen, Environment  30 persen, dan Services 40 persen.

Berdasarkan keempat ukuran ACES, Indonesia berada peringkat kedua dari 10 negara teratas dalam aspek Communications GMTI 2022. Dimana komunikasi dan meningkatkan kesadaran (raising awareness) di antara para pemangku kepentingan di suatu destinasi merupakan aspek yang sangat penting. Hal ini bertujuan  memastikan infrastruktur yang dibutuhkan dapat dikembangkan, di samping pengunjung muslim dapat diterima di destinasi tersebut.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Aqil Irham menilai wisata halal sangat potensial untuk memperkuat industri wisata nasional. Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber Jakarta Marketing Week 2022 dengan tema “Halal Tourism: How It Helps Recovering Indonesia Tourism Industry” yang digelar oleh MarkPlus.

“Seiring perkembangan halal sebagai trend global yang berkembang pesat, saat ini wisata halal telah menjadi perhatian dunia sehingga dikembangkan secara serius oleh berbagai negara mengingat peluangnya yang begitu besar,” kata Aqil Irham di Atrium Mall Casablanca, Jakarta, pada 19/5 lalu.

Menurut Aqil, Halal Tourism merupakan konsep wisata yang menyediakan layanan tambahan yang disediakan untuk meningkatkan kepuasan wisatawan dalam memperoleh, mengonsumsi, atau menggunakan produk halal, baik berupa barang maupun jasa, selama berwisata.

“Artinya, aspek halal bukan berkaitan dengan mengislamisasikan destinasi wisatanya, melainkan dari sisi pelayanannya yang berbasis ketersediaan produk halal,” jelasnya. Dengan begitu, wisatawan Muslim memperoleh kemudahan mendapatkan layanan yang berkaitan dengan makanan, minuman, atau kebutuhan lain yang terjamin kehalalannya, sebagaimana dikutip dari kemenag.go.id.

Aqil menegaskan, wisata halal hanya dapat terwujud ketika Jaminan Produk Halal dilaksanakan. Sebab, tersedianya produk bersertifikat halal hanya terwujud dengan diterapkannya standar halal melalui mekanisme sertifikasi halal bagi produk yang berupa barang maupun jasa.

“Misalnya destinasi wisata halal di Lombok, di sana telah tersedia hotel-hotel dengan resto-resto yang telah bersertifikat halal, kuliner di sana yang juga menjadi daya tarik wisatawan juga halal, dan lain sebagainya. Semuanya membentuk ekosistem wisata halal,” imbuh Aqil Irham.

Data Dinar Standard dalam laporan Ekonomi Islam Global 2020/2021 yang dipublikasi melalui Salaam Gateway pada November 2020, mencatat bahwa pada 2019, sebanyak 200,3 juta perjalanan telah dilakukan wisatawan muslim global, dengan pengeluaran sebesar US$ 194 miliar. Artinya, wisatawan muslim dunia menjadi potensi pasar yang besar. Apalagi, jumlahnya terus meningkat sehingga meningkat pula potensi nilai belanjanya.

Peluang wisata halal saat ini juga telah menjadi perhatian khusus dari sejumlah negara bukan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI); misalnya: Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. Sebab, sektor wisata halal dipastikan dapat mendorong industri wisata yang menggenjot pertumbuhan ekonomi. Berbagai upaya terus mereka lakukan dalam peningkatan kualitas pelayanan wisata halal. 

“Kita sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tentu memiliki modal besar untuk menjadi yang terdepan dalam wisata halal. Karenanya, program percepatan sertifikasi halal yang sedang kita jalankan dengan target 10 juta produk tersertifikasi halal sangatlah relevan dalam upaya penguatan wisata halal kita,” tandasnya.

Isra Festival menjadi pameran destinasi halal pertama paska pandemi/Foto: pelakubisnis.com

Traya Eksibisi Internasional bersama dengan Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) menyelenggarakan Indonesia  Destinasi & Travel Halal “Isra Festival” yang  berlangsung pada 23 -25 Desember 2022, di Jakarta Convention Center (JCC).

Direktur Traya Eksibisi Internasional, Bambang Setiawan mengatakan, Isra Festival 2022 merupakan salah satu ikhtiar menguatkan ekosistem industri perjalanan wisata halal dan stakeholder terkait pasca pandemi. Selain bertujuan promosi dan pemasaran, juga membangun hubungan lebih akrab dengan konsumen serta target market wisata halal dan religi.

“Pandemi mengubah gaya hidup masyarakat yang mengedepankan pada aspek kualitas hidup lebih seimbang. Hal ini berpengaruh pada pilihan dan jenis wisata. Sehingga ke depannya, industri pariwisata harus lebih kreatif mempersiapkan paket-paket wisata yang personalizedcusmotized dan smaller in size. Karena dalam koridor halal,  harus mengacu pada prinsip halal dan thoyib,” ungkap Bambang Setiawan, pada 14/12 seraya menambahkan Isra Festival mengusung positioning “Muslim Friendly Tourism”.

Isra Festival menghadirkan sebanyak  109 stand yang diikuti perusahaan travel haji dan umrah, hotel atau akomodasi halal, wisata muslim, transportasi, halal food, aksesoris travel, aplikasi travel halal, produk keuangan syariah, industri pendukung (FMCG, Kuliner, Herbal/obat-obatan, kosmetik, fashion dan sebagainya), komunitas, pemerintah daerah/kota, kedutaan negara sekitar tujuan negara muslim.

Pameran ini  boleh jadi menjadi opportunity bagi travel umroh dan haji serta destinasi  wisata halal maupun penunjang lainnnya, dapat menangkap peluang bisnis yang pertumbuhannnya meningkat signifikan, setelah dua tahun lebih vakum karena pandemi covid-19.

Padahal menurut catatan Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) Jemaah umroh tahun 1440 atau 2018-2019 jumlah jemaah umrah Indonesia  nomor dua tertinggi di dunia. Jemaah Indonesia mencapai 946.962 per tahun, di bawah Pakistan yang mencapai 1,5 juta.

Tapi setelah dihantam pandemi covid-19 pada awal Maret 2020, Indonesia merupakan salah satu negara yang kegiatan umroh dan haji distop pemerintah Arab Saudi. Kegiatan ibadah tersebut baru kembali dibuka pada musim haji tahun ini. Menurut Sekjen dari Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh), M. Firman Taufik, kegiatan  umrah sudah dimulai awal tahun 2022, secara tertatih-tatih. Kemudian di Juni setelah haji dan sampai pertengahan Desember 2022 sudah lebih dari 500 ribu jamaah umrah yang berangkat.

Sedikitnya ada 10 top destinasi wisata muslim friendly yang ditawarkan, tidak hanya dari dalam negeri Indonesia, tetapi juga luar negeri (outbond), diantaranya Malaysia, Arab Saudi, Turkey, Uni Emirat Arab, Qatar, Iran, Bahrain, Singapura dan Uzbekistan. Kemudian ada 10 top muslim friendly non-OIC Destinations, yaitu: Singapura, Taiwan, Thailand, United Kingdom, Hong Kong, Japan, South Africa, Philippines, United States dan Australia.

Ke depan destinasi halal tidak hanya di dalam negeri (inbound), tapi outbound juga mulai banyak paket-paket destinasi halal. Banyak negara lain sudah membenahi fasilitas tentang wisata halal. Kita berharap di dalam negeri  sudah mempersiapkan infrastruktur penunjang. Oleh karena itu, perlu ada koordinasi dengan pemerintah daerah dengan lintas sektor agar tersedia  infrastruktu yang memadahi.

“Pameran Isra Festival ini menghadirkan travel haji dan umrah ditambah  dengan teman-teman yang men-support event ini, karena setiap kali kita berwisata pastinya  membutuhkan pernak pernik, seperti kuliner, aksesorisan  dan lainnya. Itu semua diharapkan bisa menjadi satu ekosistem yang terintegrasi di dalam Isra Festival 2022,” kata Bambang.

Sekjen Himpuh, M. Firman Taufik mengatakan, saat ini industri Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) harus lebih proaktif menjawab kebutuhan pasar umroh yang semakin kompetitif. Kebijakan pemerintah Saudi dalam implementasi Visi Saudi 2030, satu sisi membuka peluang bagi industri melakukan berbagai terobosan kreatif dan solutif.

Sejumlah kelonggaran yang diberikan Saudi, seperti tidak adanya batasan usia umroh, perpanjangan visa umroh dari 30 hari menjadi 90 hari, fleksibilitas penggunaan visa untuk umroh dan pembuatannya yang bisa langsung ke provider Saudi, dan bebas vaksin meningitis bagi jamaah umroh. Namun demikian, adanya bayang-bayang resesi pada tahun depan  akan berkorelasi pada harga dolar yang mempengaruhi biaya atau ongkos perjalanan.

Menurut Firman, penyelenggaraan haji dan umrah ini ternyata punya produk lain, yaitu wisata halal yang merupakan tujuan  wisata menarik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.  Tentunya dengan mengedepankan Muslim friendly . Gambaran Muslim Friendly Tourism  berbeda kebanyakan travel umum pada acara tour. Muslim friendly  Tourism betul-betul  diperhatikan bagaimana sholat lima waktu, kehalalan dari  makanan dan  destinasi-destinasi  yang  dijelaskan dari sisi perkembangan Islam. Karena biasanya di eropa akan menjelaskan dari sisi yang lain.

Lebih lanjut ditambahkan,  banyak  perubahan di Arab Saudi. Di sana terjadi swastanisasi para penyelenggara haji. Kalau dulu pengolahan haji dilakukan oleh muassasah (perusahaan yang ditunjuk pemerinh) sekarang semuanya dilakukan oleh private company.

Tidak hanya itu, rencana Arab Saudi pada Visi  tahun 2030 untuk mendatangkan puluhan juta wisatawan.  Bukan hanya jemaah haji dan umrah saja, tapi wisatawan umum, sehingga pengurusan  visa menjadi sangat mudah.[] Yuniman Taqwa